Minggu, 07 Januari 2018

[Resensi]: Kasih Ibu Sepanjang Masa




Judul               : Ya Allah Aku Rindu Ibu
Penulis             : Irfa Hudaya
Penerbit           : Kana Books
Tahun terbit     : Cetakan I, 2016
Tebal               : 252 halaman
Harga              : Rp50.000,00
ISBN               : 978-602-60440-1-3

Kasih ibu sepanjang masa. Dulu saya memaknai kalimat tersebut biasa-biasa saja, hingga kemudian saya melahirkan empat anak berturut-turut. Barulah saya merasa kalimat itu sangat benar dan saya bersyukur karena melahirkan dan mengurus balita membuat saya semakin mencintai dan menghargai semua pengorbanan ibu merawat saya dan saudara2 saya saat masih kecil dulu. Kemudian saya membaca buku berjudul “Ya Allah Aku Rindu Ibu” ini. Sebuah kisah yang menceritakan sosok seorang ibu, lengkap dengan ketidaksempurnaannya sebagai manusia biasa. Saya tenggelam dalam tangis dan rasa syukur. Tangis karena ikut terharu dengan kisah dalam buku, dan bersyukur saya masih diberi kesempatan untuk melepaskan rindu pada ibu saya yang masih sehat hingga detik ini. Ya, buku ini diangkat dari kisah nyata penulisnya, Irfa Hudaya.
Sebuah memoar atau naskah kenangan tentang seseorang, memang pada umumnya membuat kita ikut larut terbawa perasaan, terutama jika orang yang dikisahkan itu seseorang yang sedemikian dekat. Mempunyai hubungan emosi yang erat. Demikian juga kisah Irfa dan ibunya, terlebih selama hidupnya, Irfa tak pernah jauh dari sang ibu. Ibunya menikmati hari tua dengan ditemani oleh Irfa dan keluarga kecilnya (suami dan dua anak).
Kekuatan dari buku ini, selain gaya bercerita penulisnya yang sanggup membuat pembaca terhanyut, adalah banyaknya pelajaran hidup yang dapat kita petik. Penulis menceritakan kisah hidupnya mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa, khususnya dalam hubungannya dengan ibu yang dalam buku ini disebut ibuk. Pada saat umur lima tahun, Irfa heran dan sedikit cemburu karena sebagian besar waktu ibuk habis untuk mengurusi neneknya, mbah uti (hal 7). Mbah uti ternyata memang sakit-sakitan dan ibuk adalah anak perempuan satu-satunya yang harus mengurus sang ibu. Kenangan masa kecil ini mengajarkan Irfa tentang berbakti pada orangtua. Saat pertama mendapat haid, kata-kata ibuklah yang membuat Irfa tak pernah sekalipun meninggalkan shalat dan puasa wajib (hal 28).
Pada masa SMP hubungan Irfa dan ibuk ibarat anjing dan kucing (hal 34), ada saja yang bikin dia sebal pada ibuk. Misalnya waktu Irfa sudah bersiap pergi pramuka, eh tiba-tiba ibuk melarangnya pergi dengan alasan harus momong adik! Kalau tetap memaksa pergi, Irfa harus bawa adiknya ke sekolah. Akhirnya Irfa terpaksa membawa adiknya latihan pramuka dan terpaksa  harus rela ditertawakan oleh teman-temannya. Setelah dewasa baru Irfa paham makna di balik itu semua. Mengapa ibuk selalu memaksanya membawa-bawa adik kemana-mana.Ternyata hal itulah yang membuat ikatan hatinya lebih dalam terhadap adiknya. Sebagai anak sulung, Irfa diharapkan selalu menjadi pengikat hati saudara-saudaranya jika kelak kedua orangtua telah tiada (hal 39).
Hubungan dengan ibuk menjadi lebih manis ketika Irfa beranjak dewasa dan kuliah jauh dari rumah. Ibuk berubah peran menjadi sahabat (halaman 54) tempat curhat, dan tempat menumpahkan airmata saat hubungan Irfa dengan seorang lelaki kandas di tengah jalan. Irfa dapat melewati masa patah hatinya dengan baik berkat dukungan dan kata-kata penyemangat dari ibuk.
Kehidupan Irfa berubah ketika sang bapak meninggal dunia. Ibuk harus bertahan hidup, mencukup-cukupkan penghasilan dari pensiunan janda yang hanya 30% dari gaji, untuk kebutuhan kuliah dua anak dan satu anak yang baru masuk SMA. Pemasukan lain adalah dari hasil panen sawah yang kadang tak seberapa. Ibuk terpaksa sering meminjam uang untuk mencukupi kebutuhan. Namun kondisi ini tak membuat ibuk menyerah. Ia tetap mendukung keinginan anak-anaknya untuk sekolah setinggi mungkin. Beruntung kemudian selepas kuliah, Irfa mendapatkan pekerjaan yang cukup baik sehingga ia dapat membantu ibuk membiayai kuliah adik-adiknya. Bakti pada keluarga, sudah dimulai Irfa pada usia yang relatif muda. Ikhlas, berkat tempaan dan contoh yang ia lihat pada ibunya.
Perjalanan hidup manusia adalah sebuah perjalanan yang diawali dengan lambat, kemudian cepat, dan melambat lagi dengan menuanya manusia. Demikian juga seorang ibu. Ibuk di hari tua, sangat menikmati hari-harinya dengan mengikuti berbagai kumpulan pengajian. Hubungannya dalam bersosial juga patut diacungi jempol. Bahkan dengan orang yang ‘sulit’ pun, ibuk pandai bergaul. Irfa yang sudah menikah dan punya dua anak, akhirnya memutuskan untuk senantiasa mendampingi sang ibuk, tetap tinggal di rumah masa kecilnya dan berhubungan jarak jauh dengan suami yang bekerja di Semarang. Irfa tak lagi berkarier di luar rumah. Ia memutuskan fokus merawat kedua anaknya serta ibunya dan bekerja dari rumah. Harus dirinya yang memegang tanggungjawab itu, memegang amanat dari almarhum bapaknya untuk menjaga ibu dan adik-adiknya. Walaupun kedua adiknya telah berkeluarga dan harus tinggal jauh dari rumah, Irfa tetap tinggal, memegang amanat kedua orangtuanya untuk menjadi perekat saudara-saudaranya
Bukan tak mudah merawat ibuk yang makin sepuh terutama saat beliau usai terkena serangan stroke pertama. Ibuk berubah menjadi agak mudah marah, contohnya saja saat harus mengatur pola makan. Ibuk memprotes Irfa yang hanya memberinya makanan rebusan. Beliau minta makan sayur lodeh. Saat Irfa menjelaskan bahwa santan harus dihindari (halaman 155), ibuk merajuk dan ngeyel. Saat ibuk sudah kembali sehat dan mulai beraktivitas ngaji lagi, Irfa memberi saran agar ibuk membatasi kegiatan supaya tidak mudah capek. Apa jawaban ibuk? Mau ikut pengajian cari ilmu kok, nggak boleh. Hahaha, begitulah Irfa menceritakan hubungannya yang unik dengan sang ibu. Kesabaran Irfa sebagai seorang anak dalam mengurus sang ibu di masa tua, patut dicontoh.
Setelah mengalami serangan stroke pertama dan sembuh (halaman 162), perjalanan religiusitas ibuk mencapai puncaknya. Hidup hanya untuk Allah. Ibuk mengikuti beberapa majelis taklim. Seminggu bisa tiga sampai empat kali ikut pengajian. Sholat tahajud dan dhuha tak pernah absen. Puasa senin kamis selalu dilakukan. Ibuk selalu tilawah setiap habis sholat wajib. Sholat jamaah ke masjid tiap subuh dan maghrib. Ibuk juga aktif di kegiatan sosial kemasyarakatan. PKK dusun, PKK desa, dan Aisyiyah. Pada masa-masa akhir hidupnya, Ibuk juga berpesan pada Irfa untuk berbuat baik pada orang yang telah menyakiti. Berpesan agar Irfa menghilangkan dendam di hati. Hidup hanya sekali, saling menyakiti hanya akan merugi. Ibuk, menunjukkan kasihnya, tak ingin sang putri memelihara dendam sepeninggal beliau nanti. Ingin sang putri hidup dengan sebaik-baiknya kehidupan.
Ingin rasanya saya menuangkan lebih banyak kalimat lagi pada resensi ini. Rasanya tak habis-habis ingin menceritakan buku yang ditulis mbak Irfa dengan sangat elok ini. Tapi alangkah lebih baiknya jika Anda membacanya sendiri. Akan lebih terasa feel-nya dan dijamin Anda akan seperti saya yang tersenyum, menangis, tercengang, tertawa geli, bahkan terbahak membaca buku ini. Mbak Irfa Hudaya berhasil meramu kisah kehidupannya bersama sang ibu dengan sangat manis, lucu, dan mengharukan. Siapapun yang punya ibu, harus membaca buku ini. Terakhir, saya menutup tulisan ini dengan bacaan Al fatihah untuk ibuk, yang telah menginspirasi saya dan mungkin banyak orang yang sudah membaca buku ini, agar menjadi orang yang lebih baik. Hidup hanya untuk Allah.

Senin, 01 Januari 2018

Resolusi 2018

Waktu berlalu demikian cepat. Tahu-tahu sudah 2018 saja, tempe-tempe...? Hehehe. Usia dan pengalaman hidup membuat saya memahami bahwa sebuah resolusi itu tidak usah terlalu muluk-muluk. Pengalaman membuktikan semakin muluk, semakin tak bisa dikejar, hiks.
Tapi tak ada salahnya menulis sebuah resolusi. Ok, here they are...

1. Semakin produktif baik nulis sebagai hobi, maupun nulis paper ilmiah/semi ilmiah sebagai tugas utama di kantor. Sebagai patokan, pada gambar di bawah ini hasil nulis sebagai hobi di tahun 2017, nah tahun 2018 minimal sama deh hasilnya, maksimal lebih banyak, aamiin. Kalau kerjaan kantor, ada 4 karya tulis ilmiah tahun 2017, minimal sama juga deh.

2. Ngelarin naskah buku.
    Dengan sangat menyesal saya ngaku tahun 2017 nggak tamat ngelarin naskah teenlit buat lomba. Naskah itu rencananya mau dikelarin 2018 dan entar dikirim ke penerbit. Semoga bisa, aamiin.

3. Semakin kenceng ibadahnya
    Usia ni ya, makin tua. Sudah nyadar senyadar-nyadarnya suatu saat bisa dipanggil kapan aja. Jadi saya mau kencengin ibadah. Nggak usah detail, yang penting sholat ditambah, ngaji ditambah, trus sedekah juga. Semoga selalu diberi kelonggaran waktu, rezeki, dan niat kuat untuk melaksanakan semua itu, aamiin.

4. Diet
    Dalam artian mengatur pola makan nggak sembarangan kayak dulu lagi, dan lebih memperhatikan asupan air putih dan buah-buahan.

5. Happy family
    Berusaha sesantai mungkin untuk menjadi ibu yang serius menjalankan perannya. Wah, piye kuwi? Gimana itu? Ya, saya ingin dikenang anak-anak sebagai ibu yang asyik. Nggak suka marah-marah dan  anak-anak tetap tumbuh sehat, pintar, dan sholeh/sholehah, aamiin.

6. Ngelunasin utang
    Hari gene masih ngutang? Dengan berat hati saya mengangguk, hiyaaa. Semoga kerja keras di 2018 dapat menghasilkan pundi-pundi pelunas hutang, aamiin.

Baiklah, mungkin cukup itu resolusi saya. Bagaimanapun, sejatinya resolusi adalah doa. Semakin diingat, ditulis, atau diucapkan, insyaAllah yang maha pemberi anugerah akan mengijabah, aamiin.

Today is the first, and don't worry to take your step ... day by day until end.
Selamat menjalani 2018 dengan baik.

Selasa, 26 Desember 2017

Cerpen di Kedaulatan Rakyat: Menjaga Kejujuran

Membuat cerita anak itu menyenangkan. Kita harus berusaha agar kalimatnya sederhana, masalahnya sederhana, dan dipecahkan oleh si tokoh (anak) dalam cerita. Ending cerita harus memuat pesan moral yang baik. Pesan moral dalam cerita ini adalah: menjaga agar tetap jujur itu penting, karena walaupun tidak ada yang tahu saat kita melakukan kecurangan, Tuhan selalu melihat apa yang kita lakukan.
Ini cerpen anak pertama saya yang dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, sebuah surat kabar di Daerah Istimewa Yogyakarta.







Menjaga Kejujuran
Oleh: Indah Novita Dewi

            Putri anak asli Lembar Selatan, Pulau Lombok. Ibunya punya sebuah warung kecil di lokasi ekowisata mangrove. Putri sering membantu di warung jika sedang libur.
            “Besok bantu Mamak di warung, ya?” pinta sang ibu ketika Putri hendak tidur. Mamak Putri menjelaskan bahwa hari Minggu akan ramai karena organisasi asing yang dulu ikut membantu mendirikan kawasan ekowisata, akan datang berkunjung melakukan penilaian.
            Putri mengiyakan permintaan Mamak, lalu pamit tidur. Sambil menarik selimut, ia teringat ucapan Ika di sekolah.
            “Sepatunya tinggal satu, Put. Warna kesukaanmu. Kalau tidak segera kamu beli, aku jual ke teman lain.”
            Ika, teman sekelas Putri, membantu ibunya berjualan online. Jualannya kali ini sepatu. Modelnya bagus. Putri  ingin sepatu itu, dan sudah memesan sepasang dengan warna maroon. Masalahnya, uang Putri masih kurang.
            “Uangku masih kurang seratus ribu,” jelas Putri.
            “Pinjam ibumu saja.”
            “Nggak akan dikasih. Bulan lalu aku sudah dibelikan sepatu.”
            “Gimana kalau pinjam diam-diam dari laci warung? Nanti bisa kamu lunasi,” usul Ika.
            Usul Ika itulah yang terngiang-ngiang di telinga Putri menjelang tidurnya malam ini.
*
            Udara pantai dan bau laut menyambut Putri ketika pagi itu ia ikut ibunya ke kawasan ekowisata. Rimbun dedaunan mangrove tampak berayun di kejauhan. Putri membantu ibunya membersihkan warung. Ibu menyapu lantai, Putri mengelap toples-toples kue.
            Pukul sembilan, mulai banyak pembeli di warung. Tak lama, datang bu Yayan, wakil dari dinas pariwisata yang biasa melakukan penyuluhan pada pedagang-pedagang kecil seperti Mamak Putri.
            Setelah berbincang sebentar, bu Yayan mengajak Mamak Putri pergi ke pendapa untuk mendengarkan penyuluhan.
            “Putri, jaga warung, ya? Mamak mau ikut bu Yayan ke pendapa.”
            Putri akhirnya sendirian. Godaan untuk mengambil selembar uang, muncul. Lagipula bukankah nanti ia akan mengembalikan uang itu dengan cara menyicil? Mamak tidak perlu tahu dan tidak akan tahu.
            “Putri!” teriakan Sahira mengagetkan Putri. Sahira adalah anak pemilik warung sebelah. Sahira mendekat  mengulurkan sebuah dompet.
            “Ini ada dompet ketinggalan di bangku. Punya siapa, Put?”
            Putri gemetaran menerima dompet dan membukanya. Ada foto bu Yayan di dalam dompet. Dan uang berjajar rapi.
            “Dompetnya bu Yayan,” bisik Sahira. “Wah, uangnya banyak. Ambil selembar, nggak bakal ketahuan.”
            Kata-kata Sahira membuat Putri tersadar.
            “Jangan, Hira. Itu namanya mencuri. Mungkin nggak ada orang tahu, tapi Tuhan maha tahu.” tutur Putri.
            Sahira nyengir, “Iya, aku bercanda, Put. Cepat kembalikan. Mungkin bu Yayan bingung mencari dompetnya.”
            “Tolong jagakan warung sebentar, ya, Hira.”
            Putri pergi membawa dompet bu Yayan. Dalam hati Putri berjanji untuk mengembalikan uang Mamak yang sudah ia kantongi, sesegera mungkin ke dalam laci. Putri tak ingin membeli sepatu dengan uang tak halal.

Senin, 25 Desember 2017

Opini Harian Bernas: Mengapa Transportasi Online?

Saya juga suka menulis non fiksi seperti tulisan-tulisan serius untuk kolom opini di surat kabar. Waktu itu rame-ramenya demo terhadap transportasi online dan sebagai pengguna saya merasa tergerak untuk ikut bersuara. Lebih mirip curhat, sih, tapi alhamdulillah dimuat juga di harian Bernas, Yogyakarta, bulan Maret 2017. Berikut naskah aslinya, ada perubahan judul dan sedikit isinya juga, namun tidak mengubah makna.









Time is Money, Mengapa Memilih Transportasi Online

Membaca wacana pelarangan transportasi berbasis online (Bernas, 13 Maret 2017), membuat saya tercenung. Masalah transportasi ini sudah sejak lama menjadi pemikiran saya, terutama setelah di beberapa daerah sempat terjadi demo transportasi konvensional terhadap keberadaan transportasi online seperti terjadi di kota Malang beberapa waktu lalu.
            Dua bulan lalu saya adalah pengguna setia transportasi konvensional. Mulai angkot Jogja-Kaliurang yang lewat per 20 menit sekali (jika lancar), angkot Purwobinangun-Ps. Kranggan yang hanya tinggal 9 armada (jika jalan semua), jalur bus konvensional terutama yang melalui kampus UGM (jalur 2, 4, 15), trans jogja, taksi dan ojek konvensional, semua pernah saya jajal. Kesan saya terhadap semua transportasi tersebut adalah: kondisi kendaraan kebanyakan sudah tidak laik jalan – sering mogok, kendaraan sering ngetem menunggu penumpang sehingga penumpang sering tidak tepat waktu sampai tujuan. Untuk trans jogja, nunggunya agak lama sehingga mungkin memang perlu penambahan armada, dan di beberapa bus ada kebocoran AC parah. Taksi dan ojek konvensional merupakan pilihan terakhir jika terburu-buru pergi ke suatu tempat. Hanya saja tarifnya terlalu mahal.
            Pada saat saya mulai menggunakan aplikasi transportasi online, semua masalah yang saya temui saat mengendarai transportasi konvensional, sirna. Kelebihan transportasi online antara lain: tersedia 24 jam, pesan bisa di mana pun dan kapan pun, dijemput langsung di posisi kita berada dan diantar sampai tujuan, driver ramah dan sopan, tarif sudah ditentukan oleh perusahaan dan tidak naik sesuka hati. Lagipula tarifnya sangat murah. Memang tarifnya tidak bisa mengalahkan tarif trans jogja, tapi bila dibandingkan dengan taksi dan ojek konvensional jelas sangat beda jauh. Bisa sampai setengah atau bahkan seperempatnya saja. Jelas, banyak kalangan lebih memilih transportasi online dibandingkan dengan transportasi konvensional, terutama kalangan mahasiswa dan pegawai yang penghasilannya pas-pasan.
            Pembenahan masalah transportasi di Jogjakarta, menurut pendapat saya haruslah memikirkan kebutuhan semua pihak. Tidak hanya kebutuhan driver (konvensional maupun online), tidak hanya kebutuhan pemerintah setempat untuk menegakkan aturan, namun juga kebutuhan penumpang. Menjamurnya jumlah driver transportasi online adalah bukti bahwa masyarakat sebagai pengguna, menyambut baik dan sangat terbantu dengan keberadaannya. Kalaupun memang pihak pemerintah dalam hal ini dinas perhubungan ingin melarang transportasi online, maka harus ada pembenahan pada transportasi konvensional. Cobalah disurvey terlebih dahulu kondisi transportasi konvensional dan lakukan perbandingan dengan transportasi online. Pejabat dinas perhubungan sebaiknya merasakan sendiri bagaimana bepergian dengan menggunakan transportasi konvensional maupun online sehingga dapat merasakan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Mengingat pengguna transportasi online sudah sangat banyak, maka apabila hendak dilakukan pelarangan sebaiknya dilakukan proses diskusi dengan melibatkan semua pihak, termasuk pengguna. Bagaimana sesungguhnya yang diinginkan oleh masyarakat pengguna sarana transportasi publik ini. Apabila tetap dilakukan pelarangan transportasi online tanpa alternatif kompromi, bisa jadi pengguna transportasi online tidak akan kembali menggunakan transportasi konvensional, melainkan memutuskan untuk membeli motor yang tentunya malah menambah kemacetan di Yogyakarta. Hal ini sangat mungkin terjadi, karena dari percakapan saya dengan driver ojek online yang kebetulan juga seorang marketing kendaraan roda dua, dengan uang muka Rp350.000,- orang sudah bisa membeli motor dengan cicilan Rp650.000,- per bulan selama tiga tahun. Jargon lama Time is Money masih terus berlaku, orang rela membayar demi jarak dan waktu tempuh yang lebih singkat.
            Maka, jangan hanya bisa melarang sesuatu yang kemudian akan menambah masalah yang lebih parah, misalnya kemacetan lalu lintas. Tapi mari mencari win win solution yang membuat semua pihak senang. Hadirnya transportasi online adalah bukti bahwa ada yang salah dengan transportasi konvensional di Yogyakarta. Jadi mari dibenahi bersama tanpa harus mematikan lahan pekerjaan orang yang baru mulai tumbuh dan berkembang. Benahi transportasi konvensional, lalu buat regulasi agar ada pembatasan-pembatasan untuk transportasi online. Misalnya untuk tujuan non urgent ada pembatasan jalur edar dan jadwal operasi (misalnya pada siang hari hanya beroperasi dari rumah pengguna ke halte trans terdekat; sore hingga pagi hari dapat beroperasi di seluruh kota). Banyak alternatif yang bisa disepakati, asal semua pihak diajak duduk bersama.

Cerpen Gogirl! Magazine: Janji Eka

Waktu itu 16 April 2017 kala cerpenku dimuat di majalah Gogirl! Ide cerpen ini adalah ketika aku ketemu lagi dengan teman-teman masa kecilku di grup wa SD. Masa yang telah lama berlalu, namun ada kenangan yang begitu lucu. Tapi yang kutulis dalam cerpen ini, sebagian besar adalah imajinasi, tentu saja, hehe. Berikut naskahnya:





Janji Eka
Oleh: Kalya Innovie
               
Aku mendengarkan celoteh Vita di dapur. Adikku itu sedang membicarakan tentang sinetron ABG bersama Mama. Intinya dia merasa pusing dengan sinetron yang ia tonton karena anak-anak SMP sudah berani pacaran. Aku tersenyum mencuri dengar dari kamar. Kamarku dan dapur hanya dibatasi dinding papan, jadi semua dialog Mama dan Vita terdengar dengan sangat jelas. Hampir tawaku meledak mendengar kegusaran Vita pada teman-temannya yang juga sudah mulai terpengaruh dengan sinetron itu. Vita memang anaknya agak kaku dan terlalu serius. Perasaan cinta itu sebenarnya tidak bisa direncanakan kapan datang dan hilang. Seperti aku, yang mulai merasakan sayang pada lawan jenis di usia yang sangat belia. Ingatanku melayang saat aku masih duduk di bangku kelas enam SD.
***
Cowok bertubuh kurus itu masih bersandar di tembok, di sampingku. Tangannya terlipat rapi, bibirnya cemberut. Aku duduk di bangku, di sebelahnya. Sedikit miring agar dapat melihat wajahnya yang kusut.
                “Jadi benar kamu mau pindah ke Malang, Lea?” tanyanya sekali lagi.
                Aku mengangguk untuk yang kesekian kalinya.
                “Kenapa sih, kamu nggak di sini saja?”
                Aku mengembuskan napas.
                “Kan sudah aku jelaskan. Papa dan Mamaku ingin aku menetap di satu kota. Nggak ikut mereka pindah-pindah lagi. Dan itu di Malang, di sana ada nenek.”
                “Kenapa kamu nggak di sini saja?” Eka masih ngotot dengan pertanyaannya.
                “Ekaa … kan sudah aku jelaskan, aku nggak punya saudara di sini.”
                “Kamu tinggal di rumahku saja,” sahut Eka.
                Aku melotot. Senyum usil muncul di bibir Eka.
                “Mimpi,” ucapku sambil memukul bahunya pelan.
                “Hehe, tapi kamu suka kan?” Eka cengengesan.
                “Eka … aku….”
                “Iya, Lea. Aku tahu. Kita masih terlalu kecil untuk pacaran. Gini aja, tulis alamatmu di Malang. Nanti kalau kita sudah SMA, aku akan mencarimu.”
                Aku mencari secarik kertas dalam tas dan mulai menulisinya dengan alamat nenek. Walau sebenarnya aku ragu dengan kata-kata Eka.
                Eka menerima alamatku sambil senyum-senyum.
                “Ingat, Lea. Kamu jaga diri di sana, ya. Gak usah pacaran. Nanti pacarannya sama aku aja, pas kita SMA. Tunggu aku, ya.”
                Eka menjabatku dan memberi cubitan kecil dalam telapak tanganku, lalu lari pulang sambil melambai-lambaikan tangan. Uh, aku belum sempat membalas cubitannya. Aku pun segera pulang, memegang janji Eka dalam hati.
***
                Kilasan kenangan bersama Eka itu selalu muncul dan muncul dalam benakku. Dan selama tiga tahun menjalani SMP di Malang, aku benar-benar setia pada Eka, cinta monyetku di SD itu. Ada beberapa teman yang minta aku jadi pacar, tapi di samping aku merasa aku masih kecil, setiap ada cowok pedekate, aku selalu merasa telapak tangan kananku panas. Cubitan Eka terasa seolah baru kemarin terjadi.
                Ada satu cowok yang dengan setia nembak aku. Namanya Joe. Ia baik. Tidak balik membenciku walau aku sudah menolaknya beberapa kali. Kami menjadi sahabat. Dan karena hubungan kami yang dekat, aku tak ragu bercerita tentang Eka.
                “Jadi selama ini kamu nungguin si Eka itu?” tanya Joe dengan nada cemburu. “Kok kamu lugu banget sih, Lea. Bisa jadi si Eka itu cuma omong kosong saja. Selama kita SMP, ada nggak dia kirim surat atau telepon?”
                “Nggak. Kan, masih SMP. Janjinya kan ketemuan pas SMA.”
                “Kamu yakin dia nggak lupa?”
                Aku menggeleng. Entahlah. Tiba-tiba keraguan memenuhi hatiku. Kupandangi Joe yang balik memandangku dengan tatapan sangsi. Sejak saat itu dengan sangat menjengkelkan ia menjulukiku si lugu.
**
                Joe sangat girang ketika kami masuk di SMA yang sama. Kami masih bersahabat, walau beberapa kali, Joe suka juga cari-cari kesempatan nembak aku. Kadang dia mencandai aku. Apa kabar Eka? Begitu tanya Joe sambil senyum-senyum mengejekku.
                Apa kabar Eka? Yah, terus terang, di dalam hatiku, wajah Eka pun sudah kabur. Cubitannya di telapak tanganku tak pernah terasa lagi, terkubur oleh senyuman Joe, candaan Joe dan kata-kata manis Joe.
                “Lagipula zaman internet gini kalian tuh gak berhubungan bahkan via sosmed? Aneh, deh. Trus, kalau semisal Eka itu sudah mati, kamu mau nunggu dia terus? Sudah. Terima saja Joe,” gerutu Ivon sahabatku ketika akhirnya aku bercerita tentang Eka padanya.
                Duh, Eka … kamu di mana?
                “Kamu tuh benar-benar lugu, Lea,” imbuh Ivon lagi. “Di saat kamu menggenggam janji setia Eka, cowok itu mungkin sudah pacaran dengan banyak gadis di belahan bumi sana.”
                Keraguan kembali menyelimuti hatiku.
                “Terima saja Joe. Dia sudah membuktikan kesetiaannya selama tiga tahun di SMP. Dan sekarang kita sudah SMA, sudah boleh pacaran, kan. Ingat, teman kita banyak yang cantik-cantik. Joe juga cowok yang menarik. Jangan sampai kamu nangis kalau Joe pacaran sama cewek lain,” pungkas Ivon, memandang tajam padaku.
***
                Mama dan Vita berhenti ngobrol ketika terdengar bunyi kendaraan di halaman rumah. Aku menengok jam dinding, masih satu jam lagi waktu janjianku dengan Joe. Kok, dia sudah datang, sih. Aku bangkit mengganti bajuku.
                “Kak, ada temanmu,” Vita datang melongok dari korden kamar.
                “Kak Joe, ya? Suruh tunggu dulu.”
                “Bukan Kak Joe. Aku nggak kenal. Katanya sih, teman lama kakak.”
                Aku mengernyitkan kening karena merasa tidak janjian dengan siapapun. Teman lama? Tiba-tiba hatiku resah tak jelas. Aku bersegera ke ruang tamu. Dua orang cowok duduk menunggu di sana. Salah satunya tersenyum manis menyambutku. Aku terdiam berdiri di tempatku, tak kuasa mengeluarkan sepatah kata mewakili perasaanku.
                “Lea, apa kabar?” tanya sosok kurus yang kini tinggi menjulang. Dia tersenyum. Senyum usil itu. Mata penuh rindu. Aku yang terpaku.
Kemarin aku menerima cinta Joe yang menembak untuk ke tiga belas kalinya. Dan sekarang aku harus menyiapkan kata-kata untuk Eka yang datang membuktikan janji. Aku harus bagaimana?**
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES