Jumat, 16 Februari 2018

[Review]: Dilan 1990, kresek oh kresek

Kamu sudah nonton Dilan 1990, belum? Nonton, gih. Tapi kalau sudah baca bukunya dan lagi nggak punya uang, mending nunggu tayang di televisi aja. Lho kenapaaa? Karena filmnya sama kok, dengan bukunya. Malahan lebih komplit versi buku, karena mungkin faktor durasi dan estetika ya, jadi beberapa adegan dan dialog tidak muncul di film.

Sebelumnya saya mau cerita kenapa saya dulu bela-belain beli novel trilogi Dilan. Sebelum-sebelumnya saya nggak tertarik, tapi kemudian saya baca di medsos saat rame-rame audisi pemeran Dilan (waktu awal filmnya mau dibikin dulu). Kok, pada protes kalau yang meranin Dilan itu Iqbaal sih? Katanya gak pantes, terlalu manislah, masih keinget coboy juniorlah, dst, dst. Saya jadi mikir, emang karakter Dilan itu kayak apa sehhh ... akhirnya belilah saya ketiga novel itu, dan membacanya di sela-sela kesibukan belajar mau ujian thesis, dhuarr. Dan saya sukaaaa kisah yang ditulis Pidi Baiq ini. Sempat mikir kayaknya aman-aman aja kalau Iqbaal yang meranin deh. Terbukti kemudian banyak yang baper setelah nonton filmnya.

Ketika filmnya tayang, saya sudah pesimis mau nonton nih. Secara suami sudah jarang banget mau nonton. Andalannya kalau enggak donlot yutub ya tunggu tayang di televisi. Eh, ndilalah putri saya pas pulang massal dari pondok kok pingin nonton Dilan (Hmmm, boleh nggak sih, santriyah nonton Dilan? Kalau nanya ke ustadzahnya pasti nggak boleh yak). Suami bilang boleh kalau mamamu mau. Apaaa? Enelan? Ciyuuus? Walau wajah saya pasang flat di depan suami, dalam hati saya bilang yes! (macam Dilan waktu diberitahu Piyan kalau Milea tuh nggak pacaran sama Nandan, kok -- eh apaan seh).

Baiklah, akhirnya menontonlah saya sama putri saya. Berhubung nontonnya di jam pertama di mana itu emol baru aja buka, maka saya iseng menghitung penonton yang ikut nonton bareng saya. Tiga remaja cowok, sepasang mbak dan mas, dan sepasang suami istri dengan satu anak balita (hedeww ibuk, mau nostalgila 90-an mah titip dulu anaknya atuh). Intinya masih sepilah.

Film Dilan 1990 ini, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, dibuat nyaris sama dengan bukunya. Jadinya sepanjang film saya bisik-bisik sama putri saya, mencocok-cocokkan dengan isi buku karena putri saya juga sudah khatam baca trilogi Dilan. Intinya jangan nyari film kualitas oscar dengan jalan cerita penuh konflik dan berbobot lho ya. Film ini ringan saja, berisi kisah cinta antara dua anak SMA tahun 1990 yang digambarkan dengan unik, seru dan lucu. Fokus dalam film ini tentu si Dilan yang digambarkan pinter ngerayu dengan gaya out of the box. Dan Dilan ini dikisahkan sebagai anak yang suka nulis puisi, jadi memang dia punya kekuatan kata-kata ... ciee, kekuatan kata-kata. Beda lho ya sama yang ono noh, mas VP.

Kisah dimulai saat Milea berangkat sekolah, jalan kaki dan Dilan menjejeri dengan motor. Kamu Milea, kan?

Kamu Milea, kan?
(gambar dari sumsel.tribunnews.com)

Sejak itu Dilan beberapa kali menarik perhatian Milea, dengan pesan-pesan lucu melalui surat yang dikirim lewat temannya, juga tingkahnya yang aneh. Milea sempat menjuluki Dilan dengan sebutan orang aneh ketika malamnya Dilan sempat datang ke rumah dan bertemu Papa Milea.Waktu itu Dilan nggak ketemu Milea tapi Dilan mengenalkan diri sebagai utusan kantin yang menawarkan menu baru. Aneh banget kan? Kali lain, Dilan menitipkan cokelat buat Milea, lewat tukang koran.Lebih aneh lagi pas Milea ultah, Dilan ngasih kadonya berupa TTS yang dalamnya sudah keisi semua. Milea aku sayang kamu, karena itu TTSnya sudah kuisi semua, aku nggak mau kamu pusing...

Beberapa quote Dilan dalam film ini yang sempat saya ingat:


Aku tidak mau membuat kamu cemas. Biar aku aja yang mencemaskanmu (Ini waktu ada serangan geng motor ke sekolah Dilan dan Milea cemas nyariin Dilan)


Siapapun dia kalau tidak mau menghargai orang, tidak akan dihargai (Ini waktu Dilan emosi setelah ditampar oleh gurunya)

Apakah saya termasuk yang baper melihat Iqbaal, eh Dilan? Nggak terlalu baper sih, karena saya nggak punya kisah romantis zaman SMA. Saya justru baper ngelihat kresek dalam film Dilan. Kok, kresek? Iya, itu kresek yang dipakai Dilan bungkus hadiah buat ultah Milea dan kresek yang dipakai bungkus krupuk. Itu kok pakai kresek warna garis-garis hitam putih, sih? Seingatku itu kresek sangat kekinian banget deh. Lebih baik pakai kresek warna hitam polos atau putih polos, atau pakai tas dari kulit binatang (eh itu mah zaman dinos yak). Yang jelas lebih salah lagi kalau kreseknya ada logo indo*aret yak, wkkk. Indomaret belum ada mbak waktu itu. Iyaaaa, sudah tahu! Apalagi tahu bulat, jelas belum ada. Di zaman itu, tahu masih kotak-kotak. (Waktu saya nyetatus masalah kresek ini di pesbuk, seorang mbak berkomentar dan mengkonfirmasi bahwa di 1990, kresek seperti itu sudah ada dan dia sering belanja kue pakai kresek kayak gitu. Ooowh baiklah kalau begitu, saya ndak jadi baper).

Terus, apalagi yang menarik di film ini? Bagi remaja zaman sekarang, alias ABG asli, ketampanan wajah Iqbaal dan kekiyutan wajah Vanesha mungkin yang paling menarik. Tapi bagi remaja masa lalu alias ABG tahun 1990, yang menarik adalah kenangan-kenangan jadul yang seolah teraduk kembali menarik waktu berjalan mundur. Salah satunya yang menarik perhatian saya sebagai salah satu wakil dari ABG 1990-an, adalah ngobrol via telepon umum dan telepon rumah. Hmmm. Walaupun di zaman itu saya tidak punya seseorang yang seromantis Dilan, bahkan sejujurnya tidak punya seorang pacar pun (jomblo ni ye), saya paling suka ngobrol via telepon begini. Tapi nggak kayak Milea yang kalau terima telepon rapi banget duduk di kursi, saya bisa jumpalitan antara duduk, ndlosor di lantai, tengkurep, seenak-enaknya posisi deh, sampai-sampai dimarahi mama. Hei, sudah sudah telepon gak brenti-brenti, nanti kalau ada telepon masuk, nggak bisa lho. Ah, iya. Setiap masa mempunyai kenangannya masing-masing. Walaupun di masa itu aku tak punya Dilanku, tapi aku tetap mengenang masa itu sebagai salah satu masa yang terindah. Di mana kesulitan hidup terbesar adalah PR Matematika (quote diambil dari entah).

Nah, siap nonton Dilan, yang sampai detik ini sudah menempati posisi film terlaris nomor dua di Indonesia sepanjang masa? Yuk, yuk nonton. Tapi jangan terlalu tinggi ekspektasi ya. Nontonlah dengan tujuan menghibur diri. Yang baik-baik diambil, yang jelek-jelek dibuang. Karena Dilan, sejatinya hanya remaja biasa yang seperti remaja seusianya punya emosi yang mudah tersulut. Kalau saya diminta ngasih rate dari 1 - 5, saya ngasih rate 3 untuk film Dilan. Kabur ah, sebelum ditimpuk penggemar Dilan, hehehe...

Rabu, 07 Februari 2018

[Resensi]: Oishii Jungle

Judul Novel: Oishii Jungle
Penulis: Erlita Pratiwi
Penerbit: Grasindo
Tebal:193 halaman
Tahun terbit:2014
Tokoh: Shasa, Era, Heru, Akiko, Kenji

 Keseruan Petualangan ke Tanjung Puting



Shasa seorang mahasiswi yang mempunyai sahabat bernama Era. Mereka berdua ini punya sifat dan latar belakang ekonomi keluarga yang berbeda. Shasa anak orang kaya yang terbiasa dengan gaya hidup mewah, sementara Era anak orang biasa yang gemar berpetualang ke pelosok-pelosok Indonesia, walau sering harus menabung dulu untuk itu.

Shasa butuh bantuan Era untuk memenuhi tantangan Akiko, mantan tetangganya yang orang Jepang asli (ceritanya Akiko ini pernah tinggal di Indonesia, tapi sudah kembali ke Jepang), untuk menjadi guide jalan-jalan ke tempat wisata yang tidak biasa di Indonesia. Pokoknya harus unik dan menantang. Bila Shasa berhasil memenuhi tantangan dari Akiko, Akiko akan menguruskan tiket Shasa nonton kabuki di Tokyo.
Shasa dibantu Era menggugling tempat-tempat wisata di Indonesia dan singkat cerita, mereka dan juga Akiko setuju untuk berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan. Mereka akan dipandu oleh Heru, teman SMP Shasa dan Era yang tinggal di Pangkalan Bun. Jadilah pada hari yang ditentukan, mereka pergi berlima: Shasa, Era, Heru, Akiko dan Kenji (kakak Akiko).

Novel ini berkisah tentang petualangan mereka berlima di Tanjung Puting. Tentunya banyak cerita seru, bagaimana mereka naik perahu kelotok menuju Tanjung Puting, bertemu orangutan ramah bernama Siswi, kelelahan Shasa yang tak terbiasa berpetualang di alam terbuka dengan medan yang terjal, juga beberapa spot pemandangan indah alam Kalimantan yang dituturkan dengan apik oleh penulisnya. Tak ketinggalan berbagai kuliner yang selalu dinikmati dengan senang hati oleh Akiko dan Kenji, dan komentar Akiko setiap menemukan sesuatu yang mengagumkan hatinya: Oishii ... Pemandangannya oishii, makanannya oishii, perjalanannya oishii juga.

Petualangan yang seru itu juga dibumbui dengan episode-episode romantis antara Shasa dan seseorang peserta perjalanan lainnya. Hayo, siapa kira-kira? Membaca novel ini bisa sekali habis karena gaya bahasanya ringan, renyah, dan menyenangkan. Novel ini rekomended sekali untuk dibaca menghabiskan akhir pekan. Walau tergolong bacaan ringan, namun dari novel ini kita juga mendapatkan beberapa pengetahuan yang penting, misalnya deskripsi Taman Nasional Tanjung Puting, caranya kesana dan juga ke spot-spot wisata di sekitarnya; jenis-jenis makanan Jepang; dan budaya Jepang misalnya yang berkaitan dengan Boneka Daruma. Daruma adalah boneka berbentuk bulat yang dijual dengan bola mata yang belum diwarnai. Boneka ini merupakan lambang pengharapan yang belum tercapai. Orang yang mempunyai harapan akan mewarnai mata kanan Daruma dan setelah harapannya tercapai, boleh mewarnai mata kirinya. Dalam perjalanan mereka ke Tanjung Puting, Shasa dan Era sama-sama membawa boneka Daruma hadiah dari Akiko. Kira-kira, harapan apa yang dipunyai Shasa dan Era dan apakah mereka berhasil mewarnai mata kiri Daruma? Hmmm, baca saja deh novelnya.

Boneka Daruma yang bola matanya sudah diwarnai. Gambar dari 
http://imccenter.blogspot.co.id/2015/02/daruma-ningyo.html



Selasa, 06 Februari 2018

GALERI




DISCLOSURE

Blog ini adalah blog personal yang ditulis oleh Indah Novita Dewi

Selasa, 30 Januari 2018

Tentang Saya


Hai, nama saya Indah Novita Dewi dan saya adalah ibu dari tiga anak. 
Saya tinggal di Makassar dan bekerja sebagai peneliti bidang sosial kehutanan di sebuah instansi litbang milik pemerintah. 
Hobi saya menulis fiksi dan artikel tentang apa saja yang menarik minat saya. 
Blog ini berisi beberapa hasil karya saya di bidang literasi baik yang sudah publish di media cetak/online, maupun yang memang saya tulis khusus untuk konsumsi pembaca blog ini saja. 
Saya juga menerima pesanan tulisan baik fiksi maupun artikel. 
Kontak saya di indardiasha@gmail.com.
*
Selamat membaca tulisan-tulisan di blog ini, semoga bermanfaat, jangan lupa untuk meninggalkan jejak bila berkenan. Terima kasih.

Selasa, 09 Januari 2018

Dua Jurus Jitu Menjadi Penulis




Foto dari https://typercat18.wordpress.com/2012/06/11/


Saya mempunyai banyak teman dunia maya yang berprofesi sebagai penulis. Saya juga senang membaca banyak grup-grup tentang kepenulisan. Kenapa? Ya karena saya suka menulis. Saya suka menulis dan mengirimkannya ke media, lalu mendapatkan honor dari tulisan saya tersebut. Saya kadang juga menulis bukan untuk dikirimkan ke media, namun sekadar opini, curhat, atau cerita sehari-hari  yang saya tuangkan di blog.

Saya sering membaca pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada beberapa teman penulis dan juga pertanyaan di grup-grup kepenulisan, tentang keingintahuan bagaimana memulai menjadi seorang penulis.

“Bagaimana sih, caranya menjadi penulis?”
“Saya punya banyak ide cerita tapi saya tidak dapat menuangkan menjadi tulisan yang bagus. Bagaimana ya, sebaiknya?”
“Saya ingin jadi penulis tapi bagaimana cara mendapatkan ide?”

Dan … masih banyak lagi pertanyaan lain yang diajukan. 

Saya bukan penulis profesional. Posisi saya adalah penulis yang masih harus selalu belajar setiap saat untuk memperbaiki kualitas tulisan saya. Namun setelah saya telusuri berbagai tulisan teman-teman dan jawaban pada pertanyaan-pertanyaan di atas, maka saya berani menyimpulkan bahwa untuk menjadi penulis hanya butuh DUA jurus jitu, yaitu:

TEKUN dan SABAR

1.       Tekun (Tekun menulis dan tekun membaca)

Foto dari http://www.teknikhidup.com/quotes/gambar-kata-motivasi-semangat-kerj
 
Banyak penulis menyarankan pada penulis newbie untuk menulis secara teratur. Tiap hari harus selalu ada yang ditulis. Tidak usah terlalu banyak kalau memang tidak bisa. Dengan menulis satu paragraph setiap hari misalnya, maka dalam seminggu kita bisa mendapatkan satu halaman tulisan. Menulis teratur banyak manfaatnya, yaitu lambat laun otak kita akan luwes dalam mengolah kata. Dengan melatih setiap hari, kualitas dan kuantitas yang kita peroleh akan bertambah.

Salah satu penulis terkenal yang sangat tekun adalah Raditya Dika. Dika menulis buku-bukunya di sela jadwal kerjanya yang padat. Ada satu bukunya yang rampung dalam tiga tahun, hasil menulis rutin satu paragraph per hari.

Tentu saja sebelum bertekun ria, harus ditetapkan dulu naskah apa yang hendak ditulis, sesuai minat masing-masing. Ide dan diksi dapat diperoleh dengan tekun membaca naskah-naskah sejenis. Jika ingin menulis cerpen anak, maka tekunlah membaca puluhan bahkan ratusan cerpen anak sebagai referensi,; jika ingin menulis novel romantis, tekunlah membaca puluhan novel bergenre sama. Nanti pasti akan didapatkan kuncinya, setelah itu kita dapat menulis dengan lebih lancar karena paham, naskah yang akan kita tulis itu seperti apa.

2.       Sabar


Foto dari  http://jmmi.its.ac.id/2015/10/sabar-sudahkan-dihati-kita/

Penulis tidak hanya harus tekun dalam menjalani proses belajar menulis. Ia juga harus sabar, terutama penulis yang ingin menerbitkan karyanya untuk tujuan komersial. Menerbitkan naskah di media cetak atau digital ataupun naskah buku ke penerbit. Pada saat kita merasa senang sudah berhasil menulis naskah pendek (opini, cerpen, dll), atau panjang (novel, buku non fiksi), akan ada perjuangan panjang melalui alur kesabaran, yaitu saat kita mengirimkan naskah ke media/penerbit dan mengharap konfirmasi Acc.

Sebagai contoh saya share saja perjalanan kelima naskah saya yang tayang di 2017 kemarin, ya.

-          Cerpen anak “Kampung Baru Lina”, naskah cerpen dalam kumcer PBA (Penulis Bacaan Anak) saya tulis dan kirim 12 September 2014 sebagai naskah audisi kumcer. Setelah naskah itu pasti lolos untuk dibukukan, bukunya baru selesai tahun 2017. Nyaris tiga tahun prosesnya.

-          Cerpen remaja “Janji Eka”, dikirim 4 Februari 2017 ke majalah Gogirl dan dimuat di edisi 16 April 2017. Prosesnya dua bulan lebih. Ini termasuk cepat.

-          Opini “Transportasi Online” dikirim ke harian Bernas 15 Maret 2017, dimuat 16 Maret 2017. Naskah opini di surat kabar termasuk jenis naskah yang cepat tayang, jika memang layak tayang, dan sesuai momen. Saya mengirimkan naskah ini saat rame-ramenya demo terhadap transportasi online. Apabila selama satu minggu naskah tidak ada kabar, bisa dipastikan naskah kita tidak layak terbit. Durasi menunggu satu minggu ini, hanya untuk naskah koran, ya.

-          Cerpen anak “Kotak Bekal Misterius”, dikirim ke majalah Bobo 1 Agustus 2016, dimuat edisi 13 Juli 2017. Prosesnya nyaris satu tahun. Untuk Bobo ini relatif “cepat” karena ada cerpen yang dimuat setelah menunggu dua tahun antrean.

-          Cerpen anak “Menjaga Kejujuran”, dikirim via pos ke harian Kedaulatan Rakyat sekitar bulan Oktober 2017 (saya lupa mencatat karena dikirim via pos), dimuat tanggal 12 Desember 2017. Proses sekitar dua bulan. Untuk naskah cerpen di harian lokal memang relatif cepat penanyangannya kalau memang naskahnya layak.




Foto dari koleksi pribadi

 
 Dari penjelasan di atas rekor bersabar terlama diraih oleh naskah buku (antologi kumcer). Dengar-dengar, memang untuk naskah buku diperlukan kesabaran yang lebih tingkat dewa. Terlebih bila naskah kita diacc, ada tahap revisi yang harus benar-benar kita lakoni dengan fokus dan sabar agar naskah kita cepat selesai. Untuk naskah buku solo, saya memang belum pernah Acc (menghela napas panjang), jadi belum tahu harus sesabar apa. Semoga sebentar lagi saya dapat ujian kesabaran ngerevisi naskah buku yang diacc penerbit, Aamiin (ngarep).

Selama ini saya menulis untuk media sekadar hobi atau second job, karena itu memang hasil ‘hobi’ saya ini tidak banyak dari sisi kepuasan materi. Namun dari sisi kepuasan batin, cukup menyenangkan. Kalau ada yang kepo bertanya berapa rupiah saya hasilkan dari lima naskah di atas? Totalnya kurang dari satu juta rupiah. Satu juta untuk satu tahun tentu jumlah yang tidak banyak. Jadi jika kita memutuskan untuk menjadikan penulis sebagai profesi, kita harus lebih tekun dan lebih sabar dalam bekerja, ditambah satu jurus lagi yaitu KREATIF. Menjadikan penulis sebagai profesi , kita tidak lagi bisa tekun menulis hanya satu paragraph per hari, namun harus tekun bekerja minimal delapan jam per hari untuk menulis. KREATIF dalam arti pandai mencari peluang. Tidak hanya menulis untuk media, tapi melebarkan sayap untuk menulis buku, menulis di blog, menulis naskah sinetron/film, ataupun di media lain yang menghasilkan lebih banyak uang. 

Nah, tujuan kita menulis, hanya kita sendiri yang tahu. Apakah hanya untuk bersenang-senang, sebagai second job seperti saya untuk mendapatkan sedikit tambahan penghasilan, atau full menulis sebagai profesi. Apapun pilihannya, kita tetap harus TEKUN dan SABAR.

Minggu, 07 Januari 2018

[Resensi]: Kasih Ibu Sepanjang Masa




Judul               : Ya Allah Aku Rindu Ibu
Penulis             : Irfa Hudaya
Penerbit           : Kana Books
Tahun terbit     : Cetakan I, 2016
Tebal               : 252 halaman
Harga              : Rp50.000,00
ISBN               : 978-602-60440-1-3

Kasih ibu sepanjang masa. Dulu saya memaknai kalimat tersebut biasa-biasa saja, hingga kemudian saya melahirkan empat anak berturut-turut. Barulah saya merasa kalimat itu sangat benar dan saya bersyukur karena melahirkan dan mengurus balita membuat saya semakin mencintai dan menghargai semua pengorbanan ibu merawat saya dan saudara2 saya saat masih kecil dulu. Kemudian saya membaca buku berjudul “Ya Allah Aku Rindu Ibu” ini. Sebuah kisah yang menceritakan sosok seorang ibu, lengkap dengan ketidaksempurnaannya sebagai manusia biasa. Saya tenggelam dalam tangis dan rasa syukur. Tangis karena ikut terharu dengan kisah dalam buku, dan bersyukur saya masih diberi kesempatan untuk melepaskan rindu pada ibu saya yang masih sehat hingga detik ini. Ya, buku ini diangkat dari kisah nyata penulisnya, Irfa Hudaya.
Sebuah memoar atau naskah kenangan tentang seseorang, memang pada umumnya membuat kita ikut larut terbawa perasaan, terutama jika orang yang dikisahkan itu seseorang yang sedemikian dekat. Mempunyai hubungan emosi yang erat. Demikian juga kisah Irfa dan ibunya, terlebih selama hidupnya, Irfa tak pernah jauh dari sang ibu. Ibunya menikmati hari tua dengan ditemani oleh Irfa dan keluarga kecilnya (suami dan dua anak).
Kekuatan dari buku ini, selain gaya bercerita penulisnya yang sanggup membuat pembaca terhanyut, adalah banyaknya pelajaran hidup yang dapat kita petik. Penulis menceritakan kisah hidupnya mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa, khususnya dalam hubungannya dengan ibu yang dalam buku ini disebut ibuk. Pada saat umur lima tahun, Irfa heran dan sedikit cemburu karena sebagian besar waktu ibuk habis untuk mengurusi neneknya, mbah uti (hal 7). Mbah uti ternyata memang sakit-sakitan dan ibuk adalah anak perempuan satu-satunya yang harus mengurus sang ibu. Kenangan masa kecil ini mengajarkan Irfa tentang berbakti pada orangtua. Saat pertama mendapat haid, kata-kata ibuklah yang membuat Irfa tak pernah sekalipun meninggalkan shalat dan puasa wajib (hal 28).
Pada masa SMP hubungan Irfa dan ibuk ibarat anjing dan kucing (hal 34), ada saja yang bikin dia sebal pada ibuk. Misalnya waktu Irfa sudah bersiap pergi pramuka, eh tiba-tiba ibuk melarangnya pergi dengan alasan harus momong adik! Kalau tetap memaksa pergi, Irfa harus bawa adiknya ke sekolah. Akhirnya Irfa terpaksa membawa adiknya latihan pramuka dan terpaksa  harus rela ditertawakan oleh teman-temannya. Setelah dewasa baru Irfa paham makna di balik itu semua. Mengapa ibuk selalu memaksanya membawa-bawa adik kemana-mana.Ternyata hal itulah yang membuat ikatan hatinya lebih dalam terhadap adiknya. Sebagai anak sulung, Irfa diharapkan selalu menjadi pengikat hati saudara-saudaranya jika kelak kedua orangtua telah tiada (hal 39).
Hubungan dengan ibuk menjadi lebih manis ketika Irfa beranjak dewasa dan kuliah jauh dari rumah. Ibuk berubah peran menjadi sahabat (halaman 54) tempat curhat, dan tempat menumpahkan airmata saat hubungan Irfa dengan seorang lelaki kandas di tengah jalan. Irfa dapat melewati masa patah hatinya dengan baik berkat dukungan dan kata-kata penyemangat dari ibuk.
Kehidupan Irfa berubah ketika sang bapak meninggal dunia. Ibuk harus bertahan hidup, mencukup-cukupkan penghasilan dari pensiunan janda yang hanya 30% dari gaji, untuk kebutuhan kuliah dua anak dan satu anak yang baru masuk SMA. Pemasukan lain adalah dari hasil panen sawah yang kadang tak seberapa. Ibuk terpaksa sering meminjam uang untuk mencukupi kebutuhan. Namun kondisi ini tak membuat ibuk menyerah. Ia tetap mendukung keinginan anak-anaknya untuk sekolah setinggi mungkin. Beruntung kemudian selepas kuliah, Irfa mendapatkan pekerjaan yang cukup baik sehingga ia dapat membantu ibuk membiayai kuliah adik-adiknya. Bakti pada keluarga, sudah dimulai Irfa pada usia yang relatif muda. Ikhlas, berkat tempaan dan contoh yang ia lihat pada ibunya.
Perjalanan hidup manusia adalah sebuah perjalanan yang diawali dengan lambat, kemudian cepat, dan melambat lagi dengan menuanya manusia. Demikian juga seorang ibu. Ibuk di hari tua, sangat menikmati hari-harinya dengan mengikuti berbagai kumpulan pengajian. Hubungannya dalam bersosial juga patut diacungi jempol. Bahkan dengan orang yang ‘sulit’ pun, ibuk pandai bergaul. Irfa yang sudah menikah dan punya dua anak, akhirnya memutuskan untuk senantiasa mendampingi sang ibuk, tetap tinggal di rumah masa kecilnya dan berhubungan jarak jauh dengan suami yang bekerja di Semarang. Irfa tak lagi berkarier di luar rumah. Ia memutuskan fokus merawat kedua anaknya serta ibunya dan bekerja dari rumah. Harus dirinya yang memegang tanggungjawab itu, memegang amanat dari almarhum bapaknya untuk menjaga ibu dan adik-adiknya. Walaupun kedua adiknya telah berkeluarga dan harus tinggal jauh dari rumah, Irfa tetap tinggal, memegang amanat kedua orangtuanya untuk menjadi perekat saudara-saudaranya
Bukan tak mudah merawat ibuk yang makin sepuh terutama saat beliau usai terkena serangan stroke pertama. Ibuk berubah menjadi agak mudah marah, contohnya saja saat harus mengatur pola makan. Ibuk memprotes Irfa yang hanya memberinya makanan rebusan. Beliau minta makan sayur lodeh. Saat Irfa menjelaskan bahwa santan harus dihindari (halaman 155), ibuk merajuk dan ngeyel. Saat ibuk sudah kembali sehat dan mulai beraktivitas ngaji lagi, Irfa memberi saran agar ibuk membatasi kegiatan supaya tidak mudah capek. Apa jawaban ibuk? Mau ikut pengajian cari ilmu kok, nggak boleh. Hahaha, begitulah Irfa menceritakan hubungannya yang unik dengan sang ibu. Kesabaran Irfa sebagai seorang anak dalam mengurus sang ibu di masa tua, patut dicontoh.
Setelah mengalami serangan stroke pertama dan sembuh (halaman 162), perjalanan religiusitas ibuk mencapai puncaknya. Hidup hanya untuk Allah. Ibuk mengikuti beberapa majelis taklim. Seminggu bisa tiga sampai empat kali ikut pengajian. Sholat tahajud dan dhuha tak pernah absen. Puasa senin kamis selalu dilakukan. Ibuk selalu tilawah setiap habis sholat wajib. Sholat jamaah ke masjid tiap subuh dan maghrib. Ibuk juga aktif di kegiatan sosial kemasyarakatan. PKK dusun, PKK desa, dan Aisyiyah. Pada masa-masa akhir hidupnya, Ibuk juga berpesan pada Irfa untuk berbuat baik pada orang yang telah menyakiti. Berpesan agar Irfa menghilangkan dendam di hati. Hidup hanya sekali, saling menyakiti hanya akan merugi. Ibuk, menunjukkan kasihnya, tak ingin sang putri memelihara dendam sepeninggal beliau nanti. Ingin sang putri hidup dengan sebaik-baiknya kehidupan.
Ingin rasanya saya menuangkan lebih banyak kalimat lagi pada resensi ini. Rasanya tak habis-habis ingin menceritakan buku yang ditulis mbak Irfa dengan sangat elok ini. Tapi alangkah lebih baiknya jika Anda membacanya sendiri. Akan lebih terasa feel-nya dan dijamin Anda akan seperti saya yang tersenyum, menangis, tercengang, tertawa geli, bahkan terbahak membaca buku ini. Mbak Irfa Hudaya berhasil meramu kisah kehidupannya bersama sang ibu dengan sangat manis, lucu, dan mengharukan. Siapapun yang punya ibu, harus membaca buku ini. Terakhir, saya menutup tulisan ini dengan bacaan Al fatihah untuk ibuk, yang telah menginspirasi saya dan mungkin banyak orang yang sudah membaca buku ini, agar menjadi orang yang lebih baik. Hidup hanya untuk Allah.
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES