Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 September 2015

Menulis Cerpen di Kompas Anak

Salah satu media yang menerima naskah cerpen anak, adalah harian Kompas. Biasanya pada hari Minggu, ada halaman khusus anak di media ini. Di halaman anak tersebut ada rubrik "Boleh Tahu", semacam artikel ringan tentang berbagai pengetahuan, rubrik "Cerita-cerita" yaitu cerpen anak, resensi buku anak, rubrik "Ruang Kita", berisi kiriman puisi dan gambar/lukisan anak.

Bagaimana persyaratan menulis di Kompas (Anak)? Berikut saya salinkan dari halaman Kompas Anak:

"Redaksi menerima kiriman naskah, cerita pendek, atau dongeng. Karangan harus asli dan belum pernah diterbitkan. Panjang karangan 3-4 halaman, diketik dua spasi. Karangan yang layak muat akan diberi imbalan yang pantas. Naskah harap dikirim ke Redaksi Kompas Anak, Jl. Palmerah Selatan Nomor 26-28, Jakarta 10270"

Nah, itu salinan tanpa ditambah dan dikurangi. Tapi, kita juga bisa kirim naskah via email. Di zaman digital ini, apa sih yang tidak bisa dikirim via email. Ya, Nggak? Email Kompas adalah kompas@kompas.com

Asyiknya mengirim naskah ke harian Kompas (Anak), adalah kita nggak lama-lama di-PHP. Harian ini tertib mengirimkan surat penolakan naskah jika naskah kita memang belum layak muat. Seperti yang saya terima beberapa bulan yang lalu. Yah, walaupun ada rasa sedih, tapi sekaligus lega kalau tahu naskah kita belum layak muat. Kenapa lega? Ya, berarti kita bebas merevisinya lalu mengirimnya ke media lain yang lebih sesuai. Ya, kan? Ya, kan?
Surat penolakan tersebut juga dilampiri print out dari email kita plus naskah yang kita kirimkan. Lalu di bawah surat penolakan tersebut ada beberapa kriteria umum untuk artikel Kompas Anak. Kriterianya saya salin di sini ya:

1. Asli, bukan jiplakan/saduran/terjemahan, belum pernah dimuat dalam penerbitan lain, dan hanya ditulis/dikirim khusus untuk Kompas Anak.
2. Cara penyajian tidak berkepanjangan tapi padat, singkat, mudah ditangkap, gaya bahasa enak dibaca, dan sesuai dengan kaidah ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan.
3. Panjang naskah maksimal 3 halaman kuarto untuk cerpen dan dongeng dan 4 halaman kuarto untuk rubrik Boleh Tahu, semuanya dengan ketikan dua spasi, tulisan diharapkan jelas dan bersih (tanpa coretan).
4. Sering tulisan yang pantas dimuat terpaksa dikembalikan, karena tidak mungkin lagi memuatnya pada waktu yang tepat berhubung terbatasnya ruangan atau benturan dengan tulisan-tulisan lain.

Nah. Begitu. Coba baca sekali lagi poin ke-empat, naskah kita ditolak tuh, bukan berarti naskah kita jelek. Tapi kalau naskah saya yang ditolak itu, kayaknya beneran jelek, hiks. Alasan yang tertulis adalah: jalan cerita masih sederhana/kurang menarik *tears*

Jadi, apakah saya kapok mengirim naskah ke Kompas? Jawabnya tentu tidak. Masih ada satu naskah saya yang belum ada kabar di sana. Entah nggak nyampai, entah ditolak, entah tiba-tiba nongol di Kompas, huhuyy...yang terakhir itu yang selalu saya harapkan *nyengir*

Nah, sudah paham kan, cara mengirim naskah cerpen ke Kompas (Anak)? Ayo, segera kirim naskahmu. Dan koleksi surat penolakannya ... eh, nggak ding. Dan semoga kita beruntung. Oya, satu informasi penting yang belum saya sampaikan, honor cerpen di Kompas Anak ini adalah Rp350.000,-

Yuk, segera kirim cerpenmu.

Contoh halaman kompas anak:


Selasa, 22 September 2015

Sharing Menulis Cerita Anak (bagian 3) *Menyusun Naskah Aktivitas AUD*

Saat kita berbagi, kita akan mendapatkan ilmu yang lain juga. Demikian saya kutip dari Mbak keren, kawan saya Etyastari Soeharto. Dan kata-kata mutiara beliau itu benar adanya saya rasakan saat harus sharing tentang menulis cerita anak, tanggal 13 September 2015 kemarin.

Ilmu apa yang saya dapatkan? Begini, kan saya sudah cerita bahwa di workshop itu saya sebagai pembicara kedua. Nah pembicara pertamanya adalah seorang psikolog cantik bernama Mbak Miftahul Jannah. Beliau ini sudah menerbitkan beberapa buku tentang aktivitas anak. Nah, hal itulah yang beliau bagikan sebagai materi workshop. Tepatnya materinya berjudul: "Aspek-aspek Perkembangan AUD Sebagai Dasar Menyusun Naskah Aktivitas Untuk AUD".

Apa itu anak usia dini? Kalau di luar sana (maksudnya luar negeri), menurut Mbak Miftahul a.k.a Mbak Ita, usia dini itu dari 0 - 8. Tapi di Indonesia, berdasarkan UURI No 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 14, usia dini adalah sejak anak lahir hingga 6 tahun.

Seperti kita ketahui, anak usia dini mempunyai tahap-tahap perkembangan dalam mencapai kecerdasannya. Nah, dalam menyusun naskah aktivitas untuk anak usia dini, kita harus menentukan terlebih dahulu aspek perkembangan apa yang ingin distimulasi, target usia atau jenjang pendidikan calon pembaca buku kita.

Saat ini sudah lazim diketahui bahwa kecerdasan manusia itu tidak melulu kecerdasan kognitif, atau kecerdasan akademis. Ada yang kita kenal sebagai multiple intelegensia atau kecerdasan majemuk. Aspek kecerdasan majemuk ini ada delapan, yaitu:
1. Kecerdasan verbal linguistik/kecerdasan bahasa
2. Kecerdasan logika matematika
3. Kecerdasan visual spasial
4. Kecerdasan gerak tubuh
5. Kecerdasan musikal berirama
6. Kecerdasan antar-diri (intrapersona)
7. Kecerdasan dalam diri (interpersonal)
8. Kecerdasan alam natural

Semua aspek kecerdasan majemuk penting untuk dikembangkan dan bukan satu aspek saja. Dahulu lazim orangtua fokus pada kecerdasan logika matematika. Anak-anak dipaksa les berhitung walaupun tidak suka. Padahal mungkin anak tersebut lebih dominan kecerdasan bahasanya atau kecerdasan musikalnya. Sekarang saatnya menstimulasi anak dengan semua aspek kecerdasan, kemudian mendukung satu atau dua aspek yang menonjol pada anak kita. Misalnya, anak kita ternyata condong pada kecerdasan gerak tubuh, apabila kita mendukungnya dengan mengikutkannya pada klub-klub olahraga, bukan tidak mungkin kelak ia akan mengharumkan nama bangsa dengan menjuarai salah satu cabang olahraga tingkat dunia.

Kembali ke naskah buku aktivitas, anak usia dini pada umumnya senang bertanya, rentang perhatiannya masih pendek (susah konsentrasi dalam waktu yang lama), sehingga buku naskah aktivitas yang kita susun sebaiknya adalah sebuah naskah yang bisa dikerjakan secara bertahap. Kalau anak lelah, bisa berhenti dulu dan dilanjutkan lain waktu.

Dalam mencapai tingkat kecerdasannya, anak melalui berbagai stimulasi tumbuh kembang baik untuk perkembangan motorik halusnya (koordinasi gerakan otot-otot kecil), motorik kasar (gerakan yang melibatkan lengan, tungkai dan seluruh badan anak), perkembangan bahasa (kemampuan komunikasi dan memahami kata), maupun perkembangan sosial-emosi (kemampuan memahami perasaan).

Berbagai buku aktivitas mempunyai tujuan umum yaitu menstimulasi tumbuh kembang anak sesuai tahapan umur guna mencapai kecerdasan majemuk. Apabila orangtua ingin mengembangkan bakat anak di bidang tertentu, misalnya seorang anak sudah tampak kecerdasan musiknya sejak kecil, maka dapat dicarikan buku aktivitas yang lebih khusus, dengan berbagai bentuk kegiatan yang lebih fokus pada pengembangan kecerdasan musikal anak. Apakah buku aktivitas bertema khusus seperti itu ada di toko-toko buku? Tentu saja ada. Kalaupun tidak ada, berarti tugas Anda untuk menyusunnya!

Contoh-contoh buku aktivitas:
1. Pada anak usia TK yang baru mulai diajarkan pengenalan huruf, sangat penting untuk menstimulasi motorik halusnya sehingga gerakan otot memegang pensil mulai melemas. Buku yang tepat untuk menstimulasi motorik halus, menurut Mbak Ita, adalah buku-buku semacam buku origami (keterampilan melipat kertas dapat melemaskan otot jari-jari anak), buku membuat macam-macam playdough, buku dot to dot (menggabungkan titik-titik), dan lain sebagainya.

2. Untuk menstimulasi motorik kasar anak, buku yang tepat adalah buku di mana di dalamnya ada berbagai instruksi anak untuk melempar, melompat, berjongkok, jalan mundur, dan lain sebagainya.

3. Buku aktivitas untuk melatih kemampuan berbahasa, adalah buku semacam kamus bergambar, dengan gambar-gambar yang menarik dan keterangannya. Tentunya untuk anak yang belum bisa membacanya, orangtua harus selalu mendampingi untuk siap membacakan dan bermain bersama si kecil.

4. Buku aktivitas untuk melatih sosial emosi, misalnya satu halaman buku memuat dua gambar yang satu gambar anak yang membuang sampah sembarangan, yang satu anak yang membuang sampah di tempat sampah. Lalu anak dipersilakan memilih mana perbuatan yang baik? Atau mana yang benar dan mana yang salah?

Nah, lalu bagaimana dengan gambar-gambar? Bukankah buku aktivitas untuk anak-anak PAUD dan TK itu biasanya full gambar? Begini saran Mbak Ita bila ingin mengajukan dummy (buku contoh) ke penerbit.

1. Buat buku aktivitas minimal 80 halaman

Mengapa harus 80 halaman? Menurut Mbak Ita, Toko Buku Gramedia sekarang tidak mau menerima buku yang tipis. Dan buku yang tipis juga tidak bagus penyampulan plastiknya (mudah melengkung). Lagipula bukankah semakin tebal buku, honor kita juga semakin banyak? Jadi lebih tebal lebih baik (matre dot kom, hahaha).

2. Tentukan tujuan/sasaran buku tersebut (untuk segmen umur berapa, untuk menstimulasi tumbuh kembang yang bagaimana)

Ini penting. Ingat membuat buku aktivitas pun tak main-main. Niatkan sebagian untuk amal membantu para orangtua menstimulasi tumbuh kembang anak. Segmen umur juga membantu penerbit untuk menentukan pangsa pasar. Bocoran Mbak Ita, penerbit suka yang range segmennya agak luas, jadi buku itu nanti bisa dilabeli dengan: Buku untuk PAUD dan TK (agar pasarnya lebih luas).

3. Dummy dapat dilengkapi gambar (cukup gambar sederhana atau bisa juga mencomot dari google).

Bolehkah mencomot google? Nggak papa karena hanya untuk contoh. Nanti pihak penerbit akan menyediakan ilustrator sendiri. Yah, tentunya konsekuensinya adalah Anda berbagi honor dengan ilustrator. Lebih bagus lagi kalau Anda juga pandai menggambar. Dummy dengan contoh gambar hasil karya orisinil tentu akan lebih menarik hati penerbit, dan honor Anda jadi lebih besar (sekali lagi hidup matre).

Nah, di sesi tanya jawab ada satu pertanyaan yang penting nih. Pertanyaannya begini: Saya pernah mencoba membuat contoh buku aktivitas, tapi saya malu mengajukan pada penerbit. Saya bukan berlatarbelakang psikolog. Saya ini apalah apalah...

Jawab Mbak Ita:
Ibu adalah guru pertama anak. Bertanggungjawab atas pendidikan anak. Sebenarnya itu sudah cukup untuk dapat menerbitkan sebuah buku aktivitas. Misalnya dengan mencantumkan identitas penulis: Siti Rahmah, ibu tiga anak, pemerhati dunia pendidikan.
Atau, bisa disesuaikan dengan latarbelakang pendidikan (kebetulan si penanya adalah lulusan kedokteran hewan), misalnya dengan menyusun buku aktivitas "Mengenal Berbagai Hewan Darat", "Mengenal Berbagai Hewan Air", "Mengenal Berbagai Hewan yang Bisa Terbang", "Mengenal Berbagai Hewan Buas" ... wow ... sudah dapat satu ide buku berseri mengenal hewan, kan?

Asyik, saya langsung membayangkan menyusun buku aktivitas: "Mengenal Berbagai Pohon Asli Indonesia" (karena saya bekerja di dunia kehutanan).

Terima kasih, Mbak Ita. Materinya sangat menginspirasihh...

Berbagai buku karya Mbak Ita adalah sebagai berikut:


Disarikan dari workshop menulis cerita anak 13 September 2015 yang terselenggara berkat kerjasama:
Perpustakaan kota Yogyakarta
Sirkulasi Kompas Gramedia
Phicatering
IIDN Jogja


Sabtu, 19 September 2015

Sharing Menulis Cerita Anak (bagian 2)

Mendapatkan mandat berbicara tentang menulis cerita anak, buat saya yang masih pemula unyu-unyu ini tentulah sedikit ngeri-ngeri sedap. Apalagi di antara daftar peserta yang sudah mendaftar ikut workshop, saya membaca beberapa nama yang sudah malang-melintang di dunia literasi. Agak ngeper juga, tapi alhamdulillah banyak teman baik dari IIDN Jogja, Merah Jambu, bahkan bu guru Nurhayati Pujiastuti memberi semangat pada saya. Ayo, kamu pasti bisa. Yes, insyaa Allah. Bisa.

Maka bergerilyalah saya mencari bahan-bahan untuk materi menulis cerita anak yang akan saya bawakan di workshop IIDN Jogja 13 September 2015. Yang pertama, saya kasak-kusuk pada Mbak Ruri Irawati, teman di kelas Merah Jambu, yang sudah lebih dulu sharing tentang menulis. Mbak Ruri ini keren, membagi ilmunya pada anak-anak SD di sebuah sekolah di kota tempatnya tinggal. Dan Mbak Ruri ini baik hati, ramah dan tidak sombong, saya dikirimin file materi menulis cerita anak yang sudah disusunnya. Tengkyuuu, Mbak.

Selain bahan dari Mbak Ruri, saya mengkombinasikan materi saya dengan beberapa metode yang saya peroleh di kelas Merah Jambu asuhan Mbak Nurhayati Pujiastuti, beberapa informasi dari kelas Mas Bambang Irwanto (saya sempat ikut kelas singkat menulis cerita dan dongeng dari Mas Bambang), dan materi dari buku Mbak Veronica Widyastuti. Buku berjudul : "Rahasia Sebuah Cerita, Panduan Menulis Cerita Untuk Anak"



Setelah 'senjata' saya rasa cukup lengkap, mulailah saya menyusun materi.

1. Prolog

Menulis cerita anak dimulai dari tujuan kita nulis itu buat apa, sih? Ada empat tujuan nulis cerita anak, yaitu: ingin memberikan bacaan yang sehat dan menarik bagi anak-anak kita, suka dengan dunia anak-anak, karena suka nulis saja, dan karena ingin menambah pendapatan keluarga. Nah, materi saya ini fokus pada menulis untuk media, jadi pas dengan tujuan menambah pendapatan keluarga, karena dari media yang memuat tulisan kita, kita bisa mendapatkan honor.

Memangnya cukup honor yang didapat, sehingga masuk dalam katagori menambah pendapatan keluarga? Jangan-jangan dapatnya cuma sedikit? Eh, jangan salah. Honor di majalah Bobo, itu Rp250.000,- lho. Nah, dua guru saya baik Mas Bambang maupun Mbak Nurhayati, cerpennya pernah dimuat berturut-turut di majalah Bobo. Mas Bambang malah pernah lebih dari 20 minggu berturut-turut!

Misalnya nih dalam sebulan cerpen kita dimuat empat kali di Bobo (Bobo majalah mingguan), berarti dalam sebulan kita bisa dapat sejuta, kan? Manis, nggak? Manis banget kalau saya mah....

Tapi ... tentu saja, untuk mencapai level menggiurkan itu, ada effort yang harus kita lakukan. Yaitu? Berlatih menulis setiap hari. Mengirimkan naskah cerpen ke media yang dituju secara rutin.

2. Inti Materi

a. Karakter cerita anak : segmen umur biasanya usia SD mulai 7-12 tahun. Bahasa sederhana, mudah dimengerti. Konflik sederhana.

b. Jenis cerita anak: Cernak realis, dongeng (dongeng binatang/fabel, dongeng dengan tokoh benda mati, cerita rakyat, dongeng peri-kurcaci)

c. Menentukan Tema dan Ide: Tema adalah inti cerita yang akan ditulis, misalnya tema persahabatan, tema cinta lingkungan, dll. Ide adalah lintasan pikiran yang terkait tema. Misalnya, tema persahabatan, ide tentang seorang anak yang tidak punya sahabat karena nakal. Nah, bagaimana ceritanya hingga kemudian anak ini bisa mendapatkan seorang sahabat?

Oya, ide ini ada di mana-mana, lho. Jangan pernah bilang miskin ide atau nggak punya ide, ya! Ide cerita anak bisa diperoleh dari menggali pengalaman di masa kecil, memperhatikan kejadian-kejadian di sekitar kita, melalui gambar-gambar di majalah, berita di televisi, film yang kita tonton, curhatan teman, pokoknya buanyaaak sumber ide, deh!

d.Tokoh, Karakter dan Setting: Tokoh dalam sebuah cerita tentu saja sangat penting. Tokoh menyesuaikan jenis cerita. Cernak realis, tokohnya anak-anak. Dongeng, tokohnya bisa binatang, benda mati, peri, kurcaci atau raja dan ratu. Untuk memperkuat konflik, tokoh bisa tokoh protagonis maupun antagonis (tokoh baik dan buruk). Beri karakter pada tokohmu, tokoh baik mungkin punya karakter penyayang. Bagaimana anak yang penyayang? Dapat digambarkan dengan penjelasan-penjelasan misalnya: Wini selalu membawa bekal roti yang berlebih. Selain dimakan sendiri, roti itu juga dibagikannya dengan teman-teman di kelasnya. Selain tokoh dan karakternya, setting juga perlu diperjelas, kapan cerita terjadi, dan di mana. Lokasi dapat dijelaskan dengan deskripsi, misalnya Air terjun di Kampung Sumbersari: Di pinggir kampung ada jalan setapak menuju hutan. Jalannya berliku. Jalan itu akan terbagi menjadi dua cabang. Jika engkau ikuti cabang sebelah kiri, jalannya jelek dan berbatu. Tapi jalanan jelek itu akan memandumu menuju air terjun Pelangi Ayun yang sangat terkenal itu.

e. Konflik: Konflik dalam cerita anak pada umumnya sangat sederhana.

f. Alur: Alur adalah jalan cerita. Untuk cerita anak, sebaiknya digunakan alur maju. Mengisahkan peristiwa hari ini, besok dan lusa. Bukan dalam rentang waktu yang panjang.

g. Ending: Ending harus tuntas, tidak menggantung

h. Judul: Judul harus menarik. Judullah yang pertama memikat hati dan mendorong pembaca untuk menyempatkan diri membaca cerita sampai selesai.

i. Self editing: Setelah menyelesaikan naskah Anda. Endapkan dulu dua tiga hari. Lalu baca sambil merevisi redaksional, maupun konteks kalimat yang terasa kurang tepat.

3. Penutup

Nah, begitulah materi sharing cerita anak yang saya bawakan kemarin. Sebagai pelengkap, saya juga menyertakan cerpen saya "Toko Sepatu Ibu" yang sudah dimuat di majalah Bobo, untuk dibaca. Lalu saya juga memberikan bonus daftar email majalah dan koran yang menerima kiriman naskah cerpen anak, berikut persyaratan dan ssst ... honornya.

Nah, tunggu apalagi? Materinya kurang lengkap? Hmm. Sebenarnya malah terlalu banyak. Karena untuk menulis cerita anak, cukup berbekal: membaca banyak-banyak cerpen anak (untuk mendapatkan 'rasa' cerita anak), dan langsung mencoba menulis cerpen pertamamu. Ayo, tunggu apa lagi ... buruan nulis. Kalau masih ragu, seperti peserta di workshop kemarin, kamu juga bisa kok kirim cerpen kamu ke saya untuk saya kasih masukan. Kirim ke indahnovitadewi@yahoo.com ya. For free :)

Oya, workshop kemarin terselenggara berkat kerjasama:

Perpustakaan kota Yogyakarta yang menyediakan tempat dan snack,
Sirkulasi Kompas Gramedia yang menyediakan majalah anak untuk dibagikan ke peserta,
Phicatering yang menyediakan makan siang, dan
IIDN Jogja sebagai panitia penyelenggara




Kamis, 17 September 2015

Sharing Menulis Cerita Anak (bagian 1)

Berbicara di depan umum bukan sesuatu hal yang luar biasa bagi saya. Hampir setiap tahun saya harus melakukannya karena tuntutan pekerjaan. Berbicara di depan orang banyak menjadi istimewa, ketika yang harus saya bawakan adalah materi menulis cerita anak.

Hah? Siapa saya yang berani-berani ngomong ngalor-ngidul tentang menulis cerita anak? Memangnya penulis cerita anak terkenal? Bukaaaan ... eh, beluuum. Akan menjadi penulis cerita anak terkenal, rencananya, aamiin.... Insyaa Allah.

Begini ceritanya. Saya ini hobi nulis sudah lama. Sejak saya masih remaja imyut nan cantik jelita (ini bukan hoax, walau gak ada poto). Nah, sejak masa-masa era kecantikan saya masih belum terjamah laki-laki itulah (halah), cerpen-cerpen saya sudah dimuat di majalah Anita Cemerlang (yang sudah almarhum, innalillahii....). Saya berhenti mengirimkan naskah ke majalah ketika saya mulai bekerja dan kemudian menikah (setelah menikah, baru deh saya terjamah laki-laki ... aishhh, gak penting amat keterangannya).

Setelah 10 tahun vakum menulis, perjalanan hidup membawa saya terdampar di suatu komunitas yang riuh rendah ramai renyah kriuk kriuk kadang riweh repot bin rempong (apaseh), yaitu sebuah komunitas menulis: Ibu-Ibu Doyan Nulis Yogyakarta atau IIDN Jogja. Hmm, di situlah pelan-pelan api asmara berkobar ... eh salaaah ... api gairah menulis menyala kembali. Apalagi komunitas ini kemudian menghubungkan diriku dengan berbagai komunitas menulis di dunia maya. Di dunia maya semua ada. Yang paling membuatku jleb jleb adalah beberapa nama penulis yang dulu sering beriringan di majalah Anita Cemerlang, ternyata masih eksis menulis, bahkan bukunya sudah mbrubul bejibun. Nah gue? Mengubur minat bakat sekian lama. Yang ada, ilmu nulis fiksi jadi anjlog. Karya jadi mandul. Padahal untuk berkarya di dunia literasi, of course kita harus rajiiiiin ... apa? Ya, tentu saja rajin menulis.

Nah, mulailah saya menulis fiksi dan lain-lainnya untuk dikirim ke media atau untuk dikirim ke berbagai lomba menulis. Saya bangkit lagi berkat IIDN Jogja. Lalu, di akhir tahun 2014, saya ingin sekali belajar menulis cerita anak untuk dikirim ke majalah Bobo. Alasannya? Waktu kecil dulu saya langganan Bobo. Rasanya keren dong kalau kemudian cerpen saya nongol di majalah anak-anak paling tua ini. Alasan lain juga karena sekarang saya punya anak-anak yang masih kecil-kecil dan lucu-lucu. Saya ingin membuatkan cerita untuk dibaca mereka. Siapa tahu, kelak mereka juga akan tertantang untuk mencoba menulis di waktu luang mereka atau boleh juga serius di dunia kepenulisan. Alasan lainnya lagi, saya rindu dapat honordari  menulis ... hehehe.

Mau belajar cerita anak, saya mencari info tentang kelas menulis. Dan kemudian saya memutuskan mengikuti kelas menulis online di kelas Merah Jambu, dengan guru Mbak Nurhayati Pujiastuti. Kenapa kelas online? Saya merasa santai kalau mengikuti kelas online. Saya bisa berdiskusi di kelas sambil bebaringan di ranjang dengan satu tangan memegang ponsel dan tangan lain nepuk-nepuk pantat bayiku yang mau bobok, hahaha. Kenapa nggak kelas offline? Karena waktu itu nggak ada kelas offline yang saya incar. Dan kalau mendatangi kelas offline, saya rempong kalau harus meninggalkan anak-anak. Belum lagi mikir saya mau pakai baju apa yaaa ... hahaha. Oke, online atau offline itu hanya sarana, yang terpenting adalah hasilnya ada.

Singkat cerita (singkat? ini prolog sudah panjang banget tau ... hihihi), belajarlah saya di kelas Merah Jambu. Dan singkat cerita, enam bulan setelah itu, secara bergantian empat cerita anak yang saya susun di kelas, terbit di majalah Bobo. Yeaaay, mission accomplished! *jogedjoged* (tapi harapannya masih lebih banyak lagi naskah yang akan muat lagi ... aminin dong aminin ... Aamiin ....).

Bertelurnya saya dengan empat cernak di Bobo itu tak luput dari pantauan teman-teman IIDN Jogja. Sebenarnya bukan mereka memantau, sih. Tapi saya yang pamer-pamer di grup whatsapp IIDN Jogja tiap cerpen saya nongol, wuahaha. Bukan melulu bermaksud pamer, tapi lebih kepada upaya memotivasi teman-teman lain ... niy lho aku bisa nulis di Bobo. Ayo kalian kapan. Ayo, nulis. Gitu.

Nah. Demikianlah prolog nan panjang ini mengantarkan judul "Sharing Menulis Cerita Anak (bagian 1)", hehe. Kami para IIDNers, punya agenda kopdar tiap bulan. Agenda kopdar tersebut selalu diisi dengan sharing-sharing kepenulisan, maupun sharing apa saja asal manfaat dari para anggotanya. Lalu saya diminta sharing pengalaman saya menulis cerita anak, sekaligus membawakan materi cara-cara menulis cerita anak. Sharing yang biasanya hanya intern IIDN, kali ini akan dibuat untuk umum dan diselenggarakan di perpustakaan kota Yogyakarta. Saya akan menjadi pembicara kedua, setelah Mbak Ita (Miftahul Jannah) membawakan materi menulis buku panduan aktivitas untuk AUD (Anak Usia Dini).

Bagian dua dan tiga tulisan ini dapat dibaca di sini dan di sini



Acara ini terselenggara berkat kerjasama:
Perpustakaan Kota Yogyakarta
Sirkulasi Kompas Gramedia
Phicatering
IIDN Jogja
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES