Selasa, 27 Juli 2021

[Resensi]: My Coach My Prince

Judul        : My Coach My Prince

Penulis     : Rintas

Tahun       : 2021 

Tebal        : 170

Penerbit    : Bhuana Ilmu Populer (Edisi digital)

ISBN        : 978-623-04-0578-5

My Coach My Prince


Setelah sekian lama tidak membaca teenlit, akhirnya selesai juga satu teenlit saya baca sekali duduk. Kali ini saya membaca via Gramedia Digital, sebuah novel teenlit berjudul "My Coach My Prince."

Novel ini menceritakan seorang gadis kuliahan bernama Renatta. Renatta ini punya dua sahabat cewek yang sangat sayang sama dia. Mereka bertiga sahabatan dari SMP dan janjian kuliah di kampus yang sama. Tapi Renatta ini ngekos, sedangkan dua sahabatnya tinggal di apartemen.

Nah, si Renatta ini punya kebiasaan laperan dan suka juga makan sampai semeledaknya perut (wuih, istilah penulisnya ini sangar juga ya, semeledaknya perut, kekgimana itu). Suatu ketika si Renatta muntah di depan cowok cool tetangga kosannya, yang lalu menolong dia masuk kamar, bahkan beliin obat segala. Si cowok ini namanya Daren.

Renatta terkesan dengan kebaikan Daren dan malah kepikiran mau olah raga supaya agak sehat. Besoknya dia pergi ke taman kota untuk olah raga, tapi karena badannya masih kurang fit, eeeh dia debuuuum! lagi alias pingsan. Yang nolongin tak lain dan tak bukan adalah Daren lagi, tetangga kosan yang kebetulan lagi di lokasi yang sama.

Aih, adegan kebetulannya ftv banget gak sehhh...

Setelah nganterin Renatta ke IGD, Daren malah kepikiran untuk menolong Renatta lebih jauh. Ia menawarkan diri untuk menjadi coach Renatta buat olah raga, agar badannya sehat. Soalnya hasil tes darah Renatta tuh, dia ada gejala pre-diabetes gitu. Bahaya kalau nggak segera diatasi. Renatta pun setuju. Mulai sejak itu ada jadwal mereka berdua tiap pagi lari ke taman kota. 

Suit ... suit ... udah berasa kan, alurnya mau belok kemana...

Suatu waktu pas mereka olah raga, eeh malah Daren yang giliran pingsan karena sakit. Renatta pun membantu membawa Daren ke tempat kos. Renatta mengurus Daren sampai demamnya turun. Di situlah Daren mulai tau bahwa Renatta walaupun nyebelin, punya rasa khawatir dan rasa kesetiakawanan yang kuat (halaman 39).

Selain olah raga bareng, mereka juga makin dekat karena saat makan bareng, Renatta curhat tentang masa lalunya sebagai korban bully (halaman 43). Daren pun menghibur Renatta dengan tulus.

"Selagi kamu bisa mempercantik hati kamu, semuanya juga bakal terpancar gimana pun bentuk fisik kamu. Big is beautiful, Ren, and I hope my big girl doesn't cry."

Gitu kata Daren ... uhuy banget, kan?

Setelah tiga bulan, berat badan Renatta turun sepuluh kilo. Badannya lebih sehat. Dia merayakan hal ini dengan makan-makan sama Daren dan dua sahabatnya. Pulang makan, Daren minta ditemani beli jam tangan buat kakaknya suami istri - jam tangan couple. Daren minta Renatta yang pilihin jam. Ada jam yang Renatta suka, tapi ndak cocok buat kakak Daren. Tanpa setahu Renatta, selain beli jam tangan buat hadiah kakakknya, Daren juga beli jam yang Renatta suka, dan menyerahkannya pada cewek itu.

Unch, manis banget kaaan, mana cara nyerahinnya tuh bikin gemes, aku pun jika dikasih kayak gitu bakalan gak bisa tidur, kelap-kelip aja mata macam lampu di kota.

Masalah muncul saat Daren mengantar Renatta ke kampus. Ternyata Fani, cewek yang paling tenar di jurusannya Renatta, pernah naksir Daren. Panas dia lihat Daren ngantar Renatta, sedangkan dulu Daren nolak dia mentah-mentah. Fani marah-marah secara terbuka ke Daren.

"Selama ini kamu selalu nolak jalan sama aku, kenapa sekarang malah asik-asikan sama cewek gedebok pisang." (halaman 60).

Jahatnya Fani, walau Renatta sedikit ndut, janganlah nyerang fisik. Gak bermartabat banget cewek yang nyerang fisik cewek lain kan. Mana woman support womannya donk ach!

Daren meminta Renatta tidak perlu mempedulikan Fani. Nadia dan Wini, dua sahabat Renatta menemani Renatta dan baru ngeh arloji couple di tangan Renatta dan Daren. Mereka curiga Daren menyimpan rasa buat Renatta. Tapi Renatta berkeras bahwa ia dan Daren hanya teman biasa.

Sepulang kuliah, Daren menjemput Renatta dan ngajak makan. Sambil makan, Daren cerita tentang mantannya yang meninggalkannya gara-gara materi. Nama mantannya itu Ilvi. Dulu Daren miskin, lalu Livi beralih ke lain hati. Daren gantian nanya apa Renatta pernah pacaran. Tapi Renatta berkelit, cewek gendut seperti dirinya siapa yang mau macarin.

Ternyata itu pertemuan mereka terakhir, esoknya Daren pamit KKN. Tapi anehnya ada orang mindahin barang-barang Daren dari kamar kosannya. Hape Daren juga nggak bisa dihubungi. Renatta bingung temannya tiba-tiba menghilang tanpa pesan, tapi lalu Daren mengirim surat kepadanya meminta maaf karena tidak sempat pamit.

Seperti suka ngilang tiba-tiba, Daren juga muncul tiba-tiba seusai KKN-nya. Waktu itu Renatta sudah agak peduli dengan penampilan dan sedikit dandan. Tapi Daren malah nggak suka Renatta dandan. Dia ingin Renatta apa adanya saja. Daren ngajak Renatta jalan tapi mereka malah ketemu Ilvi. Mantan Daren itu nangis-nangis ngajak Daren balikan.

Renatta sudah tidak kuat dengan perasaannya yang up and down terhadap Daren. Ia menyadari ia jatuh sayang sama Daren, tapi ia juga ingin sahabatnya itu bahagia. Maka dengan tekad bulat, Renatta mengikuti program pertukaran pelajar ke Singapura. Ia mau menjauh dan pergi dari Daren. Ia ingin Daren bahagia dengan Ilvi.

Tak dinyana di Singapura, Renatta ketemu lagi dengan Daren. Daren waktu itu sedang ke kafe, dan Renata sedang kerja part time sebagai waiters. Daren sedang dalam rangka ngabur dari rumah karena keluarganya memaksanya nikah sama Ilvi yang tak dicintainya lagi. Daren surprais karena Renatta sudah langsing dan cantik.

Renatta sempat ngabur lagi dari Daren tapi mereka bertemu lagi dalam kondisi Daren sakit. Renatta tak mungkin meninggalkannya. Banyak yang dibahas antara keduanya. Guyonan kasar antar sahabat karib juga masih sering mereka lontarkan satu sama lain. Tapi mereka pun tahu mereka telah saling memiliki rasa cinta satu sama lain.

Akhirnya mereka pulang ke Jakarta, dan di sebuah cafe, Daren melamar Renatta. Happy ending!

Wah, akhirnya selesai juga resensi bukunya. Lama juga ngerjainnya, padahal baca bukunya cepet. Semoga kalian suka, ya. Buku ini dapat kalian baca melalui laman Gramedia Digital. Kalau versi cetaknya sepertinya belum ada. Selamat membaca...




Sabtu, 03 Juli 2021

Camilan Sore

Hai, kali ini aku mau cerita tentang camilan sore hariku. Kalau dibilang wanita itu suka ngemil, aku setuju saja. Kalau pas mood, memang rasanya mulut ini selalu ingin mengunyah. Tapi kalau pas lagi nggak ada apa-apa di rumah ya santai aja tuh, nggak nyari-nyari (ya iyalah, masak terus mau nyemilin kursi di rumah). Sore ini sehabis pulang dari setor minyak jelantah di sesebank sampah, aku mampir di alfamidi ngambil duit, terus sekaligus nyempetin beli camilan yang langsung aku makan setiba di rumah. Aku beli kacang sangrai atau roasted peanut yang ada keterangannya panggang pasir. Mereknya ini merek internal Alfamidi. Aku juga beli susu ultra kemasan 200 ml yang rasa taro.
Kacang sangrai
Ultra milk rasa taro

Nah, kacang sangrainya itu rasanya hambar. Kalau di ingredients, memang komposisinya hanya kacang dan garam doang, tapi berasa nggak ada garamnya sama sekali. Ya, jadinya murni rasa kacang gitu, yang rada-rada gurih dikit. Tapi bagus juga sih jadi nggak nyebabin darah tinggi karena gak asin, kan. Tertulis juga kudapan ini free kolesterol. Makan kacang ini bikin aku ingat papaku di Malang. Beliau seneng banget kacang kayak gini. Belinya biasanya di pasar, beli kiloan gitu. 

Oiya buat kamu yang suka makanan yang tasty, ya kacang ini nggak saya rekomendasiin banget. Tapi buat kamu yang mau sehat, kacang ini bagus banget dimakan sebagai camilan kalau mulut lagi pengen ngunyah, tapi nggak pengen gemuk. Begitu.

Kalau susu ultranya rasanya manis gurih gitu, enak sudah kuminum sampai habis. Belum ada lawan sih susu ultra buat aku juaranya emang, hehe. Ini bukan endors, lho.**

Rabu, 31 Maret 2021

[Resensi] Siapa Memelihara Ketulusan, Akan Menuai Keberhasilan

 


Judul Buku       : Tragedi Apel & Buku Ajaib Jiko

Penulis             : Yosep Rustandi

Penerbit          : Indiva Media Kreasi

Halaman         : 157

Harga              : Rp40.000,00

 

            Buku “Tragedi apel & Buku Ajaib Jiko”, menceritakan tentang kisah Jiko dan teman-temannya. Mereka adalah anak-anak yang lahir dari keluarga miskin. Ayah Jiko adalah seorang buruh angkut di pasar, dan ibunya bekerja di laundry – mencuci dan menyeterika pakaian (halaman 86). Dengan keterbatasan hidup keluarga ini, Jiko memilih tidak sekolah di sekolah formal, melainkan belajar di Sanggar Hati. Sanggar Hati adalah sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang peduli terhadap anak-anak jalanan dan anak miskin perkotaan (halaman 16). Dengan Bu Rara sebagai ketua, Sanggar Hati mengajari anak-anak keluarga miskin membaca, menulis, berhitung, dan memberikan motivasi agar mereka bersemangat dalam menjalani hidup yang keras. Selain Bu Rara dan beberapa volunteer dewasa lainnya sebagai pengajar, Sanggar Hati juga menerima remaja SMA sebagai volunteer untuk mengajar anak-anak. Yasmin, adalah salah satu remaja SMA yang menjadi pengajar anak-anak di Sanggar Hati. Yasmin memiliki sahabat bernama Dini dan Dini ini juga tertarik untuk mengikuti jejak sahabatnya. Namun, sebuah peristiwa membuat Dini merasa tidak respek pada sebagian anak yang belajar di Sanggar Hati.

            Secara tidak sengaja, dalam situasi yang tidak mengenakkan, Dini bertemu dengan Jiko dan Alin, sahabat Jiko. Waktu itu Dini sedang membeli apel dan sudah membayar. Ia kaget dan tidak sempat menyelamatkan apelnya ketika Alin dengan secepat kilat lari melewatinya sambil menyambar kantung berisi apel yang dipegangnya! Di belakang Alin, Jiko yang selalu memegang buku, ikut berlari. Dini berteriak “Maling!”, namun langkah kedua anak tersebut terlalu cepat (halaman 9).

            Saat itu, Jiko sebenarnya kaget juga. Ia tidak menyangka Alin akan menjambret apel yang dipegang Dini. Ia hanya penasaran dan mengikuti sahabatnya yang bermuka murung. Tapi karena situasi berubah menjadi rusuh, jalan satu-satunya yang dapat dilakukannya hanyalah mengikuti Alin berlari sambil membawa apel. Malangnya saat mereka sudah lepas dari kejaran orang-orang, mereka bertemu trio Atan, Sura, dan Wira. Trio ini adalah geng anak nakal yang suka usil (halaman 11). Trio yang dipimpin Atan ini ingin merebut apel yang dicuri Alin. Saat mereka bertengkar, jatuhlah apel ke sungai dan hanyut.

            Jiko sendiri sebenarnya adalah anak yang cerdas dan suka belajar. Ia merupakan murid favorit Yasmin di Sanggar Hati. Jiko cepat belajar dan suka membaca buku. Buku apapun ia baca sehingga ia banyak pengetahuan. Jiko juga sangat dekat dengan Yasmin dan mengidolakan Teh Yasmin yang baik. Jiko sering bercerita tentang Alin pada Yasmin. Alin hidup hanya berdua dengan emaknya yang sakit-sakitan dan tidak kuat lagi bekerja. Sedangkan bapak Alin sudah lama meninggal. Sebenarnya alasan Alin mencuri apel adalah untuk diberikan pada ibunya yang sedang sakit, walaupun kemudian Alin kebingungan cara memberikan apel untuk emaknya tanpa menjelaskan dari mana apel itu berasal.

            “Emakku jangan sampai tahu apel ini dapat dari nyuri,” ucap Alin pada Jiko, saat mereka menemukan kantung apel yang hanyut tersangkut.

            “Tapi kenapa? Kata buku, kita tidak boleh berbohong pada orangtua!” sentak Jiko.

            Alin berkeras, karena emaknya tidak akan mau makan apel hasil curian. Bahkan ayam goreng dan rolade daging yang ia dapat dari makan di rumah orang yang sedang punya hajat saja tidak dilirik oleh emaknya. Emak Alin yang sedang sakit, hanya mau makan makanan halal dan ia selalu bertanya dari mana Alin mendapatkan makanan. Akhirnya kedua sahabat itu malah bingung apelnya hendak diapakan. Kemudian Jiko punya ide bagaimana kalau mereka menanam bibit apel saja. Mereka bekerja membantu Pak Sanwirya yang berjualan bibit tanaman dan meminta upah berupa bibit apel. Setelah dua hari bekerja, Pak Sanwirya benar-benar memberi mereka bibit apel. Tingginya sekitar 20 cm dan mereka menanamnya di balik ilalang, tersembunyi dari mata orang lain (halaman 63).

            Dini sahabat Yasmin akhirnya benar-benar mengajar di Sanggar Hati. Pada saat ia mengajar itulah ia melihat Jiko dan memastikan bahwa salah satu anak yang mencuri apelnya adalah Jiko. Dini berusaha mengejar, tapi Jiko lari sekencangnya (halaman 76). Jiko lari menuju rumah Alin dan menemukan sahabatnya itu sedang pusing memikirkan emaknya. Jiko enggan kembali belajar di Sanggar Hati karena ada Dini. Jiko ingin pindah ke sekolah negeri saja.

            Yasmin tidak percaya Jikolah yang mencuri apel Dini. Seandainya pun Jiko yang melakukannya, Yasmin yakin ada penjelasan yang masuk akal di balik itu. Maka dengan dibantu Dini dan Doni, kakak Dini – Yasmin melakukan pengintaian terhadap Jiko (halaman 109). Mereka sengaja meletakkan kardus-kardus bekas di tempat sampah rumah Tante Dini, yang terletak di kompleks perumahan di mana Jiko sering memulung sampah. Dini jadi tahu sisi lain anak pinggiran yang miskin, yang harus mengorek-ngorek sampah untuk mengambil barang bekas yang masih bisa dijual lagi.

            Sudah terlalu lama Jiko tidak muncul untuk belajar di Sanggar Hati. Akhirnya, Yasmin mencari alamatnya dan menemui ibu Jiko. Awalnya Jiko hendak lari, namun Yasmin memastikan bahwa Dini tidak marah lagi pada Jiko. Yasmin mengajak Jiko ke Sanggar Hati dan menanyai Jiko mengapa ia mencuri apel. Jiko bercerita tentang Alin yang mencuri apel untuk ibunya yang sedang sakit. Yasmin, Dini, dan Dino akhirnya menemui Alin dan ibunya.  Alin mengembalikan apel yang masih utuh dalam kantung kepada pemilik aslinya yaitu Dini. Setelah memahami duduk permasalahannya, Yasmin, Dini, dan Doni membawa ibu Alin untuk menjalani pemeriksaan medis.

            Kisah apel belum berakhir sampai di sini. Masih ingat bibit apel kecil yang ditanam Jiko dan Alin? Kadang ia berbunga, dan esoknya gugur. Namun kedua anak yang menanamnya tidak patah semangat. Mereka berdua memang anak-anak miskin, dan mereka mungkin pernah berbuat salah. Namun mereka adalah anak-anak yang masih memiliki hati nurani, paham mana yang salah dan mana yang benar. Di akhir cerita digambarkan oleh penulis, bahwa keduanya kelak menjadi pengusaha apel yang cukup sukses. Itulah hikmah dari perjalanan secuil kisah kehidupan Jiko dan Alin bersama Yasmin dan Dini. Barang siapa yang memelihara ketulusan, akan menuai keberhasilan kelak.** 





Kamis, 31 Desember 2020

Sungguh Sungguh Terjadi

Apa yang ada di benakmu, membaca judul postingan ini? Satu, kisah nyata. Dua, sesuatu yang nggak bo'ongan. Tiga, rubrik di harian Kedaulatan Rakyat (KR), Jogjakarta.

Nah, itu yang benar. "Sungguh Sungguh Terjadi" atau biasa disingkat SST adalah sebuah rubrik di pojok kanan bawah harian KR. Sebuah kisah singkat tak sampai 100 kata, yang kadang lucu, kadang wagu. Yang jelas sesuai clue judul rubrik, semua tulisan yang dimuat adalah kejadian yang sungguh-sungguh terjadi. 

Tak masalah jika kejadian tersebut tidak dialami sendiri oleh si penulis. Yang penting sungguh-sungguh terjadi. Bisa kejadian yang dialami temanmu, bapakmu, ibumu, adikmu, kakakmu, pamanmu, bibimu, tetanggamu ... bahkan bisa cerita yang kaucomot dari status medsos temanmu. 

Masih belum paham yang kayak gimana itu rubrik SST? Nih, kukasih contoh SST pertamaku yang dimuat di KR.

Sungguh Sungguh Terjadi

Nah, seperti itu contohnya, ya. Gimana, tertarik, nggak, untuk mencoba mengirimkan naskah? Kukasih tahu caranya mau? Mau, dong, ya? Caranya tulis saja naskah SSTmu sekitar 60-70 kata saja di badan email (bukan attachment, ya), dan kirimkan ke alamat email: joko.job@gmail.com. Subyeknya SST. Tulis nama dan alamat lengkap kamu di bawah naskah, plus nomor rekening kamu.

Gitu doang? Iya, gitu doang. Tentunya sebelum nulis naskah, pakailah salam menyapa Mas Joko di awal email layaknya orang yang tahu sopan santun persuratan.

Kok, pakai nomor rekening, memangnya ada honornya? Iya, ada, dong. Konon kabarnya honornya Rp.50.000,- dipotong pajak. 

Kok, konon? Iya, soalnya honorku belum nyampe. Nominal itu hanya info dari temanku yang naskahnya pernah dimuat di SST. Oh ya, kata kawanku juga, sabar saja, nanti juga masuk rekening honornya. Aamiin...yaa rabbal alamiin.

Kok, pakai nama dan alamat segala. Dicantumkan terpampang nyata begitu? Iya, dooong. Namanya saja rubrik Sungguh Sungguh Terjadi, so nama dan alamatmu juga harus sungguh sungguh nyata, bukan nama dan alamat abal-abal, yaaa ... hihihi.

Nah, selamat mencoba ber-SST, ria. Ssst, ada juga naskah keduaku yang dimuat. Ini dia.

Sungguh Sungguh Terjadi

Tolong dong, Mbak ... sekalian naskah ketiga dan keempat dan seterusnya diposting juga. Supaya contohnya tambah banyak.

Lhaaa, naskah yang dimuat memang baru dua biji! Sst, ga usah nanya-nanya terus. Cepat ambil pena dan mulailah menulis!**

Senin, 30 November 2020

Yuk, Bikin Odading

 Sudah beberapa bulan, Emir anak kedua saya berceloteh tentang Odading Mang Oleh. Awalnya, saya tidak terlalu menanggapi.

"Odading Mang Oleh, rasanya seperti menjadi IRONMAN!" teriak Emir ditimpali adiknya. 

Karena bising mereka teriak melulu, akhirnya saya browsing arti odading itu apa. Owalah, ternyata roti goreng alias bolang-baling alias galundeng. Odading ini bahasa sundanya gitu. Kalau itu sih gampang bikinnya, batin saya. Tapi cuma dibatin doang dan nggak dipraktikin, wkwkwk.

Hingga suatu saat, suami pulang bawa sekantung ... odading! Rupanya sekarang sudah ada yang jual di depan Indomaret. Satu gerobak dengan tahu crispy dan cireng. Hebohlah si Emir makan itu roti goreng. Dan saya menjanjikan untuk membuatkannya suatu saat nanti. Hihihi, maklumilah, Mir ... mamamu bikin camilan kalau lagi mood doang.

Dan, hari Minggu kemarin 29 November 2020, akhirnya datanglah mood itu. Saya berhasil membuat odading satu resep (tepung 250 gram), pakai resep dari cookpad, saya modif dengan topping wijen dan sedikit gula pasir. Ini dia penampakannya.


Ini Odading bikinan saya, lho.

Kalau dibanding dengan odading yang biasa dibelikan suami, odading bikinan saya ini lebih terasa manisnya. 

Biasa, kalau habis praktik, pasti pengen dengerin komentar netijen, dooong. Saya tanyalah si Emir.

"Mir, odading bikinan mama, sama odading yang biasa dijual orang, enakan mana?"

"Enakan yang dijual orang!" jawab Emir cepat, sambil makan odading bikinan saya, potongan yang kelima.

Kumenangiiiiiis ...

Hmmm, yah biarin deh, lebih enakan yang dijual. Toh, sepiring odading itu akhirnya habis juga. Apa gara-gara nggak ada camilan yang lain, ya? Hihihi, entahlah.

Tapi, buibu yang mungkin sering mengalami nasib yang sama dengan saya (atau cuma saya aja yang kekgini?), nggak usah mutung ya gerakan bikin camilannya. Selama bikinan kita selalu habis, jangan segan untuk selalu bikin camilan buat keluarga. Di mana-mana mah, bikinan sendiri selalu always lebih higienis dan sehat. Iya, nggak? Iya, dong! Yuk, bikin odading!**


Hari Bikin Camilan Sedunia

Gambar pizza dari pixabay

 Ada kalanya saya sangat malas bebikinan di rumah. Maunya glundang-glundung saja. Kalau istilah emak-emak zaman now ya, rebahan. Satu-satunya yang diinginkan hanya leyeh-leyeh sembari memejamkan mata.

Di suatu hari yang tenang, tiba-tiba 'dewi rajin bikin kue' berkenan datang menyatronin saya. Awalnya sih gara-gara 'panas' dapat kiriman gambar pizza dari teman. Kalau kiriman gambarnya dari bakul pizza sih, nggak terlalu panas. Ini kiriman gambar dari teman yang notabene baru-baru saja memakai oven untuk baking-baking camilan. Sebutlah nama teman saya itu Evita.

Persoalan pizza ini juga sesuatu buat saya. Seisi rumah suka pizza. Dulu saat saya tinggal di Jogja, saya juga pernah bikin pizza teflon, namun untuk pizza yang dipanggang di oven, belum pernah nyoba. Sementara di kantor saya ada teman yang suka open order pizza. Dia jago bikin pizzalah. Sebut saja namanya Rini. Nah, biasanya saya dan Evita suka nanya-nanya resep ke Rini. Hingga sampai nitip beli keju mozarella untuk bikin pizza sendiri. 

Nah, setelah panas dapat kiriman gambar pizza dari Evita tadi, saya teringat ada sebongkah keju mozarella di dalam kulkas, belum saya sentuh-sentuh. Akhirnya luluhlah hati ini, hingga tergerak untuk mulai mengadon adonan pizza. Resepnya memakai tepung protein tinggi 250 gram, yang nantinya setelah menjadi adonan pizza saya bagi menjadi dua loyang. Dua loyang pizza tersebut saya panggang bergantian karena oven saya kecil.

Loyang pertama saya panggang dengan api 180 dercel selama 20 menit. Saat saya potong sepertinya kurang matang di bagian tengah pizza, jadi saya masukkan lagi di oven dan saya tambah 10 menit lagi pemanggangan. Begitu matang cepat ludes. Loyang kedua saya panggang selama 30 menit, malah penampakannya kecoklatan dan kering, walau rasanya tetap enak. Panggangan kedua inipun sama cepat ludesnya.

Tiba-tiba saja saya tergerak untuk ngambil tepung lagi. Kali ini tepung serbaguna. Ceritanya saya baru saja baca-baca facebook dan mencermati sebuah resep bolu keju yang dishare teman sebagai statusnya. Eh, nggak susah bikinnya, dan semua bahan ada. Yuhuuu ... saya kembali mencampur bahan-bahan dan camilan kedua pun tak lama masuk oven. Hasil bolunya lembut dan rasa kejunya pas. Wah, senang rasanya bisa bikin bolu keju. 


Gambar bolu keju dari pixabay

Apakah hanya berhenti di dua resep camilan itu? Sebagai pelengkap, di ujung hari saya blenderkan tomat untuk anak-anak saya. Ya, juice tomat segar penuh vitamin C menutup hari bikin camilan sedunia. Apakah semua bahagia? Tentu, namun tidak semua. Komentar julid netijen berkata: wuih capek-capek bikin, bukannya lebih murah dan praktis kalau beli? Ya, santai sajalah bu Tedjo, ada masanya orang beli, ada masanya dia suka bikin sendiri. Capek? Tentu saja capek, namun aku bahagia.**


Rabu, 26 Agustus 2020

Perjalanan Panjang Menuju Roti Sisir

Hai sobat maya di manapun berada, masih ingat kisahku tentang challenge bikin kue? Untuk menyegarkan ingatan bisa baca di sini, ya. 

Challenge bulan April ini adalah membuat Roti Sisir.  Wow, padahal jam terbang bikin roti masih area rendah bingit ... bagaimana ini, Rosalinda? 

Baiklah, tidak ada kata TIDAK BISA. Pasti bisa kalau kita sudah niat. Lagipula kan waktunya panjang, ya, nggak? Satu bulan penuh. 

Dan akhirnya saya bisa membuat roti sisir pada percobaan kedua. Tapi ada perjalanan panjang menuju Roma, baca ceritaku, ya.

Gambar 1 Roti Sisir yang berhasil saya bikin pada percobaan kedua


Waktu pertama dapat tantangan bikin roti sisir, terus terang saya gundah gulana. Merasa nggak bisa bikin roti apapun apalagi roti sisir. Tapi partner challenge saya yaitu Mbak Nurhayati menyemangati saya. Baiklah, saya pun mengiyakan tantangan tersebut. Saya bermaksud menjadikan April sebagai bulan bikin roti. Saya akan melemaskan jari dengan mengadon adonan roti.

Latihan pertama, saya langsung membuat roti sisir: GAGAL

Gambar 2. Bagian dalamnya belum mateng...huhuhu

Seharusnya saya tinggal mengovennya sedikit lebih lama, namun saya sudah keburu insekyur. Akhirnya adonan roti sisir yang belum matang itu saya potong-potong, tambah susu, gula, telur dan taraaaaam ... jadilah modifikasi roti sisir in to puding roti, hahaha...

Gambar 3. Puding roti sang penyelamat


    Akhirnya saya bersiap bikin sesuatu yaitu donat. Adonannya kan, adonan roti juga. Ini dia hasilnya, kurang sempurna sih tapi laris karena anak-anak dan suamiku doyan donat walau nggak ditopping hihi. Cukup diblenderin gula untuk toppingnya. Di samping donat, setengah adonan saya bikin roti isi. Harap maklum kalau rotinya masih jauh dari sempurna karena ini yang perdana saya bikin roti isi.

Gambar 4. Bikin donat topping gula halus

Gambar 5. Roti isi

Pada latihan ketiga, saya masih penasaran bikin donat. Walau belum bisa bulat sempurna, adonan donat kali ini lebih empuk menul-menul. Pada latihan keempat barulah saya bikin roti sisir lagi dan ... berhasiiiiil. Alhamdulillah. Tantangan berhasil ditaklukkan.

Gambar 6. Donat di lain waktu, lebih maknyus.

Gambar 7. Roti sisir yang berhasil. Manisnya paaaas. Matengnya pas.

Demikianlah cerita tantangan bikin kue. Jangan bingung ya, bacanya. Ini memang tantangan bulan April, dan tulisannya sudah saya mulai dari April juga. Tapi, kemudian serbuan pasukan malas datang melanda hingga naskah ini teronggok sebagai draft selama empat bulan. Astagaaa ... #tutupmuka. Nggak papa ya, biar lambat asal nulis. Yuk, dirajinin ngeblog lagi. 
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES