Sabtu, 19 September 2015

Sharing Menulis Cerita Anak (bagian 2)

Mendapatkan mandat berbicara tentang menulis cerita anak, buat saya yang masih pemula unyu-unyu ini tentulah sedikit ngeri-ngeri sedap. Apalagi di antara daftar peserta yang sudah mendaftar ikut workshop, saya membaca beberapa nama yang sudah malang-melintang di dunia literasi. Agak ngeper juga, tapi alhamdulillah banyak teman baik dari IIDN Jogja, Merah Jambu, bahkan bu guru Nurhayati Pujiastuti memberi semangat pada saya. Ayo, kamu pasti bisa. Yes, insyaa Allah. Bisa.

Maka bergerilyalah saya mencari bahan-bahan untuk materi menulis cerita anak yang akan saya bawakan di workshop IIDN Jogja 13 September 2015. Yang pertama, saya kasak-kusuk pada Mbak Ruri Irawati, teman di kelas Merah Jambu, yang sudah lebih dulu sharing tentang menulis. Mbak Ruri ini keren, membagi ilmunya pada anak-anak SD di sebuah sekolah di kota tempatnya tinggal. Dan Mbak Ruri ini baik hati, ramah dan tidak sombong, saya dikirimin file materi menulis cerita anak yang sudah disusunnya. Tengkyuuu, Mbak.

Selain bahan dari Mbak Ruri, saya mengkombinasikan materi saya dengan beberapa metode yang saya peroleh di kelas Merah Jambu asuhan Mbak Nurhayati Pujiastuti, beberapa informasi dari kelas Mas Bambang Irwanto (saya sempat ikut kelas singkat menulis cerita dan dongeng dari Mas Bambang), dan materi dari buku Mbak Veronica Widyastuti. Buku berjudul : "Rahasia Sebuah Cerita, Panduan Menulis Cerita Untuk Anak"



Setelah 'senjata' saya rasa cukup lengkap, mulailah saya menyusun materi.

1. Prolog

Menulis cerita anak dimulai dari tujuan kita nulis itu buat apa, sih? Ada empat tujuan nulis cerita anak, yaitu: ingin memberikan bacaan yang sehat dan menarik bagi anak-anak kita, suka dengan dunia anak-anak, karena suka nulis saja, dan karena ingin menambah pendapatan keluarga. Nah, materi saya ini fokus pada menulis untuk media, jadi pas dengan tujuan menambah pendapatan keluarga, karena dari media yang memuat tulisan kita, kita bisa mendapatkan honor.

Memangnya cukup honor yang didapat, sehingga masuk dalam katagori menambah pendapatan keluarga? Jangan-jangan dapatnya cuma sedikit? Eh, jangan salah. Honor di majalah Bobo, itu Rp250.000,- lho. Nah, dua guru saya baik Mas Bambang maupun Mbak Nurhayati, cerpennya pernah dimuat berturut-turut di majalah Bobo. Mas Bambang malah pernah lebih dari 20 minggu berturut-turut!

Misalnya nih dalam sebulan cerpen kita dimuat empat kali di Bobo (Bobo majalah mingguan), berarti dalam sebulan kita bisa dapat sejuta, kan? Manis, nggak? Manis banget kalau saya mah....

Tapi ... tentu saja, untuk mencapai level menggiurkan itu, ada effort yang harus kita lakukan. Yaitu? Berlatih menulis setiap hari. Mengirimkan naskah cerpen ke media yang dituju secara rutin.

2. Inti Materi

a. Karakter cerita anak : segmen umur biasanya usia SD mulai 7-12 tahun. Bahasa sederhana, mudah dimengerti. Konflik sederhana.

b. Jenis cerita anak: Cernak realis, dongeng (dongeng binatang/fabel, dongeng dengan tokoh benda mati, cerita rakyat, dongeng peri-kurcaci)

c. Menentukan Tema dan Ide: Tema adalah inti cerita yang akan ditulis, misalnya tema persahabatan, tema cinta lingkungan, dll. Ide adalah lintasan pikiran yang terkait tema. Misalnya, tema persahabatan, ide tentang seorang anak yang tidak punya sahabat karena nakal. Nah, bagaimana ceritanya hingga kemudian anak ini bisa mendapatkan seorang sahabat?

Oya, ide ini ada di mana-mana, lho. Jangan pernah bilang miskin ide atau nggak punya ide, ya! Ide cerita anak bisa diperoleh dari menggali pengalaman di masa kecil, memperhatikan kejadian-kejadian di sekitar kita, melalui gambar-gambar di majalah, berita di televisi, film yang kita tonton, curhatan teman, pokoknya buanyaaak sumber ide, deh!

d.Tokoh, Karakter dan Setting: Tokoh dalam sebuah cerita tentu saja sangat penting. Tokoh menyesuaikan jenis cerita. Cernak realis, tokohnya anak-anak. Dongeng, tokohnya bisa binatang, benda mati, peri, kurcaci atau raja dan ratu. Untuk memperkuat konflik, tokoh bisa tokoh protagonis maupun antagonis (tokoh baik dan buruk). Beri karakter pada tokohmu, tokoh baik mungkin punya karakter penyayang. Bagaimana anak yang penyayang? Dapat digambarkan dengan penjelasan-penjelasan misalnya: Wini selalu membawa bekal roti yang berlebih. Selain dimakan sendiri, roti itu juga dibagikannya dengan teman-teman di kelasnya. Selain tokoh dan karakternya, setting juga perlu diperjelas, kapan cerita terjadi, dan di mana. Lokasi dapat dijelaskan dengan deskripsi, misalnya Air terjun di Kampung Sumbersari: Di pinggir kampung ada jalan setapak menuju hutan. Jalannya berliku. Jalan itu akan terbagi menjadi dua cabang. Jika engkau ikuti cabang sebelah kiri, jalannya jelek dan berbatu. Tapi jalanan jelek itu akan memandumu menuju air terjun Pelangi Ayun yang sangat terkenal itu.

e. Konflik: Konflik dalam cerita anak pada umumnya sangat sederhana.

f. Alur: Alur adalah jalan cerita. Untuk cerita anak, sebaiknya digunakan alur maju. Mengisahkan peristiwa hari ini, besok dan lusa. Bukan dalam rentang waktu yang panjang.

g. Ending: Ending harus tuntas, tidak menggantung

h. Judul: Judul harus menarik. Judullah yang pertama memikat hati dan mendorong pembaca untuk menyempatkan diri membaca cerita sampai selesai.

i. Self editing: Setelah menyelesaikan naskah Anda. Endapkan dulu dua tiga hari. Lalu baca sambil merevisi redaksional, maupun konteks kalimat yang terasa kurang tepat.

3. Penutup

Nah, begitulah materi sharing cerita anak yang saya bawakan kemarin. Sebagai pelengkap, saya juga menyertakan cerpen saya "Toko Sepatu Ibu" yang sudah dimuat di majalah Bobo, untuk dibaca. Lalu saya juga memberikan bonus daftar email majalah dan koran yang menerima kiriman naskah cerpen anak, berikut persyaratan dan ssst ... honornya.

Nah, tunggu apalagi? Materinya kurang lengkap? Hmm. Sebenarnya malah terlalu banyak. Karena untuk menulis cerita anak, cukup berbekal: membaca banyak-banyak cerpen anak (untuk mendapatkan 'rasa' cerita anak), dan langsung mencoba menulis cerpen pertamamu. Ayo, tunggu apa lagi ... buruan nulis. Kalau masih ragu, seperti peserta di workshop kemarin, kamu juga bisa kok kirim cerpen kamu ke saya untuk saya kasih masukan. Kirim ke indahnovitadewi@yahoo.com ya. For free :)

Oya, workshop kemarin terselenggara berkat kerjasama:

Perpustakaan kota Yogyakarta yang menyediakan tempat dan snack,
Sirkulasi Kompas Gramedia yang menyediakan majalah anak untuk dibagikan ke peserta,
Phicatering yang menyediakan makan siang, dan
IIDN Jogja sebagai panitia penyelenggara




Kamis, 17 September 2015

Sharing Menulis Cerita Anak (bagian 1)

Berbicara di depan umum bukan sesuatu hal yang luar biasa bagi saya. Hampir setiap tahun saya harus melakukannya karena tuntutan pekerjaan. Berbicara di depan orang banyak menjadi istimewa, ketika yang harus saya bawakan adalah materi menulis cerita anak.

Hah? Siapa saya yang berani-berani ngomong ngalor-ngidul tentang menulis cerita anak? Memangnya penulis cerita anak terkenal? Bukaaaan ... eh, beluuum. Akan menjadi penulis cerita anak terkenal, rencananya, aamiin.... Insyaa Allah.

Begini ceritanya. Saya ini hobi nulis sudah lama. Sejak saya masih remaja imyut nan cantik jelita (ini bukan hoax, walau gak ada poto). Nah, sejak masa-masa era kecantikan saya masih belum terjamah laki-laki itulah (halah), cerpen-cerpen saya sudah dimuat di majalah Anita Cemerlang (yang sudah almarhum, innalillahii....). Saya berhenti mengirimkan naskah ke majalah ketika saya mulai bekerja dan kemudian menikah (setelah menikah, baru deh saya terjamah laki-laki ... aishhh, gak penting amat keterangannya).

Setelah 10 tahun vakum menulis, perjalanan hidup membawa saya terdampar di suatu komunitas yang riuh rendah ramai renyah kriuk kriuk kadang riweh repot bin rempong (apaseh), yaitu sebuah komunitas menulis: Ibu-Ibu Doyan Nulis Yogyakarta atau IIDN Jogja. Hmm, di situlah pelan-pelan api asmara berkobar ... eh salaaah ... api gairah menulis menyala kembali. Apalagi komunitas ini kemudian menghubungkan diriku dengan berbagai komunitas menulis di dunia maya. Di dunia maya semua ada. Yang paling membuatku jleb jleb adalah beberapa nama penulis yang dulu sering beriringan di majalah Anita Cemerlang, ternyata masih eksis menulis, bahkan bukunya sudah mbrubul bejibun. Nah gue? Mengubur minat bakat sekian lama. Yang ada, ilmu nulis fiksi jadi anjlog. Karya jadi mandul. Padahal untuk berkarya di dunia literasi, of course kita harus rajiiiiin ... apa? Ya, tentu saja rajin menulis.

Nah, mulailah saya menulis fiksi dan lain-lainnya untuk dikirim ke media atau untuk dikirim ke berbagai lomba menulis. Saya bangkit lagi berkat IIDN Jogja. Lalu, di akhir tahun 2014, saya ingin sekali belajar menulis cerita anak untuk dikirim ke majalah Bobo. Alasannya? Waktu kecil dulu saya langganan Bobo. Rasanya keren dong kalau kemudian cerpen saya nongol di majalah anak-anak paling tua ini. Alasan lain juga karena sekarang saya punya anak-anak yang masih kecil-kecil dan lucu-lucu. Saya ingin membuatkan cerita untuk dibaca mereka. Siapa tahu, kelak mereka juga akan tertantang untuk mencoba menulis di waktu luang mereka atau boleh juga serius di dunia kepenulisan. Alasan lainnya lagi, saya rindu dapat honordari  menulis ... hehehe.

Mau belajar cerita anak, saya mencari info tentang kelas menulis. Dan kemudian saya memutuskan mengikuti kelas menulis online di kelas Merah Jambu, dengan guru Mbak Nurhayati Pujiastuti. Kenapa kelas online? Saya merasa santai kalau mengikuti kelas online. Saya bisa berdiskusi di kelas sambil bebaringan di ranjang dengan satu tangan memegang ponsel dan tangan lain nepuk-nepuk pantat bayiku yang mau bobok, hahaha. Kenapa nggak kelas offline? Karena waktu itu nggak ada kelas offline yang saya incar. Dan kalau mendatangi kelas offline, saya rempong kalau harus meninggalkan anak-anak. Belum lagi mikir saya mau pakai baju apa yaaa ... hahaha. Oke, online atau offline itu hanya sarana, yang terpenting adalah hasilnya ada.

Singkat cerita (singkat? ini prolog sudah panjang banget tau ... hihihi), belajarlah saya di kelas Merah Jambu. Dan singkat cerita, enam bulan setelah itu, secara bergantian empat cerita anak yang saya susun di kelas, terbit di majalah Bobo. Yeaaay, mission accomplished! *jogedjoged* (tapi harapannya masih lebih banyak lagi naskah yang akan muat lagi ... aminin dong aminin ... Aamiin ....).

Bertelurnya saya dengan empat cernak di Bobo itu tak luput dari pantauan teman-teman IIDN Jogja. Sebenarnya bukan mereka memantau, sih. Tapi saya yang pamer-pamer di grup whatsapp IIDN Jogja tiap cerpen saya nongol, wuahaha. Bukan melulu bermaksud pamer, tapi lebih kepada upaya memotivasi teman-teman lain ... niy lho aku bisa nulis di Bobo. Ayo kalian kapan. Ayo, nulis. Gitu.

Nah. Demikianlah prolog nan panjang ini mengantarkan judul "Sharing Menulis Cerita Anak (bagian 1)", hehe. Kami para IIDNers, punya agenda kopdar tiap bulan. Agenda kopdar tersebut selalu diisi dengan sharing-sharing kepenulisan, maupun sharing apa saja asal manfaat dari para anggotanya. Lalu saya diminta sharing pengalaman saya menulis cerita anak, sekaligus membawakan materi cara-cara menulis cerita anak. Sharing yang biasanya hanya intern IIDN, kali ini akan dibuat untuk umum dan diselenggarakan di perpustakaan kota Yogyakarta. Saya akan menjadi pembicara kedua, setelah Mbak Ita (Miftahul Jannah) membawakan materi menulis buku panduan aktivitas untuk AUD (Anak Usia Dini).

Bagian dua dan tiga tulisan ini dapat dibaca di sini dan di sini



Acara ini terselenggara berkat kerjasama:
Perpustakaan Kota Yogyakarta
Sirkulasi Kompas Gramedia
Phicatering
IIDN Jogja

Senin, 07 September 2015

Hari yang Sibuk (5 September 2015)

Bagaimana Anda mengartikan hari yang sibuk? Tanggal 5 September 2015 kemarin adalah salah satu hari tersibuk saya. Nah, ngapain aja saya seharian? Mari ikuti perjalanan saya sehari (berasa artis).

05.00 - 08.00
Seperti ibu rumah tangga pada umumnya, saya berjibaku menyiapkan sarapan anak-anak, membangunkan mereka, memandikan, memastikan mereka berpakaian rapi, menyiapkan diri saya sendiri dan terakhir berangkat mengantar si bungsu di sekolahnya. Jam 08.00 saya meluncur menuju Mirota Pasaraya.

08.15
Teman saya, Mbak Etyastari sudah menunggu di depan Mirota dan siap membonceng saya menuju masjid Nurul Ashri untuk mendengarkan kajian muslimah bersama Aisha Maharani.

09.00
Atau sekitar itu, kajian baru dimulai. Molor karena pesawat Mbak Aisha delay.

11.00
Meluncur ke toko Merah, menemani Ety yang mau beli Femina.

11.15
Meluncur ke SDIT Sultan Agung, meet my boy, lalu makan siang di warung Indomie (artis kok makan mie instan).

12.00
Masuk gedung balai RW persiapan rapat tentang TPQ

13.00
Rapat baru dimulai (Apaaa ... molornya gak tanggung-tanggung)

14.00
Rapat paguyuban wali murid kelas 5

15.30
Meluncur pulang dengan si sulung

16.00
Mengantar laundry

16.15 - 21.00
Menyiapkan makan anak-anak, menemani belajar, membereskan rumah, menemani anak-anak tidur.

Hari yang sangat capek....

Cantik dan Sehat dengan yang Halal


Pada hari Sabtu, 5 September 2015, saya berkesempatan mengikuti kajian "Humaira" di masjid Nurul Ashri. Kali ini tema kajian adalah "Cantik dan Sehat dengan yang Halal" dengan narasumber mbak Aisha Maharani. Hmm, sebenarnya nama Mbak Aisha ini yang menggerakkan hati untuk pergi mengikuti kajian, selain temanya yang penting dan menarik. Saya membaca profil Mbak Aisha dua tahun lalu di majalah Aulia dan kagum dengan kiprahnya.

Kekaguman saya makin bertambah saat pembawa acara kajian menyebutkan satu per satu jabatan Mbak Aisha, antara lain: founder Halal Corner, Founder Jemput Jodoh Halal, Owner Halal Market Online, Konsultan sertifikat halal, pengasuh rubrik halal corner di majalah Aulia, dan masih sederet jabatan dan kesibukan lain termasuk mengisi seminar dan kajian di sana-sini. Wih, sibuk, ya.
Selain berbagai kesibukan tersebut, kegiatan utama Mbak yang cantik ini adalah mengurus ketiga buah hati dan tentunya suami tercinta di rumah.  

Karena delay pesawat, jadwal kajian agak molor. Sempat menunggu beberapa menit, akhirnya sang narasumber hadir dengan kostum serba hitam yang makin menguarkan kecantikannya. Wah, ternyata Mbak Aisha mungil ya ... tapi jelas tetap cantik. Dan suaranya ... mantap.

Mengawali kajian, Mbak Aisha menegaskan bahwa Ibu, adalah penjaga gawang distribusi makanan dan obat-obatan di rumah tangga, sehingga wajib melek halal.

Halal, adalah kewajiban bagi umat muslim (HR. Thabrani).

Bagaimana memastikan zat halal untuk keluarga? Caranya adalah dengan KNOWING-FINDING-KEEPING. Mengetahui apa itu halal, menemukan yang halal dan haram, dan menyimpan pengetahuan tentang halal-haram sebagai pegangan dalam menyediakan makanan, minuman, obat maupun kosmetika untuk keluarga.

HALAL adalah sesuatu yang DIRIDHAI Allah dan membuat kita aman dunia akhirat. SESUATU itu dapat berarti luas, makanan, minuman, obat, kosmetika, pendapatan, hingga pasangan.

THOYYIB adalah sesuatu yang aman, sehat, baik dan sesuai dengan porsinya (tidak berlebihan).

Produk zaman sekarang cirinya adalah instan, menarik dan tahan lama. Karena menarik dan tahan lama, ada beberapa zat tambahan yang dibubuhkan pada produk (pewarna atau pengawet). Zat-zat tambahan inilah yang biasanya kita kurang memahami dari mana asalnya.

BABI adalah hewan yang diharamkan. Di sisi lain, semua bagian tubuh babi bisa dimanfaatkan dan memang dimanfaatkan secara luas khususnya di negara-negara dengan mayoritas penduduk non-muslim. Itulah mengapa penting adanya sertifikat halal, agar kita dapat terbantu dalam menghindari zat-zat haram.

Semua bagian BABI dapat dimanfaatkan.
TULANG: dimanfaatkan sebagai gelatine dan calciumnya
DARAH : digunakan sebagai media tumbuh/media fermentasi berbagai virus (keperluan pengobatan)
KULIT: dimakan. Membedakan kulit krupuk sapi dan babi, kalau sapi warna kecoklatan dan pecah-pecah permukaannya. Sedangkan krupuk kulit babi kuning pucat keputihan dan permukaannya halus. Kulit babi juga biasa disamak untuk jadi bahan tas, sepatu, sendal, casing hp. Cara membedakan, kulit sapi bertekstur kulit jeruk sedangkan kulit babi halus dan ada bagian yang bertitik tiga.
Kulit (jaringan ikat kulit) yang mengandung kolagen biasa digunakan untuk produk kecantikan (fungsi kolagen: mengenyalkan, menghaluskan, menghilangkan keriput).
BULU: dipakai untuk bahan baku pembuatan sikat gigi balita, kuas (untuk melukis, merias wajah dan memasak), waspadai merek eterna. Tanda kuas bulu babi, kalau dibakar tercium bau seperti daging hangus.
JEROAN -- pankreas -- untuk produksi insulin; usus -- untuk casing sosis
KIKIL
DAGING
LEMAK

Kriteria Obat Halal

- Tidak terbuat dari bahan yang haram, tidak terbuat dari golongan yang najis.
- Tidak terkontaminasi oleh bahan haram dalam proses produksi
Produk Farmasi = terdiri dari bahan aktif dan bahan farmaseutik (bahan tambahan). Ada 28 bahan tambahan yang biasa dipakai, tapi yang kritis adalah sebagai berikut:
- bahan pengemulsi, pewarna, perisa, pemanis, bahan pengisi tablet, bahan pengkilap, bahan pelarut, bahan enkapsulasi.

Sumber bahan aktif obat dan bahan farmaseutik bisa dari tumbuhan, hewan, manusia, mikroba dan bahan sintetik kimia.
Jika ditinjau dari bentuk obat, maka ada beberapa titik kritis yang wajib kita ketahui:
- Obat serbuk -- laktosa, sukrosa -- apa media fermentasinya?
- Tablet -- monogliserida, gelatin -- berasal dari mana?
- Kapsul -- cangkang kapsul dapat terbuat dari babi, ikan maupun sapi
- Obat cair -- pelarutnya apakah dari khamr?

Yang perlu diketahui, tidak semua alkohol itu khamr.  Tapi khamr merupakan bagian dari alkohol. Banyak turunan alkohol antara lain metanol, dll. Yang disebut khamr adalah etanol yaitu turunan alkohol yang tidak beracun dan bisa diminum.

Etanol pun ada dua jenisnya: khamr berasal dari fermentasi misalnya air beras dan khamr yang berasal dari bahan tambang (khamr jenis ini diperbolehkan dalam obat-obatan)

Menurut MUI, dari 30.000 jenis obat di Indonesia, hanya 22 saja yang halal. Menteri Kesehatan di era terdahulu Nafsiah Mboi juga pernah menyatakan bahwa 90% obat Indonesia mengandung babi. Bagaimana menyikapi hal ini? Sepertinya kita tidak boleh sakit, ya? Gunakan dulu obat-obatan herbal sebelum terpaksa menggunakan obat kimia.

KOSMETIK

Kosmetik adalah bahan/campuran bahan yang digosokkan, dilekatkan untuk merawat tubuh kita.
Asal bahan kosmetik sama dengan obat: tumbuhan, hewan, sintetik, kimia, manusia, mikroba.
Titik kritis kosmetik adalah: kolagen. ekstrak placenta, amnion/ketuban, hormon, lemak, vitamin, AHA.

Menghindari dari zat haram sangat terbantu bila kita hanya mengkonsumsi produk-produk yang sudah bersertifikat halal. Misalnya produk-produk unilever, wardah, dll.

Catatan:

Ada beberapa tambahan tips penting dari Mbak Aisha. Antara lain:
1. Merencanakan anak dengan gen yang baik: sebelum jima' sholat tahajud bareng pasangan halal, minum madu, makan habbats, makan daun pegagan, minum air zam-zam.
2. Para ibu sebaiknya belajar tentang fiqih untuk masa depan keluarga yang lebih baik.
3. Perkembangan tumbuh kembang anak tak lepas dari apa yang dia konsumsi sejak dalam kandungan. Oleh sebab itu selalu makan dan menyediakan makanan halal untuk keluarga tercinta itu sudah menjadi keharusan.

Sangat disayangkan dengan ilmu Mbak Aisha yang sedemikian banyak untuk masalah halal-haram ini, waktu yang tersedia terlalu singkat. Sehingga hanya kulit-kulit luarnya saja yang dapat didiskusikan dalam kajian ini. Insyaa Allah lain waktu ada kesempatan bertemu Mbak Aisha yang mungil tapi bersuara dahsyat ini.

Rabu, 02 September 2015

September Ceria

Yes, kita sudah masuk ke bulan September. September ceria milik kita bersama. Begitu kata si burung camar, Vina Panduwinata. September ini diawali dengan ikut kuis #pantunSeptember di twitter. Ini kuis yang diselenggarakan oleh komunitas menulis IIDNJogja alias ibu-ibu doyan nulis Yogyakarta.

Daripada pantun yang saya susun hilang di twitter, mending saya abadikan di blog saja. Ya, lumayan atuh biar blognya kelihatan lebih berisi hihihiii...

Ini beberapa pantun yang sempat saya karang dengan sepenuh perasaan:

Membeli cuka di bulan September, dimasak campur terigu. Pusing punya anak puber, jerawat satu galau seminggu

-- cuka dicampur terigu jadinya apa, ya? Hehe, entahlah...ini demi rima. Inspirasi pantun ini beneran waktu anak sulung saya heboh gara-gara muncul jerawat kueciiiil banget di dekat hidungnya, hohoho

Paling asyik mantengin bulan, kelamaan akhirnya laper. Ayo jangan ketinggalan, ikut kuis pantun september

-- ini biasa banget ya pantunnya? Yah, nggak apa-apa yang penting pakai kata kunci: September

Ke Jember jumpa orang cedal, sama-sama makan pisang. September bulan yang spesial, saatnya ultah suami tersayang

-- Awalannya juelek sih saya nggak suka, tapi belakangnya saya suka dan beneran, tanggal 15 September itu ultahnya suami saya tersayang, uhuk uhuk

September bulan yang manis, saatnya menanam ubi. Sudah semangat ikut kuis, ternyata lupa gak pakai kata kunci

--ini yang paling bagus menurut saya. Hihihi...gimana enggak? Saya sudah twit beberapa pantun lho, baru ngeh bahwa kata kuncinya adalah September. Maksudnya harus ada kata 'September' di tiap pantun yang ditwitkan. 

Ckckck...jadi nasihat saya, teliti sebelum membeli. Teliti sebelum ikut kuis dan segala macam lomba. Cermati syarat dan ketentuan. Jangan sampai naskah Anda bagus, tapi harus gugur gegara hal (gak) penting macam syarat dan ketentuan...hahaha.


Rabu, 26 Agustus 2015

Menulis Cerpen di Majalah Bobo

Halo, apakah kamu tahu tentang majalah Bobo? Majalah Bobo adalah majalah yang segmen pembacanya anak-anak usia 7-12 tahun. Usia SD-lah. Untuk usia di bawahnya, ada Bobo Junior, yang lebih banyak rubrik aktivitasnya. Kalau majalah Bobo, isinya adalah berbagai artikel ilmu pengetahuan, cerita bergambar, cerita pendek, profil dan masih banyak lagi. Majalah Bobo terbit sudah lama sekali lho. Pertama terbit adalah tanggal 14 April 1973. Wow, Bobo ternyata lebih tua dari saya, hehehe.
Sumber gambar di sini


Majalah Bobo juga menerima kiriman naskah dari luar, lho. Ada beberapa rubrik yang bisa kita kirimi. Untuk anak-anak usia SD yang masih belajar nulis, bisa kirim ke surat pembaca, rubrik arena kecil, tak disangka, puisi, dan gambar. Juga bisa kirim tanya jawab tentang nulis dan psikologi. Untuk orang dewasa, bisa kirim cerpen. Tentunya cerpennya adalah cerpen anak-anak, ya.

Cerita yang bisa kita kirimkan ada tiga jenis, yaitu: cerita bersambung, cerita pendek dan cerita superpendek. Cerita bersambung akan dimuat secara bersambung dalam 3-5 edisi Bobo. Panjangnya sekitar 2.100-3.500 kata. Kalau cerita pendek, panjangnya sekitar 750 kata. Cerita superpendek 300 kata.

Soal tema, bisa beragam. Bobo menerima cerita realis maupun dongeng, juga cerita misteri dan fantasi. Dongeng juga macam-macam. Bisa berupa cerita rakyat, fabel (dongeng yang tokohnya binatang), dongeng benda mati, dongeng peri-kurcaci, dan lain sebagainya. Yang penting gaya bahasanya harus gaya bahasa anak-anak, ya. Kalau masih bingung gaya bahasa anak-anak itu seperti apa, bisa baca-baca cerpen di majalah bobo. Atau survey langsung. Sering-sering saja amati kalau anak-anak kecil lagi ngobrol sambil bermain. Atau, tulislah cerpen lalu suruh anak usia SD membacanya. Kalau dia bisa memahami, berarti bahasa yang digunakan sudah cukup meng-anak.

Trus, cara kirimnya gimana? Tulis dulu cerpennya, pakai times new roman atau arial 12, spasi dua; lalu kirim bisa melalui pos atau email. Email Bobo adalah naskahbobo@gramedia-majalah.com. Kalau melalui pos, kirim ke Redaksi Bobo, Jl. Panjang No 8A Kebon Jeruk Jakarta 11530. Sembari menunggu naskahmu sampai dan kemudian dinilai oleh redaksi bobo, kamu bisa mulai menulis naskahmu yang lain. Oya, Bobo tidak memberitahu kalau naskahmu ditolak atau dimuat, lho. Tapi, kalau dimuat, nanti kamu akan mendapatkan satu majalah sebagai bukti terbit dan honor Rp250.000 yang akan dikirim langsung melalui rekening.

Agar pengiriman honor lancar, jangan lupa saat kirim cerpen, lengkapi dengan nama, alamat, no KTP, no rekening, no NPWP jika ada. Berapa lama kira-kira masa tunggu? Saya pernah kirim Sept 2014 dan baru tayang di Bobo edisi April. Jadi sekitar 7 bulan, ya.

Ingat, cerpennya harus orisinil karyamu, ya. Jangan menjiplak. Tapi kamu bisa mengirim cerpen terjemahan lo, asal kamu cantumkan sumber aslinya. Bahkan kamu bisa menceritakan kembali cerita rakyat dengan versimu sendiri, sekali lagi, tulis catatan di bawah naskah agar redaksi tau sumber ceritamu. Pokoknya harus jujur gitu deh.

Nah, sudah siap mengirim cerita ke Bobo? Let's gooooo....

Kamis, 20 Agustus 2015

Cerpen Pertama di Bobo: Toko Sepatu Ibu



Toko Sepatu Ibu
Oleh: Kalya Innovie

Ibuku bekerja di toko sepatu. Sesekali sepulang sekolah, aku akan datang ke toko, menemani Ibu. Aku senang memerhatikan berjenis-jenis sepatu yang dijual di sana. Favoritku, tentu saja, jajaran sepatu anak-anak. Aku hanya bisa memandangi dan membayangkan aku mengenakan sepatu-sepatu itu. Sebab, Ibu selalu melarangku mencoba sepatu di tokonya. Kata Ibu, nanti sepatunya kotor, atau rusak.
Hari ini, aku ke toko dengan bersemangat. Semalam Ibu cerita stok sepatu model baru sudah tiba. Aku sudah tak sabar melihat sepatu-sepatu itu.
Aku datang siang hari. Menurut pengamatanku, saat siang adalah saat yang tepat untuk datang ke toko. Saat itu, pengunjung sepi, jadi aku bisa puas berlama-lama di rak sepatu anak.
"Ingat, jangan dicoba sepatunya, ya," ucap Ibu mengingatkanku.
Aku hanya mengangguk. Dan, di sanalah aku menemukannya. Di bagian rak sepatu anak paling atas. Si merah cantik bertengger manis. Bagai magnet, menyedot seluruh perhatianku hanya kepadanya.
Top of Form
*
            Sepatu merah itu berhak rendah. Ada motif bunga di seluruh bagiannya. Di bagian tumit, ada semacam tali berbahan pita. Tali itu nanti harus diikat mengelilingi pergelangan kaki. Aku bisa membayangkan kedua kakiku memakai sepatu cantik itu. Perlahan kuraba permukaan sepatu dengan gemetar. Aku sangat ingin mencobanya!
            Aku mengintip dari sisi rak. Ibu sedang melayani pembeli. Seorang ibu bertubuh tinggi dan anaknya yang sebayaku. Aku melihat sekali lagi si merah. Menelan ludahku. Kuintip harganya. Hmm, sepertinya tidak terlalu mahal. Aku hanya punya dua sepatu untuk sekolah. Kurasa satu pasang lagi untuk dipakai saat jalan-jalan ke luar rumah, tak mengapa. Ibu mungkin memperbolehkanku membelinya. Dengan hati-hati, aku membawa si merah, mendekati Ibu.
            Ibu bertubuh tinggi rupanya sedang membujuk anaknya untuk mau membeli sepatu yang dipilihkannya. Si anak tampak cemberut dan berulang kali menggelengkan kepala. Wajahnya kusut, sangat berlawanan dengan baju cerah bermotif kupu-kupu yang dikenakannya.
            “Bu…,” kupanggil Ibu dengan suara pelan.
            Ibu menoleh, melihatku, lalu mengerutkan kening saat sadar aku membawa si merah. Belum sempat aku mengutarakan keinginanku, belum sempat juga Ibu menegurku, kami keduluan si baju kupu-kupu.
            “Aih! Sepatu ini bagus sekali! Ibu, aku mau sepatu yang ini!” seru si kupu-kupu sembari dengan serta merta mengambil alih si merah dari tanganku. Aku melongo.
            “Kamu beneran mau sepatu yang ini?” tanya ibunya.
            “Ya!” angguk si kupu-kupu mantap.
            “Tapi, sepatu ini sudah dipilih gadis kecil itu, Airin,” tegur sang ibu memandang ke arahku.
            Aku tertunduk, lalu mengangkat mukaku, melirik Ibu. Hanya sekejap Ibu menatapku, lalu beralih ke ibunya Airin, ramah.
            “Dia anak saya, Bu. Saya rasa, dia belum terlalu butuh sepatu baru,” ucap Ibu. Ibu Airin tampak senang, lalu membuka dompetnya. Airin menunduk, mencoba si merah di kakinya. Ia melompat-lompat, berlari di lorong toko dengan memakai si merah. Aku bisa membayangkan apa yang ia bayangkan. Pasti ia membayangkan sedang berlarian di sebuah taman bunga yang indah.
            Setelah kedua ibu dan anak itu pergi, Ibu mendekatiku. Aku masih menunduk, tak bisa menyembunyikan kekecewaanku.
            “Vika benar-benar ingin sepatu seperti itu?” tanya Ibu lembut.
            Belum sempat aku menjawab, datang seorang ibu dan anaknya memasuki toko. Ibu itu berpakaian kumal, membawa buntalan. Anaknya, seorang bocah laki-laki kecil bertampang kotor. Pipinya dipenuhi bekas ingus kering. Satu tangannya erat memegangi ujung kemeja ibunya, tangan yang lain memegang pedang mainan yang lusuh. Ibu memberi kode agar aku menunggu sebentar. Ia menyapa tamunya dengan ramah.
            “Ada yang bisa saya bantu?”
            “Ini…uang saya,” ibu berpakaian kumal mengeluarkan sekantung recehan dari dalam buntalannya. “Adakah sepatu untuk anak saya, yang bisa terbeli dengan uang ini?”
            Aku terkesiap, melirik kaki dekil si anak yang tanpa alas. Ibu tersenyum, lalu dengan sabar menghitung recehan yang diterimanya. Aku yakin tak ada sepatu di toko ini yang dapat terbeli oleh ibu itu. Tapi Ibu tak rela pembelinya pulang dengan tangan kosong. Bocah berpedang itu menyeringai lebar saat sepasang sepatu baru menghiasi kakinya. Mereka berdua keluar dengan senyum puas.
            “Bu,” aku memanggil Ibu.
            “Oh, ya. Vika, tentang sepatu itu…”
            “Tidak, Bu. Vika memang ingin sepatu merah itu. Tapi Vika baru sadar kalau Vika memang belum terlalu butuh sepatu. Dua sepatu Vika masih bagus.”
            Aku mendekat memeluk Ibu. Ibu tersenyum dan mencium keningku. Aku harus tahu diri. Ibuku hanya pegawai biasa di toko sepatu itu. Kalau Ibu rela berkorban membantu orang miskin mendapatkan sepatu, maka akupun bisa menunda keinginanku memiliki sepasang sepatu baru. Toh, jika ada sepatu yang diobral murah, Ibu tentu tak ragu membelikanku.

            Aku kembali ke rak sepatu anak-anak. Mengamati satu-satu dan membayangkan memakainya di kakiku. Kulihat Ibu mengusap pipinya, lalu kembali sibuk mengatur sepatu di rak yang lain. Siang ini sungguh sepi. Tapi aku senang, karena dapat memuaskan hobiku, melihat-lihat sepatu.*
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES