Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 September 2021

Penulis Buku yang Tidak Menulis Sendiri Konten Bukunya

Judul buku        : Wonderfull You

Penulis              : Hoeda Manis

Tahun                : 2013

Penerbit             : Laksana

Gb.1 Buku Wonderfull You

Siapa yang ingin jadi penulis buku? Profesi penulis adalah profesi yang sangat keren menurut saya. Walaupun ada orang yang melecehkan bahkan menyangsikan seorang full writer bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya hanya dari menulis saja. 

Hai, mungkin piknikmu kurang jauh. 

Andrea Hirata, Kirana Kejora, Ari Kinoysan, dan masih banyak nama lagi - adalah orang-orang yang bekerja sebagai penulis full. Kalau masih asing dengan ketiga nama yang saya sebut, googling saja, ya?

Namun dalam tulisan kali ini saya tidak hendak membahas tentang full writer yang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dari menulis. Saya ingin membahas profesi penulis buku dan mereka yang tidak menulis sendiri konten bukunya.

Maksudnya gimana?

Coba lihat buku "Wonderfull You" pada Gambar 1. Pasti pembaca nggak punya clue buku macam apa ini. Novel, atau non fiksi motivasi? Kalau kamu jeli dan sempat zoom lingkaran di sebelah kiri kover buku, kamu akan membaca clue berupa tulisan "Inspirasi Buat Ngirim SMS, BBM, Status, dan Twitter." Nah, sudah ada bayangan?

Betul. Buku setebal 232 halaman ini ternyata isinya adalah kumpulan quote. Quote dari si penulis buku? Oh, tidak. Quote dari banyak public figure dunia.

Gb.2 Daftar Isi

Kalau melihat daftar isinya pada Gambar 2, maka dari halaman tujuh hingga halaman 122, berisi kumpulan quote tentang teman dan persahabatan. Sedangkan dari halaman 123 sampai akhir berisi quote tentang keluarga, ayah, dan ibu.

Saya kutip dua quote di buku ya:

"Waspadalah terhadap lingkungan yang kaupilih, karena lingkungan akan membentukmu. Berhati-hatilah dengan teman yang kaupilih, karena kau akan menjadi seperti mereka" (W. Clement Stone)

W. Clement Stone adalah seorang pebisnis Amerika dan seorang penulis buku.

"Kata paling indah yang keluar dari bibir manusia adalah kata "ibu", sedangkan panggilan paling indah adalah kata "ibuku". Sebuah kata yang indah dan merdu, yang keluar dari dasar kalbu. Ibu adalah segala-galanya. Ia adalah penghibur kala ditimpa kesusahan, harapan dalam kesedihan, dan kekuatan dalam kelemahan." (Kahlil Gibran)

Kahlil Gibran, sudah tahu kan, siapa dia?

Gb.3 Isi Dalam Buku

Isi dalam bukunya seperti gambar nomor tiga. Sepanjang halaman penuh quote. Jadi paham kan kenapa tulisan ini saya beri judul "Penulis Buku yang Tidak Menulis Sendiri Konten Bukunya." Karena memang si penulis tidak menulis sendiri quote-quote di dalam buku. Ia hanya mengumpulkan quote dari berbagai sumber dan menyusunnya menjadi sebuah buku.

Salahkah? Tidak, tentu saja tidak salah. Penerbit tentu sudah lebih dari tahu tentang urusan copyright dan lain-lain yang mungkin timbul jika menerbitkan buku seperti ini. Selain itu, buku semacam ini juga bukan hanya buku ini. Saya pernah menjumpai buku sejenis, bahkan laris manis. Isinya kumpulan cerita inspiratif yang biasa kita baca di broadcast-broadcast whats app. 

Yang ingin saya tekankan di sini, kadang untuk menjadi penulis, kamu tidak perlu bingung memikirkan konten. Kamu cukup harus jeli apa yang kira-kira dibutuhkan pembaca. Dan kumpulkan itu dari berbagai sumber. Tentu saja selain jeli, yang dibutuhkan adalah ketekunan dan ketelatenan untuk menyalin ulang permasalahan yang hendak kamu bukukan itu.

Apakah layak disebut penulis? 

Menurut saya layak-layak saja. Tapi cukuplah melakukannya di awal-awal debut. Penulis pemula bolehlah menyusun buku dari memulung kisah di sana-sini. Tapi setelah satu dua buku, tentunya kamu ingin menyusun sebuah buku yang mulai dari awal hingga akhirnya berisi pemikiranmu sendiri. 

Nah, bagaimana? Apakah kamu siap untuk menyusun buku pertamamu? Kira-kira buku apa yang dicari orang sekarang-sekarang ini? Kumpulan resep masakan praktis dan resep ramuan herbal mungkin merupakan hal yang banyak dicari orang saat ini. Tapi sebaiknya jangan langsung kopas. Praktikkan dulu resepnya, sehingga saat menuliskan ulang, ada sentuhan personal yang kamu bubuhkan di bukumu.**



Selasa, 27 Juli 2021

[Resensi]: My Coach My Prince

Judul        : My Coach My Prince

Penulis     : Rintas

Tahun       : 2021 

Tebal        : 170

Penerbit    : Bhuana Ilmu Populer (Edisi digital)

ISBN        : 978-623-04-0578-5

My Coach My Prince


Setelah sekian lama tidak membaca teenlit, akhirnya selesai juga satu teenlit saya baca sekali duduk. Kali ini saya membaca via Gramedia Digital, sebuah novel teenlit berjudul "My Coach My Prince."

Novel ini menceritakan seorang gadis kuliahan bernama Renatta. Renatta ini punya dua sahabat cewek yang sangat sayang sama dia. Mereka bertiga sahabatan dari SMP dan janjian kuliah di kampus yang sama. Tapi Renatta ini ngekos, sedangkan dua sahabatnya tinggal di apartemen.

Nah, si Renatta ini punya kebiasaan laperan dan suka juga makan sampai semeledaknya perut (wuih, istilah penulisnya ini sangar juga ya, semeledaknya perut, kekgimana itu). Suatu ketika si Renatta muntah di depan cowok cool tetangga kosannya, yang lalu menolong dia masuk kamar, bahkan beliin obat segala. Si cowok ini namanya Daren.

Renatta terkesan dengan kebaikan Daren dan malah kepikiran mau olah raga supaya agak sehat. Besoknya dia pergi ke taman kota untuk olah raga, tapi karena badannya masih kurang fit, eeeh dia debuuuum! lagi alias pingsan. Yang nolongin tak lain dan tak bukan adalah Daren lagi, tetangga kosan yang kebetulan lagi di lokasi yang sama.

Aih, adegan kebetulannya ftv banget gak sehhh...

Setelah nganterin Renatta ke IGD, Daren malah kepikiran untuk menolong Renatta lebih jauh. Ia menawarkan diri untuk menjadi coach Renatta buat olah raga, agar badannya sehat. Soalnya hasil tes darah Renatta tuh, dia ada gejala pre-diabetes gitu. Bahaya kalau nggak segera diatasi. Renatta pun setuju. Mulai sejak itu ada jadwal mereka berdua tiap pagi lari ke taman kota. 

Suit ... suit ... udah berasa kan, alurnya mau belok kemana...

Suatu waktu pas mereka olah raga, eeh malah Daren yang giliran pingsan karena sakit. Renatta pun membantu membawa Daren ke tempat kos. Renatta mengurus Daren sampai demamnya turun. Di situlah Daren mulai tau bahwa Renatta walaupun nyebelin, punya rasa khawatir dan rasa kesetiakawanan yang kuat (halaman 39).

Selain olah raga bareng, mereka juga makin dekat karena saat makan bareng, Renatta curhat tentang masa lalunya sebagai korban bully (halaman 43). Daren pun menghibur Renatta dengan tulus.

"Selagi kamu bisa mempercantik hati kamu, semuanya juga bakal terpancar gimana pun bentuk fisik kamu. Big is beautiful, Ren, and I hope my big girl doesn't cry."

Gitu kata Daren ... uhuy banget, kan?

Setelah tiga bulan, berat badan Renatta turun sepuluh kilo. Badannya lebih sehat. Dia merayakan hal ini dengan makan-makan sama Daren dan dua sahabatnya. Pulang makan, Daren minta ditemani beli jam tangan buat kakaknya suami istri - jam tangan couple. Daren minta Renatta yang pilihin jam. Ada jam yang Renatta suka, tapi ndak cocok buat kakak Daren. Tanpa setahu Renatta, selain beli jam tangan buat hadiah kakakknya, Daren juga beli jam yang Renatta suka, dan menyerahkannya pada cewek itu.

Unch, manis banget kaaan, mana cara nyerahinnya tuh bikin gemes, aku pun jika dikasih kayak gitu bakalan gak bisa tidur, kelap-kelip aja mata macam lampu di kota.

Masalah muncul saat Daren mengantar Renatta ke kampus. Ternyata Fani, cewek yang paling tenar di jurusannya Renatta, pernah naksir Daren. Panas dia lihat Daren ngantar Renatta, sedangkan dulu Daren nolak dia mentah-mentah. Fani marah-marah secara terbuka ke Daren.

"Selama ini kamu selalu nolak jalan sama aku, kenapa sekarang malah asik-asikan sama cewek gedebok pisang." (halaman 60).

Jahatnya Fani, walau Renatta sedikit ndut, janganlah nyerang fisik. Gak bermartabat banget cewek yang nyerang fisik cewek lain kan. Mana woman support womannya donk ach!

Daren meminta Renatta tidak perlu mempedulikan Fani. Nadia dan Wini, dua sahabat Renatta menemani Renatta dan baru ngeh arloji couple di tangan Renatta dan Daren. Mereka curiga Daren menyimpan rasa buat Renatta. Tapi Renatta berkeras bahwa ia dan Daren hanya teman biasa.

Sepulang kuliah, Daren menjemput Renatta dan ngajak makan. Sambil makan, Daren cerita tentang mantannya yang meninggalkannya gara-gara materi. Nama mantannya itu Ilvi. Dulu Daren miskin, lalu Livi beralih ke lain hati. Daren gantian nanya apa Renatta pernah pacaran. Tapi Renatta berkelit, cewek gendut seperti dirinya siapa yang mau macarin.

Ternyata itu pertemuan mereka terakhir, esoknya Daren pamit KKN. Tapi anehnya ada orang mindahin barang-barang Daren dari kamar kosannya. Hape Daren juga nggak bisa dihubungi. Renatta bingung temannya tiba-tiba menghilang tanpa pesan, tapi lalu Daren mengirim surat kepadanya meminta maaf karena tidak sempat pamit.

Seperti suka ngilang tiba-tiba, Daren juga muncul tiba-tiba seusai KKN-nya. Waktu itu Renatta sudah agak peduli dengan penampilan dan sedikit dandan. Tapi Daren malah nggak suka Renatta dandan. Dia ingin Renatta apa adanya saja. Daren ngajak Renatta jalan tapi mereka malah ketemu Ilvi. Mantan Daren itu nangis-nangis ngajak Daren balikan.

Renatta sudah tidak kuat dengan perasaannya yang up and down terhadap Daren. Ia menyadari ia jatuh sayang sama Daren, tapi ia juga ingin sahabatnya itu bahagia. Maka dengan tekad bulat, Renatta mengikuti program pertukaran pelajar ke Singapura. Ia mau menjauh dan pergi dari Daren. Ia ingin Daren bahagia dengan Ilvi.

Tak dinyana di Singapura, Renatta ketemu lagi dengan Daren. Daren waktu itu sedang ke kafe, dan Renata sedang kerja part time sebagai waiters. Daren sedang dalam rangka ngabur dari rumah karena keluarganya memaksanya nikah sama Ilvi yang tak dicintainya lagi. Daren surprais karena Renatta sudah langsing dan cantik.

Renatta sempat ngabur lagi dari Daren tapi mereka bertemu lagi dalam kondisi Daren sakit. Renatta tak mungkin meninggalkannya. Banyak yang dibahas antara keduanya. Guyonan kasar antar sahabat karib juga masih sering mereka lontarkan satu sama lain. Tapi mereka pun tahu mereka telah saling memiliki rasa cinta satu sama lain.

Akhirnya mereka pulang ke Jakarta, dan di sebuah cafe, Daren melamar Renatta. Happy ending!

Wah, akhirnya selesai juga resensi bukunya. Lama juga ngerjainnya, padahal baca bukunya cepet. Semoga kalian suka, ya. Buku ini dapat kalian baca melalui laman Gramedia Digital. Kalau versi cetaknya sepertinya belum ada. Selamat membaca...




Rabu, 31 Maret 2021

[Resensi] Siapa Memelihara Ketulusan, Akan Menuai Keberhasilan

 


Judul Buku       : Tragedi Apel & Buku Ajaib Jiko

Penulis             : Yosep Rustandi

Penerbit          : Indiva Media Kreasi

Halaman         : 157

Harga              : Rp40.000,00

 

            Buku “Tragedi apel & Buku Ajaib Jiko”, menceritakan tentang kisah Jiko dan teman-temannya. Mereka adalah anak-anak yang lahir dari keluarga miskin. Ayah Jiko adalah seorang buruh angkut di pasar, dan ibunya bekerja di laundry – mencuci dan menyeterika pakaian (halaman 86). Dengan keterbatasan hidup keluarga ini, Jiko memilih tidak sekolah di sekolah formal, melainkan belajar di Sanggar Hati. Sanggar Hati adalah sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang peduli terhadap anak-anak jalanan dan anak miskin perkotaan (halaman 16). Dengan Bu Rara sebagai ketua, Sanggar Hati mengajari anak-anak keluarga miskin membaca, menulis, berhitung, dan memberikan motivasi agar mereka bersemangat dalam menjalani hidup yang keras. Selain Bu Rara dan beberapa volunteer dewasa lainnya sebagai pengajar, Sanggar Hati juga menerima remaja SMA sebagai volunteer untuk mengajar anak-anak. Yasmin, adalah salah satu remaja SMA yang menjadi pengajar anak-anak di Sanggar Hati. Yasmin memiliki sahabat bernama Dini dan Dini ini juga tertarik untuk mengikuti jejak sahabatnya. Namun, sebuah peristiwa membuat Dini merasa tidak respek pada sebagian anak yang belajar di Sanggar Hati.

            Secara tidak sengaja, dalam situasi yang tidak mengenakkan, Dini bertemu dengan Jiko dan Alin, sahabat Jiko. Waktu itu Dini sedang membeli apel dan sudah membayar. Ia kaget dan tidak sempat menyelamatkan apelnya ketika Alin dengan secepat kilat lari melewatinya sambil menyambar kantung berisi apel yang dipegangnya! Di belakang Alin, Jiko yang selalu memegang buku, ikut berlari. Dini berteriak “Maling!”, namun langkah kedua anak tersebut terlalu cepat (halaman 9).

            Saat itu, Jiko sebenarnya kaget juga. Ia tidak menyangka Alin akan menjambret apel yang dipegang Dini. Ia hanya penasaran dan mengikuti sahabatnya yang bermuka murung. Tapi karena situasi berubah menjadi rusuh, jalan satu-satunya yang dapat dilakukannya hanyalah mengikuti Alin berlari sambil membawa apel. Malangnya saat mereka sudah lepas dari kejaran orang-orang, mereka bertemu trio Atan, Sura, dan Wira. Trio ini adalah geng anak nakal yang suka usil (halaman 11). Trio yang dipimpin Atan ini ingin merebut apel yang dicuri Alin. Saat mereka bertengkar, jatuhlah apel ke sungai dan hanyut.

            Jiko sendiri sebenarnya adalah anak yang cerdas dan suka belajar. Ia merupakan murid favorit Yasmin di Sanggar Hati. Jiko cepat belajar dan suka membaca buku. Buku apapun ia baca sehingga ia banyak pengetahuan. Jiko juga sangat dekat dengan Yasmin dan mengidolakan Teh Yasmin yang baik. Jiko sering bercerita tentang Alin pada Yasmin. Alin hidup hanya berdua dengan emaknya yang sakit-sakitan dan tidak kuat lagi bekerja. Sedangkan bapak Alin sudah lama meninggal. Sebenarnya alasan Alin mencuri apel adalah untuk diberikan pada ibunya yang sedang sakit, walaupun kemudian Alin kebingungan cara memberikan apel untuk emaknya tanpa menjelaskan dari mana apel itu berasal.

            “Emakku jangan sampai tahu apel ini dapat dari nyuri,” ucap Alin pada Jiko, saat mereka menemukan kantung apel yang hanyut tersangkut.

            “Tapi kenapa? Kata buku, kita tidak boleh berbohong pada orangtua!” sentak Jiko.

            Alin berkeras, karena emaknya tidak akan mau makan apel hasil curian. Bahkan ayam goreng dan rolade daging yang ia dapat dari makan di rumah orang yang sedang punya hajat saja tidak dilirik oleh emaknya. Emak Alin yang sedang sakit, hanya mau makan makanan halal dan ia selalu bertanya dari mana Alin mendapatkan makanan. Akhirnya kedua sahabat itu malah bingung apelnya hendak diapakan. Kemudian Jiko punya ide bagaimana kalau mereka menanam bibit apel saja. Mereka bekerja membantu Pak Sanwirya yang berjualan bibit tanaman dan meminta upah berupa bibit apel. Setelah dua hari bekerja, Pak Sanwirya benar-benar memberi mereka bibit apel. Tingginya sekitar 20 cm dan mereka menanamnya di balik ilalang, tersembunyi dari mata orang lain (halaman 63).

            Dini sahabat Yasmin akhirnya benar-benar mengajar di Sanggar Hati. Pada saat ia mengajar itulah ia melihat Jiko dan memastikan bahwa salah satu anak yang mencuri apelnya adalah Jiko. Dini berusaha mengejar, tapi Jiko lari sekencangnya (halaman 76). Jiko lari menuju rumah Alin dan menemukan sahabatnya itu sedang pusing memikirkan emaknya. Jiko enggan kembali belajar di Sanggar Hati karena ada Dini. Jiko ingin pindah ke sekolah negeri saja.

            Yasmin tidak percaya Jikolah yang mencuri apel Dini. Seandainya pun Jiko yang melakukannya, Yasmin yakin ada penjelasan yang masuk akal di balik itu. Maka dengan dibantu Dini dan Doni, kakak Dini – Yasmin melakukan pengintaian terhadap Jiko (halaman 109). Mereka sengaja meletakkan kardus-kardus bekas di tempat sampah rumah Tante Dini, yang terletak di kompleks perumahan di mana Jiko sering memulung sampah. Dini jadi tahu sisi lain anak pinggiran yang miskin, yang harus mengorek-ngorek sampah untuk mengambil barang bekas yang masih bisa dijual lagi.

            Sudah terlalu lama Jiko tidak muncul untuk belajar di Sanggar Hati. Akhirnya, Yasmin mencari alamatnya dan menemui ibu Jiko. Awalnya Jiko hendak lari, namun Yasmin memastikan bahwa Dini tidak marah lagi pada Jiko. Yasmin mengajak Jiko ke Sanggar Hati dan menanyai Jiko mengapa ia mencuri apel. Jiko bercerita tentang Alin yang mencuri apel untuk ibunya yang sedang sakit. Yasmin, Dini, dan Dino akhirnya menemui Alin dan ibunya.  Alin mengembalikan apel yang masih utuh dalam kantung kepada pemilik aslinya yaitu Dini. Setelah memahami duduk permasalahannya, Yasmin, Dini, dan Doni membawa ibu Alin untuk menjalani pemeriksaan medis.

            Kisah apel belum berakhir sampai di sini. Masih ingat bibit apel kecil yang ditanam Jiko dan Alin? Kadang ia berbunga, dan esoknya gugur. Namun kedua anak yang menanamnya tidak patah semangat. Mereka berdua memang anak-anak miskin, dan mereka mungkin pernah berbuat salah. Namun mereka adalah anak-anak yang masih memiliki hati nurani, paham mana yang salah dan mana yang benar. Di akhir cerita digambarkan oleh penulis, bahwa keduanya kelak menjadi pengusaha apel yang cukup sukses. Itulah hikmah dari perjalanan secuil kisah kehidupan Jiko dan Alin bersama Yasmin dan Dini. Barang siapa yang memelihara ketulusan, akan menuai keberhasilan kelak.** 





Rabu, 04 April 2018

[Resensi]:Seumpama Matahari

Keputusan Seorang Mantan Pemberontak

Judul               : Seumpama Matahari
Penulis             : Arafat Nur
Penerbit           : Diva Press
Cetakan           : I, Mei 2017
Tebal               : 142 halaman
ISBN               : 978-602-391-415-9



            Kekuatan Arafat Nur dalam merangkai kata tidak perlu diragukan lagi. Penulis asal Aceh ini pernah memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010 dan meraih Khatulistiwa Literary Award 2011 untuk novelnya yang berjudul Lampuki. Novelnya Tanah Surga Merah kembali memenangkan sayembara serupa pada tahun 2016. Hampir seluruh novel karya Arafat Nur menggunakan latar belakang peperangan Aceh ataupun kondisi politik Aceh pasca perang. Demikian pula dengan novel Seumpama Matahari ini, mengangkat satu episode perjalanan hidup seorang mantan pemberontak bernama Asrul.
            Asrul anak sulung dari dua bersaudara. Ia hidup hanya dengan ibu dan adik perempuannya. Bapaknya sudah lama mati, dibunuh tentara. Kematian bapaknyalah salah satu alasan Asrul bergabung dengan pasukan pemberontak, menjadi gerilyawan yang tinggal di hutan dan berjuang melawan tentara. Untuk itu ia rela hidup terpisah dengan ibu dan adiknya selama tiga tahun.
            Kisah dalam novel ini diawali dengan adegan Asrul dan dua orang temannya di dalam hutan, berusaha membebaskan diri dari serbuan tentara. Mereka dapat sampai dengan selamat di markas, dan setelah kejadian tersebut, Asrul memutuskan untuk pulang dan bertemu dengan ibu serta adiknya. Dalam perjalanan ke rumahnya, Asrul berjumpa dengan dua orang perempuan kakak beradik dan sempat bertukar canda dengan mereka (hal 33). Di sini terlihat tokoh Asrul hampir serupa dengan tokoh-tokoh dalam novel Arafat Nur lainnya. Tokoh utama dalam novel Arafat hampir selalu pria usia tiga puluhan dengan penampilan menarik dan menimbulkan rasa tertarik gadis yang melihatnya. Demikian juga Asrul dalam pertemuan pertamanya dengan Putri, sudah menimbulkan kesan di hati gadis itu, begitu juga sebaliknya.
            Tak lama setelah Asrul pulang ke rumahnya, ternyata ada kabar yang menyebutkan bahwa markasnya di hutan habis digempur tentara. Zen, sang pemimpin, menjadi satu-satunya yang berhasil melarikan diri dan kemudian menelpon Asrul untuk memperingatkannya. Asrul langsung memutuskan untuk pergi menyelamatkan diri dari rumah dan berusaha memperoleh pekerjaan di Riau. Sayangnya setelah dua bulan tinggal di rumah kost, ia harus terusir karena tak juga mendapatkan pekerjaan. Saat itulah ia hidup menggelandang dan makan dari mengorek-ngorek sampah. Mujur, suatu hari di terminal, ia bertemu kembali dengan Putri dan adiknya. Kedua perempuan ini dengan senang hati menolongnya bahkan mengizinkannya tinggal di rumah mereka. Lambat laun, kedekatannya dengan Putri membuat Asrul ingin hidup normal sebagai manusia biasa. Bahkan ia memutuskan untuk tidak kembali bergabung dengan pemberontak, walau Zen memanggilnya untuk bergabung dengan kelompok pemberontak yang lain.
            Keunikan dari novel ini adalah karena jalan ceritanya tidak murni dari olah pikir seorang Arafat Nur. Novel ini ditulis berdasarkan catatan gerilya Thayeb Loh Angen, mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kemudian menjadi penulis dan jurnalis, sehingga kisah yang diceritakan sebagian besar adalah berdasarkan fakta. Membaca novel ini akan membuat kita memahami mengapa orang Aceh memilih menjadi pemberontak, lalu mengapa ia memutuskan untuk menjalani hidup baru sebagai orang biasa. Setiap orang punya alasan dalam membuat sebuah keputusan. Pilihan masing-masing individu itulah yang dapat menjadi bahan pelajaran atau cermin kita sendiri dalam menjalani kehidupan.

Rabu, 07 Februari 2018

[Resensi]: Oishii Jungle

Judul Novel: Oishii Jungle
Penulis: Erlita Pratiwi
Penerbit: Grasindo
Tebal:193 halaman
Tahun terbit:2014
Tokoh: Shasa, Era, Heru, Akiko, Kenji

 Keseruan Petualangan ke Tanjung Puting



Shasa seorang mahasiswi yang mempunyai sahabat bernama Era. Mereka berdua ini punya sifat dan latar belakang ekonomi keluarga yang berbeda. Shasa anak orang kaya yang terbiasa dengan gaya hidup mewah, sementara Era anak orang biasa yang gemar berpetualang ke pelosok-pelosok Indonesia, walau sering harus menabung dulu untuk itu.

Shasa butuh bantuan Era untuk memenuhi tantangan Akiko, mantan tetangganya yang orang Jepang asli (ceritanya Akiko ini pernah tinggal di Indonesia, tapi sudah kembali ke Jepang), untuk menjadi guide jalan-jalan ke tempat wisata yang tidak biasa di Indonesia. Pokoknya harus unik dan menantang. Bila Shasa berhasil memenuhi tantangan dari Akiko, Akiko akan menguruskan tiket Shasa nonton kabuki di Tokyo.
Shasa dibantu Era menggugling tempat-tempat wisata di Indonesia dan singkat cerita, mereka dan juga Akiko setuju untuk berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan. Mereka akan dipandu oleh Heru, teman SMP Shasa dan Era yang tinggal di Pangkalan Bun. Jadilah pada hari yang ditentukan, mereka pergi berlima: Shasa, Era, Heru, Akiko dan Kenji (kakak Akiko).

Novel ini berkisah tentang petualangan mereka berlima di Tanjung Puting. Tentunya banyak cerita seru, bagaimana mereka naik perahu kelotok menuju Tanjung Puting, bertemu orangutan ramah bernama Siswi, kelelahan Shasa yang tak terbiasa berpetualang di alam terbuka dengan medan yang terjal, juga beberapa spot pemandangan indah alam Kalimantan yang dituturkan dengan apik oleh penulisnya. Tak ketinggalan berbagai kuliner yang selalu dinikmati dengan senang hati oleh Akiko dan Kenji, dan komentar Akiko setiap menemukan sesuatu yang mengagumkan hatinya: Oishii ... Pemandangannya oishii, makanannya oishii, perjalanannya oishii juga.

Petualangan yang seru itu juga dibumbui dengan episode-episode romantis antara Shasa dan seseorang peserta perjalanan lainnya. Hayo, siapa kira-kira? Membaca novel ini bisa sekali habis karena gaya bahasanya ringan, renyah, dan menyenangkan. Novel ini rekomended sekali untuk dibaca menghabiskan akhir pekan. Walau tergolong bacaan ringan, namun dari novel ini kita juga mendapatkan beberapa pengetahuan yang penting, misalnya deskripsi Taman Nasional Tanjung Puting, caranya kesana dan juga ke spot-spot wisata di sekitarnya; jenis-jenis makanan Jepang; dan budaya Jepang misalnya yang berkaitan dengan Boneka Daruma. Daruma adalah boneka berbentuk bulat yang dijual dengan bola mata yang belum diwarnai. Boneka ini merupakan lambang pengharapan yang belum tercapai. Orang yang mempunyai harapan akan mewarnai mata kanan Daruma dan setelah harapannya tercapai, boleh mewarnai mata kirinya. Dalam perjalanan mereka ke Tanjung Puting, Shasa dan Era sama-sama membawa boneka Daruma hadiah dari Akiko. Kira-kira, harapan apa yang dipunyai Shasa dan Era dan apakah mereka berhasil mewarnai mata kiri Daruma? Hmmm, baca saja deh novelnya.

Boneka Daruma yang bola matanya sudah diwarnai. Gambar dari 
http://imccenter.blogspot.co.id/2015/02/daruma-ningyo.html



Minggu, 07 Januari 2018

[Resensi]: Kasih Ibu Sepanjang Masa




Judul               : Ya Allah Aku Rindu Ibu
Penulis             : Irfa Hudaya
Penerbit           : Kana Books
Tahun terbit     : Cetakan I, 2016
Tebal               : 252 halaman
Harga              : Rp50.000,00
ISBN               : 978-602-60440-1-3

Kasih ibu sepanjang masa. Dulu saya memaknai kalimat tersebut biasa-biasa saja, hingga kemudian saya melahirkan empat anak berturut-turut. Barulah saya merasa kalimat itu sangat benar dan saya bersyukur karena melahirkan dan mengurus balita membuat saya semakin mencintai dan menghargai semua pengorbanan ibu merawat saya dan saudara2 saya saat masih kecil dulu. Kemudian saya membaca buku berjudul “Ya Allah Aku Rindu Ibu” ini. Sebuah kisah yang menceritakan sosok seorang ibu, lengkap dengan ketidaksempurnaannya sebagai manusia biasa. Saya tenggelam dalam tangis dan rasa syukur. Tangis karena ikut terharu dengan kisah dalam buku, dan bersyukur saya masih diberi kesempatan untuk melepaskan rindu pada ibu saya yang masih sehat hingga detik ini. Ya, buku ini diangkat dari kisah nyata penulisnya, Irfa Hudaya.
Sebuah memoar atau naskah kenangan tentang seseorang, memang pada umumnya membuat kita ikut larut terbawa perasaan, terutama jika orang yang dikisahkan itu seseorang yang sedemikian dekat. Mempunyai hubungan emosi yang erat. Demikian juga kisah Irfa dan ibunya, terlebih selama hidupnya, Irfa tak pernah jauh dari sang ibu. Ibunya menikmati hari tua dengan ditemani oleh Irfa dan keluarga kecilnya (suami dan dua anak).
Kekuatan dari buku ini, selain gaya bercerita penulisnya yang sanggup membuat pembaca terhanyut, adalah banyaknya pelajaran hidup yang dapat kita petik. Penulis menceritakan kisah hidupnya mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa, khususnya dalam hubungannya dengan ibu yang dalam buku ini disebut ibuk. Pada saat umur lima tahun, Irfa heran dan sedikit cemburu karena sebagian besar waktu ibuk habis untuk mengurusi neneknya, mbah uti (hal 7). Mbah uti ternyata memang sakit-sakitan dan ibuk adalah anak perempuan satu-satunya yang harus mengurus sang ibu. Kenangan masa kecil ini mengajarkan Irfa tentang berbakti pada orangtua. Saat pertama mendapat haid, kata-kata ibuklah yang membuat Irfa tak pernah sekalipun meninggalkan shalat dan puasa wajib (hal 28).
Pada masa SMP hubungan Irfa dan ibuk ibarat anjing dan kucing (hal 34), ada saja yang bikin dia sebal pada ibuk. Misalnya waktu Irfa sudah bersiap pergi pramuka, eh tiba-tiba ibuk melarangnya pergi dengan alasan harus momong adik! Kalau tetap memaksa pergi, Irfa harus bawa adiknya ke sekolah. Akhirnya Irfa terpaksa membawa adiknya latihan pramuka dan terpaksa  harus rela ditertawakan oleh teman-temannya. Setelah dewasa baru Irfa paham makna di balik itu semua. Mengapa ibuk selalu memaksanya membawa-bawa adik kemana-mana.Ternyata hal itulah yang membuat ikatan hatinya lebih dalam terhadap adiknya. Sebagai anak sulung, Irfa diharapkan selalu menjadi pengikat hati saudara-saudaranya jika kelak kedua orangtua telah tiada (hal 39).
Hubungan dengan ibuk menjadi lebih manis ketika Irfa beranjak dewasa dan kuliah jauh dari rumah. Ibuk berubah peran menjadi sahabat (halaman 54) tempat curhat, dan tempat menumpahkan airmata saat hubungan Irfa dengan seorang lelaki kandas di tengah jalan. Irfa dapat melewati masa patah hatinya dengan baik berkat dukungan dan kata-kata penyemangat dari ibuk.
Kehidupan Irfa berubah ketika sang bapak meninggal dunia. Ibuk harus bertahan hidup, mencukup-cukupkan penghasilan dari pensiunan janda yang hanya 30% dari gaji, untuk kebutuhan kuliah dua anak dan satu anak yang baru masuk SMA. Pemasukan lain adalah dari hasil panen sawah yang kadang tak seberapa. Ibuk terpaksa sering meminjam uang untuk mencukupi kebutuhan. Namun kondisi ini tak membuat ibuk menyerah. Ia tetap mendukung keinginan anak-anaknya untuk sekolah setinggi mungkin. Beruntung kemudian selepas kuliah, Irfa mendapatkan pekerjaan yang cukup baik sehingga ia dapat membantu ibuk membiayai kuliah adik-adiknya. Bakti pada keluarga, sudah dimulai Irfa pada usia yang relatif muda. Ikhlas, berkat tempaan dan contoh yang ia lihat pada ibunya.
Perjalanan hidup manusia adalah sebuah perjalanan yang diawali dengan lambat, kemudian cepat, dan melambat lagi dengan menuanya manusia. Demikian juga seorang ibu. Ibuk di hari tua, sangat menikmati hari-harinya dengan mengikuti berbagai kumpulan pengajian. Hubungannya dalam bersosial juga patut diacungi jempol. Bahkan dengan orang yang ‘sulit’ pun, ibuk pandai bergaul. Irfa yang sudah menikah dan punya dua anak, akhirnya memutuskan untuk senantiasa mendampingi sang ibuk, tetap tinggal di rumah masa kecilnya dan berhubungan jarak jauh dengan suami yang bekerja di Semarang. Irfa tak lagi berkarier di luar rumah. Ia memutuskan fokus merawat kedua anaknya serta ibunya dan bekerja dari rumah. Harus dirinya yang memegang tanggungjawab itu, memegang amanat dari almarhum bapaknya untuk menjaga ibu dan adik-adiknya. Walaupun kedua adiknya telah berkeluarga dan harus tinggal jauh dari rumah, Irfa tetap tinggal, memegang amanat kedua orangtuanya untuk menjadi perekat saudara-saudaranya
Bukan tak mudah merawat ibuk yang makin sepuh terutama saat beliau usai terkena serangan stroke pertama. Ibuk berubah menjadi agak mudah marah, contohnya saja saat harus mengatur pola makan. Ibuk memprotes Irfa yang hanya memberinya makanan rebusan. Beliau minta makan sayur lodeh. Saat Irfa menjelaskan bahwa santan harus dihindari (halaman 155), ibuk merajuk dan ngeyel. Saat ibuk sudah kembali sehat dan mulai beraktivitas ngaji lagi, Irfa memberi saran agar ibuk membatasi kegiatan supaya tidak mudah capek. Apa jawaban ibuk? Mau ikut pengajian cari ilmu kok, nggak boleh. Hahaha, begitulah Irfa menceritakan hubungannya yang unik dengan sang ibu. Kesabaran Irfa sebagai seorang anak dalam mengurus sang ibu di masa tua, patut dicontoh.
Setelah mengalami serangan stroke pertama dan sembuh (halaman 162), perjalanan religiusitas ibuk mencapai puncaknya. Hidup hanya untuk Allah. Ibuk mengikuti beberapa majelis taklim. Seminggu bisa tiga sampai empat kali ikut pengajian. Sholat tahajud dan dhuha tak pernah absen. Puasa senin kamis selalu dilakukan. Ibuk selalu tilawah setiap habis sholat wajib. Sholat jamaah ke masjid tiap subuh dan maghrib. Ibuk juga aktif di kegiatan sosial kemasyarakatan. PKK dusun, PKK desa, dan Aisyiyah. Pada masa-masa akhir hidupnya, Ibuk juga berpesan pada Irfa untuk berbuat baik pada orang yang telah menyakiti. Berpesan agar Irfa menghilangkan dendam di hati. Hidup hanya sekali, saling menyakiti hanya akan merugi. Ibuk, menunjukkan kasihnya, tak ingin sang putri memelihara dendam sepeninggal beliau nanti. Ingin sang putri hidup dengan sebaik-baiknya kehidupan.
Ingin rasanya saya menuangkan lebih banyak kalimat lagi pada resensi ini. Rasanya tak habis-habis ingin menceritakan buku yang ditulis mbak Irfa dengan sangat elok ini. Tapi alangkah lebih baiknya jika Anda membacanya sendiri. Akan lebih terasa feel-nya dan dijamin Anda akan seperti saya yang tersenyum, menangis, tercengang, tertawa geli, bahkan terbahak membaca buku ini. Mbak Irfa Hudaya berhasil meramu kisah kehidupannya bersama sang ibu dengan sangat manis, lucu, dan mengharukan. Siapapun yang punya ibu, harus membaca buku ini. Terakhir, saya menutup tulisan ini dengan bacaan Al fatihah untuk ibuk, yang telah menginspirasi saya dan mungkin banyak orang yang sudah membaca buku ini, agar menjadi orang yang lebih baik. Hidup hanya untuk Allah.

Selasa, 19 Juli 2016

Aku Ingin (Sapardi Djoko Damono) - Belajar Memahami Puisi

Saya sedang belajar tentang puisi. Dan ini puisi pertama yang saya pelajari, karya Sapardi Djoko Damono

Pak SDD dan bukunya

Sapardi Djoko Damono adalah maestro puisi Indonesia. Lahir 20 Maret 1940, di Surakarta. Masa sekolahnya dihabiskan di Surakarta, kemudian ia menjalani studi Sastra di Universitas Gadjah Mada. Sejak 1974 beliau mengajar di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Sejak masa sekolahnya, beliau sudah banyak mengirim karya ke berbagai majalah. Pernah menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis" dan "Kalam".

Sajak-sajaknya sederhana dan banyak diilhami oleh unsur alam seperti hujan, bunga, daun.

Berikut salah satu sajaknya yang populer:

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Komentar:
Puisi yang sangat indah dan sarat makna. Saya mencoba memahami puisi ini dengan browsing internet dan menemukan bahwa semua orang bebas memaknai sebuah puisi. Banyak sekali yang sudah mencoba menganalisis puisi ini dari sudut pandangnya sendiri-sendiri. Sebagian besar memaknai bahwa puisi ini adalah tentang cinta yang tak menuntut balasan, bahkan rela berkorban walau yang dicintai menyakitinya hingga hancur. Apakah demikian juga yang dimaksud Sapardi saat membuat puisi ini? Entahlah...semoga nanti saya mendapatkan info terpercaya kutipan dari si penyair sendiri.

Saya sendiri memaknai bahwa kata 'sederhana', ternyata bisa demikian 'rumit'.

Hehe, apakah mengecewakan pemaknaan saya? Harap maklum, walau waktu SD saya suka menulis puisi, baru sekaranglah saya tertarik untuk belajar puisi, karena putri saya yang kelas 6 SD mulai tertarik menulis puisi dan pernah menang lomba puisi antar kelas di sekolahnya. Maksud saya, untuk menyupport si sulung, saya juga harus paham benar tentang puisi. Belajarnya bagaimana, ya dari mempelajari puisi-puisi karya penyair Indonesia maupun luar.

Keprihatinan
Ada satu keprihatinan saya ketika mempelajari puisi karya Pak Sapardi ini. Mengapa? Yaitu banyaknya orang salah kaprah dan menganggap bahwa 'Aku Ingin' adalah karya Kahlil Gibran. Wah, kok bisa gitu, ya? Di mana kesalahan bermula? Entahlah. Yang jelas, saya harap bila Anda membaca postingan saya ini dan menemukan postingan salah kaprah, Anda bisa mengoreksi kesalahan tersebut.

Senin, 04 Januari 2016

Resensi Korjak: Novel Cherish You

Berikut adalah resensi pertamaku yang dimuat di koran jakarta. Apakah ini juga resensi yang pertama kukirim? Hmm, seingatku tidak. Dulu sekali sudah pernah kirim satu tanpa kabar. Lalu kirim yang ini dan dimuat. Setelah yang ini aku getol kirim resensi tiga buku lagi tapi belum beruntung.

Oya, resensi ini adalah resensi novel karya sahabatku, Irfa Hudaya. Novelnya yang sudah diterbitkan ada dua. Tapi yang ngantri terbit buanyak. Semoga mbak Irfa sukses jadi penulis produktif, aamiin.

Berikut naskah asli resensi yang kukirim:

Judul               : Cherish You
Penulis             : Irfa Hudaya
Penerbit           : Orange
Tahun terbit     : Cetakan I, 2015
Tebal               : 302 halaman
Harga              : Rp45.000,00
ISBN               : 978-602-7729-49-0

Kematian seringkali membuat suatu perubahan dalam sebuah keluarga. Demikian pula keluarga kecil Mahira, saat Aini istrinya harus pergi karena penyakit eklampsia. Meninggalkan Mahira hanya bersama si kecil Aqilla.
Karena harus bekerja, Mahira terpaksa menitipkan bayinya di rumah mertuanya, ibu Aini. Sehari-hari, Aqilla diasuh oleh Rifka, tantenya yang hampir diwisuda. Otomatis, Mahira menjadi dekat dengan adik iparnya itu. Kedekatan keduanya menimbulkan angan-angan di hati sang ibu, yang kemudian mempunyai ide untuk menjodohkan mereka.
Sangat wajar keinginan nenek Aqilla ini, memikirkan menantunya yang seorang lelaki normal, tentu masih membutuhkan seorang pendamping. Di sisi lain, ia cemas bila sang cucu harus beradaptasi dengan  mama baru. Bisa jadi istri Mahira kurang menyayangi Aqilla, dan tentu ia tak bebas lagi mengunjungi cucu, jika Mahira sudah punya istri baru. Rifka adalah satu-satunya calon istri terbaik untuk Mahira.
Walaupun menolak pada mulanya, namun akhirnya pernikahan turun ranjang itupun terjadi. Rifka segera pindah ke rumah Mahira bersama Aqilla. Mereka tak segera tidur sekamar karena rasa canggung dan juga karena masing-masing masih belum dapat melupakan nama seseorang. Mahira belum dapat melupakan Aini, Rifka belum dapat melupakan Andri, kekasihnya. Mereka memilih menunggu hati mereka siap menerima satu sama lain. Untuk saat itu, cukup melakukan yang terbaik buat Aqilla.
Mulailah berbagai peristiwa lucu dialami oleh Rifka dan Mahira. Pernah tiba-tiba ibu Rifka datang tanpa memberi kabar, sehingga dalam waktu kilat mereka harus memindahkan barang-barang ke dalam satu kamar, agar terlihat mereka sudah tidur sekamar (halaman 144).
Walau bersaudara, Rifka ternyata berbeda perangai dengan kakaknya yang lembut dan sabar. Mahira harus beradaptasi dengan istrinya yang bawel dan sering protes pada beberapa kebiasaannya yang dulu bukan merupakan masalah (halaman 112). Tas kerja yang ditaruh sembarangan, handuk tidak langsung dijemur, pasta gigi jangan dipencet bagian tengahnya, dan lain-lain hal sepele selalu diributkan Rifka. Di sisi lain, Mahira trenyuh dengan kesabaran Rifka mengurus Aqilla. Rifka juga rajin memasak, mengurus rumah dengan baik dan selalu menyediakan keperluan Mahira. Padahal, Rifka hanya seorang gadis 21 tahun yang seharusnya sedang gairah mencari kerja usai wisudanya. Namun kini ia harus terampil mengurus anak dan rumah tangga.
Mahira mengizinkan Rifka untuk bekerja dan kemudian Rifka mendapatkan pekerjaan di sebuah agensi iklan, tempat dia pernah magang dulu. Di sana Rifka bertemu dengan Sita, senior yang cantik. Ternyata Sita adalah perempuan masa lalu Mahira, yang sedang mencoba mendekati Mahira karena belum tahu kalau lelaki itu sudah menikah lagi. Mahira  menanggapi Sita dengan sopan karena tak ingin menyakiti perempuan itu lagi. Kehadiran Sita menyebabkan kesalahpahaman Rifka pada Mahira. Cinta yang sudah muncul perlahan, akhirnya harus tertahan akibat kecemburuan. Akibat melihat Mahira dan Sita berpelukan, Rifka terluka dan memutuskan untuk pergi.
“Cinta itu menyembuhkan luka, bukan menorehkan rasa sakit yang lebih besar.” (halaman 284).
Perpisahan mereka memberikan waktu kepada keduanya untuk sama-sama menyadari bahwa masing-masing membutuhkan kehadiran satu sama lain. Kisah berakhir indah ketika Mahira akhirnya memutuskan untuk ‘menculik’ Rifka kembali ke rumah mereka.
Novel ini dituturkan dengan apik dan mengalir. Memakai sudut pandang orang pertama secara bergantian. Rifka dengan gaya ceplas-ceplosnya, dan Mahira yang sopan. Cara bertutur yang semakin mendekatkan pembaca dengan karakter para tokohnya. Dijamin pembaca akan ikut tertawa, terharu dan bahagia membaca kisah Rifka dan Mahira dalam novel Cherish You ini.



Ini link pemuatan di koran jakarta: http://www.koran-jakarta.com/perjalanan-cinta-terganggu-bayangan-lama/ 

Persyaratan kirim resensi: kirimkan resensi sepanjang 400-500 kata, lengkapi dengan kover buku, identitas buku, scan tanda pengenal dan foto diri. Kirim ke opinikoranjakarta@gmail.com.
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES