Sabtu, 31 Oktober 2015

Doa Untuk Negeriku, Indonesia



Aku selalu merasa aku mencintai Indonesia. Aku selalu terharu bila mendengar kisah-kisah tentang negeriku. Aku bangga jika membaca tentang kekayaan alam yang berlimpah. Aku tersentuh pada kisah perjuangan merebut kemerdekaan dulu. Aku menangis saat bencana melanda negeriku.

Tapi cukupkah itu sebagai bukti cinta negeri?

Beberapa hari ini aku merenung seberapa cinta aku pada negeriku. Cinta itu harus terukur dengan sebuah kiprah yang kulakukan untuk negeri. Tapi apa hasilnya? Ternyata aku belum berbuat banyak untuk negeri. Bahkan mungkin belum berbuat apa-apa. Justru negeri ini yang telah memberi aku banyak.

Maka aku hanya bisa berdoa dalam sebuah mimpi dan asa akan Indonesia di masa depan. Begini mimpiku untuk Indonesia:

Indonesia kelak akan menjadi negara paling diminati untuk tinggal, bekerja, berwisata ataupun melanjutkan pendidikan. Di suatu masa, generasi muda menyadari bahwa pengelolaan Indonesia sebagai sebuah negara adalah dengan tidak menafikan kodrati lahiriah Indonesia sebagai negara kepulauan.

Indonesia adalah negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang perlu dilindungi, baik flora fauna daratan maupun laut. Itulah kekayaan sejati yang harus dipertahankan tidak hanya oleh masyarakat Indonesia sendiri melainkan oleh masyarakat seluruh dunia. Maka masyarakat seluruh dunia harus bahu-membahu membantu agar masyarakat Indonesia sadar akan kekayaannya. Memberikan donasi untuk pendidikan dan pengelolaan lingkungan, sehingga kelak akan lahir generasi hebat dengan otak brilian – anak-anak Indonesia – yang akan bertanggungjawab menjaga kelestarian alam.

Selain di bidang pendidikan dan lingkungan, Indonesia akan menjadi negara dengan toleransi beragama yang tinggi. Tak ada lagi saling caci antar umat beragama. Semua agama yang ada di Indonesia menggali kembali akar agamanya masing-masing. Berkiblat pada keagungan akhlak para rasulnya. Keagungan akhlak dalam mencintai sesama dan menjamin keamanan antar umat.

Aamiin....

Mungkin kelak, aku tak lagi tegak berdiri jika mimpiku menyata. Namun aku akan tenang di manapun aku berada, karena anak dan cucuku akan menikmati Indonesia yang lebih baik. Tanpa asap, tanpa demo buruh, tanpa kekerasan anak, tanpa pelecehan agama dan tanpa kemiskinan.

*Tulisan ini disertakan dalam lomba nulis #CintaIndonesia IIDN Jogja


Senin, 26 Oktober 2015

Lima Kesalahan dalam Fiksi (Cerpen)

Kebetulan tadi di perpus nemu buku tentang nulis. Buku itu adalah sebuah handbook yang berisi essay-essay tentang kepenulisan. Saya translate sebagian untuk dibagikan. Here they are....




Lima Kesalahan dalam Fiksi (Cerpen)

1. Opening yang buruk
Paragraph pertama harus langsung menohok. Masukkan sesuatu yang baru di kalimat pertama. Sesuatu yang unik mengenai karakter atau situasi yang membuat kita ingin terus melanjutkan membaca. Tentu saja paragraph selanjutnya juga harus sama menariknya.

2. Overwriting
Cerpenmu terlalu banyak kalimat penjelas, detail yang tidak perlu, bertele-tele dan tidak to the point. Solusinya: endapkan ceritamu setelah menyelesaikannya, baca dan revisi seminggu kemudian, potong kata-kata yang tidak penting.

3. Plot yang menyedihkan
Alur cerita terlalu sederhana. Terlalu kuno, itu-itu saja. Alur yang jadul boleh digunakan asal penulis memasukkan sesuatu yang ‘baru’ di situ. Misalnya kisah perjodohan, sejak zaman siti nurbaya itu alur yang umum. Coba memberikan kesan kekinian pada sebuah cerita dengan plot perjodohan.

4. Karakter yang tidak berkembang
Karakter yang diciptakan harus natural. Tidak stereotype, misalnya pengusaha selalu digambarkan kaku, rapi, perfeksionis. Lelaki pengangguran selalu digambarkan malas dan suka nongkrong. Coba gambarkan lelaki pangangguran yang tiap jumat malam ikut kursus line dance, tentu itu menarik.

5. Tidak ada point penting

Sebuah cerita harus dapat mengejutkan, atau menakutkan, atau membuat pembaca merenung, tertawa dan menangis. Kalau tidak, untuk apa dibaca? Tulis apa yang paling menarik buatmu. Karena jika kita menulis sesuatu yang tidak terlalu berarti, itu akan terlihat dan pembaca juga tidak akan tertarik.



7 deadly sins

Cerpenmu akan dilempar ke tempat sampah, jika kamu melakukan tujuh dosa mematikan berikut ini:
1. Terlalu berkhotbah
2.  Diawali dengan sesuatu yang klise, misal: Pada suatu malam yang gelap. Udara dingin berkabut, bla bla bla
3. Nama tokoh aneh, misal: Britynna, Merzemers, dll
4. Kurang pengetahuan, misalnya menulis tentang komputer, pastikan penulis paham istilah-istilah terbaru atau paling tidak bagian-bagian komputermu sendiri.
5. Cerita yang terlalu autobiografi, karena akan terkesan curhat.
6. Judul yang imut, misalnya Getting Vanessa, Moving Shane – ini agak kurang mudeng, mungkin maksudnya judul yang lugu, misalnya Kalya yang Cantik, atau Innovie si Keren … yahh semacam itulah (bukain kantung kresek).
7. Surat pengantar yang tidak profesional, misalnya:
-          Penuh informasi yang tidak relevan (editor tidak butuh info garis besar ceritamu, berapa lama kau menulisnya atau apa kesan seorang penulis yang (agak) terkenal tentang karyamu)
-          Tulis singkat, kalau mencantumkan karya, pilih karya-karya terbaru dan pastikan surat pengantarmu tak lebih dari satu halaman.

Bagaimana, naskahmu sudah bebas dari lima kesalahan dan tujuh dosa mematikan? Yuk, dicek ulang

By: Moira Allen (penulis lepas). The Writer. September 2002.

Senin, 19 Oktober 2015

Akhlak Dalam Islam (Resume tausiah AA Gym - serambi islami TVRI)


Saya suka menonton acara ceramah agama pagi-pagi di TVRI, judul acaranya serambi Islami. Tiap hari narasumbernya ganti-ganti. Salah satu favorit saya AA Gym, yang biasanya mengisi di hari Senin pagi bakda subuh. Pada suatu senin saya sempat mencatat tema yang penting dari tausiah AA Gym, yaitu tentang akhlak. Daripada catatan berserakan, lebih manfaat saya share via blog. Semoga ada yang tercerahkan.

Tahapan Akhlak dalam Islam ada tiga, yaitu:
1. Saya aman bagimu.
    Lisan dan perbuatan kita tidak menyakiti orang lain
2. Saya menyenangkan bagimu
    Kalau ada kita, orang senang
3. Saya bermanfaat bagimu
    Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi sesama.

Rasulullah SAW diutus ke bumi dengan tujuan untuk menyempurnakan akhlak manusia. Agar akhlak baik, kita yang pertama harus mau berakhlak baik, tahu tentang akhlak dan melaksanakan latihan secara terus menerus agar akhlak kita baik.

Jangan sampai kita sibuk menata rumah daripada menata hati, lebih sibuk mencuci baju daripada mencuci hati yang kotor. Pikirkan berapa banyak kita membeli baju untuk mengotori hati? Beli baju supaya cantik, beli baju jadi centil, beli baju takut rusak, kotor, dll.

Ini dari akhlakul karimah dalam Islam adalah akhlak yang diniatkan sebagai ibadah yang semuanya ditujukan pada keridhaan Allah SWT.

Bagaimana sikap kita terhadap orang non Islam yang baik?
Jangan mengkafirkan, tetap bersikap baik dan doakan agar ia mendapat hidayah dari Allah SWT. Agama Islam hadir bukan untuk kaum Islam saja, melainkan rahmatan lil alamiin, rahmat untuk semesta alam.

Bagaimana sikap kita terhadap pemimpin non muslim?
Sama dengan di atas. Selama instruksinya baik, berpegang pada kebenaran, harus kita dukung. Kalau instruksinya menyuruh pada kemungkaran, harus kita ingatkan.

Bagaimana caranya agar anak mempunyai akhlak yang baik?
1. Pertama kita harus sadar bahwa anak itu milik Allah. Allah yang mengurus anak kita. Kalau ingin anak baik, kita duluan yang musti baik.
2. Kita berikan lingkungan terbaik untuk anak. Pendidikan yang baik.
3. Jangan lupa doa. Kita doakan sekuat tenaga agar Allah membolak-balik hati anak kita. Meluruskan yang bengkok, mengistiqomahkan yang sudah lurus, karena sejatinya bukan kita yang berperan besar terhadap perubahan akhlak anak, tapi hanya Allah saja yang bisa mengubah anak kita menjadi lebih baik.

Tahapan memperbaiki diri agar akhlak menjadi baik:
1. Bertekad untuk memperbaiki diri
2. Bercermin pada akhlak Rasulullah SAW. Rasulullah adalah insan yang paling baik akhlaknya. Ikuti semua perintahnya. Bila Rasulullah bicara : Jangan marah, maka bagimu surga. Maka ikutilah. Berusahalah untuk tidak/ sekuat tenaga menahan marah. Karena kalau kita sudah terlanjur marah, maka setan akan berbisik menyuruh kita menambah volume suara, menambah lebar mata dengan melotot, dan akhirnya malah akan memperburuk suasana dan tidak menghadirkan solusi.
Kalau perlu jangan membaca referensi lain sebelum paham benar tentang akhlak Rasulullah.
3. Riyadhoh/mujahadah. Latihan secara rutin dan tak kenal lelah. Latihan menarik napas panjang jika sudah ada tanda-tanda kesal di hati. Latihan tersenyum di cermin agar kehadiran kita selalu menyejukkan hati orang-orang terdekat.
4. Istiqomah atau disiplin.

Semua langkah di atas dibarengi dengan selalu meminta pertolongan Allah SWT agar dimudahkan mencapai tujuan yang diharapkan.

Semoga resume ini bermanfaat.

Jumat, 09 Oktober 2015

Cerpen ketiga di majalah Bobo: Misteri Bau Nenek


Misteri Bau Nenek
Oleh: Kalya Innovie

            Nenek sudah meninggal tiga bulan yang lalu. Waktu itu Vini dan Dodi pergi ke Jogja bersama Ayah dan Ibu, untuk ikut menyaksikan Nenek dimakamkan. Sedih sekali ditinggal Nenek. Nenek orang yang senang bergurau dan baunya selalu harum.
            Pagi ini, Tante Cica datang ke Malang. Tante Cica adalah adik Ibu yang paling kecil. Selama ini, Tante tinggal di Jogja mengurus rumah Nenek.
            “Vini, Dodi, Tante kangen,” ucap Tante Cica memeluk Vini dan Dodi saat tiba di rumah. Ayah tadi yang menjemput Tante di stasiun. “Tante bawa bakpia banyak lho buat kalian. Yang rasa keju dan rasa cokelat.”
            “Terima kasih, Tante. Dibawa ke sekolah, boleh? Untuk bekal, Bu?” tanya Vini dengan mata berbinar melihat kotak-kotak bakpia keju bertumpuk di meja makan.
            “Boleh,” sahut Ibu, membantu Vini menata bakpia di kotak bekalnya. “Dodi mau juga?”
            Dodi mengangguk, sambil mengunyah nasi goreng sarapannya. Saat Tante Cica tiba, Vini dan Dodi memang sedang bersiap-siap berangkat sekolah.
            “Tante juga bawa salak pondoh, mau dibawa juga ke sekolah?” tanya Tante Cica, masih membongkar tas berisi oleh-oleh.
            “Nggak usah, Te. Salaknya buat dimakan di rumah saja,” jawab Dodi.
            Tak lama, setelah siap, dua adik kakak itu segera berpamitan. Mereka ke sekolah naik sepeda, karena jarak sekolah tidak terlalu jauh dari rumah. Jalanan pun tidak terlalu ramai.
            “Kak Vini, ngerasa ada yang aneh, nggak, dengan Tante Cica?” tanya Dodi saat mereka sudah agak jauh dari rumah.
            “Iya, Dod. Baunya, kan? Bau Tante, mirip bau Nenek.”
            “Hiii, ngeri, ya, Kak.”
            “Ssst, kalau menurut Kakak, Tante Cica pasti pakai parfumnya Nenek.”
            “Ooh…iya, ya. Bisa juga. Dodi kira, Nenek ikut juga pergi ke Malang, cuma…nggak kelihatan…hiii,” Dodi mengayuh sepedanya cepat-cepat meninggalkan Vini.
            “Huu, dasar Dodi. Terlalu banyak nonton film hantu. Hai, tunggu!” Vini buru-buru menyusul adiknya.
*
            “Tante Cica nggak capai, dari perjalanan?” tanya Vini sepulang sekolah. Tante sedang membantu Ibu menyeterika.
            Tante Cica tersenyum.
            “Tante nggak capai, Vin. Justru Tante rasanya segar menghirup udara Malang yang sejuk. Kalian siap-siap ya, Tante mau jalan-jalan ditemani kalian lihat-lihat kota. Kita cari bakso yang enak.”
            “Oke, Te.”
            Vini berjalan masuk ke kamarnya hendak mengganti baju. Ia singgah dulu ke kamar adiknya.
            “Dod, ada yang aneh lagi. Biasanya, Tante Cica kalau ke Malang, hari pertama selalu tidur seharian, kan? Alasannya capai dan masuk angin. Tapi sekarang kok, beda, ya? Malah semangat bantuin Ibu dan masih mau ngajak jalan-jalan juga!”
            “Nggak papa, Kak. Malah bagus. Ibu nggak marah-marah gara-gara Kak Vini malas bantuin kerjaan rumah, dan kita juga senang dapat bakso gratis!”
            “Yee, bukan itu, Dod. Maksud Kakak, mirip Nenek kan, tiap datang ke sini juga begitu. Nggak ada kata capai, langsung saja kerja, bikin kue atau bersihin kebun. Ya, nggak?”
            “Wah, iya, Kak. Jangan-jangan gara-gara pakai parfum Nenek, Tante jadi kerasukan Nenek!”
            “Hish, jangan keras-keras suaranya, Dodi. Nanti Ibu sedih kalau dengar kita ngomongin Nenek. Nggak mungkin, kan, Nenek jadi hantu. Nenek kan, orang baik.”
            “Jadi bagaimana, masih mau ngebakso atau membahas Tante Cica, nih?”
            “Bakso dulu, dong. Cepetan sana ganti baju!”
*
            Dengan gembira, Vini dan Dodi pergi jalan-jalan menemani Tante Cica. Mereka naik angkot warna biru ke arah kota. Makan di sebuah kedai bakso yang paling terkenal di kota Malang. Sebuah kedai bakso yang lokasinya pas di samping rel kereta api. Dodi paling senang makan di sana. Biasanya setiap makan di sana, dua atau tiga kereta api melewati rel. Suaranya memang berisik, tapi rasanya seru, makan bakso sambil melihat kereta api lewat.
            Setelah makan bakso, mereka pergi ke pusat perbelanjaan terbaru di kota Malang. Hanya putar-putar cuci mata. Setelah puas, baru mereka pulang ke rumah. Setelah mandi dan mengerjakan PR, Vini dan Dodi tertidur karena kelelahan.
            Vini terbangun karena mencium bau wangi khas yang ia kenal baik. Wangi kenanga kesukaan  Nenek. Tiba-tiba ia merasa merinding. Ia beranikan diri untuk mendekati asal bau wangi itu. Sepertinya dari arah dapur. Lampu ruang makan dan dapur sudah dimatikan, tapi Vini melihat ada seseorang berdiri di dekat meja dapur. Jantung Vini berdetak kencang saat bau itu semakin tajam. Lalu tampaklah sesosok tubuh dengan rambut digelung di atas kepala, memakai daster gombrong warna putih bunga-bunga. Vini tahu itu daster siapa.
            “Ne…ne…nenek!” Vini terpekik, lalu jatuh lemas di lantai.
            “Vini, ada apa?” sosok itu mendekat. Vini mendengar pintu kamar orang tuanya terbuka dan Ibunya keluar.
            “Ada apa, Cica?”
            Lampu dinyalakan. Vini dapat melihat dengan jelas bahwa sosok yang ia kira Nenek, adalah Tante Cica.
            “Kamu kenapa, Nak?” tanya Ibu.
            Tante Cica memberikan segelas air untuk diminum oleh Vini.
            “Vini kira…tadi…Vini melihat Nenek,” ucap Vini menatap Tante Cica. Ibu melirik daster yang dipakai Tante.
            “Oh…gara-gara Tante pakai baju ini, ya? Maaf ya, Vin. Pasti kamu takut sekali, ya?” ucap Tante Cica.
            “Vini juga cium bau wangi kenanga tajam banget, seperti bau Nenek, Te. Benar, Bu!”
            Ibu tersenyum. Tante Cica juga.
            “Memang ada bau kenanga,” ucap Tante Cica. “Tapi bukan bau Nenek. Melainkan bau Tante Cica. Nih, Tante ikut-ikutan kebiasaannya Nenek, menyeduh bunga kenanga untuk diminum.”
            Tante menunjukkan sebuah cangkir berisi air dan bunga kenanga. Aroma kenanga memenuhi hidung Vini.
            “Itu…diminum?” tanya Vini.
            “Iya. Ini rahasia awet muda Nenek sejak bertahun-tahun lamanya,” jelas Tante Cica. “Vini lihat, kan, Nenek itu seperti tidak kenal lelah. Selalu bersemangat. Dan bau tubuhnya harum sewangi kenanga. Sejak Nenek meninggal, Tante merawat kebun Nenek dan kenanga-kenanga Nenek. Sebagian bunga kenanga itu biasanya dijual di pedagang kembang, tapi masih sisa banyak. Sudah dua bulan ini, Tante mencoba resep awet muda Nenek dengan minum air seduhan kenanga. Dan, itu berhasil, lho. Tante merasa selalu segar dan sehat. Nggak sering lemas seperti dulu. Gitu ceritanya, Vini….”
            “Ooh…,” Vini manggut-manggut menerima penjelasan dari Tante Cica. Penjelasan itu masuk akal. Buktinya Tante memang sekarang wangi dan bersemangat, beda dengan yang dulu.
            “Sudah jelas, kan? Pasti kamu tadi sudah mikir seperti di film horor, ya?” tanya Ibu. Pipi Vini memerah malu.
            “Ya sudah, sana tidur lagi. Jangan lupa berdoa sebelum tidur, ya.”

            Vini mengangguk berjalan kembali ke kamarnya. Masih terdengar di telinganya Ibu dan Tantenya tertawa berdua. Eits, samar terdengar suara tawa yang lain…lirih dan khas seperti suara tawa Nenek! 

Rabu, 30 September 2015

Menulis Cerpen di Kompas Anak

Salah satu media yang menerima naskah cerpen anak, adalah harian Kompas. Biasanya pada hari Minggu, ada halaman khusus anak di media ini. Di halaman anak tersebut ada rubrik "Boleh Tahu", semacam artikel ringan tentang berbagai pengetahuan, rubrik "Cerita-cerita" yaitu cerpen anak, resensi buku anak, rubrik "Ruang Kita", berisi kiriman puisi dan gambar/lukisan anak.

Bagaimana persyaratan menulis di Kompas (Anak)? Berikut saya salinkan dari halaman Kompas Anak:

"Redaksi menerima kiriman naskah, cerita pendek, atau dongeng. Karangan harus asli dan belum pernah diterbitkan. Panjang karangan 3-4 halaman, diketik dua spasi. Karangan yang layak muat akan diberi imbalan yang pantas. Naskah harap dikirim ke Redaksi Kompas Anak, Jl. Palmerah Selatan Nomor 26-28, Jakarta 10270"

Nah, itu salinan tanpa ditambah dan dikurangi. Tapi, kita juga bisa kirim naskah via email. Di zaman digital ini, apa sih yang tidak bisa dikirim via email. Ya, Nggak? Email Kompas adalah kompas@kompas.com

Asyiknya mengirim naskah ke harian Kompas (Anak), adalah kita nggak lama-lama di-PHP. Harian ini tertib mengirimkan surat penolakan naskah jika naskah kita memang belum layak muat. Seperti yang saya terima beberapa bulan yang lalu. Yah, walaupun ada rasa sedih, tapi sekaligus lega kalau tahu naskah kita belum layak muat. Kenapa lega? Ya, berarti kita bebas merevisinya lalu mengirimnya ke media lain yang lebih sesuai. Ya, kan? Ya, kan?
Surat penolakan tersebut juga dilampiri print out dari email kita plus naskah yang kita kirimkan. Lalu di bawah surat penolakan tersebut ada beberapa kriteria umum untuk artikel Kompas Anak. Kriterianya saya salin di sini ya:

1. Asli, bukan jiplakan/saduran/terjemahan, belum pernah dimuat dalam penerbitan lain, dan hanya ditulis/dikirim khusus untuk Kompas Anak.
2. Cara penyajian tidak berkepanjangan tapi padat, singkat, mudah ditangkap, gaya bahasa enak dibaca, dan sesuai dengan kaidah ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan.
3. Panjang naskah maksimal 3 halaman kuarto untuk cerpen dan dongeng dan 4 halaman kuarto untuk rubrik Boleh Tahu, semuanya dengan ketikan dua spasi, tulisan diharapkan jelas dan bersih (tanpa coretan).
4. Sering tulisan yang pantas dimuat terpaksa dikembalikan, karena tidak mungkin lagi memuatnya pada waktu yang tepat berhubung terbatasnya ruangan atau benturan dengan tulisan-tulisan lain.

Nah. Begitu. Coba baca sekali lagi poin ke-empat, naskah kita ditolak tuh, bukan berarti naskah kita jelek. Tapi kalau naskah saya yang ditolak itu, kayaknya beneran jelek, hiks. Alasan yang tertulis adalah: jalan cerita masih sederhana/kurang menarik *tears*

Jadi, apakah saya kapok mengirim naskah ke Kompas? Jawabnya tentu tidak. Masih ada satu naskah saya yang belum ada kabar di sana. Entah nggak nyampai, entah ditolak, entah tiba-tiba nongol di Kompas, huhuyy...yang terakhir itu yang selalu saya harapkan *nyengir*

Nah, sudah paham kan, cara mengirim naskah cerpen ke Kompas (Anak)? Ayo, segera kirim naskahmu. Dan koleksi surat penolakannya ... eh, nggak ding. Dan semoga kita beruntung. Oya, satu informasi penting yang belum saya sampaikan, honor cerpen di Kompas Anak ini adalah Rp350.000,-

Yuk, segera kirim cerpenmu.

Contoh halaman kompas anak:


Cerpen kedua di Bobo: Mira Susah Tidur


Mira Susah Tidur
Oleh: Kalya Innovie

Tak tik tak tuk. Jarum jam dinding di ruang tengah terdengar di telinga Mira. Krieeet. Kali ini suara pintu kamar Mama yang terbuka. Lalu batuk-batuk, dan suara langkah kaki Mama menuju kamar mandi. Kemarin malam, Mira juga mendengar saat Mama ke kamar mandi. Setelah buang air kecil, pasti Mama akan singgah, membuka pintu kamarnya dan bilang:
"Kok, belum tidur?"
Nah, benar, kan. Kali ini Mama menyempatkan masuk kamar, lalu meraba kening Mira.
"Mira, ini sudah hampir pukul dua belas malam, lho. Ayo, buruan tidur. Besok kamu mengantuk di kelas."
Mira mengangguk, memejamkan mata, mencoba untuk tidur.
*
            Bukan satu dua kali ini Mira susah tidur. Hal ini sudah berjalan selama lima malam. Ya, sudah lima malam ia baru bisa tidur di atas pukul dua belas. Mira sendiri tak tahu kenapa ia jadi susah tidur. Yang jelas, akibat susah tidur, ia jadi sering mengantuk di kelas. Mama bilang, kalau hal ini terus berlanjut, Mira akan dibawa ke dokter.
            “Dulu, aku pernah disuntik. Sakiiit sekali,” kata Aina pada Mira, waktu ia cerita di kelas.
"Ah, paling nggak disuntik. Paling cuma dikasih obat yang pahiiit banget," timpal Vero sambil sambil mengunyah kacang. Saat itu pas jam istirahat.
“Ada loh, tetanggaku yang sakitnya lama trus pulang masih dengan infus di tangannya,” Sofi menambah dengan menggebu-gebu.
Teman-teman Mira langsung saling pandang dengan tatapan ngeri mendengar cerita Sofi. Mereka menatap iba pada Mira yang duduk di bangku dengan muka mengantuk.
“Ah, aku nggak mau ke dokter. Kalian menakut-nakuti aku,” ucap Mira, lalu menguap untuk ke sekian kalinya.
“Mira, ini permen kopi. Supaya kamu nggak ngantuk lagi.” Fairuz memberinya sebutir permen kopi.
“Kopi?” gumam Mira. Mira ingat, Kakek pernah bilang, kalau minum kopi, ngantuknya bisa hilang.
“Kok, jadi bengong? Kenapa, sih, Mir?” tanya Fairuz.
“Hmm…kurasa aku nggak perlu ke dokter. Aku sudah tahu bagaimana menyembuhkan penyakitku,” jawab Mira pasti.
“Bagaimana?” tanya teman-temannya serempak.
“Ah, itu rahasia.” Mira senyum-senyum.
*
            Rencananya usai makan malam, Mama akan mengajak Mira ke dokter. Selama makan, Mira duduk tenang mengunyah makanannya. Ia berpikir bagaimana harus menjelaskan pada Mama. Ia tidak menyadari Mama mengawasinya dengan tatapan cemas.
            “Ke dokternya setelah isya saja, ya?” cetus Papa di sela makan. Usai menghabiskan isi piringnya, Papa minum segelas air, lalu mengintip mug kopinya. Minum seteguk kopi dari mug.
            “Ma, mug kopi Papa jangan keburu dicuci, ya. Masih setengah isinya. Nanti Papa minum lagi setelah sholat isya.”
            “Mama selalu cuci kalau mug itu sudah kosong, Pa. Selama ini juga begitu,” jawab Mama.
            “Ehm. Eh, Mira mau ngomong sesuatu, Ma, Pa.”
            Mama dan Papa menoleh.
            “Mira nggak usah ke dokter, ya. Mira sudah tahu kenapa Mira nggak bisa tidur lima malam ini,” ucap Mira pelan.
            “Kenapa?” tanya Mama.
            Terbata-bata, Mira menjelaskan bahwa sudah lima malam ini ia selalu menghabiskan kopi di mug Papa.
            Mama dan Papa melongo mendengar penjelasan Mira.
            “Pantas saja akhir-akhir ini tiap pulang sholat isya dari masjid, Papa cari kopi, eh, mugnya sudah dicuci Mama.”
            “Mama cuci karena Mama lihat sudah kosong. Rupanya…,” Mama melirik Mira.
            “Kenapa Mira minum kopi Papa?” tanya Papa lunak.
            “Habis enak, sih,” jawab Mira tertunduk.
            “Mira tahu apa kesalahan Mira?” tanya Mama.
            “Iya, Ma. Mira minum kopi tanpa minta izin pemiliknya. Mira minta maaf, ya, Pa.”
            “Lain kali bilang. Mira boleh, kok, minum kopi Papa. Tapi cuma boleh seteguk saja. Bukan setengah mug,” ujar Papa.
            “Semua yang berlebihan itu tidak baik, Mira. Kopi bukan minuman yang cocok untuk anak-anak. Pantas saja kamu jadi susah tidur,” pungkas Mama. Kesal, tapi lega juga karena penyakit susah tidur Mira bisa segera diketahui penyebabnya.
*
            Mira sudah selesai mengerjakan pe-ernya. Dilihatnya jarum jam meja menunjuk angka sembilan. Dirapikannya buku-buku sambil menguap beberapa kali. Alangkah senangnya bisa merasakan kantuk pas jam tidurnya. Tadi, Mama tak mengizinkannya minum kopi lagi. Sebagai gantinya, Mama membuatkan segelas susu hangat. Mira pernah baca, susu bisa membantu kita tidur lebih lelap.
Pukul sepuluh malam, Mama dan Papa mengintip kamar Mira. Mereka tersenyum lega melihat Mira sudah tertidur. Bahkan Mira tampak tersenyum dalam tidurnya.
"Pasti putri Mira sedang mimpi minum kopi di istananya," gurau Papa tersenyum.
“Papa tuh, yang harus mengurangi minum kopi juga,” cetus Mama. “Besok Mama bikinin di gelas kecil saja, ya?”
“Ah, gara-gara Mira, nih. Jatah kopi Papa jadi berkurang.”
“Sudah, sudah. Ayo kita tidur. Biarkan Putri Mira dengan mimpi indahnya.”

Pintu kamar ditutup. Mira membuka mata, nyengir, lalu kembali tidur memeluk gulingnya.**

Selasa, 22 September 2015

Sharing Menulis Cerita Anak (bagian 3) *Menyusun Naskah Aktivitas AUD*

Saat kita berbagi, kita akan mendapatkan ilmu yang lain juga. Demikian saya kutip dari Mbak keren, kawan saya Etyastari Soeharto. Dan kata-kata mutiara beliau itu benar adanya saya rasakan saat harus sharing tentang menulis cerita anak, tanggal 13 September 2015 kemarin.

Ilmu apa yang saya dapatkan? Begini, kan saya sudah cerita bahwa di workshop itu saya sebagai pembicara kedua. Nah pembicara pertamanya adalah seorang psikolog cantik bernama Mbak Miftahul Jannah. Beliau ini sudah menerbitkan beberapa buku tentang aktivitas anak. Nah, hal itulah yang beliau bagikan sebagai materi workshop. Tepatnya materinya berjudul: "Aspek-aspek Perkembangan AUD Sebagai Dasar Menyusun Naskah Aktivitas Untuk AUD".

Apa itu anak usia dini? Kalau di luar sana (maksudnya luar negeri), menurut Mbak Miftahul a.k.a Mbak Ita, usia dini itu dari 0 - 8. Tapi di Indonesia, berdasarkan UURI No 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 14, usia dini adalah sejak anak lahir hingga 6 tahun.

Seperti kita ketahui, anak usia dini mempunyai tahap-tahap perkembangan dalam mencapai kecerdasannya. Nah, dalam menyusun naskah aktivitas untuk anak usia dini, kita harus menentukan terlebih dahulu aspek perkembangan apa yang ingin distimulasi, target usia atau jenjang pendidikan calon pembaca buku kita.

Saat ini sudah lazim diketahui bahwa kecerdasan manusia itu tidak melulu kecerdasan kognitif, atau kecerdasan akademis. Ada yang kita kenal sebagai multiple intelegensia atau kecerdasan majemuk. Aspek kecerdasan majemuk ini ada delapan, yaitu:
1. Kecerdasan verbal linguistik/kecerdasan bahasa
2. Kecerdasan logika matematika
3. Kecerdasan visual spasial
4. Kecerdasan gerak tubuh
5. Kecerdasan musikal berirama
6. Kecerdasan antar-diri (intrapersona)
7. Kecerdasan dalam diri (interpersonal)
8. Kecerdasan alam natural

Semua aspek kecerdasan majemuk penting untuk dikembangkan dan bukan satu aspek saja. Dahulu lazim orangtua fokus pada kecerdasan logika matematika. Anak-anak dipaksa les berhitung walaupun tidak suka. Padahal mungkin anak tersebut lebih dominan kecerdasan bahasanya atau kecerdasan musikalnya. Sekarang saatnya menstimulasi anak dengan semua aspek kecerdasan, kemudian mendukung satu atau dua aspek yang menonjol pada anak kita. Misalnya, anak kita ternyata condong pada kecerdasan gerak tubuh, apabila kita mendukungnya dengan mengikutkannya pada klub-klub olahraga, bukan tidak mungkin kelak ia akan mengharumkan nama bangsa dengan menjuarai salah satu cabang olahraga tingkat dunia.

Kembali ke naskah buku aktivitas, anak usia dini pada umumnya senang bertanya, rentang perhatiannya masih pendek (susah konsentrasi dalam waktu yang lama), sehingga buku naskah aktivitas yang kita susun sebaiknya adalah sebuah naskah yang bisa dikerjakan secara bertahap. Kalau anak lelah, bisa berhenti dulu dan dilanjutkan lain waktu.

Dalam mencapai tingkat kecerdasannya, anak melalui berbagai stimulasi tumbuh kembang baik untuk perkembangan motorik halusnya (koordinasi gerakan otot-otot kecil), motorik kasar (gerakan yang melibatkan lengan, tungkai dan seluruh badan anak), perkembangan bahasa (kemampuan komunikasi dan memahami kata), maupun perkembangan sosial-emosi (kemampuan memahami perasaan).

Berbagai buku aktivitas mempunyai tujuan umum yaitu menstimulasi tumbuh kembang anak sesuai tahapan umur guna mencapai kecerdasan majemuk. Apabila orangtua ingin mengembangkan bakat anak di bidang tertentu, misalnya seorang anak sudah tampak kecerdasan musiknya sejak kecil, maka dapat dicarikan buku aktivitas yang lebih khusus, dengan berbagai bentuk kegiatan yang lebih fokus pada pengembangan kecerdasan musikal anak. Apakah buku aktivitas bertema khusus seperti itu ada di toko-toko buku? Tentu saja ada. Kalaupun tidak ada, berarti tugas Anda untuk menyusunnya!

Contoh-contoh buku aktivitas:
1. Pada anak usia TK yang baru mulai diajarkan pengenalan huruf, sangat penting untuk menstimulasi motorik halusnya sehingga gerakan otot memegang pensil mulai melemas. Buku yang tepat untuk menstimulasi motorik halus, menurut Mbak Ita, adalah buku-buku semacam buku origami (keterampilan melipat kertas dapat melemaskan otot jari-jari anak), buku membuat macam-macam playdough, buku dot to dot (menggabungkan titik-titik), dan lain sebagainya.

2. Untuk menstimulasi motorik kasar anak, buku yang tepat adalah buku di mana di dalamnya ada berbagai instruksi anak untuk melempar, melompat, berjongkok, jalan mundur, dan lain sebagainya.

3. Buku aktivitas untuk melatih kemampuan berbahasa, adalah buku semacam kamus bergambar, dengan gambar-gambar yang menarik dan keterangannya. Tentunya untuk anak yang belum bisa membacanya, orangtua harus selalu mendampingi untuk siap membacakan dan bermain bersama si kecil.

4. Buku aktivitas untuk melatih sosial emosi, misalnya satu halaman buku memuat dua gambar yang satu gambar anak yang membuang sampah sembarangan, yang satu anak yang membuang sampah di tempat sampah. Lalu anak dipersilakan memilih mana perbuatan yang baik? Atau mana yang benar dan mana yang salah?

Nah, lalu bagaimana dengan gambar-gambar? Bukankah buku aktivitas untuk anak-anak PAUD dan TK itu biasanya full gambar? Begini saran Mbak Ita bila ingin mengajukan dummy (buku contoh) ke penerbit.

1. Buat buku aktivitas minimal 80 halaman

Mengapa harus 80 halaman? Menurut Mbak Ita, Toko Buku Gramedia sekarang tidak mau menerima buku yang tipis. Dan buku yang tipis juga tidak bagus penyampulan plastiknya (mudah melengkung). Lagipula bukankah semakin tebal buku, honor kita juga semakin banyak? Jadi lebih tebal lebih baik (matre dot kom, hahaha).

2. Tentukan tujuan/sasaran buku tersebut (untuk segmen umur berapa, untuk menstimulasi tumbuh kembang yang bagaimana)

Ini penting. Ingat membuat buku aktivitas pun tak main-main. Niatkan sebagian untuk amal membantu para orangtua menstimulasi tumbuh kembang anak. Segmen umur juga membantu penerbit untuk menentukan pangsa pasar. Bocoran Mbak Ita, penerbit suka yang range segmennya agak luas, jadi buku itu nanti bisa dilabeli dengan: Buku untuk PAUD dan TK (agar pasarnya lebih luas).

3. Dummy dapat dilengkapi gambar (cukup gambar sederhana atau bisa juga mencomot dari google).

Bolehkah mencomot google? Nggak papa karena hanya untuk contoh. Nanti pihak penerbit akan menyediakan ilustrator sendiri. Yah, tentunya konsekuensinya adalah Anda berbagi honor dengan ilustrator. Lebih bagus lagi kalau Anda juga pandai menggambar. Dummy dengan contoh gambar hasil karya orisinil tentu akan lebih menarik hati penerbit, dan honor Anda jadi lebih besar (sekali lagi hidup matre).

Nah, di sesi tanya jawab ada satu pertanyaan yang penting nih. Pertanyaannya begini: Saya pernah mencoba membuat contoh buku aktivitas, tapi saya malu mengajukan pada penerbit. Saya bukan berlatarbelakang psikolog. Saya ini apalah apalah...

Jawab Mbak Ita:
Ibu adalah guru pertama anak. Bertanggungjawab atas pendidikan anak. Sebenarnya itu sudah cukup untuk dapat menerbitkan sebuah buku aktivitas. Misalnya dengan mencantumkan identitas penulis: Siti Rahmah, ibu tiga anak, pemerhati dunia pendidikan.
Atau, bisa disesuaikan dengan latarbelakang pendidikan (kebetulan si penanya adalah lulusan kedokteran hewan), misalnya dengan menyusun buku aktivitas "Mengenal Berbagai Hewan Darat", "Mengenal Berbagai Hewan Air", "Mengenal Berbagai Hewan yang Bisa Terbang", "Mengenal Berbagai Hewan Buas" ... wow ... sudah dapat satu ide buku berseri mengenal hewan, kan?

Asyik, saya langsung membayangkan menyusun buku aktivitas: "Mengenal Berbagai Pohon Asli Indonesia" (karena saya bekerja di dunia kehutanan).

Terima kasih, Mbak Ita. Materinya sangat menginspirasihh...

Berbagai buku karya Mbak Ita adalah sebagai berikut:


Disarikan dari workshop menulis cerita anak 13 September 2015 yang terselenggara berkat kerjasama:
Perpustakaan kota Yogyakarta
Sirkulasi Kompas Gramedia
Phicatering
IIDN Jogja


COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES