Jumat, 27 Maret 2020

Dokter, Corona dan Indonesia.

Di tengah merebaknya wabah covid-19, profesi tenaga kesehatan khususnya dokter sekarang ini menjadi bahan perbincangan banyak kalangan. Tentu saja demikian, karena hanya merekalah yang dapat menyembuhkan orang-orang yang terinfeksi virus corona. Hal ini tidak seperti saat kita memperbincangkan dokter menyembuhkan kanker, menyembuhkan penyakit demam berdarah, penyakit jantung, atau penyakit lainnya yang juga berbahaya, namun tidak menular. Kita, memperbincangkan para dokter dalam berjibaku melawan virus corona karena kita tahu, saat bertugas menangani pasien yang terinfeksi covid-19, para dokter itu seperti berhadapan dengan ujung akhir hidupnya. Ya, karena kita tahu virus corona dapat menular dengan sangat mudah. Para dokter, sekarang sama saja dengan tentara yang bertugas di garis depan medan peperangan. Bedanya, perangnya bukan dengan musuh negara lain, namun para dokter berperang melawan musuh yang tidak kelihatan. Corona, si kecil yang sangat luar biasa jahat.


Virus Corona - pict pixabay

Persoalan corona pasti sudah dibahas banyak orang. Kali ini saya hanya ingin membahas masalah profesi dokter saja. Hayo siapa yang dulu cita-citanya jadi dokter, ngacung!

Setiap kita pasti pernah berhubungan dengan profesi dokter. Dokter adalah profesi yang diidam-idamkan ibu-ibu untuk dapat melekat di depan salah satu nama anaknya. Tak terkecuali mama saya. Waktu saya kecil, mama selalu mencekoki kata-kata ... rajin belajar biar pinter, kalau gede jadi dokter. Nah, siapa yang mamanya juga begitu dulu, hayo. Saat tak ada seorangpun dari anaknya yang menjadi dokter, harapan mama saya bergeser menjadi ... semoga salah satu mantunya ada yang dokter, hehe. Makanya mama saya salah satu yang antusias waktu dulu saya cerita ada dokter mau pedekate sama saya, ciyee ... curcol cerita masa lalu ni yee.


Dokter, profesi calon mantu idaman - pict from pixabay

Untungnya mama saya tidak terlalu kecewa karena salah satu adik sepupunya, tante saya yang selama SMP-SMA tinggal bersama-sama di rumah kami, berhasil menjadi dokter. Tante saya itu sudah mendahului kami semua. Semoga Allah berikan tempat terbaik buat tante tersayang di surga, aamiin. Al fatihah.

Kembali ke profesi dokter, dulu awalnya saya melihat profesi dokter dengan sepolos-polosnya pemahaman bahwa itu adalah profesi yang keren, enak, duitnya banyak. Para dokter juga cantik-cantik dan ganteng-ganteng, luar biasa. Kisah cinta mereka juga segar dan unik. Eh ... kok belok ke kisah cinta, soalnya dulu bacaan saya novel-novel Marga T dan Mira W yang berprofesi dokter dan selalu menciptakan tokoh dokter dalam novel mereka. Namun walaupun cerita itu biasanya dimulai  dari dunia mahasiswa kedokteran yang penuh kisah, saya tetap tidak tertarik untuk menjadi dokter. Saya pasti tidak tega melihat darah dan saya juga takut salah suntik. Ya, mungkin karena itu. Karena ketidakmampuan saya menjadi dokter, saya sangat menghargai dan memuji profesi dokter. Hi, doctors you are all, cool!

Semakin dewasa saya semakin memahami bahwa perjuangan seseorang hingga menjadi dokter itu sungguh luar biasa. Apalagi ketika tahu bahwa uang SPP fakultas kedokteran luar biasa mahal. Wajar juga kalau dokter tarifnya mahal, walau di satu sisi ada cerita-cerita kepahlawanan tentang satu dua dokter yang praktik kerakyatan alias dibayar semampunya pasien. Duh suka trenyuh dan terharu kalau ada dokter yang seperti itu, ya? Kalau yang tarifnya mahal? Saya juga tak terlalu menghujat. Nggak papa juga, karena mereka juga sudah punya pangsa pasien tersendiri. Semua sudah ada porsinya masing-masing.

Belakangan, ya karena marak berita corona ini, saya jadi tersentak lagi mencermati beberapa berita corona yang terkait dokter. Bagaimana dokter dan para nakes lainnya terpapar virus corona dari pasien yang mereka tangani. Beberapa wafat karena kelelahan dan penyakit yang memang sudah diderita lama. Ada dokter yang usianya sudah sepuh, namun dengan tulus terjun langsung menangani pasien covid-19. Duhai, tak terasa airmata mengalir membaca berita-berita tentang para dokter itu. Saat ini mereka benar-benar membuktikan sumpah dokter yang pernah mereka ucapkan dulu. Mereka juga membuktikan kepada masyarakat bahwa inilah sejatinya profesi dokter. Bukan profesi yang menarik hanya karena limpahan materi yang dapat diperoleh dari hasil praktik, bukan! Profesi ini juga penuh risiko. Bahkan barangkali juga bukan hanya corona, bukankah sebelumnya juga banyak penyakit yang disebabkan oleh virus yang mereka tangani? Corona hanya semacam batu yang dihantamkan ke kepala kita agar kita nyadar, weeeeh ... jadi dokter itu berat gaeees. Sudah tahu risiko tertular virus mematikan yang belum ada vaksinnya, tapi tetap hayuk ... show must go on. Sumpah, itu keren sekali dokteeeer. Aku padamuuu ... saranghaeeee.


Dokter Handoko, dokter spesialis paru usia 80 tahun yang ikut berjuang di garda terdepan menangani pasien covid-19 - pict from socmed

Jadi bagaimana membantu para dokter itu ya? Bagaimana menyemangati mereka gitu? Kita kasih hadiah, atau kita ramai-ramai ke rumah sakit gitu ya, enaknya bawain makanan? Heee, sadar gaes, sadaaar. Ini musim corona. Para dokter itu nggak minta apa-apa dari kita. Mereka cuma minta kita jaga kesehatan dan nggak sakit aja. Mereka cuma mau kita diam di rumah saja, beneran.


Love You, Docs! - pict from Serambi Indonesia

 Tapi dari kitanya ya jangan jadi bebal terus cuma diam cengo di rumah ya. Ya doain, kek. Kirim duit buat bantu-bantu, kek. Alhamdulillah sekarang banyak pos-pos kemanusiaan yang dibentuk untuk membantu para nakes ini. Bisa buat dibelikan APD (alat pelindung diri) atau asupan makanan, ye kan? Kita tinggal transfer aja dari rumah secara online. Kalau nggak punya duit? Ya elo ga punya duit tapi pasti punya Tuhan, kan? Udah doain aja cukup. Doa dengan tulus supaya dikabulin Tuhan. Doa supaya para nakes sehat-sehat dan corona segera berlalu, aamiin. Doa semoga nggak banyak yang mati, lebih banyak yang sembuh, nggak nambah lagi yang terinfeksi, vaksinnya cepat jadi. Pokoknya doa yang baik-baik saja.


Donasi untuk tenaga kesehatan dapat lewat sini - pict from socmed Asma Nadia

Semoga juga, dengan adanya wabah ini, membuat anak-anak muda nggak kemudian takut untuk jadi dokter tapi malah jadi pemantik untuk menjatuhkan pilihan pada dokter sebagai cita-cita, ya? Karena dengan kasus ini kita jadi paham bahwa kebutuhan dokter dan tenaga kesehatan di negara kita itu masih banyaaak sekali. Lagipula bukankah profesi ini adalah profesi yang mulia dan menyimpan banyak pahala? Yuk, yuk, generasi muda, daftar di fakultas kedokteran, yuk. 

Dan sedikit usul buat pemerintah, nih. Tolong dong kalau biaya sekolah kedokteran itu mbok yao dikasih subsidi, supaya tidak terlalu mahalia gitu, tah ... pemerintah. Jadi peer pemerintah setelah musim covid-19 berlalu, perbanyak dan tingkatkan kualitas guru, perbanyak dokter. Perbanyak guru supaya makin banyak anak Indonesia yang dapat mengakses pendidikan, termasuk di pelosok-pelosok. Jadi guru harus dikirim ke pelosok dengan anggaran ideal ya, termasuk gajinya. Dengan adanya guru-guru ini, anak-anak termotivasi dan jadi pinter biar gede jadi dokter, kayak keinginan para mama-mama zaman dulu maupun zaman sekarang (Ya, dalam lubuk hati paling dalam, saya juga senang kalau anak saya ada yang jadi dokter, getoh). Perbanyak dokter, dengan cara subsidi SPP tadi itu. Kalau perlu digratisinlah untuk anak-anak berprestasi (misal ranking 1 di SMAnya). Sudah banyak sih yang kuliah gratisan di FK, tapi diperbanyak lagi dengan biaya pemerintah pusat gitu. Ayo, Indonesia kita bebenah, yuk. Entah jadi apa kita nanti setelah musim covid-19 berlalu, entah tinggal berapa kita (hiks), yang penting ini saatnya kita bangkit. Bangkit dan berubah jadi bangsa yang kuat. Kuat yang benar-benar kuat ... bukan kuat di penampakan tapi kopong di dalam. Mari untuk saat ini kita banyak-banyak berdoa saja. Al fatihah.

Jumat, 20 Maret 2020

Challenge Bikin Kue: Pie Susu

Hai, siapa yang hobi bikin kue? Saya sendiri sebenarnya kalau dibilang hobi ya nggak hobi-hobi banget bikin kue. Tapi saya punya oven listrik, segala macam cetakan dan loyang-loyang, juga suka menyetok aneka bahan untuk bikin kue seperti tepung terigu, cokelat batang, margarin, bubuk vanili, baking powder, soda kue, ragi, dan teman-temannya. Kalau saya runut-runut kenapa saya punya segala perlengkapan perang itu, tak lain dan tak bukan adalah warisan kebiasaan dari mama saya tercinta. Jadi, pada eranya, mama saya adalah pembuat kue dan chef sejati yang hasil karyanya sudah diakui paling tidak oleh ibu-ibu sekompleks tentara arhanud-ri, Jatingaleh, Semarang. Mama saya itu terima pesanan kue. Dan pernah juga punya warung makan. Pokoknya hasil olah tangannya nggak perlu diragukan lagi.

Nun pada masa kami masih kecil-kecil dan sudah besar tapi belum tinggal di rumah sendiri, setiap lebaran, mama selalu bikin kue sendiri. Kaastengel, nastar, lidah kuciang, jaanhagel, pokoknya semua jenis kue kering. Kami punya berbundel-bundel resep kue dan masakan yang sebagian besar sudah dicoba bikin oleh mama. Nah, sayalah asisten setia mama yang dulu dengan senang hati membantu membentuk, mencetak, mengoles, dan memberi topping pada aneka kue kering sebelum masuk oven. Kegembiraan masa kecillah, yang membuat saya punya semua peralatan perang untuk membuat kue. Pada saat saya sedang mood dan penuh kegembiraan, saya akan bikin kue dan membuat anak dan suami gembira. Hahaha, apaan sih.

Kemarin-kemarin tak terasa sudah dua atau tiga bulan saya tak bikin kue. Kesibukan, rasa malas, pekerjaan rumah yang menumpuk, menjadi alasan. Tapi eh, tiba-tiba ada challenge dari guru nulis saya mbak Nurhayati Pujiastuti, yang suka bikin kue. Challengenya bikin kue tiap bulan. Boleh, Mbak ... siapa takut? Supaya challengenya lebih menggetarkan, maka menunya ditentukan. Bulan Februari Mbak Nur yang menentukan, sedangkan bulan berikutnya saya, demikian seterusnya berselang-seling. 

Akhir bulan Januari, Mbak Nur mengirim WA menuliskan tantangan Februari: Pie Susu. Uwow, saya belum punya cetakan pie! Okelah, karena saya adalah orang yang nggak pelit keluar duit untuk peralatan bikin kue - asal pas ada duit lho ya, sayapun menyetujui menu tersebut (cetakan atau sejenisnya nggak akan mubazir, pasti selalu akan saya gunakan walau frekuensinya mungkin nggak sering ya, tergantung mood, hihi). Sebagai catatan, saya belum pernah, lho ... bikin pie susu. Tapi itu nggak mengurangi rasa antusias saya, soalnya menurut saya, asal resepnya bener dan kita bikin kue sesuai resep, pasti kue itu akan jadi.

Tanggal 13 Februari 2020 saya dapat kiriman gambar foto pie susu dari mbak Nur. Uwow ... dia sudah duluan bikin. Tapi saya nggak panas ... Februari kan masih lama berakhir, hihihi. Soalnya saya belum punya waktu buat bikin. Saya hanya bisa bikin hari Sabtu atau Minggu saat saya libur dan banyak waktu luang di rumah. Saya baru bisa bikin tanggal 23 Februari 2020, selisih sepuluh hari dari Mbak Nur. Yipiiii, tantangan Februari done buat kita berdua.


Gambar pie buatanku


Gambar pie bikinan Mbak Nurhayati

Kesan saya selama bikin pie susu, untuk bahan-bahannya tidak terlalu susah dicari (Saya nggak share resepnya, ya. Banyak di laman google, kok). Saat menguleni adonan kulit pie, harus sabar. Apalagi saat mencetak kulit pie. Hasil bikinan perdana ini, kulit pienya masih agak tebal, mungkin karena jemari saya masih belum terlalu terampil dan feelingnya belum terasah, ciyeh.


Gambar kulit pie sebelum diisi


Gambar kulit pie dan adonan isi, siap dipanggang


Pie susu ... mak krenyessshhh bila digigit

Walaupun tebal, namun kulit pienya terasa renyah saat digigit. Adonan isi juga relatif mudah membuatnya, hanya campur-campur susu cair, kental manis, kuning telur, dan tepung maizena, lalu dituang dalam adonan kulit. Terakhir memanggang pie di oven selama 45 menit. Saya tambah 10 menit api bawah karena bagian bawah pie terlihat belum terlalu matang. Jadi lama memanggang pie susu ini paling baik sekitar 55 menit sampai 60 menit.

Perasaan saya setelah membuat pie susu, walaupun hasilnya belum terlalu sempurna, tetap saya merasa senang sekali. Seperti saya bilang di awal postingan ini, ada kegembiraan seorang bocah yang membuncah di hati. Uhuy. Kayaknya bikin kue akan bikin saya selalu awet muda, deh. #ngarep
Nah, tunggu tantangan bulan Maret, ya! Saya akan menulisnya lagi di blog ini. Nantikan cerita keseruan saya saat membuat menu tantangan Maret.




Selasa, 18 Februari 2020

Jalan-jalan kulineran ke MTos Makassar

Malam minggu kemarin tanggal 15 Februari 2020, papanya anak-anak ngajak jalan-jalan. Sehari sebelumnya, si bungsu ultah. Iyaa, pas di hari yang dirayakan sebagai hari valentine oleh orang-orang yang merayakannya. Berhubung tujuan jalan-jalan adalah ngajak makan yang ultah, jadi pilihan tujuan jalan-jalan diserahkan pada si bungsu. Nah si bungsu ini walau sudah 10 tahun kadang sulit menentukan pilihan. Pilihan mal tujuan jalan-jalan pun lucu, berdasarkan selengkap apa toko buku yang ada di sana. Alhamdulillah si bungsu ini memang suka banget beli dan baca buku. Singkat cerita tujuan ditetapkan ke MTos atau Makassar Town Square. Di sana ada Toko Buku Grahamedia.

Ini dia tampak depan dari MTos


Seperti biasa kalau jalan-jalan ke mal, tujuan pertama kami adalah tempat makan. Di MTos ada tempat makan baru. Sebenarnya nggak baru-baru amat sih ... mungkin sudah 2-3 bulanan tapi kami belum pernah nyoba, yaitu tempat makan yang menjual Japanese Food. Namanya Gokana Ramen & Teppan. Ke situlah kami menuju untuk makan malam.

Lokasi Gokana Ramen & Teppan tepat di pintu masuk mal

Jadi, kalau saya ngintip di website resminya, Gokana ini adalah restoran yang menyajikan masakan Jepang yang halal dan memiliki citarasa yang sesuai dengan selera orang Indonesia. Di Makassar rupanya sudah ada resto Gokana, tapi di MTos memang baru hadir dalam beberapa bulan ini. Menu ramen yang kami pilih, eh sebenarnya si tengah yang pilih, adalah Chicken Miso Ramen.
Chicken Miso Ramen (pic dari gokanaresto.com)

Menurut saya, rasa ramennya enak cocok di lidah. Isinya komplit ada sayur, daging ayam, miso dan telur rebus. Saya sendiri memilih menu yang tidak terlalu mengenyangkan (demi diet), pokoknya pas aja. Saya pesan beef yakiniku dan minumannya avocado coffee. Porsi beef yakinikunya pas banget sama ukuran perut, nggak sampe kenyang, sehingga saya bisa menghabiskan avocado coffeenya dengan puas dan nikmat. Sungguh avocado coffeenya enak banget dan kalau saya ke sana lagi kayaknya saya mau pesan minuman itu lagi. Suami saya pesan apa ya, saya lupa, haha. Buat tambahan kami juga pesan tempura dan ikan yang digoreng dengan keju dan tepung. Minumannya anak-anak pesan taro, lemon tea, dan suami pesan es konnyaku (es jelly).

Beef Yakiniku

 Avocado Coffee

Fish Cheese

Tempura Udang

Selesai makan, saya dan anak-anak ke lantai dua untuk anjangsana ke toko buku, sementara papanya ke toko sepatu untuk membeli sepatu buat si sulung. Rupanya sedang ada promo berhadiah di toko buku Grahamedia. Belanja sejumlah Rp.100.000 bisa memeroleh kesempatan mencabut kupon di pohon cinta. Kebetulan komik si bungsu, peraut pensil si tengah, dan buku penunjang tugas kantor yang saya beli totalnya lebih dari seratus ribu, jadi kami berhak satu kupon dari pohon cinta. Si tengah mencabut salah satu kupon, dan mendapat kesempatan untuk memilih satu buku sebagai hadiah. Buku hadiahnya sudah disiapkan di meja kasir. Sudah ada beberapa buku dan kami boleh memilih salah satunya. Sayang sekali buku-buku yang dijadikan hadiah itu adalah buku-buku yang sudah lepas segel. Anak-anak memilih satu buku berjudul "Si Kumal", yaitu sebuah buku yang bercerita tentang kucing-kucing. Kebetulan anak-anak sedang senang dengan kucing. Setelah menerima buku hadiah, kami pun pulang dengan perut kenyang dan hati senang.

info hadiah belanja produk

pohon cinta

Kamis, 06 Februari 2020

7 Tips Mengajak Lansia Terkasih Jalan-Jalan


Hai, menyambung postingan saya bulan Januari lalu, saya ingin membagikan tips liburan bersama lansia terkasih. Aih, siapa sih lansia terkasih itu? Orangtua kita ya, yang sudah beranjak ke usia kepala 6 atau kepala 7 seperti mama-papa saya. Bulan Januari lalu mereka berkunjung ke Makassar dan liburan happy-happy selama 7 hari bersama anak-mantu-cucu, alhamdulillah. Berikut tujuh tips dari saya:

1. Di awal liburan, jelaskan rencana destinasi wisata

Pada kunjungan orangtua saya kemarin ke Makassar selama satu minggu, beberapa rencana kami susun dan diskusikan bersama mereka. Rencananya nggak usah terlalu saklek, tapi ditambahi dengan beberapa destinasi alternatif. Perubahan apapun harus selalu dinikmati dengan senang hati.

2. Sebelum menentukan destinasi kuliner, tanyakan mereka ingin makan apa

Walaupun sudah tua, tak berarti kemudian orangtua sudah tak lagi memiliki selera terhadap jenis makanan tertentu. Contohnya kedua orangtua saya, saat ditanya ingin makan apa, jawabannya mencengangkan. Mereka ingin makan sate madura, kepiting, dan sop konro. Jenis-jenis makanan yang saya dan suami sudah batasi sesedikit mungkin. Tapi karena ingin menyenangkan hati kedua orangtua, maka hayuk aja, kami antar ke destinasi kuliner yang mereka inginkan. Ssst ... ternyata kadar kolesterol papa saya normal, beda banget dengan saya yang harus hati-hati menyantap seafood dan lemak, huhuhu.

Makan kepiting

3. Pilihkan toko oleh-oleh yang menjual banyak ragam pilihan

Dalam suatu perjalanan, orangtua suka sekali membeli oleh-oleh. Demikian juga dengan kedua orangtua saya. Mereka suka toko yang tidak terlalu besar tapi komplit sehingga berbagai pilihan oleh-oleh ada di sana. Pada sebuah toko oleh-oleh di daerah dekat Pantai Losari, kedua orangtua saya memborong dompet khas Makassar dan songkok bugis. Lebih bagus lagi jika kebetulan pemilik toko adalah orang yang ramah, dan sesama lansia juga. Biasanya sesama lansia suka ngobrol, lho.

Opa diskusi dengan pemilik toko oleh-oleh

4. Pahami penyakit mereka sehingga kita bisa menyiapkan obat ringan untuk pertolongan pertama

Sesehat apapun seorang lansia, pasti memiliki keluhan entah itu lutut yang sering sakit, badan pegal-pegal, dan keluhan lainnya. Mama saya lutut kanannya sering sakit, sedangkan papa mudah pegel-pegel. Kalau papa harus cukup istirahat, kalau mama harus sedia minyak beruang yang gold. Jadi ya nggak perlu selalu jalan sepanjang hari, selalu kudu disediakan waktu rehat. Dan untuk mama saya, karena minyak beruangnya ketinggalan, saya belikan di toko terdekat. Alhamdulillah walau saya belum pernah ketemu beruang, tapi minyak beruang banyak tersedia di toko-toko di Makassar. Memang asalnya minyak beruang dari Makassar, sih, hehehe.

5. Dalam perjalanan darat yang memakan waktu lama, tawarkan untuk berhenti untuk istirahat

Kemarin kami sempat ke Bone, dan perjalanan Makassar ke Bone memakan waktu lima jam melalui darat. Buat saya yang usia jelita saja sudah lumayan bikin pegal badan. Apalagi buat mama-papa saya. Jadi saya dan suami selalu menawarkan diri untuk singgah beristirahat. Dalam perjalanan pp kemarin, kami sempat rehat di rumah makan dan rest area.

6. Jangan lupa ambillah gambar untuk kenang-kenangan

Hai, bukan kita-kita aja yang (merasa) muda yang suka poto-poto selpi-selpi, para lansia terkasih juga suka membuat foto untuk kenangan. Mereka senang memeluk cucu-cucu dan mengabadikannya melalui jepretan kamera. Jadi, jangan segan untuk memotret dan meminta mereka bergaya, ya!

Yihaaa (setting pantai Losari)

7. Sabar adalah koentji.

Di atas semua tips itu, yang paling penting adalah kita harus sabar. Para lansia terkasih ini walaupun dulu mungkin kita kenal sebagai orang yang disiplin waktu dan menepati janji, sekarang mulai agak geser-geser bukan karena berubah prinsip namun lebih karena mulai sering lupa. Dibilang siap pergi jam 9, jam 9 masih leha-leha ... hahaha. Jadi harus sabar mengingatkan berkali-kali jadwal acara liburan. Ingat, lupa itu bukan disengaja, melainkan faktor usia, dan kemungkinan kita semua bisa mengalami fase itu. Maka bersabarlah, dan kelak orang akan bersabar untukmu pula. Fokus pada tujuan liburan bersama orangtua, bahwa itu semua untuk menyenangkan hati mereka. Dan kita juga harus senang, makanya nggak usah saklek sama waktu kalau liburan bareng lansia terkasih, yaa...

Senin, 27 Januari 2020

Kuliner Makassar-Bone (Perjalanan Oma-Opa di Makassar-Bone)

Hai, saya datang lagi di tahun 2020. Mencoba mengikat makna perjalanan hidup, sekaligus catatan harian untuk dibaca-baca kembali saat kangen. Tahun 2019 kemarin sedikit sekali posting cerita di blog ini. Semoga 2020 lebih baik.

Tanggal 20 Januari 2020, kedua orangtua saya berkunjung ke Makassar. Orangtua saya itu berdomisili di Kota Malang. Beliau berdua datang ditemani kakak pertama, dan karena kondisi rumah saya sedang tidak dalam kondisi baik, maka mereka bermalam di penginapan di dekat rumah saya. Selain kondisi rumah, mereka juga tidak kuat hawa panas Makassar, maklum dari daerah dingin Kota Malang, jadi cari tempat bermalam yang full AC. Ini penginapan tempat mereka bermalam selama di Makassar.

Hotel Paramount, Jl Perintis Kemerdekaan

Malamnya kami jamu tamu agung dari Kota Malang tersebut di sebuah rumah makan tak jauh dari hotel, yaitu RM. Kota Daeng. Menu yang kami pesan waktu itu adalah sup telur puyuh, sup kepala ikan, oseng-oseng pakis bunga pepaya, ayam goreng, udang bakar. Ini foto-foto kami di Kota Daeng. 

RM. Kota Daeng, foto pas makanan belum datang

Selasa-Rabu, tanggal 21-22 Januari 2020, terpaksa oma-opa dan kakak jalan sendiri siangnya, karena saya dan suami masih bekerja. Pas pekerjaan lagi repot-repotnya jadi tidak bisa curi waktu keluar kantor. Oya, setelah kedua orangtua sepuh dan punya banyak cucu, kami mengganti panggilan untuk mereka menjadi oma-opa. 

Tanggal 21 siang mereka jalan-jalan ke pantai Losari dan benteng Rotterdam. Malamnya makan malam di rumah. Tapi saya nggak masak, jadi makan pakai soto tetangga saja, hahaha. 

Tanggal 22 Januari, kakak membawa orangtua nonton di cgv, nonton Dr. Doolitle. Katanya satu gedung seperti disewa sendiri. Bagaimana tidak, nonton jam 10an pas weekday tentu sepi sekali, alhasil hanya mereka bertiga dalam satu ruangan bioskop. Malamnya oma pengen menikmati Konro Karebosi yang sudah terkenal di seantero dunia itu.



Konronya tinggal setengah porsi, baru ingat belum difoto

Kamisnya, 23 Januari pagi, kakak kembali ke Kota Malang. Orangtua saya tinggal karena akan saya ajak ke Kabupaten Bone, menghadiri pesta pernikahan ponakan. Saya dan suami cuti dua hari Kamis dan Jumat. Selama di Bone, kami tinggal di sebuah homestay sederhana yang bernama "Sahabat Setia", yang lokasinya dekat dengan lapangan Merdeka. Di Bone, untuk kulineran, kami sempat makan sate madura (yang makan sate lupa difoto), hidangan serba ikan, dan tentu saja kepiting. Bone memang terkenal dengan hasil kepitingnya. Kepiting telur. 


Makan di sebuah rumah makan di Pelabuhan Bajoe, Bone (yang jilbab kunyit kakak ipar saya)


Makan "Kepiting Saus Victoria" di RM Victoria, Bone

Sabtu sore setelah menghadiri resepsi nikah ponakan, kamipun pulang ke Makassar. Oya perjalanan yang ditempuh sekitar lima jam, jadi lumayan capek juga dan kami sempat istirahat di Maros untuk makan. Makan yang praktis saja, indomie telur, hahaha.

Setiba di Makassar, oma-opa sempat dua malam istirahat di rumah saya sebelum kemudian kembali ke Kota Malang hari Senin, 27 Januari 2020. Lho kok cepat amat? Iya, mereka itu selalu rindu untuk kembali ke Kota Malang, ke rumah mereka. Sebab walaupun kedua orangtua saya sudah sepuh, tapi mereka masih punya kesibukan. Misalnya niy, mereka punya toko kelontong keciiil, yang selalu rajin mereka buka tiap hari. Mereka berdua juga masih aktif di organisasi pensiunan, yang tiap bulan ada pertemuan rutin. Mereka juga suka refreshing, ikut grup singing and dancing di Kota Malang yang sering syuting di stasiun TV lokal. Wihiiiy, kedua ortu saya memang semacam artis lokal, gitu. Jadi, Senin siang saya dan suami mengantarkan oma-opa ke bandara Hasanuddin untuk bertolak ke bandara Juanda-Surabaya. Di Surabaya kakak pertama sudah siap menjemput untuk lanjut ke Malang. Alhamdulillah, semoga sehat selalu, sehingga bisa jalan-jalan lagi dan kulineran lagi ya oma-opa, aamiin...


Senin, 07 Oktober 2019

Bukan Cinderella

Naskah cerma (cerita remaja) saya dimuat di harian Minggu Pagi Jogjakarta di minggu keempat September 2019. Ada sedikit bagian yang diedit oleh redaksi, namun tidak mengubah isi.  Naskah aslinya saya upload di sini agar bisa dibaca semua teman-teman. Selamat membaca, ya.


Bukan Cinderella


            Hidupku mirip kisah Cinderella. Aku kehilangan ibu di usia belia. Bapakku seorang pelaut yang sering pergi berlayar. Sehari-hari, aku hanya bersama ibu dan saudara tiriku.
            Aku memang nggak perlu bekerja membanting tulang seperti Cinderella. Ibu dan saudara tiriku tak sejahat itu. Tapi bukan berarti mereka tak berlaku curang.
Bapak mengalokasikan uang saku sebesar Rp60.000,00 per hari untukku dan Adriana, saudara tiriku. Masing-masing dapat Rp30.000,00. Hanya saja setelah kemudian ia sering harus menambah uang jajan Adriana, ibu berubah pikiran.
“Dinda, adikmu sangat boros. Uang tiga puluh ribu tidak cukup. Sementara kamu, masih bisa menyisihkan uang untuk ditabung. Tolong sebagai kakak kau mengalah, ya,” Ibu memberiku uang sepuluh ribu.
Sedih, sih, tapi aku nggak mau ribut. Uang sepuluh ribu kuhemat dengan pembagian: delapan ribu untuk ongkos angkot pulang pergi, dua ribu untuk jajan. Sejak itu sering tampak pemandangan, Adriana pesan hidangan komplit di kantin sekolah, sementara aku mengunyah roti seribuan atau makan bekal yang kusiapkan dari rumah, di sudut lapangan basket. Bukan sekali dua kali aku menerima tatapan iba dari teman-teman, tapi semua kubalas dengan ketawa ringan. Ya, aku nggak suka dikasihani. Lagipula, hidup itu bukan untuk makan, melainkan sebaliknya. Makan untuk hidup, makan secukupnya saja dan nggak perlu bermewah-mewah. Itu prinsip hidupku. Prinsip hidup remaja dengan uang saku pas-pasan.
            Rasanya kurang satu lagi tokoh dalam hidupku, seandainya aku Cinderella, ya? Di mana pangeran berkuda putih? Ada. Namanya Ivan. Ia sering menemaniku makan roti saat istirahat. Tapi Ivan  itu sahabatku sejak kecil dan sudah punya pacar. Jadi kucoret keinginan untuk menjadikannya prince charming. Belakangan, Ivan sering bersama Banyu, anak baru di kelasnya. Banyu adem (air dingin), demikian aku diam-diam menjulukinya. Sebab, tiap mata kami bertemu, aku serasa disiram air dingin. Nyess. Beberapa kali Ivan menyampaikan salam dari Banyu, untukku, sambil mengedipkan matanya penuh arti. Ivan memang nakal. Ia tahu pasti orientasiku saat ini adalah tidak berpacaran dengan siapapun. Lagipula aku benar-benar takut jalan cerita Cinderella akan terjadi padaku. Kalau aku punya pacar, kemungkinan Adriana akan merebutnya. Haha, aku terbahak sendiri dengan semua skenario lucu yang aku bayangkan di kepala, saat sedang sendiri dan kesepian di rumah.
**
            Walau hanya bisa menyisihkan seribu sehari, aku rajin menabung. Sudah kebiasaan sejak kecil, ajaran dari mendiang ibuku. Dalam setahun terkumpul uang tiga ratus lima puluh ribu. Aku sangat senang  dan sudah janjian dengan pemilik sebuah toko, untuk menukar uangku.
            Minggu pagi, aku menyiapkan uang seribuanku dalam tas  kecil. Aku berjalan  melewati lorong sepi. Ketika itulah sebuah motor memepetku, dan orang yang duduk di belakang menarik tasku. Kejadiannya berlangsung  cepat. Aku berusaha mempertahankan tas, lalu tiba-tiba  uang seribuanku berhamburan. Terdengar seruan keras di belakangku, dan penjambretku  kabur. Aku limbung dan sepasang tangan kokoh menahan punggungku. Kurasa aku pingsan. Saat siuman, kulihat ada Banyu dan beberapa orang mengerubungiku.
            “Syukurlah, Dinda sudah sadar,” ternyata salah satu orang yang merubungku adalah Bu RT. Alamat, kejadian ini akan sampai di telinga ibuku. “Ini uangmu ibu masukkan kresek. Tasmu robek,” tutur bu RT menyerahkan uang dalam kantung kresek.
            Aku teringat uangku yang berceceran. Alangkah memalukan. Dilihat Banyu pula.
            “Kamu kok di sini?” tanyaku, menatap mata Banyu. Cowok itu menatapku lembut. Tatapan yang biasanya dingin, kini serupa air hangat, menenangkanku.
            “Kebetulan lewat,” jawabnya singkat.
            “Jadi, dia bener teman kamu, Dinda? Bu RT duluan ya, belum beres-beres rumah. Mas, tolong  Adinda diantar pulang, ya?” Bu RT menitipkanku pada Banyu lalu bergegas pergi.
            Kerumunan bubar. Aku berdiri gugup menyadari posisiku setengah baring bersandar di dada Banyu.
            “Jangan jalan dulu. Kamu pasti masih shock,” ucap Banyu. “Ayo kuantar pulang.”
            Aku melihat ada motor Banyu dan teringat bahwa aku sebetulnya mau menukar uang.
            “Tolong antar ke toko dulu, ya?” pintaku. Banyu mengangguk dan segera memboncengkan aku menuju toko yang kumaksud.
            Aku menukar uangku dan menerima tiga lembar seratus ribuan, serta selembar lima puluh ribu. Uang seribuanku  masih utuh jumlahnya, walau sempat berhamburan gara-gara penjambret tadi. Pasti bu RT yang memastikan semua uangku aman. Pipiku memanas membayangkan kembali bagaimana uang seribuanku tadi berhamburan. Ah, ingatan akan kejadian memalukan ini harus segera dihapus dari memori otakku, andai bisa.
            Kuhampiri Banyu di bangku depan toko. Ia menyodorkan es krim dan menyuruhku duduk.
            “Makan es krim dulu, supaya kagetmu hilang,” ucapnya singkat. “Kejadian tadi bukan  sepele. Aku punya tante yang meninggal setelah dijambret karena mempertahankan tasnya. Tante terbanting dan kepalanya membentur trotoar.”
            Cerita Banyu membuatku ngeri. Aku baru sadar sudah lepas dari ancaman maut. Aku makan es krim dengan air mata berlinangan. Membayangkan kalau aku mati muda, pasti bapakku akan sedih. Ibu dan Adriana mungkin juga sedih tapi pasti tak lama mereka akan merasa hidup lebih nyaman tanpa diriku.
            “Jangan takut, ya. Mulai sekarang, lebih berhati-hati saja,” ucap Banyu.
            Aku mengangguk. Ucapan Banyu dan tatapannya yang tak lagi sedingin air es, membuatku nyaman dan … sedikit berbunga-bunga.
**
            Di rumah, bukannya mengkhawatirkanku, ibu malah mengomel. Rupanya kekhawatiranku terbukti. Bu RT sudah singgah ke rumah dan bercerita banyak pada ibu.
            “Apa kata dunia kalau anakku bawa uang receh kemana-mana macam pengamen jalanan? Jangan ulangi lagi! Bikin malu saja!”
            Masih panjang omelannya walau nggak masuk telinga. Aku hanya tertunduk seolah khidmat mendengarkan ibu, padahal di telingaku terngiang ucapan Banyu saat mengantar pulang tadi.
            “Ternyata rumah kita searah. Kita bareng saja berangkat dan pulang sekolah,” ucap Banyu. “Err … kalau kamu mau, sih.”
            Aku tersenyum dan mengangguk malu-malu.
            Dalam hati aku memekik girang. Ya, tentu saja aku mau, Banyu! Itu artinya jatah angkotku bisa kutabung atau kubelikan bakso!
            “Lalu siapa temanmu yang membantumu waktu kecelakaan tadi? Pacarmu?” pertanyaan ibu selanjutnya membuatku terbangun dari lamunan.
            “Ehh, bukan, Bu. Dia teman satu sekolah. Eh, Bu, bolehkah kalau aku berangkat dan pulang sekolah bareng temanku itu?” tanyaku. Bagaimanapun juga, aku harus minta izin ibuku untuk hal ini.
            Ibu seperti kaget, terdiam menatapku sesaat. Lalu alisnya berkerut. Perasaanku mulai tak enak. Aku meyakinkan diriku bahwa aku bukan Cinderella.
            “Lalu kau tinggalkan adikmu naik angkot sendiri? Demi Tuhan, Dinda. Kenapa kamu begitu egois?”
            Masih banyak kata-kata ibu. Intinya ia tak mengizinkan aku berangkat dan pulang sekolah bersama Banyu. Aku hanya bisa menangis di kamar dan berdoa pada Tuhan. Ya, Tuhan, aku bukan Cinderella. Tolong berikan aku jalan cerita yang berbeda, walaupun mungkin dengan ending yang sama.**


Jumat, 20 September 2019

7 Cara efektif mengatasi mual di perjalanan

Hidup ini laksana sebuah perjalanan panjang. Kadang belok, kadang lurus, kadang naik turun. Dalam hidup selalu ada saat-saat sedih, seperti halnya dalam perjalanan selalu ada saat-saat mual. Apa yang harus dilakukan saat mual melanda? Berikut tujuh cara efektif yang dapat dilakukan untuk mengatasi mual. Setiap orang pasti punya cara favoritnya sendiri, which one is yours?


Gambar dari pixabay

1. Ngobrol
Ngobrol dengan teman seperjalanan merupakan cara yang tepat mengatasi rasa bosan. Ternyata untuk sebagian orang, cara ini juga berhasil untuk menghilangkan rasa mual. Paling tidak, kita akan berkonsentrasi pada materi obrolan sehingga mual terlupakan. Percayalah untuk sebagian orang, cara ini efektif, namun untuk saya, tidak.

2. Makan
Ngemil kripik atau makanan ringan lainnya efektif mengurangi rasa mual. Ada teman saya yang kalau naik mobil sampai di jalan belok-belok, pasti langsung ngunyah potato chips. For her, its work. For me? Malah makanan itu akan menarik keluar semua pendahulunya yang sudah bersemayam di lambung. Alamaaak....

3. Ngemut permen
Permen mempunyai rasa manis, pedes, kecut, dan lain-lain tergantung selera. Permen ini akan menetralisir rasa pahit di lidah saat perut mual sehingga mengurangi perasaan ingin muntah. Cara ini buat saya oke-oke saja. Bisa dipakai bila hanya mual-mual tipis.

4. Memejamkan mata dan posisi pewe
Saat jalanan sudah sangat tidak bersahabat sehingga badan macam terkocok-kocok di dalam mobil, pejamkanlah mata dan duduk yang enak. Memejamkan mata akan menghindari mata kita melihat jalanan yang memutar bikin pusing dan posisi wenak menjaga kita untuk tidak terlalu goyang. Posisi paling enak adalah di pinggir dengan kepala miring ke jendela. Lebih bagus kalau ada bantal leher.

5. Tidur
Tidur adalah cara praktis untuk melupakan apapun termasuk melupakan hidupmu yang banyak utang, eh melupakan mual. Bahkan mungkin kita nggak sempat mual karena sudah terbang ke alam mimpi. Hanya saja tidur ini susah dikondisikan. Kalau jalanan amburadul apa iya masih bisa enak tidur, ya kan...

6. Minum obat anti mabok sebelum perjalanan
Cara ini yang paling efektif walau setelah saya beranjak remaja, dewasa lalu tua kelak, cara ini sudah tidak pernah saya pakai. Dulu waktu kecil, saya sering minum obat anti mabok setiap pergi liburan ke rumah nenek. Cara ini membantu tidur dengan sukses. Bahkan mungkin walau jalanan berbukit kita akan tetap tidur dengan senyum tersungging walau teman satu bus sudah butuh kresek kedua untuk kantong muntah.

7. Tambahkan caramu sendiri. Nah, saya kan sudah ngetik enam cara. Untuk melengkapinya menjadi tujuh, tambahkan caramu sendiri. Atasi mual dan nikmati perjalananmu. Happy travelling!

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES