Tampilkan postingan dengan label Indah Novita Dewi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indah Novita Dewi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Januari 2025

Pesan yang Terbuang, Antologi Perdana di Tahun 2025

Pesan yang Terbuang (Sumber: dokpri)

Sebuah paket kotak tipis tergeletak di lantai teras ketika saya pulang, sore itu. Betul juga, itu adalah buku antologi hasil sebuah lomba. Tepatnya lomba menulis cerita anak bertema "Impian" yang diselenggarakan oleh SIP Publishing, tahun lalu, dan diterbitkan tahun 2025.

Cerpen saya yang dimuat dalam antologi tersebut berjudul "Ulang Tahun Impian." Saya menceritakan tentang Femi, seorang anak yang sedang ulang tahun, namun ulang tahunnya tidak dirayakan seperti biasa. 

Cerpen saya ini tidak memenangkan lomba menulis tersebut, namun cerpen itu dianggap layak untuk dimuat dalam antologi. Alhamdulillah.

Tahun 2025 ini diawali dengan cukup baik karena punya karya baru lagi, walaupun hanya berupa antologi. Masih ada dua antologi lagi yang on the way, semoga segera dapat saya terima.

Menulis sudah menjadi hobi saya selama bertahun-tahun dan saya tetap senang melakukannya hingga hari ini. Menulis membuat saya bahagia. Bagaimana dengan Anda? Hobi apa yang membuat Anda bahagia?

Salam.



Selasa, 11 Juni 2024

Serum Anti Aging dari Viva Cosmetics

Serum Anti Aging dari Viva Cosmetics (Sumber: dokpri)

Jika ditanyakan pada 10 wanita, mungkin 9 akan menjawab bahwa ia ingin selalu awet muda. Hal itulah yang membuat para wanita tergila-gila dengan produk kosmetik anti aging atau anti penuaan dini. Namun pada usia berapa sebenarnya yang paling tepat untuk mulai menggunakan produk anti aging? Banyak pakar kecantikan menyarankan produk anti aging sudah mulai dipakai pada usia 20-an, namun usia yang paling tepat adalah sekitar 30 tahun awal.

Mengikuti pasar produk anti aging yang cukup menjanjikan, hampir semua merek kosmetik memiliki varian anti agingnya sendiri, tak terkecuali Viva Cosmetic. Salah satu produk andalan Viva dalam seri anti aging adalah serum anti aging.

Serum sangat penting dalam perawatan kecantikan karena mengandung bahan-bahan aktif yang mempunyai banyak manfaat. Penggunaan serum secara rutin dapat membuat kulit terlihat lebih sehat dan bercahaya. Formula serum dirancang menyesuaikan dengan kondisi kulit, lebih kaya nutrisi karena mengandung bahan-bahan aktif yang dapat mengatasi berbagai masalah kulit.

Untuk hasil yang maksimal, serum diaplikasikan dua kali dalam sehari yaitu pagi dan malam hari sebelum memakai day/night cream.

Serum anti aging dari Viva Cosmetic memiliki komposisi bahan pembuat 1% HA, 1% collagen, dan bakuchiol. Dikemas dalam kemasan botol kecil dengan pipet dan volumenya 20 ml, serum ini mengandung triple rejuvenating active yang berkhasiat merawat kekencangan dan elastisitas kulit, membantu menghindarkan kulit dari tanda-tanda penuaan dini.

Cara memakainya mudah, yaitu mengoleskan viva anti aging serum secara merata pada wajah dan leher yang telah dibersihkan. Tepuk ringan hingga produk meresap dengan baik.

Inti dari perawatan kecantikan adalah penggunaan yang rutin. Merek mahal tidak akan berarti jika tidak digunakan secara rutin. Sebaliknya, merek yang tidak terlalu mahal jika digunakan secara rutin, akan menghasilkan efek glowing mengalahkan merek mahal. Mari merawat kecantikan sebagai wujud rasa syukur atas karunia Allah yang telah menciptakan kita dalam sebaik-baiknya manusia.**

Selasa, 09 Januari 2018

Dua Jurus Jitu Menjadi Penulis




Foto dari https://typercat18.wordpress.com/2012/06/11/


Saya mempunyai banyak teman dunia maya yang berprofesi sebagai penulis. Saya juga senang membaca banyak grup-grup tentang kepenulisan. Kenapa? Ya karena saya suka menulis. Saya suka menulis dan mengirimkannya ke media, lalu mendapatkan honor dari tulisan saya tersebut. Saya kadang juga menulis bukan untuk dikirimkan ke media, namun sekadar opini, curhat, atau cerita sehari-hari  yang saya tuangkan di blog.

Saya sering membaca pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada beberapa teman penulis dan juga pertanyaan di grup-grup kepenulisan, tentang keingintahuan bagaimana memulai menjadi seorang penulis.

“Bagaimana sih, caranya menjadi penulis?”
“Saya punya banyak ide cerita tapi saya tidak dapat menuangkan menjadi tulisan yang bagus. Bagaimana ya, sebaiknya?”
“Saya ingin jadi penulis tapi bagaimana cara mendapatkan ide?”

Dan … masih banyak lagi pertanyaan lain yang diajukan. 

Saya bukan penulis profesional. Posisi saya adalah penulis yang masih harus selalu belajar setiap saat untuk memperbaiki kualitas tulisan saya. Namun setelah saya telusuri berbagai tulisan teman-teman dan jawaban pada pertanyaan-pertanyaan di atas, maka saya berani menyimpulkan bahwa untuk menjadi penulis hanya butuh DUA jurus jitu, yaitu:

TEKUN dan SABAR

1.       Tekun (Tekun menulis dan tekun membaca)

Foto dari http://www.teknikhidup.com/quotes/gambar-kata-motivasi-semangat-kerj
 
Banyak penulis menyarankan pada penulis newbie untuk menulis secara teratur. Tiap hari harus selalu ada yang ditulis. Tidak usah terlalu banyak kalau memang tidak bisa. Dengan menulis satu paragraph setiap hari misalnya, maka dalam seminggu kita bisa mendapatkan satu halaman tulisan. Menulis teratur banyak manfaatnya, yaitu lambat laun otak kita akan luwes dalam mengolah kata. Dengan melatih setiap hari, kualitas dan kuantitas yang kita peroleh akan bertambah.

Salah satu penulis terkenal yang sangat tekun adalah Raditya Dika. Dika menulis buku-bukunya di sela jadwal kerjanya yang padat. Ada satu bukunya yang rampung dalam tiga tahun, hasil menulis rutin satu paragraph per hari.

Tentu saja sebelum bertekun ria, harus ditetapkan dulu naskah apa yang hendak ditulis, sesuai minat masing-masing. Ide dan diksi dapat diperoleh dengan tekun membaca naskah-naskah sejenis. Jika ingin menulis cerpen anak, maka tekunlah membaca puluhan bahkan ratusan cerpen anak sebagai referensi,; jika ingin menulis novel romantis, tekunlah membaca puluhan novel bergenre sama. Nanti pasti akan didapatkan kuncinya, setelah itu kita dapat menulis dengan lebih lancar karena paham, naskah yang akan kita tulis itu seperti apa.

2.       Sabar


Foto dari  http://jmmi.its.ac.id/2015/10/sabar-sudahkan-dihati-kita/

Penulis tidak hanya harus tekun dalam menjalani proses belajar menulis. Ia juga harus sabar, terutama penulis yang ingin menerbitkan karyanya untuk tujuan komersial. Menerbitkan naskah di media cetak atau digital ataupun naskah buku ke penerbit. Pada saat kita merasa senang sudah berhasil menulis naskah pendek (opini, cerpen, dll), atau panjang (novel, buku non fiksi), akan ada perjuangan panjang melalui alur kesabaran, yaitu saat kita mengirimkan naskah ke media/penerbit dan mengharap konfirmasi Acc.

Sebagai contoh saya share saja perjalanan kelima naskah saya yang tayang di 2017 kemarin, ya.

-          Cerpen anak “Kampung Baru Lina”, naskah cerpen dalam kumcer PBA (Penulis Bacaan Anak) saya tulis dan kirim 12 September 2014 sebagai naskah audisi kumcer. Setelah naskah itu pasti lolos untuk dibukukan, bukunya baru selesai tahun 2017. Nyaris tiga tahun prosesnya.

-          Cerpen remaja “Janji Eka”, dikirim 4 Februari 2017 ke majalah Gogirl dan dimuat di edisi 16 April 2017. Prosesnya dua bulan lebih. Ini termasuk cepat.

-          Opini “Transportasi Online” dikirim ke harian Bernas 15 Maret 2017, dimuat 16 Maret 2017. Naskah opini di surat kabar termasuk jenis naskah yang cepat tayang, jika memang layak tayang, dan sesuai momen. Saya mengirimkan naskah ini saat rame-ramenya demo terhadap transportasi online. Apabila selama satu minggu naskah tidak ada kabar, bisa dipastikan naskah kita tidak layak terbit. Durasi menunggu satu minggu ini, hanya untuk naskah koran, ya.

-          Cerpen anak “Kotak Bekal Misterius”, dikirim ke majalah Bobo 1 Agustus 2016, dimuat edisi 13 Juli 2017. Prosesnya nyaris satu tahun. Untuk Bobo ini relatif “cepat” karena ada cerpen yang dimuat setelah menunggu dua tahun antrean.

-          Cerpen anak “Menjaga Kejujuran”, dikirim via pos ke harian Kedaulatan Rakyat sekitar bulan Oktober 2017 (saya lupa mencatat karena dikirim via pos), dimuat tanggal 12 Desember 2017. Proses sekitar dua bulan. Untuk naskah cerpen di harian lokal memang relatif cepat penanyangannya kalau memang naskahnya layak.




Foto dari koleksi pribadi

 
 Dari penjelasan di atas rekor bersabar terlama diraih oleh naskah buku (antologi kumcer). Dengar-dengar, memang untuk naskah buku diperlukan kesabaran yang lebih tingkat dewa. Terlebih bila naskah kita diacc, ada tahap revisi yang harus benar-benar kita lakoni dengan fokus dan sabar agar naskah kita cepat selesai. Untuk naskah buku solo, saya memang belum pernah Acc (menghela napas panjang), jadi belum tahu harus sesabar apa. Semoga sebentar lagi saya dapat ujian kesabaran ngerevisi naskah buku yang diacc penerbit, Aamiin (ngarep).

Selama ini saya menulis untuk media sekadar hobi atau second job, karena itu memang hasil ‘hobi’ saya ini tidak banyak dari sisi kepuasan materi. Namun dari sisi kepuasan batin, cukup menyenangkan. Kalau ada yang kepo bertanya berapa rupiah saya hasilkan dari lima naskah di atas? Totalnya kurang dari satu juta rupiah. Satu juta untuk satu tahun tentu jumlah yang tidak banyak. Jadi jika kita memutuskan untuk menjadikan penulis sebagai profesi, kita harus lebih tekun dan lebih sabar dalam bekerja, ditambah satu jurus lagi yaitu KREATIF. Menjadikan penulis sebagai profesi , kita tidak lagi bisa tekun menulis hanya satu paragraph per hari, namun harus tekun bekerja minimal delapan jam per hari untuk menulis. KREATIF dalam arti pandai mencari peluang. Tidak hanya menulis untuk media, tapi melebarkan sayap untuk menulis buku, menulis di blog, menulis naskah sinetron/film, ataupun di media lain yang menghasilkan lebih banyak uang. 

Nah, tujuan kita menulis, hanya kita sendiri yang tahu. Apakah hanya untuk bersenang-senang, sebagai second job seperti saya untuk mendapatkan sedikit tambahan penghasilan, atau full menulis sebagai profesi. Apapun pilihannya, kita tetap harus TEKUN dan SABAR.

Senin, 25 Desember 2017

Opini Harian Bernas: Mengapa Transportasi Online?

Saya juga suka menulis non fiksi seperti tulisan-tulisan serius untuk kolom opini di surat kabar. Waktu itu rame-ramenya demo terhadap transportasi online dan sebagai pengguna saya merasa tergerak untuk ikut bersuara. Lebih mirip curhat, sih, tapi alhamdulillah dimuat juga di harian Bernas, Yogyakarta, bulan Maret 2017. Berikut naskah aslinya, ada perubahan judul dan sedikit isinya juga, namun tidak mengubah makna.









Time is Money, Mengapa Memilih Transportasi Online

Membaca wacana pelarangan transportasi berbasis online (Bernas, 13 Maret 2017), membuat saya tercenung. Masalah transportasi ini sudah sejak lama menjadi pemikiran saya, terutama setelah di beberapa daerah sempat terjadi demo transportasi konvensional terhadap keberadaan transportasi online seperti terjadi di kota Malang beberapa waktu lalu.
            Dua bulan lalu saya adalah pengguna setia transportasi konvensional. Mulai angkot Jogja-Kaliurang yang lewat per 20 menit sekali (jika lancar), angkot Purwobinangun-Ps. Kranggan yang hanya tinggal 9 armada (jika jalan semua), jalur bus konvensional terutama yang melalui kampus UGM (jalur 2, 4, 15), trans jogja, taksi dan ojek konvensional, semua pernah saya jajal. Kesan saya terhadap semua transportasi tersebut adalah: kondisi kendaraan kebanyakan sudah tidak laik jalan – sering mogok, kendaraan sering ngetem menunggu penumpang sehingga penumpang sering tidak tepat waktu sampai tujuan. Untuk trans jogja, nunggunya agak lama sehingga mungkin memang perlu penambahan armada, dan di beberapa bus ada kebocoran AC parah. Taksi dan ojek konvensional merupakan pilihan terakhir jika terburu-buru pergi ke suatu tempat. Hanya saja tarifnya terlalu mahal.
            Pada saat saya mulai menggunakan aplikasi transportasi online, semua masalah yang saya temui saat mengendarai transportasi konvensional, sirna. Kelebihan transportasi online antara lain: tersedia 24 jam, pesan bisa di mana pun dan kapan pun, dijemput langsung di posisi kita berada dan diantar sampai tujuan, driver ramah dan sopan, tarif sudah ditentukan oleh perusahaan dan tidak naik sesuka hati. Lagipula tarifnya sangat murah. Memang tarifnya tidak bisa mengalahkan tarif trans jogja, tapi bila dibandingkan dengan taksi dan ojek konvensional jelas sangat beda jauh. Bisa sampai setengah atau bahkan seperempatnya saja. Jelas, banyak kalangan lebih memilih transportasi online dibandingkan dengan transportasi konvensional, terutama kalangan mahasiswa dan pegawai yang penghasilannya pas-pasan.
            Pembenahan masalah transportasi di Jogjakarta, menurut pendapat saya haruslah memikirkan kebutuhan semua pihak. Tidak hanya kebutuhan driver (konvensional maupun online), tidak hanya kebutuhan pemerintah setempat untuk menegakkan aturan, namun juga kebutuhan penumpang. Menjamurnya jumlah driver transportasi online adalah bukti bahwa masyarakat sebagai pengguna, menyambut baik dan sangat terbantu dengan keberadaannya. Kalaupun memang pihak pemerintah dalam hal ini dinas perhubungan ingin melarang transportasi online, maka harus ada pembenahan pada transportasi konvensional. Cobalah disurvey terlebih dahulu kondisi transportasi konvensional dan lakukan perbandingan dengan transportasi online. Pejabat dinas perhubungan sebaiknya merasakan sendiri bagaimana bepergian dengan menggunakan transportasi konvensional maupun online sehingga dapat merasakan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Mengingat pengguna transportasi online sudah sangat banyak, maka apabila hendak dilakukan pelarangan sebaiknya dilakukan proses diskusi dengan melibatkan semua pihak, termasuk pengguna. Bagaimana sesungguhnya yang diinginkan oleh masyarakat pengguna sarana transportasi publik ini. Apabila tetap dilakukan pelarangan transportasi online tanpa alternatif kompromi, bisa jadi pengguna transportasi online tidak akan kembali menggunakan transportasi konvensional, melainkan memutuskan untuk membeli motor yang tentunya malah menambah kemacetan di Yogyakarta. Hal ini sangat mungkin terjadi, karena dari percakapan saya dengan driver ojek online yang kebetulan juga seorang marketing kendaraan roda dua, dengan uang muka Rp350.000,- orang sudah bisa membeli motor dengan cicilan Rp650.000,- per bulan selama tiga tahun. Jargon lama Time is Money masih terus berlaku, orang rela membayar demi jarak dan waktu tempuh yang lebih singkat.
            Maka, jangan hanya bisa melarang sesuatu yang kemudian akan menambah masalah yang lebih parah, misalnya kemacetan lalu lintas. Tapi mari mencari win win solution yang membuat semua pihak senang. Hadirnya transportasi online adalah bukti bahwa ada yang salah dengan transportasi konvensional di Yogyakarta. Jadi mari dibenahi bersama tanpa harus mematikan lahan pekerjaan orang yang baru mulai tumbuh dan berkembang. Benahi transportasi konvensional, lalu buat regulasi agar ada pembatasan-pembatasan untuk transportasi online. Misalnya untuk tujuan non urgent ada pembatasan jalur edar dan jadwal operasi (misalnya pada siang hari hanya beroperasi dari rumah pengguna ke halte trans terdekat; sore hingga pagi hari dapat beroperasi di seluruh kota). Banyak alternatif yang bisa disepakati, asal semua pihak diajak duduk bersama.

Cerpen Gogirl! Magazine: Janji Eka

Waktu itu 16 April 2017 kala cerpenku dimuat di majalah Gogirl! Ide cerpen ini adalah ketika aku ketemu lagi dengan teman-teman masa kecilku di grup wa SD. Masa yang telah lama berlalu, namun ada kenangan yang begitu lucu. Tapi yang kutulis dalam cerpen ini, sebagian besar adalah imajinasi, tentu saja, hehe. Berikut naskahnya:





Janji Eka
Oleh: Kalya Innovie
               
Aku mendengarkan celoteh Vita di dapur. Adikku itu sedang membicarakan tentang sinetron ABG bersama Mama. Intinya dia merasa pusing dengan sinetron yang ia tonton karena anak-anak SMP sudah berani pacaran. Aku tersenyum mencuri dengar dari kamar. Kamarku dan dapur hanya dibatasi dinding papan, jadi semua dialog Mama dan Vita terdengar dengan sangat jelas. Hampir tawaku meledak mendengar kegusaran Vita pada teman-temannya yang juga sudah mulai terpengaruh dengan sinetron itu. Vita memang anaknya agak kaku dan terlalu serius. Perasaan cinta itu sebenarnya tidak bisa direncanakan kapan datang dan hilang. Seperti aku, yang mulai merasakan sayang pada lawan jenis di usia yang sangat belia. Ingatanku melayang saat aku masih duduk di bangku kelas enam SD.
***
Cowok bertubuh kurus itu masih bersandar di tembok, di sampingku. Tangannya terlipat rapi, bibirnya cemberut. Aku duduk di bangku, di sebelahnya. Sedikit miring agar dapat melihat wajahnya yang kusut.
                “Jadi benar kamu mau pindah ke Malang, Lea?” tanyanya sekali lagi.
                Aku mengangguk untuk yang kesekian kalinya.
                “Kenapa sih, kamu nggak di sini saja?”
                Aku mengembuskan napas.
                “Kan sudah aku jelaskan. Papa dan Mamaku ingin aku menetap di satu kota. Nggak ikut mereka pindah-pindah lagi. Dan itu di Malang, di sana ada nenek.”
                “Kenapa kamu nggak di sini saja?” Eka masih ngotot dengan pertanyaannya.
                “Ekaa … kan sudah aku jelaskan, aku nggak punya saudara di sini.”
                “Kamu tinggal di rumahku saja,” sahut Eka.
                Aku melotot. Senyum usil muncul di bibir Eka.
                “Mimpi,” ucapku sambil memukul bahunya pelan.
                “Hehe, tapi kamu suka kan?” Eka cengengesan.
                “Eka … aku….”
                “Iya, Lea. Aku tahu. Kita masih terlalu kecil untuk pacaran. Gini aja, tulis alamatmu di Malang. Nanti kalau kita sudah SMA, aku akan mencarimu.”
                Aku mencari secarik kertas dalam tas dan mulai menulisinya dengan alamat nenek. Walau sebenarnya aku ragu dengan kata-kata Eka.
                Eka menerima alamatku sambil senyum-senyum.
                “Ingat, Lea. Kamu jaga diri di sana, ya. Gak usah pacaran. Nanti pacarannya sama aku aja, pas kita SMA. Tunggu aku, ya.”
                Eka menjabatku dan memberi cubitan kecil dalam telapak tanganku, lalu lari pulang sambil melambai-lambaikan tangan. Uh, aku belum sempat membalas cubitannya. Aku pun segera pulang, memegang janji Eka dalam hati.
***
                Kilasan kenangan bersama Eka itu selalu muncul dan muncul dalam benakku. Dan selama tiga tahun menjalani SMP di Malang, aku benar-benar setia pada Eka, cinta monyetku di SD itu. Ada beberapa teman yang minta aku jadi pacar, tapi di samping aku merasa aku masih kecil, setiap ada cowok pedekate, aku selalu merasa telapak tangan kananku panas. Cubitan Eka terasa seolah baru kemarin terjadi.
                Ada satu cowok yang dengan setia nembak aku. Namanya Joe. Ia baik. Tidak balik membenciku walau aku sudah menolaknya beberapa kali. Kami menjadi sahabat. Dan karena hubungan kami yang dekat, aku tak ragu bercerita tentang Eka.
                “Jadi selama ini kamu nungguin si Eka itu?” tanya Joe dengan nada cemburu. “Kok kamu lugu banget sih, Lea. Bisa jadi si Eka itu cuma omong kosong saja. Selama kita SMP, ada nggak dia kirim surat atau telepon?”
                “Nggak. Kan, masih SMP. Janjinya kan ketemuan pas SMA.”
                “Kamu yakin dia nggak lupa?”
                Aku menggeleng. Entahlah. Tiba-tiba keraguan memenuhi hatiku. Kupandangi Joe yang balik memandangku dengan tatapan sangsi. Sejak saat itu dengan sangat menjengkelkan ia menjulukiku si lugu.
**
                Joe sangat girang ketika kami masuk di SMA yang sama. Kami masih bersahabat, walau beberapa kali, Joe suka juga cari-cari kesempatan nembak aku. Kadang dia mencandai aku. Apa kabar Eka? Begitu tanya Joe sambil senyum-senyum mengejekku.
                Apa kabar Eka? Yah, terus terang, di dalam hatiku, wajah Eka pun sudah kabur. Cubitannya di telapak tanganku tak pernah terasa lagi, terkubur oleh senyuman Joe, candaan Joe dan kata-kata manis Joe.
                “Lagipula zaman internet gini kalian tuh gak berhubungan bahkan via sosmed? Aneh, deh. Trus, kalau semisal Eka itu sudah mati, kamu mau nunggu dia terus? Sudah. Terima saja Joe,” gerutu Ivon sahabatku ketika akhirnya aku bercerita tentang Eka padanya.
                Duh, Eka … kamu di mana?
                “Kamu tuh benar-benar lugu, Lea,” imbuh Ivon lagi. “Di saat kamu menggenggam janji setia Eka, cowok itu mungkin sudah pacaran dengan banyak gadis di belahan bumi sana.”
                Keraguan kembali menyelimuti hatiku.
                “Terima saja Joe. Dia sudah membuktikan kesetiaannya selama tiga tahun di SMP. Dan sekarang kita sudah SMA, sudah boleh pacaran, kan. Ingat, teman kita banyak yang cantik-cantik. Joe juga cowok yang menarik. Jangan sampai kamu nangis kalau Joe pacaran sama cewek lain,” pungkas Ivon, memandang tajam padaku.
***
                Mama dan Vita berhenti ngobrol ketika terdengar bunyi kendaraan di halaman rumah. Aku menengok jam dinding, masih satu jam lagi waktu janjianku dengan Joe. Kok, dia sudah datang, sih. Aku bangkit mengganti bajuku.
                “Kak, ada temanmu,” Vita datang melongok dari korden kamar.
                “Kak Joe, ya? Suruh tunggu dulu.”
                “Bukan Kak Joe. Aku nggak kenal. Katanya sih, teman lama kakak.”
                Aku mengernyitkan kening karena merasa tidak janjian dengan siapapun. Teman lama? Tiba-tiba hatiku resah tak jelas. Aku bersegera ke ruang tamu. Dua orang cowok duduk menunggu di sana. Salah satunya tersenyum manis menyambutku. Aku terdiam berdiri di tempatku, tak kuasa mengeluarkan sepatah kata mewakili perasaanku.
                “Lea, apa kabar?” tanya sosok kurus yang kini tinggi menjulang. Dia tersenyum. Senyum usil itu. Mata penuh rindu. Aku yang terpaku.
Kemarin aku menerima cinta Joe yang menembak untuk ke tiga belas kalinya. Dan sekarang aku harus menyiapkan kata-kata untuk Eka yang datang membuktikan janji. Aku harus bagaimana?**
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES