Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Januari 2016

Renungan tentang kematian, kehidupan dan surga

Saya baru saja takziah ke rumah sesama wali murid sekolah anak sulung saya. Anak laki-lakinya meninggal akibat kecelakaan. Saya datang dan larut dalam suasana kedukaan yang dirasakan sang ibu. Terutama karena setahun lalu kepala keluarga telah berpulang. Kini lelaki tertua dalam keluarga telah menyusul. Baru 16 tahun usia si jejaka yang pergi meninggalkan ibu dan saudara-saudaranya.

Kematian adalah misteri yang hanya Allah saja yang tahu, kapan ia akan datang menghampiri kita. Kematian tidak mendatangi hanya ketika kita telah beranjak tua. Hal ini sudah saya pahami ketika lebih dua belas tahun lalu anak sulung saya meninggal dalam usia 3,5 bulan. Bahkan ponakan saya hanya menghirup 12 jam udara luar, dan ponakan yang lain keluar dari rahim ibunya dalam keadaan tak bernyawa. Belum lagi ruh-ruh yang belum sempat ditiupkan, namun gumpalan daging merah telah gugur sebelum kokoh menempel pada langit rahim.

Sebaliknya tak sedikit kabar tentang orang paling tertua di dunia, dan nenek atau kakek teman kita, yang usianya telah lebih dari hitungan abad. Mengapa Allah mencabut dengan cepat sebagian ummat, dan membiarkan sebagian lain berlama-lama di dunia, hanya Dia yang mengetahui alasannya.

Ketika kesadaran bahwa kematian itu tak mengetuk pintu lebih dahulu, ia bisa tiba-tiba datang, bahkan saat saya sedang mengetik sekarang ini; bagaimana respons kita mengenai hal itu? Ibadah yang semakin ditingkatkan? Zikir yang semakin dikencangkan? Sedekah yang semakin dirutinkan? Sayangnya masih banyak yang biasa-biasa saja. Business as usual. Nothing's change. Nggak ngefek.

Sebuah broadcast di whatsapp pagi tadi membuat saya merenung. Isinya tentang sebuah keluarga yang memutuskan untuk membentuk keluarga islami yang Masya Allah, patut menjadi contoh kita semua. Keluarga tersebut punya 7 anak yang kesemuanya dididik untuk menjadi hafidz/ah. Sebagai contoh, anak ketujuh hafalannya sekarang 5 juz di usia 5 tahun. Semua pendidikan itu dilakukan sendiri di rumah (homeschooling). Selain hal ini, mereka keluarga konvensional yang tidak memakai hp. Setiap harinya mereka hanya satu kali makan, bukan karena nggak ada, tapi sudah menjadi amal. Ada lima hal yang selalu dipegang oleh keluarga ini, yaitu:

1. Tauhid, keyakinan mutlak pada Allah, tidak takut kekurangan rizki dan fasilitas hidup, meluruskan niat menghafal Al-Qur'an hanya karena Allah semata.

2. Menjauhi pola hidup dan gaya hidup mubazir

3. Menjaga kehalalan dan kethayyiban

4. Bebas dari hutang dan riba

5. Mulai dari diri yakin Islam dan rendah hati tuk kembali ke jalan Islam dengan dalil ilmu

(rangkuman obrolan grup Jogja Islamic Home Education - dishare oleh Deassy M Destiani di grup WA IIDN Jogja).

Saya mencoba membandingkan dengan diri saya sendiri. Sangat jauh dibanding keluarga tersebut. Bahkan merasa tertampar dengan kenyataan anak-anak saya belajar membaca Al-Qur'an dari tangan orang lain. Benar, saya kadang-kadang mengajari anak saya membaca hijaiyah, tapi tanpa niat untuk menjadikannya rutinitas. Ah, nanti kan diajari gurunya di sekolah. Ya, Allah, ampuni saya ...

Belum lagi gaya hidup? Hidup tanpa hp di era sosmed? Ow tak mungkin. Makan satu kali? Bukankah aturan kesehatan kita harus makan tiga kali sehari? Dan dua kali kudapan ... (siapa gerangan yang menyusun aturan makan sedemikian rupa?), wahai betapa sangat berlebih-lebihan kita. Belum lagi kalau jalan-jalan ada tempat makan baru pasti mau dicoba. Perut sudah kenyang, kalau mata masih lapar dan mulut masih pengen ngunyah, semua dijabanin aja. Bagaimana dengan baju? Coba kalau setiap hari ganti baju, kira-kira baju kita di lemari habis dalam waktu berapa hari? 7 hari? Sebulan? Atau bahkan setahun? Dan kalau ada setelan cantik di mall terdekat rasanya sayang kalau tidak meraihnya dan membayar harganya di meja kasir. Kalau yang lebih kaya lagi, berapa mobilnya? Satu anak punya satu mobil? Berapa rumahnya? Ada satu rumah di setiap kota besar di Indonesia? Belum yang di luar negeri? Duhai, kita memang sangat berlebih-lebihan, dan terlalu suka bersenang-senang.

Padahal, untuk apa kita hidup? Untuk kemudian mati. Dan dihisab. Kenapa kita dulu bisa sampai ke bumi? Karena Adam diusir dari surga, dosanya karena tidak mematuhi perintah Allah-lah yang menyebabkan ia diturunkan ke bumi. Kita di bumi untuk menebus dosa, dan kelak dilihat siapa yang pantas kembali ke surga. Mereka yang mematuhi perintah Allah, atau mereka yang tergoda bujuk rayu setan?

Kalau ada keluarga yang memutuskan untuk berjuang di jalan Allah, dan kiranya Allah ridha memasukkan mereka di surga kelak sebagai imbalan semua jerih payahnya di dunia, bagaimana dengan kita? Yang khusyuk nonton pertandingan bola 90 menit tanpa jeda, asyik nonton serial di televisi 60 menit sampai bengong, yang nonton bioskop dua jam penuh keterpukauan, yang merasa harus menyelesaikan novel 300 halaman dengan sekali baca, yang suka selancar di sosmed berjam-jam, ... tapi sholat lima menit pikirannya bercabang dan beranting, baca Al Qur'an satu lembar sudah lelah. Pantaskah kita memasuki surga-Nya?

Ya, Allah, mungkin hamba tak pantas masuk ke surga-Mu, namun hamba tak kuat menahan panasnya api neraka. Maka tariklah hamba, ya Allah. Panggil hamba, ya Allah. Ingatkan hamba jika lalai, ya Allah. Jadikan hamba ummatMu yang setia. Yang cinta Qur'an, yang ahli sholat, yang gemar puasa, yang lancar berzakat dan sedekah. Jadikan kami semua hamba-Mu, yang tak takut menghadapi kematian, karena yakin sudah mempersiapkan bekal.

Selasa, 19 Januari 2016

Kerepotan yang (kelak) Dirindukan

Pagi itu saya ada perlu mengunjungi sebuah perpustakaan. Penjaganya seorang ibu yang lebih tua dari saya. Kami pun bercakap-cakap sejenak sebelum saya menenggelamkan diri untuk mencari pustaka. Ibu penjaga perpustakaan bertanya berapa anak saya dan hal-hal yang ringan semacam itu. Ternyata kami sama-sama memiliki tiga orang anak. Bedanya, anaknya perempuan semua dan yang kecil sudah SMA kelas 3, sedangkan anak saya dua perempuan, satu laki-laki - umur 10, 7 dan 6 tahun.

Ibu Ratna (bukan nama sebenarnya), si pustakawati mendesah, mengatakan beruntungnya saya punya anak yang masih kecil-kecil. Anaknya sudah besar semua dan kalau semua sedang izin pergi bersama temannya, ia rasanya kesepian menghabiskan hari hanya berdua dengan suaminya.

Saya tersenyum, teringat sebuah kisah inspiratif yang pernah saya baca di sebuah media sosial.
"Kata kisah itu, Bu. Yang masih punya anak kecil, bersabarlah. Itu tidak akan lama. Tiba-tiba saja mereka beranjak besar dan semua kerepotan yang dialami, kelak akan menjadi kerepotan yang dirindukan," saya menceritakan kisah itu pada bu Ratna.

"Ya, itu benar sekali," kata bu Ratna. Air mata mulai mengaliri pipi wanita itu. "Saya sudah mengalaminya. Yang sedang saya tunggu sekarang hanya cucu dari anak saya yang sudah menikah."

Sayapun menangis. Mengingat saya masih suka mengomel kalau anak saya rewel. Saya janji akan lebih woles. Menikmati semua kerepotan punya anak-anak yang masih kecil. Karena kelak, kerepotan ini akan saya rindukan.

*teriring kecupan dan doa untuk ketiga anak saya, Nina, Emir, Amel*
*teriring rindu untuk sulung saya di surga, the beloved Naufal*


Kamis, 07 Januari 2016

Mencontek

             
Gambar dari google

   Obrolan dalam sebuah grup yang sering random, kali ini membahas tentang mencontek. Alkisah ada anggota grup yang sangat marah karena salah satu temannya yang nota bene kuliah lagi di sebuah perguruan tinggi, melakukan perbuatan mencontek. Menconteknya nggak tanggung-tanggung, pakai hp, bertanya pada si anggota grup itu. Obrolan meluas dan para pendidik di dalam grup pun urun pendapat. Tegas menolak perbuatan curang demi pendidikan karakter.
                Aku termenung dan kemudian asyik dalam perjalanan lamunanku sendiri. Merunut ke belakang, mencari-cari di mana aku mulai mencontek? Atau diberi contekan? Ingatanku jatuh saat kelas lima SD. Waktu itu aku ujian dan duduk dengan kakak kelas enam. Kebetulan kakak kelas enam itu adalah tetangga sebelah rumah. Tapi kami tidak terlalu akrab sebagai tetangga. Masih saya ingat, ujiannya ujian bahasa daerah. Sebelum ujian, Pak Mustafa guru kami melewati bangku kami dan tersenyum. Ya, dia tau kami tetanggaan.
                Pak Mustafa bilang, “Kuwi adik kelase ngko diwarahi, yo?” (Itu, adik kelasnya nanti diajari, ya).
                Ujian berlangsung aman. Soalnya susah, tapi tentu saja aku nggak minta contekan. Gengsi ah. Eh, ternyata malah sang kakak kelas yang tiba-tiba bisik-bisik menunjuk satu soal di kertas ulanganku.
                “Itu jawabannya bukan isuk subuh, dek. Yang bener isuk umun-umun,” ujarnya.
                Hmm, aku sudah tahu jawabanku ini pasti salah. Baiklah, terima kasih kakak kelas, jawabanku kuganti. Itulah pertama kali aku cheating. Tapi bukan atas kemauanku lo ya (pembelaan diri, hehhe).
*
Ingatanku kembali membawa ke masa SMP, waktu ujian juga. Ada telunjuk mencolek punggungku.
                “Sst … nomor 2 jawabannya apa?”
                Wuih, yang nanya si Amin, biang kerok di kelas dua. Keringat meluncur di pelipisku. Aku takut kalau nggak ngasih contekan, nanti pulang sekolah aku dipukul. Jari kananku memberi kode huruf yang harus disilang. Pulang sekolah, Amin menghampiriku.
                “Itu tadi A kan, jawabannya?”
                “Eh … maksudku, itu B.”
                “Lho, kok jarimu tadi bentuknya kayak gitu, sih?”
                “Ya maaf…,”
                Yah, aku memberi contekan tapi tidak termanfaatkan dengan baik, kan (pembelaan diri lagi, hehhe).
*
                Ingatan di masa SMA, buntu. Entah pernah nyontek atau tidak. Waktu kuliah S1 karena hafalannya luar biasa banyak, kadang bikin kepekan di meja. Maksudnya nulisin meja gitu…tapi biasanya sih yang ditulis nggak keluar di ujian (pembelaan diri lagi). Kuliah S2, banyakan open book dan ada teman yang suka jalan-jalan pas ujian, jalan-jalan sambil ngintip jawaban teman lainnya, haha. Kuliah S3, ujian banyakan diganti dengan paper. Kalau paper nggak bisa nyontek, kan. Paling jatuhnya plagiat paper lain. Tapi sebagai peneliti sekaligus penulis, aku anti plagiat.
                Tapi ada satu kejadian menarik pas ujian beberapa waktu lalu. Dosennya lagi sedeng kali. Ada soal yang bunyinya: Sebutkan 10 prinsip bla bla bla… wess…yang namanya 10 prinsip anu anu itu kan harus pleg dengan buku sumber. Masak prinsip mau kita ganti-ganti sendiri. Dan blas 10 prinsip itu gak ada di otakku. Eh, di otak teman-teman apa lagi. Dan ketika yang njaga ujian keluar, salah satu teman buka tab dan mengucapkan dengan lantang ke sepuluh prinsip tersebut. Yang lain nyalin. Sungguh ujian yang sangat rusuh. Tapi cuma di satu nomor itu lho (pembelaan diri).
                Begitulah ceritaku. Ada saat-saat di mana situasi dan kondisi menyebabkan kita ‘harus’ mencontek. Wuih, jangan ada anak sekolah yang baca tulisanku ini ya. Aku teringat kisah lain saat teman-teman honorer di kantorku harus ujian masuk PNS. ‘Kebijakan’ kepala kantor adalah ada beberapa rekan yang ditempatkan sebagai pengawas ujian dan bertugas memastikan teman-teman honorer lolos ujian. Banyak pertimbangan, antara lain mereka sudah berjasa, sudah lama jadi honorer gak diangkat-diangkat, dan lain sebagainya.
                Lalu dalam melaksanakan tugas kantor? Sistem manajemen pemerintahan kadang juga membuat kita harus melakukan beberapa rekayasa. Tanggal kepergian tugas yang tidak sesuai kenyataan, pinjam nama teman lain untuk kelancaran administrasi, menandatangani sesuatu yang samar-samar, dan beberapa hal lain. Allah ampuni hamba.
                Maksudku apa menulis ini semua? Semacam pengakuan dosa? Tidak. Hanya berbagi. Hanya mencoba untuk jujur. Hanya tidak ingin menghakimi. Hanya ingin introspeksi diri. Karena di saat telunjuk kita menuding orang lain, maka empat jari tertuding pada diri kita sendiri. Sudah sucikah kita? Astaghfirullahal adziim….

                Pendapatku tentang perbuatan curang adalah sesuai normalitas. Aku membencinya. Walaupun aku pernah melakukannya. Semoga Allah memaafkan semua kekhilafanku sebagai manusia biasa.

Minggu, 03 Januari 2016

Merantau


Ini adalah sebuah kisah keping mozaik perjalanan hidup, semoga dapat menginspirasi teman-teman yang sedang berada jauh dari kampung halaman.

Merantau menurut  wikipedia, adalah perginya seseorang dari tempat ia tumbuh besar ke daerah lain untuk mencari pekerjaan atau pengalaman. Merantau, merupakan hal yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia yang hidup dalam sebuah negara kepulauan. Bahkan demi pemerataan pembangunan, pemerintah turut menyuburkan budaya merantau, salah satunya adalah dengan memasukkan satu klausul perjanjian yang  ditandatangani seorang calon PNS untuk bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia.
Laki-laki yang merantau adalah hal yang biasa, namun perempuan perantau adalah istimewa. Saya salah satunya, perempuan perantau karena alasan pekerjaan.
                Tahun 1998 saya melamar kerja di Departemen Kehutanan. Proses pemeriksaan berkas lamaran, tes tulis, wawancara, psiko tes dan tes kesehatan merupakan rangkaian panjang tes yang harus dijalani dan memakan waktu beberapa bulan. Akhir Juni 1999 saya menerima surat penempatan kerja di sebuah kantor kehutanan di Ujung Pandang, dengan catatan harus segera melapor tanggal 1 Juli. Praktis, saya hanya mempunyai waktu sekitar satu minggu untuk bersiap-siap.
                Kedua orang tua saya merasa senang anak bungsunya akhirnya mendapatkan pekerjaan. Walaupun demikian, mereka juga sempat cemas karena lokasi penempatan yang teramat jauh dan kami juga tidak mempunyai kerabat yang dapat ‘menampung’ saya untuk sementara. Orang tua saya bertanya, apakah saya akan menerima atau menolak saja peluang tersebut.
                Saya pribadi, yang dari kecil hingga perguruan tinggi tidak pernah jauh dari keluarga (SMP – perguruan tinggi di Malang), tidak merasa gentar dengan penempatan itu. Sebaliknya saya merasa bergairah karena akan mengunjungi sebuah daerah baru yang asing. Dan lagi ini merupakan kesempatan dan anugerah dari Allah yang tak boleh saya sia-siakan, setelah sebelumnya sekitar tujuh puluh surat lamaran saya kirimkan ke berbagai instansi dan perusahaan, tapi tidak ada hasil yang memuaskan.
                Selain kedua orang tua yang sibuk mencari daftar teman dan kerabat yang tinggal di Ujung Pandang, saya juga memutar otak mencari kenalan yang tinggal di sana. Saya teringat bahwa kakak sahabat saya semasa SMU bekerja di kota tersebut. Langsung pada kesempatan pertama saya menghubungi sahabat saya. Akhirnya saya mempunyai tujuan sementara di Ujung Pandang, yaitu rumah saudara sepupu sahabat saya. Kakak sahabat saya yang juga sedang bekerja di Ujung Pandang,  menyanggupi untuk menjemput saya di pelabuhan.
                Demikianlah, akhirnya saya berangkat naik kapal Lambelu menuju Ujung Pandang. Alhamdulillah, di kapal ini ternyata salah seorang kerabat jauh dari Mama saya yang berasal dari Lamongan, bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK). Kami pun menghubungi beliau – Om Jais – sehingga akhirnya saya dan dua orang teman saya mendapatkan fasilitas kelas, walaupun memegang tiket ekonomi.
                Singkat cerita, setelah diterima di kantor dan mengenal rekan-rekan kerja, saya memutuskan untuk keluar dari rumah sepupu sahabat saya. Awalnya saya kos di sebuah rumah kos dengan lokasi relatif dekat kantor. Hanya satu bulan saya kos di sana karena merasa tidak sreg tinggal di tempat kos campur laki-laki dan perempuan. Saya kemudian memutuskan untuk kontrak rumah di dekat kantor bersama dua orang sesama pegawai baru yang kemudian menjadi sahabat-sahabat terbaik saya dirantau. Bertiga kami menjalani takdir, mengais rejeki di bumi Ujung Pandang yang tak lama kemudian di sebut dengan Kota Makassar.
                Sekarang setelah lebih dari sepuluh tahun merantau, ada beberapa hal yang saya pahami dan yakini efektif dalam menjaga diri kita – kaum perempuan – saat merantau, antara lain:
1. Berpegang teguh pada ajaran agama, menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah; 
2. Komunikasi dengan keluarga di tempat asal harus rutin dilakukan agar kedua belah pihak merasa tenang;
3. Jalin pertemanan dengan orang-orang baik, yang dapat memotivasi kita untuk selalu berada di jalan kebenaran; 
4. Ramah dan beradaptasi dengan budaya dan lingkungan yang berbeda dengan tempat asal; 
5. Lebih baik menambah saudara daripada menambah musuh; 
6. Selalu bersyukur atas nikmat pekerjaan yang diberikan Allah. 
Dengan berpegang pada enam hal tersebut, Insya Allah kita aman dan terjaga walaupun jauh dari keluarga.
                Pengalaman saya pribadi, ‘sukses’ menjalankan poin ke lima, karena ternyata Allah mempertemukan saya dengan jodoh saya di Makassar. Tahun 2003 saya dipersunting oleh seorang putra daerah. Makassar bukan lagi tempat merantau bagi saya, tapi adalah ‘home’ tempat saya melahirkan dan membesarkan anak-anak saya.

                Satu peribahasa yang harus dipegang dan dipahami oleh para perantau di seluruh dunia: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di mana kamu berada, hargai dan jalankan adat dan kebiasaan di tempat tersebut

Sabtu, 02 Januari 2016

Pentingkah Sebuah Resolusi?

Seperti biasa di pengujung tahun, saya membuka kembali file resolusi dan menilai capaian yang saya peroleh. Hmm, kali ini untuk tahun 2015, nilai saya hanya 6,66. Bisa ditebak, banyak resolusi yang tak tercapai.

Saya biasa membagi resolusi menjadi tiga bagian:
1. Keluarga, kesehatan dan religi
2. Karir
3. Karir 2

Dari tiga kelompok besar di atas, bisa dipilah-pilah lagi sesuai kebutuhan. Untuk poin 1, tahun kemarin saya berjanji untuk lebih sabar kepada anak-anak, lebih rajin membuat kue dan lebih sering menemani mereka belajar dan bermain. Dalam hal religi, saya berjanji untuk lebih rajin membaca Al Qur'an, rajin sholat wajib maupun sunnah. Dalam hal kesehatan, mau olahraga rutin. Total nilai : 7 (soalnya olahraga rutinnya cuma bertahan satu minggu).

Poin karir, ada rincian tugas-tugas saya, tapi intinya sih, saya harus LULUS kuliah. Ternyata gagal, so nilai saya : 5 (Harusnya nilainya nol, tapi ada progresslah, lagipula saya nggak mau jahat pada diri sendiri ngasih nilai kok zero banget).

Poin karir 2, ini maksudnya terkait second job saya sebagai penulis. Penulis pemula. Target tahun 2015 kemarin 6 cerpen dimuat media. Ternyata beneran ada enam cerpen dimuat plus bonus tulisan lain berupa opini, resensi dan naskah humor. Jadi saya nilai : 8

Nah, total setelah dijumlahkan dan dibagi tiga, nilai saya adalah 6,66 tadi itu. Kurang memuaskan.

Trus, resolusi untuk 2016 apa, dong? Yah, yang belum tercapai di 2015 tetep dilanjutkan dengan harapan nilainya meningkat.

Penting tidak sih, nulis-nulis resolusi segala? Ya, menurut saya penting. Untuk memberi patokan setahun ke depan tu mau ngapain aja. Apa yang hendak dicapai. Masak hidup datar-datar saja. Tapi lebih penting lagi untuk selalu mengevaluasi misalnya perbulan, sudah sejauh mana progress yang diperoleh dari sebuah resolusi. Jadi insyaAllah resolusinya bisa tercapai semua di akhir tahun.

Begitu.

Jadi, sudahkah Anda membuat resolusi Anda sendiri? Mari kuatkan tekad untuk mencapai semua asa di 2016. Semoga doa kita diijabah Allah SWT. Aamiin....


Sabtu, 31 Oktober 2015

Doa Untuk Negeriku, Indonesia



Aku selalu merasa aku mencintai Indonesia. Aku selalu terharu bila mendengar kisah-kisah tentang negeriku. Aku bangga jika membaca tentang kekayaan alam yang berlimpah. Aku tersentuh pada kisah perjuangan merebut kemerdekaan dulu. Aku menangis saat bencana melanda negeriku.

Tapi cukupkah itu sebagai bukti cinta negeri?

Beberapa hari ini aku merenung seberapa cinta aku pada negeriku. Cinta itu harus terukur dengan sebuah kiprah yang kulakukan untuk negeri. Tapi apa hasilnya? Ternyata aku belum berbuat banyak untuk negeri. Bahkan mungkin belum berbuat apa-apa. Justru negeri ini yang telah memberi aku banyak.

Maka aku hanya bisa berdoa dalam sebuah mimpi dan asa akan Indonesia di masa depan. Begini mimpiku untuk Indonesia:

Indonesia kelak akan menjadi negara paling diminati untuk tinggal, bekerja, berwisata ataupun melanjutkan pendidikan. Di suatu masa, generasi muda menyadari bahwa pengelolaan Indonesia sebagai sebuah negara adalah dengan tidak menafikan kodrati lahiriah Indonesia sebagai negara kepulauan.

Indonesia adalah negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang perlu dilindungi, baik flora fauna daratan maupun laut. Itulah kekayaan sejati yang harus dipertahankan tidak hanya oleh masyarakat Indonesia sendiri melainkan oleh masyarakat seluruh dunia. Maka masyarakat seluruh dunia harus bahu-membahu membantu agar masyarakat Indonesia sadar akan kekayaannya. Memberikan donasi untuk pendidikan dan pengelolaan lingkungan, sehingga kelak akan lahir generasi hebat dengan otak brilian – anak-anak Indonesia – yang akan bertanggungjawab menjaga kelestarian alam.

Selain di bidang pendidikan dan lingkungan, Indonesia akan menjadi negara dengan toleransi beragama yang tinggi. Tak ada lagi saling caci antar umat beragama. Semua agama yang ada di Indonesia menggali kembali akar agamanya masing-masing. Berkiblat pada keagungan akhlak para rasulnya. Keagungan akhlak dalam mencintai sesama dan menjamin keamanan antar umat.

Aamiin....

Mungkin kelak, aku tak lagi tegak berdiri jika mimpiku menyata. Namun aku akan tenang di manapun aku berada, karena anak dan cucuku akan menikmati Indonesia yang lebih baik. Tanpa asap, tanpa demo buruh, tanpa kekerasan anak, tanpa pelecehan agama dan tanpa kemiskinan.

*Tulisan ini disertakan dalam lomba nulis #CintaIndonesia IIDN Jogja


Senin, 19 Oktober 2015

Akhlak Dalam Islam (Resume tausiah AA Gym - serambi islami TVRI)


Saya suka menonton acara ceramah agama pagi-pagi di TVRI, judul acaranya serambi Islami. Tiap hari narasumbernya ganti-ganti. Salah satu favorit saya AA Gym, yang biasanya mengisi di hari Senin pagi bakda subuh. Pada suatu senin saya sempat mencatat tema yang penting dari tausiah AA Gym, yaitu tentang akhlak. Daripada catatan berserakan, lebih manfaat saya share via blog. Semoga ada yang tercerahkan.

Tahapan Akhlak dalam Islam ada tiga, yaitu:
1. Saya aman bagimu.
    Lisan dan perbuatan kita tidak menyakiti orang lain
2. Saya menyenangkan bagimu
    Kalau ada kita, orang senang
3. Saya bermanfaat bagimu
    Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi sesama.

Rasulullah SAW diutus ke bumi dengan tujuan untuk menyempurnakan akhlak manusia. Agar akhlak baik, kita yang pertama harus mau berakhlak baik, tahu tentang akhlak dan melaksanakan latihan secara terus menerus agar akhlak kita baik.

Jangan sampai kita sibuk menata rumah daripada menata hati, lebih sibuk mencuci baju daripada mencuci hati yang kotor. Pikirkan berapa banyak kita membeli baju untuk mengotori hati? Beli baju supaya cantik, beli baju jadi centil, beli baju takut rusak, kotor, dll.

Ini dari akhlakul karimah dalam Islam adalah akhlak yang diniatkan sebagai ibadah yang semuanya ditujukan pada keridhaan Allah SWT.

Bagaimana sikap kita terhadap orang non Islam yang baik?
Jangan mengkafirkan, tetap bersikap baik dan doakan agar ia mendapat hidayah dari Allah SWT. Agama Islam hadir bukan untuk kaum Islam saja, melainkan rahmatan lil alamiin, rahmat untuk semesta alam.

Bagaimana sikap kita terhadap pemimpin non muslim?
Sama dengan di atas. Selama instruksinya baik, berpegang pada kebenaran, harus kita dukung. Kalau instruksinya menyuruh pada kemungkaran, harus kita ingatkan.

Bagaimana caranya agar anak mempunyai akhlak yang baik?
1. Pertama kita harus sadar bahwa anak itu milik Allah. Allah yang mengurus anak kita. Kalau ingin anak baik, kita duluan yang musti baik.
2. Kita berikan lingkungan terbaik untuk anak. Pendidikan yang baik.
3. Jangan lupa doa. Kita doakan sekuat tenaga agar Allah membolak-balik hati anak kita. Meluruskan yang bengkok, mengistiqomahkan yang sudah lurus, karena sejatinya bukan kita yang berperan besar terhadap perubahan akhlak anak, tapi hanya Allah saja yang bisa mengubah anak kita menjadi lebih baik.

Tahapan memperbaiki diri agar akhlak menjadi baik:
1. Bertekad untuk memperbaiki diri
2. Bercermin pada akhlak Rasulullah SAW. Rasulullah adalah insan yang paling baik akhlaknya. Ikuti semua perintahnya. Bila Rasulullah bicara : Jangan marah, maka bagimu surga. Maka ikutilah. Berusahalah untuk tidak/ sekuat tenaga menahan marah. Karena kalau kita sudah terlanjur marah, maka setan akan berbisik menyuruh kita menambah volume suara, menambah lebar mata dengan melotot, dan akhirnya malah akan memperburuk suasana dan tidak menghadirkan solusi.
Kalau perlu jangan membaca referensi lain sebelum paham benar tentang akhlak Rasulullah.
3. Riyadhoh/mujahadah. Latihan secara rutin dan tak kenal lelah. Latihan menarik napas panjang jika sudah ada tanda-tanda kesal di hati. Latihan tersenyum di cermin agar kehadiran kita selalu menyejukkan hati orang-orang terdekat.
4. Istiqomah atau disiplin.

Semua langkah di atas dibarengi dengan selalu meminta pertolongan Allah SWT agar dimudahkan mencapai tujuan yang diharapkan.

Semoga resume ini bermanfaat.
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES