Tampilkan postingan dengan label Cerpen Bobo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Bobo. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Oktober 2017

Cerita keenam di majalah Bobo (Kotak Bekal Misterius)









Kotak Bekal Misterius
Oleh: Kalya Innovie

Siroh meninggal. Gadis ramah berkepang dua itu tak dapat bertahan dari penyakit demam berdarah yang dideritanya. Teman-teman sekelasnya di SD Pucang sedih. Siroh alias Siti Rohani, memang terkenal baik hati dan tidak pelit.  
            Dua minggu berlalu dan kelas 5 A sudah berkegiatan seperti biasa. Laila, yang dulu sebangku dengan Siroh, sudah asyik duduk dengan Amina. Wajah-wajah murung  tak tampak lagi. Tapi ada yang masih sering menangis diam-diam.
**
            Pagi itu Laila masuk kelas seperti biasa. Ia terpekik melihat di meja sebelahnya tergeletak sebuah kotak bekal warna merah. Wajah Laila memucat, memerhatikan kotak bekal  bergambar pokemon itu. Di bangku belum ada tas Amina. Laila menoleh ke kiri dan ke kanan, bingung.
            “Kenapa, La?” tanya Utari yang melihat tingkah aneh Laila.
            “Ituu ...,” bisik Laila menunjuk kotak bekal.
            Utari mengernyitkan kening, berpikir, lalu membelalak.
            “Kotak bekal Siroh!” pekik Utari.
            “Iyaa … kenapa bisa ada di situ?” spontan Laila melompat mundur memeluk Utari.
            “Ada apa ini?”
            Teman-teman  berdatangan. Setelah tahu persoalannya, mereka sama-sama ketakutan melihat kotak bekal itu.
            “Aku buka, ya?” tanya Fajar mengulurkan tangan.
            “Iya, buka saja, Jar,” balas Amina berbisik. Ia ketakutan. Ia kan duduk di bangku Siroh. Mungkin sebaiknya ia kembali ke bangku lamanya.
            Pelan-pelan Fajar membuka kotak bekal itu, harum nasi goreng menguar.
            “Masih hangat,” bisik Fajar.
            Laila mengintip, air matanya mengalir.
            “Nasi goreng sosis merah, bekal favorit Siroh,” bisik Laila terduduk lemas.
**
            Bu Widi, wali kelas 5 A, sudah mendapat penjelasan dari Fajar, sang ketua kelas. Beliau duduk di depan meja guru, dengan kotak bekal Siroh terbuka di atas meja. Bu Widi menghela napas panjang, memandang satu-satu wajah muridnya.
            “Sekali lagi ibu tanya, siapa yang membawa kotak bekal ini?” Bu Widi bertanya pelan.
            Tak ada yang menyahut. Kelas hening.
            “Apa mungkin … Si … Siroh sendiri yang datang, Bu?” suara Utari memecah keheningan. Anak-anak langsung riuh seperti lebah berdengung.
            “Hantu itu nggak ada,” bantah Fajar dengan suara pelan, tapi otaknya berputar memikirkan berbagai kemungkinan.
            “Benar kata Fajar, anak-anak. Hantu itu tidak ada. Nasi goreng inipun jelas dimasak oleh manusia. Ibu beri waktu sampai jam pulang. Tolong mengaku saja yang sudah membawa kotak bekal ini. Beri penjelasan pada Ibu dan Ibu tidak akan marah.”
            “Maksud bu Widi, salah satu dari kita sengaja melakukannya?” bisik Tiara pada Fajar. Sang ketua kelas hanya mengangguk.
            “Tapi apa tujuannya?” lanjut Tiara.
            “Entahlah, nanti kita pikirkan sama-sama,” ucap Fajar.
**
            Sampai jam pulang, tidak ada yang mengaku  membawa kotak bekal itu. Dan keesokan harinya, kotak bekal yang sama ada di atas meja Laila lagi. Kali ini Laila pingsan. Keadaan jadi semakin heboh. Bu Widi kelihatan marah. Tapi beliau tidak sempat mengatakan apa-apa pada anak-anak karena sibuk mengurus Laila di ruangan kesehatan. Anak-anak ribut  bercakap-cakap membahas kejadian itu.
            “Kok bisa ada lagi? Isinya mie goreng dengan suwiran daging ayam. Aku pernah melihat Siroh bawa bekal seperti itu,” ucap Tiara.
            “Benar, aku juga pernah makan mie goreng Siroh, persis seperti yang tadi,” timpal Utari.
            “Padahal, kotak bekal yang berisi nasi goreng kemarin disimpan oleh Bu Widi,” gumam Fajar.
            “Berarti pelakunya sengaja membeli kotak bekal yang sama dengan punya Siroh,” cetus Tiara.
            “Pernah lihat toko yang jual tempat bekal seperti itu, nggak?” tanya Fajar.
            Utari menggeleng ragu. Tiara mengangkat bahu tanda tak tahu.
            Fajar berpikir keras hingga alisnya menyatu di kening.
**
            Hari ke tiga, tidak ada peristiwa kotak bekal lagi. Hari ke empat, kotak bekal itu kembali lagi membuat heboh kelas 5 A. Kali ini, Fajar berhasil menenangkan Laila. Lalu memanggil Bu Widi. Wali kelas cantik itu duduk diam di meja guru, karena Fajar sudah meminta waktu untuk bicara.
            “Bu Widi, dan teman semua. Kotak bekal Siroh kembali lagi. Kali ini isinya donat, kue kesukaan Siroh. Tapi saya, dan Tiara sudah tahu bahwa bukan Siroh yang punya kotak bekal ini. Yang punya bekal ini … adalah … Utari,” Fajar tersenyum mengulurkan telunjuk pada Utari.
            Seluruh siswa kelas 5 A terperanjat, lebih-lebih Utari.
            “Kamu … jangan menuduh sembarangan, Jar!” teriak Utari dengan wajah memucat.
            “Aku nggak menuduh sembarangan. Aku dan Tiara mengadakan penyelidikan kecil-kecilan dua hari ini. Kami bertanya pada Pak Leo, satpam sekolah tentang siapa-siapa siswa yang datang pagi-pagi sekali dua dan tiga hari yang lalu. Dan kemarin serta hari ini, aku dan Tiara sengaja  sembunyi di lemari, menunggu si pembawa kotak bekal beraksi lagi. Dan … kami bahkan berhasil memotret kamu sedang beraksi, Tari,” Fajar mengacungkan ponsel.
            Utari terbelalak tapi lalu menangis terisak-isak. Pengakuan terlontar dari bibirnya.
            “Aku rindu Siroh. Ia selalu baik. Kalian sering mengejekku bodoh, tapi Siroh nggak. Dua minggu ini, aku masih merindukan Siroh. Tapi kalian bertingkah seperti Siroh tak pernah ada. Terutama kamu, Laila. Kamu malah cepat sekali melupakan Siroh dan bermain dengan Amina,” Utari terisak-isak.
            Bu Widi  berjalan mendekati Utari, memeluknya. Teman-teman Utari juga mendekat.
            “Aku juga rindu Siroh, Tari,” isak Laila. “Aku nggak pernah melupakan Siroh.”
            “Tidak ada yang lupa pada Siroh, Tari. Siroh selalu akan ada di hati kita semua,” Bu Widi memeluk murid-muridnya yang terbawa kenangan pada Siroh yang lembut hati.
            Misteri kotak bekal Siroh terpecahkan. Perbuatan Utari juga sudah dimaafkan. Teman-temannya berjanji tak akan sering mengejeknya lagi. Tiga kotak bekal dikembalikan pada Utari.

**
            Pagi cerah. Murid-murid kelas 5 A belum ada yang datang. Tapi sebuah benda kotak berwarna merah sudah ada di atas meja Laila. Kotak bekal bergambar pokemon. Kali ini tidak berwarna merah cerah seperti tiga kotak punya Utari. Kotak ini merahnya sudah pudar, seperti milik Siroh.**

Keterangan:
**Kotak Bekal Misterius dimuat di Bobo 13 Juli 2017

Sabtu, 02 Januari 2016

Cerpen kelima di majalah Bobo: Kejutan Buat Ibu



Kejutan Buat Ibu
Oleh: Kalya Innovie

            Naya itu malas. Begitu kata Ibu. Disuruh les musik, ogah. Disuruh les tari, nggak mau. Disuruh les berenang, geleng kepala. Setiap ditawari les, jawabnya: Ah, itu kelihatannya susah. Hanya satu les saja yang tidak bisa ditolaknya, yaitu les mengaji.
            Sebenarnya niat Ibu baik. Ingin Naya ada kegiatan yang bermanfaat. Selama ini, sepulang sekolah, kerja Naya hanya mendekam di kamar membaca koleksi bukunya. Soal buku ini, Ibu sudah sempat punya ide.
            “Nay, pengarang buku-buku yang kamu baca itu, semua masih anak-anak seperti kamu, lho.”
            “Iya, memang, Bu. Kan ada profil penulis di belakang buku. Ada yang kelas empat seperti Naya, kok.”
            “Nah, kenapa kamu nggak coba nulis juga seperti mereka? Nulis cerita sehari-hari. Latihan dari yang gampang dulu,” usul Ibu.
            Naya melirik Ibu, lalu mengeluarkan kata-kata yang sudah dihafal oleh Ibu.
            “Ah, itu kelihatannya susah, Bu.”
            “Dicoba dulu,” bujuk Ibu.
            “Ah, itu kelihatannya super susah, Bu. Sudah, ya. Naya mau main dulu ke rumah Fika. Dadah Ibu!” Naya cepat beranjak, mencium pipi Ibu sekilas, lalu lari keluar. Menuju rumah Fika, sahabat barunya.
*
            Fika dan keluarganya baru seminggu menempati rumah di sebelah rumah Naya. Pertama datang, keluarga Fika langsung berkeliling berkenalan dengan tetangga dekat. Mama Fika bahkan membawa bolu pandan untuk Naya sekeluarga. Karena Naya dan Fika seumur, mereka dengan cepat saling bersahabat.
            “Fika, main, yuk!” seru Naya memanggil sahabatnya.
            Kepala Fika nongol dari jendela rumah.
            “Hai, Nay, mau main ke mana?”
            “Main ke sungai, atau ke pos ronda, yuk,” ajak Naya. Sungai dan pos ronda adalah dua tempat favorit untuk main anak-anak di kompleks.
            “Mama melarangku main di sungai. Masuk saja, Nay, kita main di rumahku. Kita main sulapan.”
            “Sulapan?” tanya Naya.
            Fika mengajak Naya masuk ke dapur rumahnya. Di situ ada Mama Fika memakai celemek, menghadapi meja yang penuh bahan-bahan kue.
            “Halo, Naya, yuk ikut sulapan sama kami,” ajak Mama Fika sambil tersenyum.
            “Sulapan? Bikin kue, maksudnya?” tanya Naya.
            “Iya. Bikin kue tu kayak sulapan, lho. Coba, bayangin tepung yang kayak bedak ini, bisa jadi kue yang harum dan enak. Kayak disulap, toh?”
            “Sudah, ayo Naya, kamu kocok telur di baskom kecil ini, ya,” Mama Fika menyerahkan baskom pada Naya.
            Tak bisa mengelak, Naya mulai mengocok sebutir telur. Dikocok biasa saja pakai sendok, tidak usah mixer! Mama Fika menambahkan tepung, mentega dan ragi ke dalam baskom.
            “Nah, biar Fika yang menguleni. Naya cukup melihat saja, ya.”
            Naya melihat Fika menguleni adonan kue. Menguleni adalah meremas-remas adonan sampai bisa dibentuk. Dalam beberapa menit, adonan berubah menjadi bongkahan padat dan liat.
            “Nah, ini dibiarkan dulu selama satu jam. Bermainlah dulu kalian di kamar.”
            Fika mengajak Naya menunggu di kamarnya. Setelah satu jam, adonan yang dibiarkan itu rupanya telah mengembang. Mama Fika meninju bongkahan adonan, lalu meminta Naya dan Fika untuk membentuk adonan menjadi bulatan-bulatan berukuran sedang. Lalu bulatan itu dilubangi hingga serupa cincin raksasa. Tahap berikutnya, adonan siap digoreng.
            “Ooh…kita sedang bikin donat?” tanya Naya baru tersadar. Fika dan Mamanya tersenyum lebar.
            “Setelah ini bagian yang paling keren, adalah menyulap donat-donat itu menjadi cantik!” ucap Fika. Ia menyiapkan keju parut, cokelat meses, cokelat pasta, gula-gula kecil warna-warni sebagai hiasan.
            Setelah donat dingin, Naya dan Fika mulai menghias sesuka hati. Berkreasi seindah mungkin. Fika membuat Donat dengan topping cokelat meses campur keju parut. Naya membuat topping selai nanas.
            “Aku belum pernah makan donat topping selai nanas. Tapi tak apalah. Sepertinya itu akan lezat,” ucap Naya.
            “Bagaimana, asyik, kan, menyulap bahan-bahan menjadi kue yang cantik?” tanya Mama Fika.
            “Bikin kue memang seperti sulapan ya, Te. Seperti main-main. Dan ternyata asyik juga,” ucap Naya bersemangat.
            “Nah, bawakan Ibumu beberapa kue hasil kreasimu, ya. Ibumu pasti senang.”
*
            Naya membawa pulang beberapa potong donat hasil kreasinya. Ibu melongo melihat donat-donat cantik yang dibawa Naya pulang. Apalagi saat Naya dengan bergairah menceritakan pengalamannya hari itu.
            “Hmm, donatnya enak, Nay,” puji Ibu mengunyah satu donat.
            “Sekarang, Naya sudah tahu hobi Naya apa selain membaca, Bu. Naya suka sekali sulapan!” seru Naya ceria.
            “Sulapan? Lho, kok, sulapan, sih?” tanya Ibu bingung. Apa hubungannya dengan bikin kue?
            “Maksud Naya, menyulap tepung, telur dan mentega, menjadi kue yang lezat, Bu! Nanti, Naya mau pinjam buku resep Ibu, ya?”

            Ibu mengangguk senang. Ternyata, menggali minat dan bakat Naya, tidak cukup dengan menawarkan berbagai les. Dengan langsung praktek, akhirnya muncul juga minatnya membuat kue. Dengan langsung praktek, nggak ada lagi kata-kata: Ah, itu kelihatannya susah.**

Kamis, 05 November 2015

Cerpen keempat di Majalah Bobo: Pergilah Kau, Koles



Pergilah Kau, Koles
Oleh: Kalya Innovie

            Pulang sekolah, lapar dan haus. Seperti biasa, Dina langsung menuju meja makan.
            “Ha? Ayam kukus lagi?” Dina menggumam sambil melongok hidangan di bawah tudung saji.
            “Lihat, aku lihat, Kak!” Syafiq, adiknya, ikut-ikutan melongok ke bawah tudung saji. “Yaah…” Syafiq mendesah kecewa. Di bawah tudung saji ada ayam kukus, tumis kacang panjang dan tahu bacem, sebagai menu makan siang mereka.
            “Sudah lama sekali kita tidak makan ayam goreng, ya, Fiq?” keluh Dina. Syafiq mengangguk sedih.
            “Hal ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, Fiq,” ucap Dina.
            “Maksud Kakak?”
            “Kita harus demo,” bisik Dina di telinga Syafiq.
Mata Syafiq membulat. “Bakar ban, Kak?” tanyanya
Dina tertawa. Dulu mereka pernah lewat sebuah kampus saat mahasiswa sedang demo, membakar ban memprotes kenaikan BBM. Waktu itu Syafiq bertanya pada Papa, ada apa. Lalu Papa jawab, sedang ada demo. Rupanya dalam kepala Syafiq, demo itu identik dengan bakar ban.
Dina menjelaskan pada adiknya. Demo, atau kependekan dari demonstrasi, adalah ungkapan rasa kecewa karena sesuatu yang di luar harapan kita.
“Caranya bagaimana, Kak?”
Dina berbisik lagi di telinga Syafiq. Syafiq membelalak. Mogok makan? Wah, nanti lapar, dong. Walaupun Syafiq memang ingin makan ayam goreng, tapi ayam kukus buatan Mama juga enak. Masak tidak dimakan?
“Eh, kalian lagi pada ngapain? Pulang sekolah bukannya ganti baju, malah bisik-bisik dekat meja makan?” Mama datang dari belakang rumah, membawa baju-baju yang sudah kering usai dijemur. “Cepat ganti baju, lalu makan.”
Dina dan Syafiq mencium tangan Mama, lalu menuju kamar masing-masing. Setelah ganti baju, Dina langsung berbaring-baring di kasur, membaca-baca buku. Sementara Syafiq, langsung keluar kamar dan menuju meja makan. Di kamarnya, alis Dina terangkat mendengar suara denting sendok beradu dengan piring – dari ruang makan.
“Syafiiiiiiiqqqqqq!!” teriak Dina kesal. Harusnya kan, mereka mogok makan.
*
            Sorenya Dina dan Syafiq protes pada Papa.
            “Kenapa sih, Pa … akhir-akhir ini, Mama selalu masak serba kukus. Ayam, dikukus. Ikan, dikukus. Daging sudah jarang banget. Tempe tahu juga dikukus. Kami rindu ayam goreng,” keluh Dina.
            Papa terbahak.
            “Kenapa nggak bilang langsung sama Mama?”
            “Ih, sudah, Pa.”
            “Terus, jawaban Mama apa?”
            “Kata Mama, makanan yang serba kukus, itu sehat. Begitu, Pa.”
            “Nah, betul itu kata Mama.”
            “Yaah, Papa. Malah jadi pendukung Mama.”
“Sabar, ya. Nanti Papa bilang sama Mama deh, supaya sesekali bikin ayam goreng lagi. Mama kalian itu sedang diet rendah kolesterol. Sebulan lalu, Mama cek kolesterol dan ternyata kolesterol Mama cukup tinggi.”
“Koles-koles itu apa sih, Pa?” tanya Syafiq.
“Ko-les-te-rol, bukan koles-koles,” ralat Papa. “Kolesterol itu lemak jahat. Hii, kalian tahu ternyata di tubuh kita ada lemak jahat dan lemak baiknya. Lemak jahat bisa menyumbat aliran darah ke jantung.”
“Makanan yang digoreng itu minyaknya bisa jadi lemak jahat, ya, Pa?” tanya Dina.
Papa mengangguk.
“Kasihan Mama, ya,” bisik Syafiq sedih. Dina pun terdiam. Demi kesehatan Mama, rasanya makan ayam kukus setiap hari, Dina rela.
“Tidak usah sedih, kadar kolesterol Mama belum terlalu tinggi, kok. Tapi tetap harus dijaga agar tidak naik lagi,” hibur Papa.
*
            Demi mengobati rindu ayam goreng, Papa mengajak Dina dan Syafiq makan ayam goreng kremes di warung langganan. Pada Mama, mereka pamit jalan-jalan. Mama juga tidak tertarik ikut karena ada pekerjaan di dapur yang harus diselesaikan.
            Sepulang makan, mereka bertiga singgah di toko buah. Papa membeli banyak alpukat dan belimbing manis.
            “Tumben sih, Pa? Biasanya beli apel dan jeruk?” tanya Dina.
            “Ini buat Mama. Rutin mengkonsumsi alpukat dan belimbing manis, dapat menurunkan kolesterol. Itu Papa baca di internet tadi siang.”
            “Ooh … penyakit koles-koles itu, kok, obatnya enak sih, Pa?” tanya Syafiq.
            Papa tergelak.
            Sesampai di rumah, Dina dan Syafiq memberikan oleh-oleh buah pada Mama.
            “Ma, ini buah untuk Mama. Dimakan rutin, bisa menurunkan koles-koles, lho,” ucap Syafiq.
            “Apa itu koles-koles?” tanya Mama tersenyum. “Terima kasih, ya. Oh ya, waktu kalian pergi tadi, Mama masak ayam kremes, lho. Mama kasihan, kalian jarang makan ayam goreng kesukaan kalian. Nah, sekarang Mama bikinkan. Ayo, buruan makan.”
            Papa, Dina dan Syafiq saling berpandangan. Ayam kremes lagi?”**

Jumat, 09 Oktober 2015

Cerpen ketiga di majalah Bobo: Misteri Bau Nenek


Misteri Bau Nenek
Oleh: Kalya Innovie

            Nenek sudah meninggal tiga bulan yang lalu. Waktu itu Vini dan Dodi pergi ke Jogja bersama Ayah dan Ibu, untuk ikut menyaksikan Nenek dimakamkan. Sedih sekali ditinggal Nenek. Nenek orang yang senang bergurau dan baunya selalu harum.
            Pagi ini, Tante Cica datang ke Malang. Tante Cica adalah adik Ibu yang paling kecil. Selama ini, Tante tinggal di Jogja mengurus rumah Nenek.
            “Vini, Dodi, Tante kangen,” ucap Tante Cica memeluk Vini dan Dodi saat tiba di rumah. Ayah tadi yang menjemput Tante di stasiun. “Tante bawa bakpia banyak lho buat kalian. Yang rasa keju dan rasa cokelat.”
            “Terima kasih, Tante. Dibawa ke sekolah, boleh? Untuk bekal, Bu?” tanya Vini dengan mata berbinar melihat kotak-kotak bakpia keju bertumpuk di meja makan.
            “Boleh,” sahut Ibu, membantu Vini menata bakpia di kotak bekalnya. “Dodi mau juga?”
            Dodi mengangguk, sambil mengunyah nasi goreng sarapannya. Saat Tante Cica tiba, Vini dan Dodi memang sedang bersiap-siap berangkat sekolah.
            “Tante juga bawa salak pondoh, mau dibawa juga ke sekolah?” tanya Tante Cica, masih membongkar tas berisi oleh-oleh.
            “Nggak usah, Te. Salaknya buat dimakan di rumah saja,” jawab Dodi.
            Tak lama, setelah siap, dua adik kakak itu segera berpamitan. Mereka ke sekolah naik sepeda, karena jarak sekolah tidak terlalu jauh dari rumah. Jalanan pun tidak terlalu ramai.
            “Kak Vini, ngerasa ada yang aneh, nggak, dengan Tante Cica?” tanya Dodi saat mereka sudah agak jauh dari rumah.
            “Iya, Dod. Baunya, kan? Bau Tante, mirip bau Nenek.”
            “Hiii, ngeri, ya, Kak.”
            “Ssst, kalau menurut Kakak, Tante Cica pasti pakai parfumnya Nenek.”
            “Ooh…iya, ya. Bisa juga. Dodi kira, Nenek ikut juga pergi ke Malang, cuma…nggak kelihatan…hiii,” Dodi mengayuh sepedanya cepat-cepat meninggalkan Vini.
            “Huu, dasar Dodi. Terlalu banyak nonton film hantu. Hai, tunggu!” Vini buru-buru menyusul adiknya.
*
            “Tante Cica nggak capai, dari perjalanan?” tanya Vini sepulang sekolah. Tante sedang membantu Ibu menyeterika.
            Tante Cica tersenyum.
            “Tante nggak capai, Vin. Justru Tante rasanya segar menghirup udara Malang yang sejuk. Kalian siap-siap ya, Tante mau jalan-jalan ditemani kalian lihat-lihat kota. Kita cari bakso yang enak.”
            “Oke, Te.”
            Vini berjalan masuk ke kamarnya hendak mengganti baju. Ia singgah dulu ke kamar adiknya.
            “Dod, ada yang aneh lagi. Biasanya, Tante Cica kalau ke Malang, hari pertama selalu tidur seharian, kan? Alasannya capai dan masuk angin. Tapi sekarang kok, beda, ya? Malah semangat bantuin Ibu dan masih mau ngajak jalan-jalan juga!”
            “Nggak papa, Kak. Malah bagus. Ibu nggak marah-marah gara-gara Kak Vini malas bantuin kerjaan rumah, dan kita juga senang dapat bakso gratis!”
            “Yee, bukan itu, Dod. Maksud Kakak, mirip Nenek kan, tiap datang ke sini juga begitu. Nggak ada kata capai, langsung saja kerja, bikin kue atau bersihin kebun. Ya, nggak?”
            “Wah, iya, Kak. Jangan-jangan gara-gara pakai parfum Nenek, Tante jadi kerasukan Nenek!”
            “Hish, jangan keras-keras suaranya, Dodi. Nanti Ibu sedih kalau dengar kita ngomongin Nenek. Nggak mungkin, kan, Nenek jadi hantu. Nenek kan, orang baik.”
            “Jadi bagaimana, masih mau ngebakso atau membahas Tante Cica, nih?”
            “Bakso dulu, dong. Cepetan sana ganti baju!”
*
            Dengan gembira, Vini dan Dodi pergi jalan-jalan menemani Tante Cica. Mereka naik angkot warna biru ke arah kota. Makan di sebuah kedai bakso yang paling terkenal di kota Malang. Sebuah kedai bakso yang lokasinya pas di samping rel kereta api. Dodi paling senang makan di sana. Biasanya setiap makan di sana, dua atau tiga kereta api melewati rel. Suaranya memang berisik, tapi rasanya seru, makan bakso sambil melihat kereta api lewat.
            Setelah makan bakso, mereka pergi ke pusat perbelanjaan terbaru di kota Malang. Hanya putar-putar cuci mata. Setelah puas, baru mereka pulang ke rumah. Setelah mandi dan mengerjakan PR, Vini dan Dodi tertidur karena kelelahan.
            Vini terbangun karena mencium bau wangi khas yang ia kenal baik. Wangi kenanga kesukaan  Nenek. Tiba-tiba ia merasa merinding. Ia beranikan diri untuk mendekati asal bau wangi itu. Sepertinya dari arah dapur. Lampu ruang makan dan dapur sudah dimatikan, tapi Vini melihat ada seseorang berdiri di dekat meja dapur. Jantung Vini berdetak kencang saat bau itu semakin tajam. Lalu tampaklah sesosok tubuh dengan rambut digelung di atas kepala, memakai daster gombrong warna putih bunga-bunga. Vini tahu itu daster siapa.
            “Ne…ne…nenek!” Vini terpekik, lalu jatuh lemas di lantai.
            “Vini, ada apa?” sosok itu mendekat. Vini mendengar pintu kamar orang tuanya terbuka dan Ibunya keluar.
            “Ada apa, Cica?”
            Lampu dinyalakan. Vini dapat melihat dengan jelas bahwa sosok yang ia kira Nenek, adalah Tante Cica.
            “Kamu kenapa, Nak?” tanya Ibu.
            Tante Cica memberikan segelas air untuk diminum oleh Vini.
            “Vini kira…tadi…Vini melihat Nenek,” ucap Vini menatap Tante Cica. Ibu melirik daster yang dipakai Tante.
            “Oh…gara-gara Tante pakai baju ini, ya? Maaf ya, Vin. Pasti kamu takut sekali, ya?” ucap Tante Cica.
            “Vini juga cium bau wangi kenanga tajam banget, seperti bau Nenek, Te. Benar, Bu!”
            Ibu tersenyum. Tante Cica juga.
            “Memang ada bau kenanga,” ucap Tante Cica. “Tapi bukan bau Nenek. Melainkan bau Tante Cica. Nih, Tante ikut-ikutan kebiasaannya Nenek, menyeduh bunga kenanga untuk diminum.”
            Tante menunjukkan sebuah cangkir berisi air dan bunga kenanga. Aroma kenanga memenuhi hidung Vini.
            “Itu…diminum?” tanya Vini.
            “Iya. Ini rahasia awet muda Nenek sejak bertahun-tahun lamanya,” jelas Tante Cica. “Vini lihat, kan, Nenek itu seperti tidak kenal lelah. Selalu bersemangat. Dan bau tubuhnya harum sewangi kenanga. Sejak Nenek meninggal, Tante merawat kebun Nenek dan kenanga-kenanga Nenek. Sebagian bunga kenanga itu biasanya dijual di pedagang kembang, tapi masih sisa banyak. Sudah dua bulan ini, Tante mencoba resep awet muda Nenek dengan minum air seduhan kenanga. Dan, itu berhasil, lho. Tante merasa selalu segar dan sehat. Nggak sering lemas seperti dulu. Gitu ceritanya, Vini….”
            “Ooh…,” Vini manggut-manggut menerima penjelasan dari Tante Cica. Penjelasan itu masuk akal. Buktinya Tante memang sekarang wangi dan bersemangat, beda dengan yang dulu.
            “Sudah jelas, kan? Pasti kamu tadi sudah mikir seperti di film horor, ya?” tanya Ibu. Pipi Vini memerah malu.
            “Ya sudah, sana tidur lagi. Jangan lupa berdoa sebelum tidur, ya.”

            Vini mengangguk berjalan kembali ke kamarnya. Masih terdengar di telinganya Ibu dan Tantenya tertawa berdua. Eits, samar terdengar suara tawa yang lain…lirih dan khas seperti suara tawa Nenek! 

Rabu, 30 September 2015

Cerpen kedua di Bobo: Mira Susah Tidur


Mira Susah Tidur
Oleh: Kalya Innovie

Tak tik tak tuk. Jarum jam dinding di ruang tengah terdengar di telinga Mira. Krieeet. Kali ini suara pintu kamar Mama yang terbuka. Lalu batuk-batuk, dan suara langkah kaki Mama menuju kamar mandi. Kemarin malam, Mira juga mendengar saat Mama ke kamar mandi. Setelah buang air kecil, pasti Mama akan singgah, membuka pintu kamarnya dan bilang:
"Kok, belum tidur?"
Nah, benar, kan. Kali ini Mama menyempatkan masuk kamar, lalu meraba kening Mira.
"Mira, ini sudah hampir pukul dua belas malam, lho. Ayo, buruan tidur. Besok kamu mengantuk di kelas."
Mira mengangguk, memejamkan mata, mencoba untuk tidur.
*
            Bukan satu dua kali ini Mira susah tidur. Hal ini sudah berjalan selama lima malam. Ya, sudah lima malam ia baru bisa tidur di atas pukul dua belas. Mira sendiri tak tahu kenapa ia jadi susah tidur. Yang jelas, akibat susah tidur, ia jadi sering mengantuk di kelas. Mama bilang, kalau hal ini terus berlanjut, Mira akan dibawa ke dokter.
            “Dulu, aku pernah disuntik. Sakiiit sekali,” kata Aina pada Mira, waktu ia cerita di kelas.
"Ah, paling nggak disuntik. Paling cuma dikasih obat yang pahiiit banget," timpal Vero sambil sambil mengunyah kacang. Saat itu pas jam istirahat.
“Ada loh, tetanggaku yang sakitnya lama trus pulang masih dengan infus di tangannya,” Sofi menambah dengan menggebu-gebu.
Teman-teman Mira langsung saling pandang dengan tatapan ngeri mendengar cerita Sofi. Mereka menatap iba pada Mira yang duduk di bangku dengan muka mengantuk.
“Ah, aku nggak mau ke dokter. Kalian menakut-nakuti aku,” ucap Mira, lalu menguap untuk ke sekian kalinya.
“Mira, ini permen kopi. Supaya kamu nggak ngantuk lagi.” Fairuz memberinya sebutir permen kopi.
“Kopi?” gumam Mira. Mira ingat, Kakek pernah bilang, kalau minum kopi, ngantuknya bisa hilang.
“Kok, jadi bengong? Kenapa, sih, Mir?” tanya Fairuz.
“Hmm…kurasa aku nggak perlu ke dokter. Aku sudah tahu bagaimana menyembuhkan penyakitku,” jawab Mira pasti.
“Bagaimana?” tanya teman-temannya serempak.
“Ah, itu rahasia.” Mira senyum-senyum.
*
            Rencananya usai makan malam, Mama akan mengajak Mira ke dokter. Selama makan, Mira duduk tenang mengunyah makanannya. Ia berpikir bagaimana harus menjelaskan pada Mama. Ia tidak menyadari Mama mengawasinya dengan tatapan cemas.
            “Ke dokternya setelah isya saja, ya?” cetus Papa di sela makan. Usai menghabiskan isi piringnya, Papa minum segelas air, lalu mengintip mug kopinya. Minum seteguk kopi dari mug.
            “Ma, mug kopi Papa jangan keburu dicuci, ya. Masih setengah isinya. Nanti Papa minum lagi setelah sholat isya.”
            “Mama selalu cuci kalau mug itu sudah kosong, Pa. Selama ini juga begitu,” jawab Mama.
            “Ehm. Eh, Mira mau ngomong sesuatu, Ma, Pa.”
            Mama dan Papa menoleh.
            “Mira nggak usah ke dokter, ya. Mira sudah tahu kenapa Mira nggak bisa tidur lima malam ini,” ucap Mira pelan.
            “Kenapa?” tanya Mama.
            Terbata-bata, Mira menjelaskan bahwa sudah lima malam ini ia selalu menghabiskan kopi di mug Papa.
            Mama dan Papa melongo mendengar penjelasan Mira.
            “Pantas saja akhir-akhir ini tiap pulang sholat isya dari masjid, Papa cari kopi, eh, mugnya sudah dicuci Mama.”
            “Mama cuci karena Mama lihat sudah kosong. Rupanya…,” Mama melirik Mira.
            “Kenapa Mira minum kopi Papa?” tanya Papa lunak.
            “Habis enak, sih,” jawab Mira tertunduk.
            “Mira tahu apa kesalahan Mira?” tanya Mama.
            “Iya, Ma. Mira minum kopi tanpa minta izin pemiliknya. Mira minta maaf, ya, Pa.”
            “Lain kali bilang. Mira boleh, kok, minum kopi Papa. Tapi cuma boleh seteguk saja. Bukan setengah mug,” ujar Papa.
            “Semua yang berlebihan itu tidak baik, Mira. Kopi bukan minuman yang cocok untuk anak-anak. Pantas saja kamu jadi susah tidur,” pungkas Mama. Kesal, tapi lega juga karena penyakit susah tidur Mira bisa segera diketahui penyebabnya.
*
            Mira sudah selesai mengerjakan pe-ernya. Dilihatnya jarum jam meja menunjuk angka sembilan. Dirapikannya buku-buku sambil menguap beberapa kali. Alangkah senangnya bisa merasakan kantuk pas jam tidurnya. Tadi, Mama tak mengizinkannya minum kopi lagi. Sebagai gantinya, Mama membuatkan segelas susu hangat. Mira pernah baca, susu bisa membantu kita tidur lebih lelap.
Pukul sepuluh malam, Mama dan Papa mengintip kamar Mira. Mereka tersenyum lega melihat Mira sudah tertidur. Bahkan Mira tampak tersenyum dalam tidurnya.
"Pasti putri Mira sedang mimpi minum kopi di istananya," gurau Papa tersenyum.
“Papa tuh, yang harus mengurangi minum kopi juga,” cetus Mama. “Besok Mama bikinin di gelas kecil saja, ya?”
“Ah, gara-gara Mira, nih. Jatah kopi Papa jadi berkurang.”
“Sudah, sudah. Ayo kita tidur. Biarkan Putri Mira dengan mimpi indahnya.”

Pintu kamar ditutup. Mira membuka mata, nyengir, lalu kembali tidur memeluk gulingnya.**
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES