Selasa, 06 Februari 2018
Selasa, 30 Januari 2018
Tentang Saya
Hai, nama saya Indah Novita Dewi dan saya adalah ibu dari tiga anak.
Saya tinggal di Makassar dan bekerja sebagai peneliti bidang sosial kehutanan di sebuah instansi litbang milik pemerintah.
Hobi saya menulis fiksi dan artikel tentang apa saja yang menarik minat saya.
Blog ini berisi beberapa hasil karya saya di bidang literasi baik yang sudah publish di media cetak/online, maupun yang memang saya tulis khusus untuk konsumsi pembaca blog ini saja.
Saya juga menerima pesanan tulisan baik fiksi maupun artikel.
Kontak saya di indardiasha@gmail.com.
*
Selamat membaca tulisan-tulisan di blog ini, semoga bermanfaat, jangan lupa untuk meninggalkan jejak bila berkenan. Terima kasih.
Selasa, 09 Januari 2018
Dua Jurus Jitu Menjadi Penulis
Foto dari https://typercat18.wordpress.com/2012/06/11/
Saya mempunyai banyak teman dunia
maya yang berprofesi sebagai penulis. Saya juga senang membaca banyak grup-grup
tentang kepenulisan. Kenapa? Ya karena saya suka menulis. Saya suka menulis dan
mengirimkannya ke media, lalu mendapatkan honor dari tulisan saya tersebut.
Saya kadang juga menulis bukan untuk dikirimkan ke media, namun sekadar opini,
curhat, atau cerita sehari-hari yang
saya tuangkan di blog.
Saya sering membaca
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada beberapa teman penulis dan juga
pertanyaan di grup-grup kepenulisan, tentang keingintahuan bagaimana memulai
menjadi seorang penulis.
“Bagaimana sih, caranya menjadi penulis?”
“Saya punya banyak ide cerita tapi saya tidak dapat
menuangkan menjadi tulisan yang bagus. Bagaimana ya, sebaiknya?”
“Saya ingin jadi penulis tapi bagaimana cara mendapatkan
ide?”
Dan … masih banyak lagi
pertanyaan lain yang diajukan.
Saya bukan penulis profesional.
Posisi saya adalah penulis yang masih harus selalu belajar setiap saat untuk memperbaiki
kualitas tulisan saya. Namun setelah saya telusuri berbagai tulisan teman-teman
dan jawaban pada pertanyaan-pertanyaan di atas, maka saya berani menyimpulkan
bahwa untuk menjadi penulis hanya butuh DUA jurus jitu, yaitu:
TEKUN dan SABAR
1. Tekun
(Tekun menulis dan tekun membaca)
Foto dari http://www.teknikhidup.com/quotes/gambar-kata-motivasi-semangat-kerj
Banyak penulis
menyarankan pada penulis newbie untuk menulis secara teratur. Tiap hari harus
selalu ada yang ditulis. Tidak usah terlalu banyak kalau memang tidak bisa.
Dengan menulis satu paragraph setiap hari misalnya, maka dalam seminggu kita
bisa mendapatkan satu halaman tulisan. Menulis teratur banyak manfaatnya, yaitu
lambat laun otak kita akan luwes dalam mengolah kata. Dengan melatih setiap
hari, kualitas dan kuantitas yang kita peroleh akan bertambah.
Salah satu penulis
terkenal yang sangat tekun adalah Raditya Dika. Dika menulis buku-bukunya di
sela jadwal kerjanya yang padat. Ada satu bukunya yang rampung dalam tiga
tahun, hasil menulis rutin satu paragraph per hari.
Tentu saja
sebelum bertekun ria, harus ditetapkan dulu naskah apa yang hendak ditulis,
sesuai minat masing-masing. Ide dan diksi dapat diperoleh dengan tekun membaca
naskah-naskah sejenis. Jika ingin menulis cerpen anak, maka tekunlah membaca
puluhan bahkan ratusan cerpen anak sebagai referensi,; jika ingin menulis novel
romantis, tekunlah membaca puluhan novel bergenre sama. Nanti pasti akan
didapatkan kuncinya, setelah itu kita dapat menulis dengan lebih lancar karena
paham, naskah yang akan kita tulis itu seperti apa.
2. Sabar
Foto dari http://jmmi.its.ac.id/2015/10/sabar-sudahkan-dihati-kita/
Penulis tidak
hanya harus tekun dalam menjalani proses belajar menulis. Ia juga harus sabar,
terutama penulis yang ingin menerbitkan karyanya untuk tujuan komersial.
Menerbitkan naskah di media cetak atau digital ataupun naskah buku ke penerbit.
Pada saat kita merasa senang sudah berhasil menulis naskah pendek (opini,
cerpen, dll), atau panjang (novel, buku non fiksi), akan ada perjuangan panjang
melalui alur kesabaran, yaitu saat kita mengirimkan naskah ke media/penerbit
dan mengharap konfirmasi Acc.
Sebagai contoh
saya share saja perjalanan kelima naskah saya yang tayang di 2017 kemarin, ya.
-
Cerpen anak “Kampung Baru Lina”, naskah cerpen
dalam kumcer PBA (Penulis Bacaan Anak) saya tulis dan kirim 12 September 2014
sebagai naskah audisi kumcer. Setelah naskah itu pasti lolos untuk dibukukan,
bukunya baru selesai tahun 2017. Nyaris tiga tahun prosesnya.
-
Cerpen remaja “Janji Eka”, dikirim 4 Februari
2017 ke majalah Gogirl dan dimuat di edisi 16 April 2017. Prosesnya dua bulan
lebih. Ini termasuk cepat.
-
Opini “Transportasi Online” dikirim ke harian
Bernas 15 Maret 2017, dimuat 16 Maret 2017. Naskah opini di surat kabar
termasuk jenis naskah yang cepat tayang, jika memang layak tayang, dan sesuai
momen. Saya mengirimkan naskah ini saat rame-ramenya demo terhadap transportasi
online. Apabila selama satu minggu naskah tidak ada kabar, bisa dipastikan
naskah kita tidak layak terbit. Durasi menunggu satu minggu ini, hanya untuk
naskah koran, ya.
-
Cerpen anak “Kotak Bekal Misterius”, dikirim ke
majalah Bobo 1 Agustus 2016, dimuat edisi 13 Juli 2017. Prosesnya nyaris satu
tahun. Untuk Bobo ini relatif “cepat” karena ada cerpen yang dimuat setelah
menunggu dua tahun antrean.
-
Cerpen anak “Menjaga Kejujuran”, dikirim via pos
ke harian Kedaulatan Rakyat sekitar bulan Oktober 2017 (saya lupa mencatat
karena dikirim via pos), dimuat tanggal 12 Desember 2017. Proses sekitar dua
bulan. Untuk naskah cerpen di harian lokal memang relatif cepat penanyangannya
kalau memang naskahnya layak.
Foto dari koleksi pribadi
Dari penjelasan di atas rekor bersabar terlama diraih oleh
naskah buku (antologi kumcer). Dengar-dengar, memang untuk naskah buku
diperlukan kesabaran yang lebih tingkat dewa. Terlebih bila naskah kita diacc,
ada tahap revisi yang harus benar-benar kita lakoni dengan fokus dan sabar agar
naskah kita cepat selesai. Untuk naskah buku solo, saya memang belum pernah Acc
(menghela napas panjang), jadi belum tahu harus sesabar apa. Semoga sebentar
lagi saya dapat ujian kesabaran ngerevisi naskah buku yang diacc penerbit,
Aamiin (ngarep).
Selama ini saya menulis untuk
media sekadar hobi atau second job, karena itu memang hasil ‘hobi’ saya ini
tidak banyak dari sisi kepuasan materi. Namun dari sisi kepuasan batin, cukup
menyenangkan. Kalau ada yang kepo bertanya berapa rupiah saya hasilkan dari
lima naskah di atas? Totalnya kurang dari satu juta rupiah. Satu juta untuk
satu tahun tentu jumlah yang tidak banyak. Jadi jika kita memutuskan untuk
menjadikan penulis sebagai profesi, kita harus lebih tekun dan lebih sabar
dalam bekerja, ditambah satu jurus lagi yaitu KREATIF. Menjadikan penulis
sebagai profesi , kita tidak lagi bisa tekun menulis hanya satu paragraph per
hari, namun harus tekun bekerja minimal delapan jam per hari untuk menulis.
KREATIF dalam arti pandai mencari peluang. Tidak hanya menulis untuk media,
tapi melebarkan sayap untuk menulis buku, menulis di blog, menulis naskah
sinetron/film, ataupun di media lain yang menghasilkan lebih banyak uang.
Nah, tujuan kita menulis, hanya
kita sendiri yang tahu. Apakah hanya untuk bersenang-senang, sebagai second job
seperti saya untuk mendapatkan sedikit tambahan penghasilan, atau full menulis
sebagai profesi. Apapun pilihannya, kita tetap harus TEKUN dan SABAR.
Minggu, 07 Januari 2018
[Resensi]: Kasih Ibu Sepanjang Masa
Judul :
Ya Allah Aku Rindu Ibu
Penulis :
Irfa Hudaya
Penerbit :
Kana Books
Tahun terbit :
Cetakan I, 2016
Tebal :
252 halaman
Harga :
Rp50.000,00
ISBN :
978-602-60440-1-3
Kasih ibu sepanjang
masa. Dulu saya memaknai kalimat tersebut biasa-biasa saja, hingga kemudian
saya melahirkan empat anak berturut-turut. Barulah saya merasa kalimat itu sangat
benar dan saya bersyukur karena melahirkan dan mengurus balita membuat saya
semakin mencintai dan menghargai semua pengorbanan ibu merawat saya dan
saudara2 saya saat masih kecil dulu. Kemudian saya membaca buku berjudul “Ya
Allah Aku Rindu Ibu” ini. Sebuah kisah yang menceritakan sosok seorang ibu,
lengkap dengan ketidaksempurnaannya sebagai manusia biasa. Saya tenggelam dalam
tangis dan rasa syukur. Tangis karena ikut terharu dengan kisah dalam buku, dan
bersyukur saya masih diberi kesempatan untuk melepaskan rindu pada ibu saya
yang masih sehat hingga detik ini. Ya, buku ini diangkat dari kisah nyata
penulisnya, Irfa Hudaya.
Sebuah memoar atau
naskah kenangan tentang seseorang, memang pada umumnya membuat kita ikut larut
terbawa perasaan, terutama jika orang yang dikisahkan itu seseorang yang
sedemikian dekat. Mempunyai hubungan emosi yang erat. Demikian juga kisah Irfa
dan ibunya, terlebih selama hidupnya, Irfa tak pernah jauh dari sang ibu. Ibunya
menikmati hari tua dengan ditemani oleh Irfa dan keluarga kecilnya (suami dan
dua anak).
Kekuatan dari buku ini,
selain gaya bercerita penulisnya yang sanggup membuat pembaca terhanyut, adalah
banyaknya pelajaran hidup yang dapat kita petik. Penulis menceritakan kisah
hidupnya mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa, khususnya dalam hubungannya
dengan ibu yang dalam buku ini disebut ibuk.
Pada saat umur lima tahun, Irfa heran dan sedikit cemburu karena sebagian besar
waktu ibuk habis untuk mengurusi
neneknya, mbah uti (hal 7). Mbah uti ternyata memang sakit-sakitan dan ibuk adalah anak perempuan satu-satunya
yang harus mengurus sang ibu. Kenangan masa kecil ini mengajarkan Irfa tentang
berbakti pada orangtua. Saat pertama mendapat haid, kata-kata ibuklah yang membuat Irfa tak pernah
sekalipun meninggalkan shalat dan puasa wajib (hal 28).
Pada masa SMP hubungan
Irfa dan ibuk ibarat anjing dan
kucing (hal 34), ada saja yang bikin dia sebal pada ibuk. Misalnya waktu Irfa sudah bersiap pergi pramuka, eh tiba-tiba
ibuk melarangnya pergi dengan alasan
harus momong adik! Kalau tetap memaksa pergi, Irfa harus bawa adiknya ke
sekolah. Akhirnya Irfa terpaksa membawa adiknya latihan pramuka dan
terpaksa harus rela ditertawakan oleh
teman-temannya. Setelah dewasa baru Irfa paham makna di balik itu semua.
Mengapa ibuk selalu memaksanya membawa-bawa adik kemana-mana.Ternyata hal
itulah yang membuat ikatan hatinya lebih dalam terhadap adiknya. Sebagai anak
sulung, Irfa diharapkan selalu menjadi pengikat hati saudara-saudaranya jika
kelak kedua orangtua telah tiada (hal 39).
Hubungan dengan ibuk menjadi lebih manis ketika Irfa
beranjak dewasa dan kuliah jauh dari rumah. Ibuk
berubah peran menjadi sahabat (halaman 54) tempat curhat, dan tempat
menumpahkan airmata saat hubungan Irfa dengan seorang lelaki kandas di tengah
jalan. Irfa dapat melewati masa patah hatinya dengan baik berkat dukungan dan
kata-kata penyemangat dari ibuk.
Kehidupan Irfa berubah ketika
sang bapak meninggal dunia. Ibuk harus
bertahan hidup, mencukup-cukupkan penghasilan dari pensiunan janda yang hanya
30% dari gaji, untuk kebutuhan kuliah dua anak dan satu anak yang baru masuk
SMA. Pemasukan lain adalah dari hasil panen sawah yang kadang tak seberapa. Ibuk terpaksa sering meminjam uang untuk
mencukupi kebutuhan. Namun kondisi ini tak membuat ibuk menyerah. Ia tetap mendukung keinginan anak-anaknya untuk
sekolah setinggi mungkin. Beruntung kemudian selepas kuliah, Irfa mendapatkan
pekerjaan yang cukup baik sehingga ia dapat membantu ibuk membiayai kuliah adik-adiknya. Bakti pada keluarga, sudah
dimulai Irfa pada usia yang relatif muda. Ikhlas, berkat tempaan dan contoh
yang ia lihat pada ibunya.
Perjalanan hidup
manusia adalah sebuah perjalanan yang diawali dengan lambat, kemudian cepat,
dan melambat lagi dengan menuanya manusia. Demikian juga seorang ibu. Ibuk di hari tua, sangat menikmati
hari-harinya dengan mengikuti berbagai kumpulan pengajian. Hubungannya dalam
bersosial juga patut diacungi jempol. Bahkan dengan orang yang ‘sulit’ pun, ibuk pandai bergaul. Irfa yang sudah
menikah dan punya dua anak, akhirnya memutuskan untuk senantiasa mendampingi
sang ibuk, tetap tinggal di rumah
masa kecilnya dan berhubungan jarak jauh dengan suami yang bekerja di Semarang.
Irfa tak lagi berkarier di luar rumah. Ia memutuskan fokus merawat kedua
anaknya serta ibunya dan bekerja dari rumah. Harus dirinya yang memegang
tanggungjawab itu, memegang amanat dari almarhum bapaknya untuk menjaga ibu dan
adik-adiknya. Walaupun kedua adiknya telah berkeluarga dan harus tinggal jauh
dari rumah, Irfa tetap tinggal, memegang amanat kedua orangtuanya untuk menjadi
perekat saudara-saudaranya
Bukan tak mudah merawat
ibuk yang makin sepuh terutama saat beliau usai terkena serangan stroke pertama. Ibuk berubah menjadi agak mudah marah,
contohnya saja saat harus mengatur pola makan. Ibuk memprotes Irfa yang hanya memberinya makanan rebusan. Beliau
minta makan sayur lodeh. Saat Irfa menjelaskan bahwa santan harus dihindari
(halaman 155), ibuk merajuk dan
ngeyel. Saat ibuk sudah kembali sehat
dan mulai beraktivitas ngaji lagi, Irfa memberi saran agar ibuk membatasi kegiatan supaya tidak mudah capek. Apa jawaban ibuk? Mau ikut pengajian cari ilmu kok,
nggak boleh. Hahaha, begitulah Irfa menceritakan hubungannya yang unik dengan
sang ibu. Kesabaran Irfa sebagai seorang anak dalam mengurus sang ibu di masa
tua, patut dicontoh.
Setelah mengalami
serangan stroke pertama dan sembuh (halaman 162), perjalanan religiusitas ibuk mencapai puncaknya. Hidup hanya
untuk Allah. Ibuk mengikuti beberapa
majelis taklim. Seminggu bisa tiga sampai empat kali ikut pengajian. Sholat
tahajud dan dhuha tak pernah absen. Puasa senin kamis selalu dilakukan. Ibuk selalu tilawah setiap habis sholat wajib.
Sholat jamaah ke masjid tiap subuh dan maghrib. Ibuk juga aktif di kegiatan sosial kemasyarakatan. PKK dusun, PKK
desa, dan Aisyiyah. Pada masa-masa akhir hidupnya, Ibuk juga berpesan pada Irfa untuk berbuat baik pada orang yang
telah menyakiti. Berpesan agar Irfa menghilangkan dendam di hati. Hidup hanya
sekali, saling menyakiti hanya akan merugi. Ibuk, menunjukkan kasihnya, tak
ingin sang putri memelihara dendam sepeninggal beliau nanti. Ingin sang putri
hidup dengan sebaik-baiknya kehidupan.
Ingin rasanya saya
menuangkan lebih banyak kalimat lagi pada resensi ini. Rasanya tak habis-habis
ingin menceritakan buku yang ditulis mbak Irfa dengan sangat elok ini. Tapi
alangkah lebih baiknya jika Anda membacanya sendiri. Akan lebih terasa feel-nya
dan dijamin Anda akan seperti saya yang tersenyum, menangis, tercengang,
tertawa geli, bahkan terbahak membaca buku ini. Mbak Irfa Hudaya berhasil
meramu kisah kehidupannya bersama sang ibu dengan sangat manis, lucu, dan
mengharukan. Siapapun yang punya ibu, harus membaca buku ini. Terakhir, saya
menutup tulisan ini dengan bacaan Al fatihah untuk ibuk, yang telah menginspirasi saya dan mungkin banyak orang yang
sudah membaca buku ini, agar menjadi orang yang lebih baik. Hidup hanya untuk
Allah.
Senin, 01 Januari 2018
Resolusi 2018
Waktu berlalu demikian cepat. Tahu-tahu sudah 2018 saja, tempe-tempe...? Hehehe. Usia dan pengalaman hidup membuat saya memahami bahwa sebuah resolusi itu tidak usah terlalu muluk-muluk. Pengalaman membuktikan semakin muluk, semakin tak bisa dikejar, hiks.
Tapi tak ada salahnya menulis sebuah resolusi. Ok, here they are...
1. Semakin produktif baik nulis sebagai hobi, maupun nulis paper ilmiah/semi ilmiah sebagai tugas utama di kantor. Sebagai patokan, pada gambar di bawah ini hasil nulis sebagai hobi di tahun 2017, nah tahun 2018 minimal sama deh hasilnya, maksimal lebih banyak, aamiin. Kalau kerjaan kantor, ada 4 karya tulis ilmiah tahun 2017, minimal sama juga deh.
2. Ngelarin naskah buku.
Dengan sangat menyesal saya ngaku tahun 2017 nggak tamat ngelarin naskah teenlit buat lomba. Naskah itu rencananya mau dikelarin 2018 dan entar dikirim ke penerbit. Semoga bisa, aamiin.
3. Semakin kenceng ibadahnya
Usia ni ya, makin tua. Sudah nyadar senyadar-nyadarnya suatu saat bisa dipanggil kapan aja. Jadi saya mau kencengin ibadah. Nggak usah detail, yang penting sholat ditambah, ngaji ditambah, trus sedekah juga. Semoga selalu diberi kelonggaran waktu, rezeki, dan niat kuat untuk melaksanakan semua itu, aamiin.
4. Diet
Dalam artian mengatur pola makan nggak sembarangan kayak dulu lagi, dan lebih memperhatikan asupan air putih dan buah-buahan.
5. Happy family
Berusaha sesantai mungkin untuk menjadi ibu yang serius menjalankan perannya. Wah, piye kuwi? Gimana itu? Ya, saya ingin dikenang anak-anak sebagai ibu yang asyik. Nggak suka marah-marah dan anak-anak tetap tumbuh sehat, pintar, dan sholeh/sholehah, aamiin.
6. Ngelunasin utang
Hari gene masih ngutang? Dengan berat hati saya mengangguk, hiyaaa. Semoga kerja keras di 2018 dapat menghasilkan pundi-pundi pelunas hutang, aamiin.
Baiklah, mungkin cukup itu resolusi saya. Bagaimanapun, sejatinya resolusi adalah doa. Semakin diingat, ditulis, atau diucapkan, insyaAllah yang maha pemberi anugerah akan mengijabah, aamiin.
Today is the first, and don't worry to take your step ... day by day until end.
Selamat menjalani 2018 dengan baik.
Tapi tak ada salahnya menulis sebuah resolusi. Ok, here they are...
1. Semakin produktif baik nulis sebagai hobi, maupun nulis paper ilmiah/semi ilmiah sebagai tugas utama di kantor. Sebagai patokan, pada gambar di bawah ini hasil nulis sebagai hobi di tahun 2017, nah tahun 2018 minimal sama deh hasilnya, maksimal lebih banyak, aamiin. Kalau kerjaan kantor, ada 4 karya tulis ilmiah tahun 2017, minimal sama juga deh.
2. Ngelarin naskah buku.
Dengan sangat menyesal saya ngaku tahun 2017 nggak tamat ngelarin naskah teenlit buat lomba. Naskah itu rencananya mau dikelarin 2018 dan entar dikirim ke penerbit. Semoga bisa, aamiin.
3. Semakin kenceng ibadahnya
Usia ni ya, makin tua. Sudah nyadar senyadar-nyadarnya suatu saat bisa dipanggil kapan aja. Jadi saya mau kencengin ibadah. Nggak usah detail, yang penting sholat ditambah, ngaji ditambah, trus sedekah juga. Semoga selalu diberi kelonggaran waktu, rezeki, dan niat kuat untuk melaksanakan semua itu, aamiin.
4. Diet
Dalam artian mengatur pola makan nggak sembarangan kayak dulu lagi, dan lebih memperhatikan asupan air putih dan buah-buahan.
5. Happy family
Berusaha sesantai mungkin untuk menjadi ibu yang serius menjalankan perannya. Wah, piye kuwi? Gimana itu? Ya, saya ingin dikenang anak-anak sebagai ibu yang asyik. Nggak suka marah-marah dan anak-anak tetap tumbuh sehat, pintar, dan sholeh/sholehah, aamiin.
6. Ngelunasin utang
Hari gene masih ngutang? Dengan berat hati saya mengangguk, hiyaaa. Semoga kerja keras di 2018 dapat menghasilkan pundi-pundi pelunas hutang, aamiin.
Baiklah, mungkin cukup itu resolusi saya. Bagaimanapun, sejatinya resolusi adalah doa. Semakin diingat, ditulis, atau diucapkan, insyaAllah yang maha pemberi anugerah akan mengijabah, aamiin.
Today is the first, and don't worry to take your step ... day by day until end.
Selamat menjalani 2018 dengan baik.
Selasa, 26 Desember 2017
Cerpen di Kedaulatan Rakyat: Menjaga Kejujuran
Membuat cerita anak itu menyenangkan. Kita harus berusaha agar kalimatnya sederhana, masalahnya sederhana, dan dipecahkan oleh si tokoh (anak) dalam cerita. Ending cerita harus memuat pesan moral yang baik. Pesan moral dalam cerita ini adalah: menjaga agar tetap jujur itu penting, karena walaupun tidak ada yang tahu saat kita melakukan kecurangan, Tuhan selalu melihat apa yang kita lakukan.
Ini cerpen anak pertama saya yang dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, sebuah surat kabar di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ini cerpen anak pertama saya yang dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, sebuah surat kabar di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Menjaga
Kejujuran
Oleh:
Indah Novita Dewi
Putri
anak asli Lembar Selatan, Pulau Lombok. Ibunya punya sebuah warung kecil di
lokasi ekowisata mangrove. Putri sering membantu di warung jika sedang libur.
“Besok
bantu Mamak di warung, ya?” pinta sang ibu ketika Putri hendak tidur. Mamak
Putri menjelaskan bahwa hari Minggu akan ramai karena organisasi asing yang
dulu ikut membantu mendirikan kawasan ekowisata, akan datang berkunjung
melakukan penilaian.
Putri
mengiyakan permintaan Mamak, lalu pamit tidur. Sambil menarik selimut, ia teringat
ucapan Ika di sekolah.
“Sepatunya
tinggal satu, Put. Warna kesukaanmu. Kalau tidak segera kamu beli, aku jual ke
teman lain.”
Ika,
teman sekelas Putri, membantu ibunya berjualan online. Jualannya kali ini
sepatu. Modelnya bagus. Putri ingin
sepatu itu, dan sudah memesan sepasang dengan warna maroon. Masalahnya, uang
Putri masih kurang.
“Uangku
masih kurang seratus ribu,” jelas Putri.
“Pinjam
ibumu saja.”
“Nggak
akan dikasih. Bulan lalu aku sudah dibelikan sepatu.”
“Gimana
kalau pinjam diam-diam dari laci warung? Nanti bisa kamu lunasi,” usul Ika.
Usul
Ika itulah yang terngiang-ngiang di telinga Putri menjelang tidurnya malam ini.
*
Udara
pantai dan bau laut menyambut Putri ketika pagi itu ia ikut ibunya ke kawasan
ekowisata. Rimbun dedaunan mangrove tampak berayun di kejauhan. Putri membantu
ibunya membersihkan warung. Ibu menyapu lantai, Putri mengelap toples-toples
kue.
Pukul
sembilan, mulai banyak pembeli di warung. Tak lama, datang bu Yayan, wakil dari
dinas pariwisata yang biasa melakukan penyuluhan pada pedagang-pedagang kecil
seperti Mamak Putri.
Setelah
berbincang sebentar, bu Yayan mengajak Mamak Putri pergi ke pendapa untuk
mendengarkan penyuluhan.
“Putri,
jaga warung, ya? Mamak mau ikut bu Yayan ke pendapa.”
Putri
akhirnya sendirian. Godaan untuk mengambil selembar uang, muncul. Lagipula
bukankah nanti ia akan mengembalikan uang itu dengan cara menyicil? Mamak tidak
perlu tahu dan tidak akan tahu.
“Putri!”
teriakan Sahira mengagetkan Putri. Sahira adalah anak pemilik warung sebelah.
Sahira mendekat mengulurkan sebuah
dompet.
“Ini
ada dompet ketinggalan di bangku. Punya siapa, Put?”
Putri
gemetaran menerima dompet dan membukanya. Ada foto bu Yayan di dalam dompet.
Dan uang berjajar rapi.
“Dompetnya
bu Yayan,” bisik Sahira. “Wah, uangnya banyak. Ambil selembar, nggak bakal
ketahuan.”
Kata-kata
Sahira membuat Putri tersadar.
“Jangan,
Hira. Itu namanya mencuri. Mungkin nggak ada orang tahu, tapi Tuhan maha tahu.”
tutur Putri.
Sahira
nyengir, “Iya, aku bercanda, Put. Cepat kembalikan. Mungkin bu Yayan bingung
mencari dompetnya.”
“Tolong
jagakan warung sebentar, ya, Hira.”
Putri
pergi membawa dompet bu Yayan. Dalam hati Putri berjanji untuk mengembalikan
uang Mamak yang sudah ia kantongi, sesegera mungkin ke dalam laci. Putri tak
ingin membeli sepatu dengan uang tak halal.
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES








