Tampilkan postingan dengan label Kalya Innovie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalya Innovie. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Desember 2017

Cerpen Gogirl! Magazine: Janji Eka

Waktu itu 16 April 2017 kala cerpenku dimuat di majalah Gogirl! Ide cerpen ini adalah ketika aku ketemu lagi dengan teman-teman masa kecilku di grup wa SD. Masa yang telah lama berlalu, namun ada kenangan yang begitu lucu. Tapi yang kutulis dalam cerpen ini, sebagian besar adalah imajinasi, tentu saja, hehe. Berikut naskahnya:





Janji Eka
Oleh: Kalya Innovie
               
Aku mendengarkan celoteh Vita di dapur. Adikku itu sedang membicarakan tentang sinetron ABG bersama Mama. Intinya dia merasa pusing dengan sinetron yang ia tonton karena anak-anak SMP sudah berani pacaran. Aku tersenyum mencuri dengar dari kamar. Kamarku dan dapur hanya dibatasi dinding papan, jadi semua dialog Mama dan Vita terdengar dengan sangat jelas. Hampir tawaku meledak mendengar kegusaran Vita pada teman-temannya yang juga sudah mulai terpengaruh dengan sinetron itu. Vita memang anaknya agak kaku dan terlalu serius. Perasaan cinta itu sebenarnya tidak bisa direncanakan kapan datang dan hilang. Seperti aku, yang mulai merasakan sayang pada lawan jenis di usia yang sangat belia. Ingatanku melayang saat aku masih duduk di bangku kelas enam SD.
***
Cowok bertubuh kurus itu masih bersandar di tembok, di sampingku. Tangannya terlipat rapi, bibirnya cemberut. Aku duduk di bangku, di sebelahnya. Sedikit miring agar dapat melihat wajahnya yang kusut.
                “Jadi benar kamu mau pindah ke Malang, Lea?” tanyanya sekali lagi.
                Aku mengangguk untuk yang kesekian kalinya.
                “Kenapa sih, kamu nggak di sini saja?”
                Aku mengembuskan napas.
                “Kan sudah aku jelaskan. Papa dan Mamaku ingin aku menetap di satu kota. Nggak ikut mereka pindah-pindah lagi. Dan itu di Malang, di sana ada nenek.”
                “Kenapa kamu nggak di sini saja?” Eka masih ngotot dengan pertanyaannya.
                “Ekaa … kan sudah aku jelaskan, aku nggak punya saudara di sini.”
                “Kamu tinggal di rumahku saja,” sahut Eka.
                Aku melotot. Senyum usil muncul di bibir Eka.
                “Mimpi,” ucapku sambil memukul bahunya pelan.
                “Hehe, tapi kamu suka kan?” Eka cengengesan.
                “Eka … aku….”
                “Iya, Lea. Aku tahu. Kita masih terlalu kecil untuk pacaran. Gini aja, tulis alamatmu di Malang. Nanti kalau kita sudah SMA, aku akan mencarimu.”
                Aku mencari secarik kertas dalam tas dan mulai menulisinya dengan alamat nenek. Walau sebenarnya aku ragu dengan kata-kata Eka.
                Eka menerima alamatku sambil senyum-senyum.
                “Ingat, Lea. Kamu jaga diri di sana, ya. Gak usah pacaran. Nanti pacarannya sama aku aja, pas kita SMA. Tunggu aku, ya.”
                Eka menjabatku dan memberi cubitan kecil dalam telapak tanganku, lalu lari pulang sambil melambai-lambaikan tangan. Uh, aku belum sempat membalas cubitannya. Aku pun segera pulang, memegang janji Eka dalam hati.
***
                Kilasan kenangan bersama Eka itu selalu muncul dan muncul dalam benakku. Dan selama tiga tahun menjalani SMP di Malang, aku benar-benar setia pada Eka, cinta monyetku di SD itu. Ada beberapa teman yang minta aku jadi pacar, tapi di samping aku merasa aku masih kecil, setiap ada cowok pedekate, aku selalu merasa telapak tangan kananku panas. Cubitan Eka terasa seolah baru kemarin terjadi.
                Ada satu cowok yang dengan setia nembak aku. Namanya Joe. Ia baik. Tidak balik membenciku walau aku sudah menolaknya beberapa kali. Kami menjadi sahabat. Dan karena hubungan kami yang dekat, aku tak ragu bercerita tentang Eka.
                “Jadi selama ini kamu nungguin si Eka itu?” tanya Joe dengan nada cemburu. “Kok kamu lugu banget sih, Lea. Bisa jadi si Eka itu cuma omong kosong saja. Selama kita SMP, ada nggak dia kirim surat atau telepon?”
                “Nggak. Kan, masih SMP. Janjinya kan ketemuan pas SMA.”
                “Kamu yakin dia nggak lupa?”
                Aku menggeleng. Entahlah. Tiba-tiba keraguan memenuhi hatiku. Kupandangi Joe yang balik memandangku dengan tatapan sangsi. Sejak saat itu dengan sangat menjengkelkan ia menjulukiku si lugu.
**
                Joe sangat girang ketika kami masuk di SMA yang sama. Kami masih bersahabat, walau beberapa kali, Joe suka juga cari-cari kesempatan nembak aku. Kadang dia mencandai aku. Apa kabar Eka? Begitu tanya Joe sambil senyum-senyum mengejekku.
                Apa kabar Eka? Yah, terus terang, di dalam hatiku, wajah Eka pun sudah kabur. Cubitannya di telapak tanganku tak pernah terasa lagi, terkubur oleh senyuman Joe, candaan Joe dan kata-kata manis Joe.
                “Lagipula zaman internet gini kalian tuh gak berhubungan bahkan via sosmed? Aneh, deh. Trus, kalau semisal Eka itu sudah mati, kamu mau nunggu dia terus? Sudah. Terima saja Joe,” gerutu Ivon sahabatku ketika akhirnya aku bercerita tentang Eka padanya.
                Duh, Eka … kamu di mana?
                “Kamu tuh benar-benar lugu, Lea,” imbuh Ivon lagi. “Di saat kamu menggenggam janji setia Eka, cowok itu mungkin sudah pacaran dengan banyak gadis di belahan bumi sana.”
                Keraguan kembali menyelimuti hatiku.
                “Terima saja Joe. Dia sudah membuktikan kesetiaannya selama tiga tahun di SMP. Dan sekarang kita sudah SMA, sudah boleh pacaran, kan. Ingat, teman kita banyak yang cantik-cantik. Joe juga cowok yang menarik. Jangan sampai kamu nangis kalau Joe pacaran sama cewek lain,” pungkas Ivon, memandang tajam padaku.
***
                Mama dan Vita berhenti ngobrol ketika terdengar bunyi kendaraan di halaman rumah. Aku menengok jam dinding, masih satu jam lagi waktu janjianku dengan Joe. Kok, dia sudah datang, sih. Aku bangkit mengganti bajuku.
                “Kak, ada temanmu,” Vita datang melongok dari korden kamar.
                “Kak Joe, ya? Suruh tunggu dulu.”
                “Bukan Kak Joe. Aku nggak kenal. Katanya sih, teman lama kakak.”
                Aku mengernyitkan kening karena merasa tidak janjian dengan siapapun. Teman lama? Tiba-tiba hatiku resah tak jelas. Aku bersegera ke ruang tamu. Dua orang cowok duduk menunggu di sana. Salah satunya tersenyum manis menyambutku. Aku terdiam berdiri di tempatku, tak kuasa mengeluarkan sepatah kata mewakili perasaanku.
                “Lea, apa kabar?” tanya sosok kurus yang kini tinggi menjulang. Dia tersenyum. Senyum usil itu. Mata penuh rindu. Aku yang terpaku.
Kemarin aku menerima cinta Joe yang menembak untuk ke tiga belas kalinya. Dan sekarang aku harus menyiapkan kata-kata untuk Eka yang datang membuktikan janji. Aku harus bagaimana?**

Selasa, 03 Oktober 2017

Cerita keenam di majalah Bobo (Kotak Bekal Misterius)









Kotak Bekal Misterius
Oleh: Kalya Innovie

Siroh meninggal. Gadis ramah berkepang dua itu tak dapat bertahan dari penyakit demam berdarah yang dideritanya. Teman-teman sekelasnya di SD Pucang sedih. Siroh alias Siti Rohani, memang terkenal baik hati dan tidak pelit.  
            Dua minggu berlalu dan kelas 5 A sudah berkegiatan seperti biasa. Laila, yang dulu sebangku dengan Siroh, sudah asyik duduk dengan Amina. Wajah-wajah murung  tak tampak lagi. Tapi ada yang masih sering menangis diam-diam.
**
            Pagi itu Laila masuk kelas seperti biasa. Ia terpekik melihat di meja sebelahnya tergeletak sebuah kotak bekal warna merah. Wajah Laila memucat, memerhatikan kotak bekal  bergambar pokemon itu. Di bangku belum ada tas Amina. Laila menoleh ke kiri dan ke kanan, bingung.
            “Kenapa, La?” tanya Utari yang melihat tingkah aneh Laila.
            “Ituu ...,” bisik Laila menunjuk kotak bekal.
            Utari mengernyitkan kening, berpikir, lalu membelalak.
            “Kotak bekal Siroh!” pekik Utari.
            “Iyaa … kenapa bisa ada di situ?” spontan Laila melompat mundur memeluk Utari.
            “Ada apa ini?”
            Teman-teman  berdatangan. Setelah tahu persoalannya, mereka sama-sama ketakutan melihat kotak bekal itu.
            “Aku buka, ya?” tanya Fajar mengulurkan tangan.
            “Iya, buka saja, Jar,” balas Amina berbisik. Ia ketakutan. Ia kan duduk di bangku Siroh. Mungkin sebaiknya ia kembali ke bangku lamanya.
            Pelan-pelan Fajar membuka kotak bekal itu, harum nasi goreng menguar.
            “Masih hangat,” bisik Fajar.
            Laila mengintip, air matanya mengalir.
            “Nasi goreng sosis merah, bekal favorit Siroh,” bisik Laila terduduk lemas.
**
            Bu Widi, wali kelas 5 A, sudah mendapat penjelasan dari Fajar, sang ketua kelas. Beliau duduk di depan meja guru, dengan kotak bekal Siroh terbuka di atas meja. Bu Widi menghela napas panjang, memandang satu-satu wajah muridnya.
            “Sekali lagi ibu tanya, siapa yang membawa kotak bekal ini?” Bu Widi bertanya pelan.
            Tak ada yang menyahut. Kelas hening.
            “Apa mungkin … Si … Siroh sendiri yang datang, Bu?” suara Utari memecah keheningan. Anak-anak langsung riuh seperti lebah berdengung.
            “Hantu itu nggak ada,” bantah Fajar dengan suara pelan, tapi otaknya berputar memikirkan berbagai kemungkinan.
            “Benar kata Fajar, anak-anak. Hantu itu tidak ada. Nasi goreng inipun jelas dimasak oleh manusia. Ibu beri waktu sampai jam pulang. Tolong mengaku saja yang sudah membawa kotak bekal ini. Beri penjelasan pada Ibu dan Ibu tidak akan marah.”
            “Maksud bu Widi, salah satu dari kita sengaja melakukannya?” bisik Tiara pada Fajar. Sang ketua kelas hanya mengangguk.
            “Tapi apa tujuannya?” lanjut Tiara.
            “Entahlah, nanti kita pikirkan sama-sama,” ucap Fajar.
**
            Sampai jam pulang, tidak ada yang mengaku  membawa kotak bekal itu. Dan keesokan harinya, kotak bekal yang sama ada di atas meja Laila lagi. Kali ini Laila pingsan. Keadaan jadi semakin heboh. Bu Widi kelihatan marah. Tapi beliau tidak sempat mengatakan apa-apa pada anak-anak karena sibuk mengurus Laila di ruangan kesehatan. Anak-anak ribut  bercakap-cakap membahas kejadian itu.
            “Kok bisa ada lagi? Isinya mie goreng dengan suwiran daging ayam. Aku pernah melihat Siroh bawa bekal seperti itu,” ucap Tiara.
            “Benar, aku juga pernah makan mie goreng Siroh, persis seperti yang tadi,” timpal Utari.
            “Padahal, kotak bekal yang berisi nasi goreng kemarin disimpan oleh Bu Widi,” gumam Fajar.
            “Berarti pelakunya sengaja membeli kotak bekal yang sama dengan punya Siroh,” cetus Tiara.
            “Pernah lihat toko yang jual tempat bekal seperti itu, nggak?” tanya Fajar.
            Utari menggeleng ragu. Tiara mengangkat bahu tanda tak tahu.
            Fajar berpikir keras hingga alisnya menyatu di kening.
**
            Hari ke tiga, tidak ada peristiwa kotak bekal lagi. Hari ke empat, kotak bekal itu kembali lagi membuat heboh kelas 5 A. Kali ini, Fajar berhasil menenangkan Laila. Lalu memanggil Bu Widi. Wali kelas cantik itu duduk diam di meja guru, karena Fajar sudah meminta waktu untuk bicara.
            “Bu Widi, dan teman semua. Kotak bekal Siroh kembali lagi. Kali ini isinya donat, kue kesukaan Siroh. Tapi saya, dan Tiara sudah tahu bahwa bukan Siroh yang punya kotak bekal ini. Yang punya bekal ini … adalah … Utari,” Fajar tersenyum mengulurkan telunjuk pada Utari.
            Seluruh siswa kelas 5 A terperanjat, lebih-lebih Utari.
            “Kamu … jangan menuduh sembarangan, Jar!” teriak Utari dengan wajah memucat.
            “Aku nggak menuduh sembarangan. Aku dan Tiara mengadakan penyelidikan kecil-kecilan dua hari ini. Kami bertanya pada Pak Leo, satpam sekolah tentang siapa-siapa siswa yang datang pagi-pagi sekali dua dan tiga hari yang lalu. Dan kemarin serta hari ini, aku dan Tiara sengaja  sembunyi di lemari, menunggu si pembawa kotak bekal beraksi lagi. Dan … kami bahkan berhasil memotret kamu sedang beraksi, Tari,” Fajar mengacungkan ponsel.
            Utari terbelalak tapi lalu menangis terisak-isak. Pengakuan terlontar dari bibirnya.
            “Aku rindu Siroh. Ia selalu baik. Kalian sering mengejekku bodoh, tapi Siroh nggak. Dua minggu ini, aku masih merindukan Siroh. Tapi kalian bertingkah seperti Siroh tak pernah ada. Terutama kamu, Laila. Kamu malah cepat sekali melupakan Siroh dan bermain dengan Amina,” Utari terisak-isak.
            Bu Widi  berjalan mendekati Utari, memeluknya. Teman-teman Utari juga mendekat.
            “Aku juga rindu Siroh, Tari,” isak Laila. “Aku nggak pernah melupakan Siroh.”
            “Tidak ada yang lupa pada Siroh, Tari. Siroh selalu akan ada di hati kita semua,” Bu Widi memeluk murid-muridnya yang terbawa kenangan pada Siroh yang lembut hati.
            Misteri kotak bekal Siroh terpecahkan. Perbuatan Utari juga sudah dimaafkan. Teman-temannya berjanji tak akan sering mengejeknya lagi. Tiga kotak bekal dikembalikan pada Utari.

**
            Pagi cerah. Murid-murid kelas 5 A belum ada yang datang. Tapi sebuah benda kotak berwarna merah sudah ada di atas meja Laila. Kotak bekal bergambar pokemon. Kali ini tidak berwarna merah cerah seperti tiga kotak punya Utari. Kotak ini merahnya sudah pudar, seperti milik Siroh.**

Keterangan:
**Kotak Bekal Misterius dimuat di Bobo 13 Juli 2017

Senin, 02 Oktober 2017

Surat dari Rumah Akasia


Surat dari Rumah Akasia adalah sebuah judul kumpulan cerita karya teman-temanForum Penulis Bacaan Anak (PBA). Penyusunan buku kumpulan cerita ini adalah untuk memperingati tercapainya member FPBA hingga 20.000. Jumlah yang cukup fantastis. Audisi pun digelar dengan beberapa penanggungjawab untuk menyusun lima (atau enam?) buku kumpulkan cerita.

Pada saat audisi ini digelar, saya sedang giat belajar di sebuah kelas menulis online, tepatnya menulis cerita anak. Kesempatan untuk satu buku dengan beberapa penulis anak yang sudah tenar, tentu tidak akan saya lewatkan begitu saja, jadi sayapun ikut mengirimkan naskah. Alhamdulillah, kemudian naskah saya terpilih menjadi salah satu cerita yang dimuat di salah satu buku kumpulan cerpen itu. Cerita saya berjudul "Rumah Pohon Lina", mengisahkan seorang gadis kecil yang baru saja pindah ke sebuah lingkungan baru. Di lingkungan baru itu, ia memiliki banyak teman. Meskipun begitu ia masih merindukan rumah pohon di tempat tinggalnya yang lama. Alangkah senangnya, ketika teman-teman di kampung baru Lina, mau bersama-sama membuat rumah pohon. Tempat bermain mereka menjadi lebih menyenangkan.

Selain kisah "Rumah Pohon Lina", masih banyak kisah-kisah menarik lainnya yang dapat dibaca di buku kumpulan cerpen ini. Ada kisah "Ide-ide Aneh Andit" karya kak Rh. Mandala yang bercerita tentang Andit yang suka melakukan hal-hal aneh. Nah, kenapa ya, Andit seperti itu? Di akhir cerita ada surprais dari Andit buat kita semua. Ada kisah "Main Apa, Ya?" karya kak Rubee Putri, yang bercerita tentang dua orang kakak beradik Reno dan Levi yang suka bermain bersama, sekaligus suka bertengkar bikin ibu pusing. Nah, kira-kira main apa ya, mereka hingga mereka bisa rukun kembali?

Masih banyak lagi kisah menarik lainnya. Ada dua puluh kisah dalam buku kumpulan cerpen ini, cukup banyak, bukan?
Oh ya, buku kumpulan cerpen ini bisa diperoleh dengan memesan langsung dari penerbitnya yaitu Penerbit Bitread. Kirim pesan whatsapp ke nomor 083890790002. Sampai 11 Oktober 2017, masih ada diskon 20%, lho.


Senin, 26 Oktober 2015

Lima Kesalahan dalam Fiksi (Cerpen)

Kebetulan tadi di perpus nemu buku tentang nulis. Buku itu adalah sebuah handbook yang berisi essay-essay tentang kepenulisan. Saya translate sebagian untuk dibagikan. Here they are....




Lima Kesalahan dalam Fiksi (Cerpen)

1. Opening yang buruk
Paragraph pertama harus langsung menohok. Masukkan sesuatu yang baru di kalimat pertama. Sesuatu yang unik mengenai karakter atau situasi yang membuat kita ingin terus melanjutkan membaca. Tentu saja paragraph selanjutnya juga harus sama menariknya.

2. Overwriting
Cerpenmu terlalu banyak kalimat penjelas, detail yang tidak perlu, bertele-tele dan tidak to the point. Solusinya: endapkan ceritamu setelah menyelesaikannya, baca dan revisi seminggu kemudian, potong kata-kata yang tidak penting.

3. Plot yang menyedihkan
Alur cerita terlalu sederhana. Terlalu kuno, itu-itu saja. Alur yang jadul boleh digunakan asal penulis memasukkan sesuatu yang ‘baru’ di situ. Misalnya kisah perjodohan, sejak zaman siti nurbaya itu alur yang umum. Coba memberikan kesan kekinian pada sebuah cerita dengan plot perjodohan.

4. Karakter yang tidak berkembang
Karakter yang diciptakan harus natural. Tidak stereotype, misalnya pengusaha selalu digambarkan kaku, rapi, perfeksionis. Lelaki pengangguran selalu digambarkan malas dan suka nongkrong. Coba gambarkan lelaki pangangguran yang tiap jumat malam ikut kursus line dance, tentu itu menarik.

5. Tidak ada point penting

Sebuah cerita harus dapat mengejutkan, atau menakutkan, atau membuat pembaca merenung, tertawa dan menangis. Kalau tidak, untuk apa dibaca? Tulis apa yang paling menarik buatmu. Karena jika kita menulis sesuatu yang tidak terlalu berarti, itu akan terlihat dan pembaca juga tidak akan tertarik.



7 deadly sins

Cerpenmu akan dilempar ke tempat sampah, jika kamu melakukan tujuh dosa mematikan berikut ini:
1. Terlalu berkhotbah
2.  Diawali dengan sesuatu yang klise, misal: Pada suatu malam yang gelap. Udara dingin berkabut, bla bla bla
3. Nama tokoh aneh, misal: Britynna, Merzemers, dll
4. Kurang pengetahuan, misalnya menulis tentang komputer, pastikan penulis paham istilah-istilah terbaru atau paling tidak bagian-bagian komputermu sendiri.
5. Cerita yang terlalu autobiografi, karena akan terkesan curhat.
6. Judul yang imut, misalnya Getting Vanessa, Moving Shane – ini agak kurang mudeng, mungkin maksudnya judul yang lugu, misalnya Kalya yang Cantik, atau Innovie si Keren … yahh semacam itulah (bukain kantung kresek).
7. Surat pengantar yang tidak profesional, misalnya:
-          Penuh informasi yang tidak relevan (editor tidak butuh info garis besar ceritamu, berapa lama kau menulisnya atau apa kesan seorang penulis yang (agak) terkenal tentang karyamu)
-          Tulis singkat, kalau mencantumkan karya, pilih karya-karya terbaru dan pastikan surat pengantarmu tak lebih dari satu halaman.

Bagaimana, naskahmu sudah bebas dari lima kesalahan dan tujuh dosa mematikan? Yuk, dicek ulang

By: Moira Allen (penulis lepas). The Writer. September 2002.

Senin, 19 Oktober 2015

Akhlak Dalam Islam (Resume tausiah AA Gym - serambi islami TVRI)


Saya suka menonton acara ceramah agama pagi-pagi di TVRI, judul acaranya serambi Islami. Tiap hari narasumbernya ganti-ganti. Salah satu favorit saya AA Gym, yang biasanya mengisi di hari Senin pagi bakda subuh. Pada suatu senin saya sempat mencatat tema yang penting dari tausiah AA Gym, yaitu tentang akhlak. Daripada catatan berserakan, lebih manfaat saya share via blog. Semoga ada yang tercerahkan.

Tahapan Akhlak dalam Islam ada tiga, yaitu:
1. Saya aman bagimu.
    Lisan dan perbuatan kita tidak menyakiti orang lain
2. Saya menyenangkan bagimu
    Kalau ada kita, orang senang
3. Saya bermanfaat bagimu
    Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi sesama.

Rasulullah SAW diutus ke bumi dengan tujuan untuk menyempurnakan akhlak manusia. Agar akhlak baik, kita yang pertama harus mau berakhlak baik, tahu tentang akhlak dan melaksanakan latihan secara terus menerus agar akhlak kita baik.

Jangan sampai kita sibuk menata rumah daripada menata hati, lebih sibuk mencuci baju daripada mencuci hati yang kotor. Pikirkan berapa banyak kita membeli baju untuk mengotori hati? Beli baju supaya cantik, beli baju jadi centil, beli baju takut rusak, kotor, dll.

Ini dari akhlakul karimah dalam Islam adalah akhlak yang diniatkan sebagai ibadah yang semuanya ditujukan pada keridhaan Allah SWT.

Bagaimana sikap kita terhadap orang non Islam yang baik?
Jangan mengkafirkan, tetap bersikap baik dan doakan agar ia mendapat hidayah dari Allah SWT. Agama Islam hadir bukan untuk kaum Islam saja, melainkan rahmatan lil alamiin, rahmat untuk semesta alam.

Bagaimana sikap kita terhadap pemimpin non muslim?
Sama dengan di atas. Selama instruksinya baik, berpegang pada kebenaran, harus kita dukung. Kalau instruksinya menyuruh pada kemungkaran, harus kita ingatkan.

Bagaimana caranya agar anak mempunyai akhlak yang baik?
1. Pertama kita harus sadar bahwa anak itu milik Allah. Allah yang mengurus anak kita. Kalau ingin anak baik, kita duluan yang musti baik.
2. Kita berikan lingkungan terbaik untuk anak. Pendidikan yang baik.
3. Jangan lupa doa. Kita doakan sekuat tenaga agar Allah membolak-balik hati anak kita. Meluruskan yang bengkok, mengistiqomahkan yang sudah lurus, karena sejatinya bukan kita yang berperan besar terhadap perubahan akhlak anak, tapi hanya Allah saja yang bisa mengubah anak kita menjadi lebih baik.

Tahapan memperbaiki diri agar akhlak menjadi baik:
1. Bertekad untuk memperbaiki diri
2. Bercermin pada akhlak Rasulullah SAW. Rasulullah adalah insan yang paling baik akhlaknya. Ikuti semua perintahnya. Bila Rasulullah bicara : Jangan marah, maka bagimu surga. Maka ikutilah. Berusahalah untuk tidak/ sekuat tenaga menahan marah. Karena kalau kita sudah terlanjur marah, maka setan akan berbisik menyuruh kita menambah volume suara, menambah lebar mata dengan melotot, dan akhirnya malah akan memperburuk suasana dan tidak menghadirkan solusi.
Kalau perlu jangan membaca referensi lain sebelum paham benar tentang akhlak Rasulullah.
3. Riyadhoh/mujahadah. Latihan secara rutin dan tak kenal lelah. Latihan menarik napas panjang jika sudah ada tanda-tanda kesal di hati. Latihan tersenyum di cermin agar kehadiran kita selalu menyejukkan hati orang-orang terdekat.
4. Istiqomah atau disiplin.

Semua langkah di atas dibarengi dengan selalu meminta pertolongan Allah SWT agar dimudahkan mencapai tujuan yang diharapkan.

Semoga resume ini bermanfaat.

Jumat, 09 Oktober 2015

Cerpen ketiga di majalah Bobo: Misteri Bau Nenek


Misteri Bau Nenek
Oleh: Kalya Innovie

            Nenek sudah meninggal tiga bulan yang lalu. Waktu itu Vini dan Dodi pergi ke Jogja bersama Ayah dan Ibu, untuk ikut menyaksikan Nenek dimakamkan. Sedih sekali ditinggal Nenek. Nenek orang yang senang bergurau dan baunya selalu harum.
            Pagi ini, Tante Cica datang ke Malang. Tante Cica adalah adik Ibu yang paling kecil. Selama ini, Tante tinggal di Jogja mengurus rumah Nenek.
            “Vini, Dodi, Tante kangen,” ucap Tante Cica memeluk Vini dan Dodi saat tiba di rumah. Ayah tadi yang menjemput Tante di stasiun. “Tante bawa bakpia banyak lho buat kalian. Yang rasa keju dan rasa cokelat.”
            “Terima kasih, Tante. Dibawa ke sekolah, boleh? Untuk bekal, Bu?” tanya Vini dengan mata berbinar melihat kotak-kotak bakpia keju bertumpuk di meja makan.
            “Boleh,” sahut Ibu, membantu Vini menata bakpia di kotak bekalnya. “Dodi mau juga?”
            Dodi mengangguk, sambil mengunyah nasi goreng sarapannya. Saat Tante Cica tiba, Vini dan Dodi memang sedang bersiap-siap berangkat sekolah.
            “Tante juga bawa salak pondoh, mau dibawa juga ke sekolah?” tanya Tante Cica, masih membongkar tas berisi oleh-oleh.
            “Nggak usah, Te. Salaknya buat dimakan di rumah saja,” jawab Dodi.
            Tak lama, setelah siap, dua adik kakak itu segera berpamitan. Mereka ke sekolah naik sepeda, karena jarak sekolah tidak terlalu jauh dari rumah. Jalanan pun tidak terlalu ramai.
            “Kak Vini, ngerasa ada yang aneh, nggak, dengan Tante Cica?” tanya Dodi saat mereka sudah agak jauh dari rumah.
            “Iya, Dod. Baunya, kan? Bau Tante, mirip bau Nenek.”
            “Hiii, ngeri, ya, Kak.”
            “Ssst, kalau menurut Kakak, Tante Cica pasti pakai parfumnya Nenek.”
            “Ooh…iya, ya. Bisa juga. Dodi kira, Nenek ikut juga pergi ke Malang, cuma…nggak kelihatan…hiii,” Dodi mengayuh sepedanya cepat-cepat meninggalkan Vini.
            “Huu, dasar Dodi. Terlalu banyak nonton film hantu. Hai, tunggu!” Vini buru-buru menyusul adiknya.
*
            “Tante Cica nggak capai, dari perjalanan?” tanya Vini sepulang sekolah. Tante sedang membantu Ibu menyeterika.
            Tante Cica tersenyum.
            “Tante nggak capai, Vin. Justru Tante rasanya segar menghirup udara Malang yang sejuk. Kalian siap-siap ya, Tante mau jalan-jalan ditemani kalian lihat-lihat kota. Kita cari bakso yang enak.”
            “Oke, Te.”
            Vini berjalan masuk ke kamarnya hendak mengganti baju. Ia singgah dulu ke kamar adiknya.
            “Dod, ada yang aneh lagi. Biasanya, Tante Cica kalau ke Malang, hari pertama selalu tidur seharian, kan? Alasannya capai dan masuk angin. Tapi sekarang kok, beda, ya? Malah semangat bantuin Ibu dan masih mau ngajak jalan-jalan juga!”
            “Nggak papa, Kak. Malah bagus. Ibu nggak marah-marah gara-gara Kak Vini malas bantuin kerjaan rumah, dan kita juga senang dapat bakso gratis!”
            “Yee, bukan itu, Dod. Maksud Kakak, mirip Nenek kan, tiap datang ke sini juga begitu. Nggak ada kata capai, langsung saja kerja, bikin kue atau bersihin kebun. Ya, nggak?”
            “Wah, iya, Kak. Jangan-jangan gara-gara pakai parfum Nenek, Tante jadi kerasukan Nenek!”
            “Hish, jangan keras-keras suaranya, Dodi. Nanti Ibu sedih kalau dengar kita ngomongin Nenek. Nggak mungkin, kan, Nenek jadi hantu. Nenek kan, orang baik.”
            “Jadi bagaimana, masih mau ngebakso atau membahas Tante Cica, nih?”
            “Bakso dulu, dong. Cepetan sana ganti baju!”
*
            Dengan gembira, Vini dan Dodi pergi jalan-jalan menemani Tante Cica. Mereka naik angkot warna biru ke arah kota. Makan di sebuah kedai bakso yang paling terkenal di kota Malang. Sebuah kedai bakso yang lokasinya pas di samping rel kereta api. Dodi paling senang makan di sana. Biasanya setiap makan di sana, dua atau tiga kereta api melewati rel. Suaranya memang berisik, tapi rasanya seru, makan bakso sambil melihat kereta api lewat.
            Setelah makan bakso, mereka pergi ke pusat perbelanjaan terbaru di kota Malang. Hanya putar-putar cuci mata. Setelah puas, baru mereka pulang ke rumah. Setelah mandi dan mengerjakan PR, Vini dan Dodi tertidur karena kelelahan.
            Vini terbangun karena mencium bau wangi khas yang ia kenal baik. Wangi kenanga kesukaan  Nenek. Tiba-tiba ia merasa merinding. Ia beranikan diri untuk mendekati asal bau wangi itu. Sepertinya dari arah dapur. Lampu ruang makan dan dapur sudah dimatikan, tapi Vini melihat ada seseorang berdiri di dekat meja dapur. Jantung Vini berdetak kencang saat bau itu semakin tajam. Lalu tampaklah sesosok tubuh dengan rambut digelung di atas kepala, memakai daster gombrong warna putih bunga-bunga. Vini tahu itu daster siapa.
            “Ne…ne…nenek!” Vini terpekik, lalu jatuh lemas di lantai.
            “Vini, ada apa?” sosok itu mendekat. Vini mendengar pintu kamar orang tuanya terbuka dan Ibunya keluar.
            “Ada apa, Cica?”
            Lampu dinyalakan. Vini dapat melihat dengan jelas bahwa sosok yang ia kira Nenek, adalah Tante Cica.
            “Kamu kenapa, Nak?” tanya Ibu.
            Tante Cica memberikan segelas air untuk diminum oleh Vini.
            “Vini kira…tadi…Vini melihat Nenek,” ucap Vini menatap Tante Cica. Ibu melirik daster yang dipakai Tante.
            “Oh…gara-gara Tante pakai baju ini, ya? Maaf ya, Vin. Pasti kamu takut sekali, ya?” ucap Tante Cica.
            “Vini juga cium bau wangi kenanga tajam banget, seperti bau Nenek, Te. Benar, Bu!”
            Ibu tersenyum. Tante Cica juga.
            “Memang ada bau kenanga,” ucap Tante Cica. “Tapi bukan bau Nenek. Melainkan bau Tante Cica. Nih, Tante ikut-ikutan kebiasaannya Nenek, menyeduh bunga kenanga untuk diminum.”
            Tante menunjukkan sebuah cangkir berisi air dan bunga kenanga. Aroma kenanga memenuhi hidung Vini.
            “Itu…diminum?” tanya Vini.
            “Iya. Ini rahasia awet muda Nenek sejak bertahun-tahun lamanya,” jelas Tante Cica. “Vini lihat, kan, Nenek itu seperti tidak kenal lelah. Selalu bersemangat. Dan bau tubuhnya harum sewangi kenanga. Sejak Nenek meninggal, Tante merawat kebun Nenek dan kenanga-kenanga Nenek. Sebagian bunga kenanga itu biasanya dijual di pedagang kembang, tapi masih sisa banyak. Sudah dua bulan ini, Tante mencoba resep awet muda Nenek dengan minum air seduhan kenanga. Dan, itu berhasil, lho. Tante merasa selalu segar dan sehat. Nggak sering lemas seperti dulu. Gitu ceritanya, Vini….”
            “Ooh…,” Vini manggut-manggut menerima penjelasan dari Tante Cica. Penjelasan itu masuk akal. Buktinya Tante memang sekarang wangi dan bersemangat, beda dengan yang dulu.
            “Sudah jelas, kan? Pasti kamu tadi sudah mikir seperti di film horor, ya?” tanya Ibu. Pipi Vini memerah malu.
            “Ya sudah, sana tidur lagi. Jangan lupa berdoa sebelum tidur, ya.”

            Vini mengangguk berjalan kembali ke kamarnya. Masih terdengar di telinganya Ibu dan Tantenya tertawa berdua. Eits, samar terdengar suara tawa yang lain…lirih dan khas seperti suara tawa Nenek! 
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES