Tampilkan postingan dengan label Curcol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curcol. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Januari 2018

Resolusi 2018

Waktu berlalu demikian cepat. Tahu-tahu sudah 2018 saja, tempe-tempe...? Hehehe. Usia dan pengalaman hidup membuat saya memahami bahwa sebuah resolusi itu tidak usah terlalu muluk-muluk. Pengalaman membuktikan semakin muluk, semakin tak bisa dikejar, hiks.
Tapi tak ada salahnya menulis sebuah resolusi. Ok, here they are...

1. Semakin produktif baik nulis sebagai hobi, maupun nulis paper ilmiah/semi ilmiah sebagai tugas utama di kantor. Sebagai patokan, pada gambar di bawah ini hasil nulis sebagai hobi di tahun 2017, nah tahun 2018 minimal sama deh hasilnya, maksimal lebih banyak, aamiin. Kalau kerjaan kantor, ada 4 karya tulis ilmiah tahun 2017, minimal sama juga deh.

2. Ngelarin naskah buku.
    Dengan sangat menyesal saya ngaku tahun 2017 nggak tamat ngelarin naskah teenlit buat lomba. Naskah itu rencananya mau dikelarin 2018 dan entar dikirim ke penerbit. Semoga bisa, aamiin.

3. Semakin kenceng ibadahnya
    Usia ni ya, makin tua. Sudah nyadar senyadar-nyadarnya suatu saat bisa dipanggil kapan aja. Jadi saya mau kencengin ibadah. Nggak usah detail, yang penting sholat ditambah, ngaji ditambah, trus sedekah juga. Semoga selalu diberi kelonggaran waktu, rezeki, dan niat kuat untuk melaksanakan semua itu, aamiin.

4. Diet
    Dalam artian mengatur pola makan nggak sembarangan kayak dulu lagi, dan lebih memperhatikan asupan air putih dan buah-buahan.

5. Happy family
    Berusaha sesantai mungkin untuk menjadi ibu yang serius menjalankan perannya. Wah, piye kuwi? Gimana itu? Ya, saya ingin dikenang anak-anak sebagai ibu yang asyik. Nggak suka marah-marah dan  anak-anak tetap tumbuh sehat, pintar, dan sholeh/sholehah, aamiin.

6. Ngelunasin utang
    Hari gene masih ngutang? Dengan berat hati saya mengangguk, hiyaaa. Semoga kerja keras di 2018 dapat menghasilkan pundi-pundi pelunas hutang, aamiin.

Baiklah, mungkin cukup itu resolusi saya. Bagaimanapun, sejatinya resolusi adalah doa. Semakin diingat, ditulis, atau diucapkan, insyaAllah yang maha pemberi anugerah akan mengijabah, aamiin.

Today is the first, and don't worry to take your step ... day by day until end.
Selamat menjalani 2018 dengan baik.

Jumat, 02 September 2016

Jangan Menolak Tua

Semingguan ini punggungku terasa panas. Bukan, bukan karena kelamaan duduk menghadap laptop menyusun laporanku yang tertunda. Kalau karena hal itu, biasanya muncul saat aku sudah tiga jam duduk. Tapi ini … panas punggung terasa mulai dari saat aku bangun tidur sampai aku tidur lagi. Pas tidur nggak terasa lagi. Ya iyalah.

*
Aku sudah diskusi dengan bidan pribadiku, ciee, bidan pribadi. Benar, temanku, sahabatku Dyah yang jadi bidan di pelosok Tuban, sudah kutahbiskan menjadi penasihat medis pribadiku. Terserah dia keberatan atau tidak, wong konsulnya juga hanya sebatas ngobrol di WA. Hahaha. Nah, bidan manis itu sudah setengah memaksaku minum simvastatin untuk kolesterolku. Tak apa minum obat dari pada kamu selalu berkeluh kesah, katanya. Tapi yah, daku memang bandel dan bertahan hanya menjalani terapi koles dengan mengurangi makanan berlemak dan olah raga. Gaya banget ya? Hmmm.
*
Nah, berhubung panas punggung terasa makin mengganggu, akhirnya aku menyerah dan segera pergi ke dokter sekaligus konsul tentang hasil cek kolesterolku tempo hari. Dokter mendengarkan keluhanku dengan seksama, lalu bertanya. 
“Ibu umur berapa?”
Di depan dokter, untuk alasan kesehatan, Anda tidak dapat menjawab pertanyaan semacam itu dengan candaan: “Dokter mau tau aja, apa mau tau bangeeet?”
Akhirnya kusebutlah angka sakral itu. 
*
“Baiklah, Bu Indah. Semua gejala yang Ibu sebutkan itu wajar saja untuk orang seusia Ibu.”
What?
“Dengan bertambahnya usia, secara normal semua organ-organ tubuh akan mengalami penurunan fungsi. Ibu harus menerima kenyataan ini.”
What?
Apakah tampak di dahiku tulisan “Menolak Tua”, Bu Dokter yang terhormat?
Tapi aku hanya menanggapi dengan tawa dan senyum manis, … 
“Hehee, iya, Dok. Saya menolak tua.” Dokter pun tertawa … entah apa arti tawanya. Apakah karena dia juga sama sepertiku? Huehehe. 
*
Kami pun berdiskusi mengenai pengobatan yang harus kujalani. Dan aku diberinya tiga resep obat yaitu: Vitamin B kompleks untuk pegal-pegal, penahan nyeri untuk sakit punggungku, dan simvastatin untuk si koles. Plus … tetap hidup sehat banyak minum air putih, kurangi gorengan, kurangi protein hewani, perbanyak asupan buah dan sayur, serta rajin olah raga.
*
Kamu gimana, sudah hidup sehat, kan? Sudah minum air putih, belum? Makan buah dan sayur? Sudah berhenti merokok? Sudah olah raga? Keep healthy… 
*
Oh, ya ... postingan ini sebelumnya kutulis sebagai status facebook. Dan ada komentar yang bagus dari seorang sahabatku yang juga seorang dokter. Baiklah akan kusalin saja di sini. Himbauan dari Kementerian Kesehatan, kita harus CERDIK mengelola kesehatan.

C -- Cek kesehatan rutin
E -- Enyahkan asap rokok
R -- Rajin Olah Raga
D -- Diet Seimbang
I -- Istirahat cukup
K -- Kelola Stress dengan baik

Yuk, tetap sehat dan jadilah orang yang CERDIK...




Menua menjadi memesona (kupu-kupu)
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES