Senin, 21 November 2016

Ketika Lagu Bisa Demikian Menyentuhmu

Selama ini saya menyanyi dalam kadar penghayatan yang sedang-sedang saja. Yah boleh dikata agak lebay dikitlah. Contohnya sewaktu saya menyanyikan lagu nasional "Tanah Airku". Walaupun saya belum pernah pergi jauh, belum pernah jalan-jalan di banyak negeri, tapi saya tetap mewek jika menyanyikan lagu tersebut dengan serius.

Ini penggalan lagunya: ...."Walaupun saya, pergi jauh. Tidakkkan hilang dari kalbu. Tanahku yang kucintaiii. Engkau kuhargaiii.

Adapun lagu-lagu cinta, tidak pernah memberi efek yang gimana gitu buat saya. Mungkin saya memang tidak romantis? Entahlah.

Tapi kemudian perjalanan hidup saya mengantarkan saya pada satu pemahaman bahwa lagu memang bisa membawa manusia yang mendengarkannya terbang di awang-awang, atau terpuruk dalam kesedihan, atau bergelora dalam semangat, atau apapun itu tergantung lagunya.

Saya ada seserpih cerita. Adalah seorang lelaki yang dalam perjalanan hidupnya mungkin pernah khilaf menyukai saya yang tidak sempurna ini. Kami bertemu kembali dalam kondisi sudah sama-sama berkeluarga dan memutuskan untuk menjalin persahabatan yang baik. Kebetulan ternyata kami sama-sama suka film genre tertentu sehingga kadang kami terlibat obrolan seru tentang film dan lain sebagainya. Kadang dia mengirimkan lagu.

Suatu saat saya mendengarkan lagu Rossa dan dengan iseng saya mengirimkan lagu tersebut untuk dia. Ternyata, dia mengaku menangis mendengarkan lagu yang saya kirim tersebut.

Ini penggalan lagunya:

Aku menyesal tlah membuatmu menangis,
Dan biarkan memilih yang lain,
Tapi jangan pernah kau dustai takdirmu,
Pasti itu terbaik untukmu

Janganlah lagi kau mengingatku kembali,
Aku bukanlah untukmu,
Meski kumemohon dan meminta hatimu,
Jangan pernah tinggalkan dirinya untuk diriku.

Hmm, setelah saya pikir-pikir, memang sebuah lagu itu kadang dapat sangat meracuni pikiran. Apalagi jika isi lagunya sesuai dengan pengalaman hidup kita. Inti dari postingan ini, pandai-pandailah memilih lagu dan memilihkan untuk anak-anak kita. Cari lagu yang positif yang dapat membangkitkan semangat optimisme dalam hidup, meningkatkan rasa cinta pada tanah air, lingkungan sekitar, sesama manusia dan agama.
Lagu cinta-cintaan...? Bolehlah, tapi jaga hati biar nggak terlalu baper ndengerinnya.

Sebagian ulama mengharamkan musik dan lagu, mungkin karena alasan bahwa lagu dapat membuat kita lalai. Jadi jangan lalai, tetap menjalankan semua kewajiban hidup dan mendengarkan musik sebagai pemanis.

Senin, 19 September 2016

Membuat E-KTP

Pagi ini saya diantar suami pergi ke kecamatan Biringkanaya, untuk mengurus pembuatan E-KTP. Karena beberapa minggu sebelumnya suami sudah pernah mengurus, jadi saya sudah tahu persyaratan apa yang harus disiapkan. Syaratnya mudah, yaitu fotokopi kartu keluarga dan fotokopi ijazah terakhir. Kami langsung berangkat setelah absen di kantor. Belum pukul 08.00 ketika kami tiba di kecamatan, tapi yang mengantri terlihat mulai ramai.

Suami memasukkan berkas dan kemudian kami duduk berdua menunggu nama saya dipanggil. Tak sampai satu jam (kayaknya nggak sampai satu jam, tapi perasaan lama banget karena saya sampai ngantuk-ngantuk), nama saya dipanggil dan saya segera masuk. Saya mendapatkan nomor antrean foto, yaitu nomor 24. Saya keluar duduk lagi menunggu dengan sabar (lumayan sambil melakukan hal-hal geje di grup WA SD).

Kurang dari setengah jam, nomor saya dipanggil. Saya masuk dan disuruh menunggu panggilan foto bersama semua orang dengan nomor antrean 16-25. Seorang petugas menaikkan volume suara menyuruh orang-orang yang tidak berkepentingan untuk keluar dulu. Hmm, dalam ruangan tunggu yang juga berfungsi sebagai ruang macam-macam urusan itu sudah sangat penuh. Saya pun hanya bisa menunggu (backsound: lagu kumenunggu, dari Rossa)

Nomor antrean 24!
Saya masuk ke ruangan lain di mana seorang mas-mas menghadap komputer sedang meladeni seorang pemuda untuk menjalani rangkaian pembuatan E-KTP. Jadi begini, awalnya saya disuruh duduk manis menunggu giliran si pemuda. Sambil menunggu tentu saja saya cermat mengamati tahapan apa saja yang harus dilakukan.

1. Duduk tenang di depan kamera. Serahkan berkas fotokopi KK dan ijazah pada mas-mas yang bertugas. Sebenarnya kurang tepat aku memanggilnya mas-mas. Mungkin daeng-daeng lebih tepat. Si daeng akan mengetik data nomor induk dan nama di layar komputer. Memastikan bahwa namamu adalah nama yang tertera di KK. Lalu dia akan menarik layar di tembok belakangnya untuk memberi background merah sebagai latar foto, dan menyuruhmu menatap kamera.

2. "Senyum," itu pesannya sebelum merekam detil wajah dengan kamera. Wah, terus terang saya senang dengan arahan untuk tersenyum itu. Berarti foto KTP akan menjadi terlihat lebih menarik dengan senyum senyum bertebaran. Tapi kenyataannya saya tidak bisa senyum terlalu lebar. Karena saya tidak yakin apakah senyum yang dimaksud itu cukup menyunggingkan sedikit bibir agar terlihat melengkung ke atas, atau senyum lebar, atau senyum sok imut. Ah, seharusnya tadi saya tanyakan.

3. Setelah difoto, saya harus tanda-tangan elektrik, merekam sidik jari, tanda tangan sekali lagi. Terakhir keluar untuk mendapatkan resi pengambilan E-KTP yang akan jadi tanggal 27 Oktober 2016. Berarti sebulan lebih. Yah, tak apa. Menunggu saja dengan sabar.

Demikianlah tahap-tahap pembuatan E-KTP. Tidak susah dan tidak pakai lama (nunggu jadinya aja yang lama sebulan lebih). Apalagi kalau ngantrenya mulai pagi-pagi sekali.

Ini KTP lama saya yang masih dibuat secara manual.

Jumat, 02 September 2016

Jangan Menolak Tua

Semingguan ini punggungku terasa panas. Bukan, bukan karena kelamaan duduk menghadap laptop menyusun laporanku yang tertunda. Kalau karena hal itu, biasanya muncul saat aku sudah tiga jam duduk. Tapi ini … panas punggung terasa mulai dari saat aku bangun tidur sampai aku tidur lagi. Pas tidur nggak terasa lagi. Ya iyalah.

*
Aku sudah diskusi dengan bidan pribadiku, ciee, bidan pribadi. Benar, temanku, sahabatku Dyah yang jadi bidan di pelosok Tuban, sudah kutahbiskan menjadi penasihat medis pribadiku. Terserah dia keberatan atau tidak, wong konsulnya juga hanya sebatas ngobrol di WA. Hahaha. Nah, bidan manis itu sudah setengah memaksaku minum simvastatin untuk kolesterolku. Tak apa minum obat dari pada kamu selalu berkeluh kesah, katanya. Tapi yah, daku memang bandel dan bertahan hanya menjalani terapi koles dengan mengurangi makanan berlemak dan olah raga. Gaya banget ya? Hmmm.
*
Nah, berhubung panas punggung terasa makin mengganggu, akhirnya aku menyerah dan segera pergi ke dokter sekaligus konsul tentang hasil cek kolesterolku tempo hari. Dokter mendengarkan keluhanku dengan seksama, lalu bertanya. 
“Ibu umur berapa?”
Di depan dokter, untuk alasan kesehatan, Anda tidak dapat menjawab pertanyaan semacam itu dengan candaan: “Dokter mau tau aja, apa mau tau bangeeet?”
Akhirnya kusebutlah angka sakral itu. 
*
“Baiklah, Bu Indah. Semua gejala yang Ibu sebutkan itu wajar saja untuk orang seusia Ibu.”
What?
“Dengan bertambahnya usia, secara normal semua organ-organ tubuh akan mengalami penurunan fungsi. Ibu harus menerima kenyataan ini.”
What?
Apakah tampak di dahiku tulisan “Menolak Tua”, Bu Dokter yang terhormat?
Tapi aku hanya menanggapi dengan tawa dan senyum manis, … 
“Hehee, iya, Dok. Saya menolak tua.” Dokter pun tertawa … entah apa arti tawanya. Apakah karena dia juga sama sepertiku? Huehehe. 
*
Kami pun berdiskusi mengenai pengobatan yang harus kujalani. Dan aku diberinya tiga resep obat yaitu: Vitamin B kompleks untuk pegal-pegal, penahan nyeri untuk sakit punggungku, dan simvastatin untuk si koles. Plus … tetap hidup sehat banyak minum air putih, kurangi gorengan, kurangi protein hewani, perbanyak asupan buah dan sayur, serta rajin olah raga.
*
Kamu gimana, sudah hidup sehat, kan? Sudah minum air putih, belum? Makan buah dan sayur? Sudah berhenti merokok? Sudah olah raga? Keep healthy… 
*
Oh, ya ... postingan ini sebelumnya kutulis sebagai status facebook. Dan ada komentar yang bagus dari seorang sahabatku yang juga seorang dokter. Baiklah akan kusalin saja di sini. Himbauan dari Kementerian Kesehatan, kita harus CERDIK mengelola kesehatan.

C -- Cek kesehatan rutin
E -- Enyahkan asap rokok
R -- Rajin Olah Raga
D -- Diet Seimbang
I -- Istirahat cukup
K -- Kelola Stress dengan baik

Yuk, tetap sehat dan jadilah orang yang CERDIK...




Menua menjadi memesona (kupu-kupu)

Minggu, 28 Agustus 2016

Memulai Olah Raga Lari: Jurnal Minggu 28 Agustus 2016

Aku lari lagi. Ya, harusnya dua hari sekali, tapi aku baca di sebuah artikel, tak apa lari lima kali dalam seminggu untuk pemula. Sedangkan Murakami bilang, ia berlari setiap hari. Murakami? Dia penulis terkenal dari Jepang dan sekaligus pelari yang tangguh. Aku terinspirasi dari dia juga saat memulai olah raga lariku. Kapan-kapan kuceritain tentang bukunya Pak Murakami tentang lari. Soalnya aku belum khatam baca buku itu.

Kali ini aku keluar rumah pukul 05.30 dan memutuskan untuk ke jalur utara. Seperti biasa aku pemanasan sejenak dan kulihat seorang pelari berkaus hitam lari ke arah utara. Wow, ini pertama kalinya aku melihat ada teman berlari di sepanjang jalan Palagan ini. Dan itu membuatku bersemangat dan termotivasi. Oke, let's start.

Aku mulai lari sambil mengatur napas dengan sebaik-baiknya agar tidak ngos-ngosan. Seperti biasa aku menyelingi lariku dengan jalan sesekali. Dan yang sangat menyenangkan aku sekarang bisa lari/jalan mencapai satu kilometer (sampai di minimart yang pernah kuceritakan kemarin). Wow rasanya puas sekali dan aku bahkan berkeringat di sepanjang perjalanan. Ini pertama kalinya aku lari/jalan pagi dan merasa bahagia luar biasa. Aku mulai menikmati aktivitas ini. Semoga saja istiqomah ya.


Memulai Olah Raga Lari: Jurnal Sabtu, 27 Agustus 2016

Hari ini aku mulai lari saat sinar matahari mulai menerangi bumi, tepatnya pukul 05.30 pagi. Rute kuubah ke arah selatan, jalanan menurun. Rencana jalan kaki full 30 menit. 15 menit turun, dan balik 15 menit kemudian. Lho kok jalan kaki? Ya, walaupun agak berubah dari rencana awal (niat lari pagi), tapi hari ini aku mau membuktikan ucapan temanku bahwa aku sebenarnya nggak usah lari tapi cukup jalan kaki selama 30 menit asal rutin dan itu sudah mengeluarkan keringat. Oke.

Aku jalan seperti yang kumau dan lumayan jauh juga walau tidak mencatat waktu. Apakah selama 30 menit itu aku berkeringat? Ya, ternyata memang berkeringat, walau nggak terlalu yang gimana gitu. Hanya sumuk sithik, kata orang Jawa, atau gerah dikit. Langit cerah dan suasana hatiku lumayan baik. Eh ... aku lupa, sebenarnya suasana hatiku tak terlalu baik. Tapi udara segar ternyata memang sangat ngefek untuk mengembalikan mood-ku.

Gambar dari google

Sebenarnya mana yang lebih baik, lari atau jalan? Dari beberapa artikel yang kubaca, sebenarnya semua terpulang pada kita sendiri. Olah raga lari jelas menguras energi lebih banyak dari olah raga jalan kaki. Anda boleh memutuskan untuk olah raga lari tapi tidak boleh berlebihan. Dan jika memutuskan jalan kaki, harus konsisten. Nah, kalau aku memutuskan untuk lari dan jalan, perpaduan antara keduanya, selama aku belum kuat lari terus menerus. Menurutku lari itu lebih keren dari pada jalan kaki, huahaha ... mau nurunin kolesterol apa ngejar keren sih buk. Yah begitulah kalau bisa ya dua-duanya.

Ohya, olah raga jalan kaki ternyata banyak juga manfaatnya lho. Kapan-kapan akan kuresume deh apa saja manfaatnya. Untuk sekarang, cukup sekian dulu, ya....

Rabu, 24 Agustus 2016

Tiga Hari Penuh Cinta: Rehat Lari, Cheating, Reunian

Hari ini Selasa (23 Agustus 2016) dan mulai hari Jumat kemarin (lima hari) aku belum lari lagi. Astaga, ada godaan apa? Kamis malam aku berangkat ke Malang dengan tujuan selama tiga hari: Jumat, Sabtu, Minggu aku akan menemani orangtuaku sebelum mereka berangkat haji. Sebenarnya niat untuk lari ada, bahkan aku bawa training dan kaus lariku.

Jumat pagi (19 Agustus 2016) jam empat, aku sampai di Malang dan melirik rak sepatu. Ada sepatu Mamaku yang bisa dipinjam. Tapi subuh itu Mamaku minta diantar jalan-jalan sekalian belanja. Aku nggak kepikiran ganti sepatu bahkan ganti bajupun tidak. Langsung temani Mama jalan-jalan pagi. Aku lari-lari kecil di sebelah beliau, walau hanya pakai sendal jepit.

Jumat ini aku berencana ketemu teman-teman lama di Malang. Pagi aku ketemu sahabatku SMP, Mulyaningtyas yang biasa kupanggil Tyas. Tyas datang ke rumah bersama putri bungsunya, Vania. Kami ngobrol seru sambil lihat-lihat foto jadul. Lalu seperti biasa wefie sambil tak habis-habis ketawa. Ini wefie kami yang fenomenal.



Siang hari aku berencana makan siang di dekat rumah, ditemani sahabat yang lain. Kali ini aku hanya makan salad buah dan minum jus strawberry, demi kesehatan, walaupun saladnya full mayo, hmm dan jusnya terlalu manis (lupa minta gulanya dikurangi). Lalu aku pergi ke Matos, beli sebuah buku tentang sesuatu yang sudah lama ingin kubaca. Baru sekitar setengah jam di Matos, ponselku bunyi. Kakak tercinta menelepon mengatakan bahwa ia ada di rumah dan sudah memesan bakso langganan buat aku. Hmmm, sebenarnya bakso adalah makanan yang harus kupantang, tapi tak apalah cheating kali ini. Aku meluncur pulang. Di mikrolet sahabatku waktu kuliah menghubungi dan berjanji akan datang ke rumah.

Sampai di rumah sudah menunggu sebungkus bakso rudi (nama yang jual itu rudi). Aku sengaja tak memakannya tapi menunggu sahabatku datang agar kami bisa makan semangkuk bakso berdua, ahahahaaa. Romantis atau ngirit atau pelit...huahaha.
Dan datanglah sahabatku itu ke rumah, lalu ngobrol seru, makan bakso dan wefian lagi. Hmm, wefienya burem-burem, gak usah diaplotlah. Niy kalau sahabatku itu baca pasti protes karena fotonya gak diaplot ... hihihi. Sabar say, kau tlah teraplot di hatiku, huhuy....

Sabtu bukan jadwal lari. Pagi datang temanku membawakan hadiah untuk Mamaku. Yang ini lupa foto. Dan ia juga hanya sebentar singgah di rumah, karena mau buru-buru arisan sesama dosen perikanan, jiahh. Salam ya, Wik ... buat Pak Agus dan Pak Ismadi (disampaiin nggak?), dan terima kasih untuk hadiah buat ibuku ... kapan-kapan aku yaa yang dikasih hadiah, hehehe.

Siangnya datang sahabat sebangku waktu di kelas 1 SMA, Elfin. Ngobrol seru dan cekikikan terlebih saat hendak wefian, baru kutahu ia gaptek mengoperasikan ponselnya sendiri. Ngakak kami gak jadi selfie ... lha wong aku juga gaptek dan kebetulan PLN hari itu lagi rajin bener-benerin kabel, sehingga ponselku mati seharian karena gak bisa dicharge. Selepas temanku pergi, aku buru-buru siap-siap ke bhaswara kafe, janjian sama temen-temen SMA yang mau ngobrolin rencana reuni Desember. Ini nih ada fotonya.



Pulang dari bhaswara aku siap-siap membantu orangtuaku yang lagi ada tamu. Bikinin minum, ngeluarin kue, lalu ikut-ikut ngingetin apa yang harus mereka siapkan untuk dibawa ke tanah suci. Pukul 02.00 dini hari, aku nganter mereka ke agen "Saudaraku" berangkat naik bus ke Surabaya - Jakarta - Jeddah. Pulangnya aku langsung tidur bareng kakak tercinta dan ponakan di rumah mereka di Villa Tidar Indah.

Tidur pukul 03.00 tak membuatku kebablasan, karena otomatis pukul 06.00 aku terbangun dan melihat kakakku usai sholat. Aku sendiri lagi nggak sholat. Kakakku balik lagi ke kasur cek-cek ponselnya. Akupun ngecek ponsel sambil sesekali ngobrol sama kakak. Tiap obrolan kami menjadi lebih seru, ponakanku yang tidur di tengah langsung gerak-gerak di balik selimutnya. Hahaha, pasti suara tawa kami sangat mengganggunya. Biarin...hihihi.

Kami akhirnya bangun dan mandi pada pukul ... ah tak usahlah ditulis pukul berapa, ya? Kakak menawari apakah aku mau ke CFD atau makan rawon saja? Pilihannya antara rawon tessy atau rawon nguling? Hmm, aku belum pernah ngerasain rawon yang terkenal itu. Tapi itu berarti aku akan cheating untuk yang kedua kalinya. Okelah tak apa. Coba rawon tessy ... yang ternyata rasanya biasa-biasa saja kalau menurut aku sih. Lebih enakan rawon made by my mother. Tiwas cheating yooo....

Dari rawon tessy kami putar-putar menghindari macet karena ada event mobil hias di dalam kota. Kakak mengajakku ke macipo ... Malang Center Point, sebuah mall yang agak sepi. Di sana belanja buah, dan duduk-duduk di J.Co Donuts. Sebenarnya ini cheating juga, karena resto ini salah satu yang seharusnya tak kukunjungi. Tapi tak apa demi kebersamaan yang indah. Kami foto-foto lagi dan memikirkan caption yang cocok untuk foto yang akan kami aplot di medsos nanti. Hahaha, bener-bener geje.



Sepulang dari J.Co, kakakku langsung tidur di kamarnya. Aku menemani ponakan yang lebih memilih mainan ponsel. Lama-lama aku juga tidur di sebelahnya. Kami bangun usai ashar, dan lalu makan roti yang kami beli di macipo. Roti dengan topping potongan keju yang besaaarrrr...wowww, ini potensial untuk meningkatkan kolesterol ternyata. Aku cheating lagi ... huhuhu. Wah, sambil nulis ini aku baru ingat kami beli kue-kue warna hitam yang menggiurkan karena berisi cokelat cair. Aku belum sempat makan ... tapi tak apa karena makan cokelat berarti cheating untuk yang ke sekian kali, hedewww.

Sambil makan roti keju dan semangka, kami pilih-pilih lagu untuk dinyanyikan bersama. Dengan gap umur yang agak jauh, ponakan selalu menolak lagu yang ditawarkan, alasannya lagunya too jadul, wkkk, sehingga akhirnya pilihan jatuh pada lagu daerah saja. Judulnya Sioh Mama. Yang liriknya ... "ayam hitam, telurnya putih ... mencari makan ... bla bla bla..."

Setelah puas nyanyi, aku buru-buru mandi untuk ngejar jadwal kereta ke Jogja. Hmm, godaannya sudah usai? Belum, karena kecepetan, jadi kami makan dulu di bakso stasiun. Cheating again yaaa ... hmmm. Cheating sambil lihat-lihat tukang baksonya yang menarik karena kembar. Kesimpulannya: Mas yang bikin minum lebih kurus dari kembarannya yang ngeracik bakso ... wkkk oposeh.

Setelah makan bakso langsung cuzz stasiun dan aku masuk ke peron. Good bye, Malang. Always loving this city. Karena ada setumpuk cinta di sini.







Memulai Olah Raga Lari: 24 Agustus 2016

Setelah enam hari tidak lari, aku memulai lari lagi. Dan kali ini ada hal fatal yang lupa kulakukan, yaitu minum segelas-dua gelas air putih sebelum berlari. Akibatnya apa ... aku kehausan di dua ratus meter pertamaku, hahaha.

Kerongkongan terasa kering dan aku memutuskan untuk berjalan saja, namun memanjangkan jarak tempuh. Oya, aku juga menemukan palang petunjuk bahwa ke arah utara ada sebuah mini market, sejauh satu kilometer. Berarti seandainya aku dapat mencapai mini market tersebut, aku akan berlari atau berjalan sejauh dua kilometer tiap pagi.

Pagi itu aku nggak nyampai di mini market, hanya sampai di palang petunjuk berikutnya bahwa mini market tersebut masih 500 meter di depan, lalu aku balik kanan pulang. Artinya pagi itu aku mencapai jarak tempuh sejauh 1 kilometer pp. Sudah cukup lumayanlah untuk diriku pribadi. Prestasi kita dalam mencapai apa saja, tidak harus dibandingkan dengan orang lain, namun dibandingkan dengan prestasi kita di hari kemarin. Kita dikatakan berprestasi, jika kita di hari ini lebih baik dari hari kemarin. Setujuuuuu???

Suasana pagi saat yang tepat bagiku untuk lari...
(Foto diambil dari koleksi whatsapp, kayaknya kiriman teman, tapi lupa siapa, hehe)
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES