Senin, 25 Desember 2017

Opini Harian Bernas: Mengapa Transportasi Online?

Saya juga suka menulis non fiksi seperti tulisan-tulisan serius untuk kolom opini di surat kabar. Waktu itu rame-ramenya demo terhadap transportasi online dan sebagai pengguna saya merasa tergerak untuk ikut bersuara. Lebih mirip curhat, sih, tapi alhamdulillah dimuat juga di harian Bernas, Yogyakarta, bulan Maret 2017. Berikut naskah aslinya, ada perubahan judul dan sedikit isinya juga, namun tidak mengubah makna.









Time is Money, Mengapa Memilih Transportasi Online

Membaca wacana pelarangan transportasi berbasis online (Bernas, 13 Maret 2017), membuat saya tercenung. Masalah transportasi ini sudah sejak lama menjadi pemikiran saya, terutama setelah di beberapa daerah sempat terjadi demo transportasi konvensional terhadap keberadaan transportasi online seperti terjadi di kota Malang beberapa waktu lalu.
            Dua bulan lalu saya adalah pengguna setia transportasi konvensional. Mulai angkot Jogja-Kaliurang yang lewat per 20 menit sekali (jika lancar), angkot Purwobinangun-Ps. Kranggan yang hanya tinggal 9 armada (jika jalan semua), jalur bus konvensional terutama yang melalui kampus UGM (jalur 2, 4, 15), trans jogja, taksi dan ojek konvensional, semua pernah saya jajal. Kesan saya terhadap semua transportasi tersebut adalah: kondisi kendaraan kebanyakan sudah tidak laik jalan – sering mogok, kendaraan sering ngetem menunggu penumpang sehingga penumpang sering tidak tepat waktu sampai tujuan. Untuk trans jogja, nunggunya agak lama sehingga mungkin memang perlu penambahan armada, dan di beberapa bus ada kebocoran AC parah. Taksi dan ojek konvensional merupakan pilihan terakhir jika terburu-buru pergi ke suatu tempat. Hanya saja tarifnya terlalu mahal.
            Pada saat saya mulai menggunakan aplikasi transportasi online, semua masalah yang saya temui saat mengendarai transportasi konvensional, sirna. Kelebihan transportasi online antara lain: tersedia 24 jam, pesan bisa di mana pun dan kapan pun, dijemput langsung di posisi kita berada dan diantar sampai tujuan, driver ramah dan sopan, tarif sudah ditentukan oleh perusahaan dan tidak naik sesuka hati. Lagipula tarifnya sangat murah. Memang tarifnya tidak bisa mengalahkan tarif trans jogja, tapi bila dibandingkan dengan taksi dan ojek konvensional jelas sangat beda jauh. Bisa sampai setengah atau bahkan seperempatnya saja. Jelas, banyak kalangan lebih memilih transportasi online dibandingkan dengan transportasi konvensional, terutama kalangan mahasiswa dan pegawai yang penghasilannya pas-pasan.
            Pembenahan masalah transportasi di Jogjakarta, menurut pendapat saya haruslah memikirkan kebutuhan semua pihak. Tidak hanya kebutuhan driver (konvensional maupun online), tidak hanya kebutuhan pemerintah setempat untuk menegakkan aturan, namun juga kebutuhan penumpang. Menjamurnya jumlah driver transportasi online adalah bukti bahwa masyarakat sebagai pengguna, menyambut baik dan sangat terbantu dengan keberadaannya. Kalaupun memang pihak pemerintah dalam hal ini dinas perhubungan ingin melarang transportasi online, maka harus ada pembenahan pada transportasi konvensional. Cobalah disurvey terlebih dahulu kondisi transportasi konvensional dan lakukan perbandingan dengan transportasi online. Pejabat dinas perhubungan sebaiknya merasakan sendiri bagaimana bepergian dengan menggunakan transportasi konvensional maupun online sehingga dapat merasakan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Mengingat pengguna transportasi online sudah sangat banyak, maka apabila hendak dilakukan pelarangan sebaiknya dilakukan proses diskusi dengan melibatkan semua pihak, termasuk pengguna. Bagaimana sesungguhnya yang diinginkan oleh masyarakat pengguna sarana transportasi publik ini. Apabila tetap dilakukan pelarangan transportasi online tanpa alternatif kompromi, bisa jadi pengguna transportasi online tidak akan kembali menggunakan transportasi konvensional, melainkan memutuskan untuk membeli motor yang tentunya malah menambah kemacetan di Yogyakarta. Hal ini sangat mungkin terjadi, karena dari percakapan saya dengan driver ojek online yang kebetulan juga seorang marketing kendaraan roda dua, dengan uang muka Rp350.000,- orang sudah bisa membeli motor dengan cicilan Rp650.000,- per bulan selama tiga tahun. Jargon lama Time is Money masih terus berlaku, orang rela membayar demi jarak dan waktu tempuh yang lebih singkat.
            Maka, jangan hanya bisa melarang sesuatu yang kemudian akan menambah masalah yang lebih parah, misalnya kemacetan lalu lintas. Tapi mari mencari win win solution yang membuat semua pihak senang. Hadirnya transportasi online adalah bukti bahwa ada yang salah dengan transportasi konvensional di Yogyakarta. Jadi mari dibenahi bersama tanpa harus mematikan lahan pekerjaan orang yang baru mulai tumbuh dan berkembang. Benahi transportasi konvensional, lalu buat regulasi agar ada pembatasan-pembatasan untuk transportasi online. Misalnya untuk tujuan non urgent ada pembatasan jalur edar dan jadwal operasi (misalnya pada siang hari hanya beroperasi dari rumah pengguna ke halte trans terdekat; sore hingga pagi hari dapat beroperasi di seluruh kota). Banyak alternatif yang bisa disepakati, asal semua pihak diajak duduk bersama.

Cerpen Gogirl! Magazine: Janji Eka

Waktu itu 16 April 2017 kala cerpenku dimuat di majalah Gogirl! Ide cerpen ini adalah ketika aku ketemu lagi dengan teman-teman masa kecilku di grup wa SD. Masa yang telah lama berlalu, namun ada kenangan yang begitu lucu. Tapi yang kutulis dalam cerpen ini, sebagian besar adalah imajinasi, tentu saja, hehe. Berikut naskahnya:





Janji Eka
Oleh: Kalya Innovie
               
Aku mendengarkan celoteh Vita di dapur. Adikku itu sedang membicarakan tentang sinetron ABG bersama Mama. Intinya dia merasa pusing dengan sinetron yang ia tonton karena anak-anak SMP sudah berani pacaran. Aku tersenyum mencuri dengar dari kamar. Kamarku dan dapur hanya dibatasi dinding papan, jadi semua dialog Mama dan Vita terdengar dengan sangat jelas. Hampir tawaku meledak mendengar kegusaran Vita pada teman-temannya yang juga sudah mulai terpengaruh dengan sinetron itu. Vita memang anaknya agak kaku dan terlalu serius. Perasaan cinta itu sebenarnya tidak bisa direncanakan kapan datang dan hilang. Seperti aku, yang mulai merasakan sayang pada lawan jenis di usia yang sangat belia. Ingatanku melayang saat aku masih duduk di bangku kelas enam SD.
***
Cowok bertubuh kurus itu masih bersandar di tembok, di sampingku. Tangannya terlipat rapi, bibirnya cemberut. Aku duduk di bangku, di sebelahnya. Sedikit miring agar dapat melihat wajahnya yang kusut.
                “Jadi benar kamu mau pindah ke Malang, Lea?” tanyanya sekali lagi.
                Aku mengangguk untuk yang kesekian kalinya.
                “Kenapa sih, kamu nggak di sini saja?”
                Aku mengembuskan napas.
                “Kan sudah aku jelaskan. Papa dan Mamaku ingin aku menetap di satu kota. Nggak ikut mereka pindah-pindah lagi. Dan itu di Malang, di sana ada nenek.”
                “Kenapa kamu nggak di sini saja?” Eka masih ngotot dengan pertanyaannya.
                “Ekaa … kan sudah aku jelaskan, aku nggak punya saudara di sini.”
                “Kamu tinggal di rumahku saja,” sahut Eka.
                Aku melotot. Senyum usil muncul di bibir Eka.
                “Mimpi,” ucapku sambil memukul bahunya pelan.
                “Hehe, tapi kamu suka kan?” Eka cengengesan.
                “Eka … aku….”
                “Iya, Lea. Aku tahu. Kita masih terlalu kecil untuk pacaran. Gini aja, tulis alamatmu di Malang. Nanti kalau kita sudah SMA, aku akan mencarimu.”
                Aku mencari secarik kertas dalam tas dan mulai menulisinya dengan alamat nenek. Walau sebenarnya aku ragu dengan kata-kata Eka.
                Eka menerima alamatku sambil senyum-senyum.
                “Ingat, Lea. Kamu jaga diri di sana, ya. Gak usah pacaran. Nanti pacarannya sama aku aja, pas kita SMA. Tunggu aku, ya.”
                Eka menjabatku dan memberi cubitan kecil dalam telapak tanganku, lalu lari pulang sambil melambai-lambaikan tangan. Uh, aku belum sempat membalas cubitannya. Aku pun segera pulang, memegang janji Eka dalam hati.
***
                Kilasan kenangan bersama Eka itu selalu muncul dan muncul dalam benakku. Dan selama tiga tahun menjalani SMP di Malang, aku benar-benar setia pada Eka, cinta monyetku di SD itu. Ada beberapa teman yang minta aku jadi pacar, tapi di samping aku merasa aku masih kecil, setiap ada cowok pedekate, aku selalu merasa telapak tangan kananku panas. Cubitan Eka terasa seolah baru kemarin terjadi.
                Ada satu cowok yang dengan setia nembak aku. Namanya Joe. Ia baik. Tidak balik membenciku walau aku sudah menolaknya beberapa kali. Kami menjadi sahabat. Dan karena hubungan kami yang dekat, aku tak ragu bercerita tentang Eka.
                “Jadi selama ini kamu nungguin si Eka itu?” tanya Joe dengan nada cemburu. “Kok kamu lugu banget sih, Lea. Bisa jadi si Eka itu cuma omong kosong saja. Selama kita SMP, ada nggak dia kirim surat atau telepon?”
                “Nggak. Kan, masih SMP. Janjinya kan ketemuan pas SMA.”
                “Kamu yakin dia nggak lupa?”
                Aku menggeleng. Entahlah. Tiba-tiba keraguan memenuhi hatiku. Kupandangi Joe yang balik memandangku dengan tatapan sangsi. Sejak saat itu dengan sangat menjengkelkan ia menjulukiku si lugu.
**
                Joe sangat girang ketika kami masuk di SMA yang sama. Kami masih bersahabat, walau beberapa kali, Joe suka juga cari-cari kesempatan nembak aku. Kadang dia mencandai aku. Apa kabar Eka? Begitu tanya Joe sambil senyum-senyum mengejekku.
                Apa kabar Eka? Yah, terus terang, di dalam hatiku, wajah Eka pun sudah kabur. Cubitannya di telapak tanganku tak pernah terasa lagi, terkubur oleh senyuman Joe, candaan Joe dan kata-kata manis Joe.
                “Lagipula zaman internet gini kalian tuh gak berhubungan bahkan via sosmed? Aneh, deh. Trus, kalau semisal Eka itu sudah mati, kamu mau nunggu dia terus? Sudah. Terima saja Joe,” gerutu Ivon sahabatku ketika akhirnya aku bercerita tentang Eka padanya.
                Duh, Eka … kamu di mana?
                “Kamu tuh benar-benar lugu, Lea,” imbuh Ivon lagi. “Di saat kamu menggenggam janji setia Eka, cowok itu mungkin sudah pacaran dengan banyak gadis di belahan bumi sana.”
                Keraguan kembali menyelimuti hatiku.
                “Terima saja Joe. Dia sudah membuktikan kesetiaannya selama tiga tahun di SMP. Dan sekarang kita sudah SMA, sudah boleh pacaran, kan. Ingat, teman kita banyak yang cantik-cantik. Joe juga cowok yang menarik. Jangan sampai kamu nangis kalau Joe pacaran sama cewek lain,” pungkas Ivon, memandang tajam padaku.
***
                Mama dan Vita berhenti ngobrol ketika terdengar bunyi kendaraan di halaman rumah. Aku menengok jam dinding, masih satu jam lagi waktu janjianku dengan Joe. Kok, dia sudah datang, sih. Aku bangkit mengganti bajuku.
                “Kak, ada temanmu,” Vita datang melongok dari korden kamar.
                “Kak Joe, ya? Suruh tunggu dulu.”
                “Bukan Kak Joe. Aku nggak kenal. Katanya sih, teman lama kakak.”
                Aku mengernyitkan kening karena merasa tidak janjian dengan siapapun. Teman lama? Tiba-tiba hatiku resah tak jelas. Aku bersegera ke ruang tamu. Dua orang cowok duduk menunggu di sana. Salah satunya tersenyum manis menyambutku. Aku terdiam berdiri di tempatku, tak kuasa mengeluarkan sepatah kata mewakili perasaanku.
                “Lea, apa kabar?” tanya sosok kurus yang kini tinggi menjulang. Dia tersenyum. Senyum usil itu. Mata penuh rindu. Aku yang terpaku.
Kemarin aku menerima cinta Joe yang menembak untuk ke tiga belas kalinya. Dan sekarang aku harus menyiapkan kata-kata untuk Eka yang datang membuktikan janji. Aku harus bagaimana?**

Selasa, 03 Oktober 2017

Cerita keenam di majalah Bobo (Kotak Bekal Misterius)









Kotak Bekal Misterius
Oleh: Kalya Innovie

Siroh meninggal. Gadis ramah berkepang dua itu tak dapat bertahan dari penyakit demam berdarah yang dideritanya. Teman-teman sekelasnya di SD Pucang sedih. Siroh alias Siti Rohani, memang terkenal baik hati dan tidak pelit.  
            Dua minggu berlalu dan kelas 5 A sudah berkegiatan seperti biasa. Laila, yang dulu sebangku dengan Siroh, sudah asyik duduk dengan Amina. Wajah-wajah murung  tak tampak lagi. Tapi ada yang masih sering menangis diam-diam.
**
            Pagi itu Laila masuk kelas seperti biasa. Ia terpekik melihat di meja sebelahnya tergeletak sebuah kotak bekal warna merah. Wajah Laila memucat, memerhatikan kotak bekal  bergambar pokemon itu. Di bangku belum ada tas Amina. Laila menoleh ke kiri dan ke kanan, bingung.
            “Kenapa, La?” tanya Utari yang melihat tingkah aneh Laila.
            “Ituu ...,” bisik Laila menunjuk kotak bekal.
            Utari mengernyitkan kening, berpikir, lalu membelalak.
            “Kotak bekal Siroh!” pekik Utari.
            “Iyaa … kenapa bisa ada di situ?” spontan Laila melompat mundur memeluk Utari.
            “Ada apa ini?”
            Teman-teman  berdatangan. Setelah tahu persoalannya, mereka sama-sama ketakutan melihat kotak bekal itu.
            “Aku buka, ya?” tanya Fajar mengulurkan tangan.
            “Iya, buka saja, Jar,” balas Amina berbisik. Ia ketakutan. Ia kan duduk di bangku Siroh. Mungkin sebaiknya ia kembali ke bangku lamanya.
            Pelan-pelan Fajar membuka kotak bekal itu, harum nasi goreng menguar.
            “Masih hangat,” bisik Fajar.
            Laila mengintip, air matanya mengalir.
            “Nasi goreng sosis merah, bekal favorit Siroh,” bisik Laila terduduk lemas.
**
            Bu Widi, wali kelas 5 A, sudah mendapat penjelasan dari Fajar, sang ketua kelas. Beliau duduk di depan meja guru, dengan kotak bekal Siroh terbuka di atas meja. Bu Widi menghela napas panjang, memandang satu-satu wajah muridnya.
            “Sekali lagi ibu tanya, siapa yang membawa kotak bekal ini?” Bu Widi bertanya pelan.
            Tak ada yang menyahut. Kelas hening.
            “Apa mungkin … Si … Siroh sendiri yang datang, Bu?” suara Utari memecah keheningan. Anak-anak langsung riuh seperti lebah berdengung.
            “Hantu itu nggak ada,” bantah Fajar dengan suara pelan, tapi otaknya berputar memikirkan berbagai kemungkinan.
            “Benar kata Fajar, anak-anak. Hantu itu tidak ada. Nasi goreng inipun jelas dimasak oleh manusia. Ibu beri waktu sampai jam pulang. Tolong mengaku saja yang sudah membawa kotak bekal ini. Beri penjelasan pada Ibu dan Ibu tidak akan marah.”
            “Maksud bu Widi, salah satu dari kita sengaja melakukannya?” bisik Tiara pada Fajar. Sang ketua kelas hanya mengangguk.
            “Tapi apa tujuannya?” lanjut Tiara.
            “Entahlah, nanti kita pikirkan sama-sama,” ucap Fajar.
**
            Sampai jam pulang, tidak ada yang mengaku  membawa kotak bekal itu. Dan keesokan harinya, kotak bekal yang sama ada di atas meja Laila lagi. Kali ini Laila pingsan. Keadaan jadi semakin heboh. Bu Widi kelihatan marah. Tapi beliau tidak sempat mengatakan apa-apa pada anak-anak karena sibuk mengurus Laila di ruangan kesehatan. Anak-anak ribut  bercakap-cakap membahas kejadian itu.
            “Kok bisa ada lagi? Isinya mie goreng dengan suwiran daging ayam. Aku pernah melihat Siroh bawa bekal seperti itu,” ucap Tiara.
            “Benar, aku juga pernah makan mie goreng Siroh, persis seperti yang tadi,” timpal Utari.
            “Padahal, kotak bekal yang berisi nasi goreng kemarin disimpan oleh Bu Widi,” gumam Fajar.
            “Berarti pelakunya sengaja membeli kotak bekal yang sama dengan punya Siroh,” cetus Tiara.
            “Pernah lihat toko yang jual tempat bekal seperti itu, nggak?” tanya Fajar.
            Utari menggeleng ragu. Tiara mengangkat bahu tanda tak tahu.
            Fajar berpikir keras hingga alisnya menyatu di kening.
**
            Hari ke tiga, tidak ada peristiwa kotak bekal lagi. Hari ke empat, kotak bekal itu kembali lagi membuat heboh kelas 5 A. Kali ini, Fajar berhasil menenangkan Laila. Lalu memanggil Bu Widi. Wali kelas cantik itu duduk diam di meja guru, karena Fajar sudah meminta waktu untuk bicara.
            “Bu Widi, dan teman semua. Kotak bekal Siroh kembali lagi. Kali ini isinya donat, kue kesukaan Siroh. Tapi saya, dan Tiara sudah tahu bahwa bukan Siroh yang punya kotak bekal ini. Yang punya bekal ini … adalah … Utari,” Fajar tersenyum mengulurkan telunjuk pada Utari.
            Seluruh siswa kelas 5 A terperanjat, lebih-lebih Utari.
            “Kamu … jangan menuduh sembarangan, Jar!” teriak Utari dengan wajah memucat.
            “Aku nggak menuduh sembarangan. Aku dan Tiara mengadakan penyelidikan kecil-kecilan dua hari ini. Kami bertanya pada Pak Leo, satpam sekolah tentang siapa-siapa siswa yang datang pagi-pagi sekali dua dan tiga hari yang lalu. Dan kemarin serta hari ini, aku dan Tiara sengaja  sembunyi di lemari, menunggu si pembawa kotak bekal beraksi lagi. Dan … kami bahkan berhasil memotret kamu sedang beraksi, Tari,” Fajar mengacungkan ponsel.
            Utari terbelalak tapi lalu menangis terisak-isak. Pengakuan terlontar dari bibirnya.
            “Aku rindu Siroh. Ia selalu baik. Kalian sering mengejekku bodoh, tapi Siroh nggak. Dua minggu ini, aku masih merindukan Siroh. Tapi kalian bertingkah seperti Siroh tak pernah ada. Terutama kamu, Laila. Kamu malah cepat sekali melupakan Siroh dan bermain dengan Amina,” Utari terisak-isak.
            Bu Widi  berjalan mendekati Utari, memeluknya. Teman-teman Utari juga mendekat.
            “Aku juga rindu Siroh, Tari,” isak Laila. “Aku nggak pernah melupakan Siroh.”
            “Tidak ada yang lupa pada Siroh, Tari. Siroh selalu akan ada di hati kita semua,” Bu Widi memeluk murid-muridnya yang terbawa kenangan pada Siroh yang lembut hati.
            Misteri kotak bekal Siroh terpecahkan. Perbuatan Utari juga sudah dimaafkan. Teman-temannya berjanji tak akan sering mengejeknya lagi. Tiga kotak bekal dikembalikan pada Utari.

**
            Pagi cerah. Murid-murid kelas 5 A belum ada yang datang. Tapi sebuah benda kotak berwarna merah sudah ada di atas meja Laila. Kotak bekal bergambar pokemon. Kali ini tidak berwarna merah cerah seperti tiga kotak punya Utari. Kotak ini merahnya sudah pudar, seperti milik Siroh.**

Keterangan:
**Kotak Bekal Misterius dimuat di Bobo 13 Juli 2017

Senin, 02 Oktober 2017

Surat dari Rumah Akasia


Surat dari Rumah Akasia adalah sebuah judul kumpulan cerita karya teman-temanForum Penulis Bacaan Anak (PBA). Penyusunan buku kumpulan cerita ini adalah untuk memperingati tercapainya member FPBA hingga 20.000. Jumlah yang cukup fantastis. Audisi pun digelar dengan beberapa penanggungjawab untuk menyusun lima (atau enam?) buku kumpulkan cerita.

Pada saat audisi ini digelar, saya sedang giat belajar di sebuah kelas menulis online, tepatnya menulis cerita anak. Kesempatan untuk satu buku dengan beberapa penulis anak yang sudah tenar, tentu tidak akan saya lewatkan begitu saja, jadi sayapun ikut mengirimkan naskah. Alhamdulillah, kemudian naskah saya terpilih menjadi salah satu cerita yang dimuat di salah satu buku kumpulan cerpen itu. Cerita saya berjudul "Rumah Pohon Lina", mengisahkan seorang gadis kecil yang baru saja pindah ke sebuah lingkungan baru. Di lingkungan baru itu, ia memiliki banyak teman. Meskipun begitu ia masih merindukan rumah pohon di tempat tinggalnya yang lama. Alangkah senangnya, ketika teman-teman di kampung baru Lina, mau bersama-sama membuat rumah pohon. Tempat bermain mereka menjadi lebih menyenangkan.

Selain kisah "Rumah Pohon Lina", masih banyak kisah-kisah menarik lainnya yang dapat dibaca di buku kumpulan cerpen ini. Ada kisah "Ide-ide Aneh Andit" karya kak Rh. Mandala yang bercerita tentang Andit yang suka melakukan hal-hal aneh. Nah, kenapa ya, Andit seperti itu? Di akhir cerita ada surprais dari Andit buat kita semua. Ada kisah "Main Apa, Ya?" karya kak Rubee Putri, yang bercerita tentang dua orang kakak beradik Reno dan Levi yang suka bermain bersama, sekaligus suka bertengkar bikin ibu pusing. Nah, kira-kira main apa ya, mereka hingga mereka bisa rukun kembali?

Masih banyak lagi kisah menarik lainnya. Ada dua puluh kisah dalam buku kumpulan cerpen ini, cukup banyak, bukan?
Oh ya, buku kumpulan cerpen ini bisa diperoleh dengan memesan langsung dari penerbitnya yaitu Penerbit Bitread. Kirim pesan whatsapp ke nomor 083890790002. Sampai 11 Oktober 2017, masih ada diskon 20%, lho.


Senin, 21 November 2016

Ketika Lagu Bisa Demikian Menyentuhmu

Selama ini saya menyanyi dalam kadar penghayatan yang sedang-sedang saja. Yah boleh dikata agak lebay dikitlah. Contohnya sewaktu saya menyanyikan lagu nasional "Tanah Airku". Walaupun saya belum pernah pergi jauh, belum pernah jalan-jalan di banyak negeri, tapi saya tetap mewek jika menyanyikan lagu tersebut dengan serius.

Ini penggalan lagunya: ...."Walaupun saya, pergi jauh. Tidakkkan hilang dari kalbu. Tanahku yang kucintaiii. Engkau kuhargaiii.

Adapun lagu-lagu cinta, tidak pernah memberi efek yang gimana gitu buat saya. Mungkin saya memang tidak romantis? Entahlah.

Tapi kemudian perjalanan hidup saya mengantarkan saya pada satu pemahaman bahwa lagu memang bisa membawa manusia yang mendengarkannya terbang di awang-awang, atau terpuruk dalam kesedihan, atau bergelora dalam semangat, atau apapun itu tergantung lagunya.

Saya ada seserpih cerita. Adalah seorang lelaki yang dalam perjalanan hidupnya mungkin pernah khilaf menyukai saya yang tidak sempurna ini. Kami bertemu kembali dalam kondisi sudah sama-sama berkeluarga dan memutuskan untuk menjalin persahabatan yang baik. Kebetulan ternyata kami sama-sama suka film genre tertentu sehingga kadang kami terlibat obrolan seru tentang film dan lain sebagainya. Kadang dia mengirimkan lagu.

Suatu saat saya mendengarkan lagu Rossa dan dengan iseng saya mengirimkan lagu tersebut untuk dia. Ternyata, dia mengaku menangis mendengarkan lagu yang saya kirim tersebut.

Ini penggalan lagunya:

Aku menyesal tlah membuatmu menangis,
Dan biarkan memilih yang lain,
Tapi jangan pernah kau dustai takdirmu,
Pasti itu terbaik untukmu

Janganlah lagi kau mengingatku kembali,
Aku bukanlah untukmu,
Meski kumemohon dan meminta hatimu,
Jangan pernah tinggalkan dirinya untuk diriku.

Hmm, setelah saya pikir-pikir, memang sebuah lagu itu kadang dapat sangat meracuni pikiran. Apalagi jika isi lagunya sesuai dengan pengalaman hidup kita. Inti dari postingan ini, pandai-pandailah memilih lagu dan memilihkan untuk anak-anak kita. Cari lagu yang positif yang dapat membangkitkan semangat optimisme dalam hidup, meningkatkan rasa cinta pada tanah air, lingkungan sekitar, sesama manusia dan agama.
Lagu cinta-cintaan...? Bolehlah, tapi jaga hati biar nggak terlalu baper ndengerinnya.

Sebagian ulama mengharamkan musik dan lagu, mungkin karena alasan bahwa lagu dapat membuat kita lalai. Jadi jangan lalai, tetap menjalankan semua kewajiban hidup dan mendengarkan musik sebagai pemanis.

Senin, 19 September 2016

Membuat E-KTP

Pagi ini saya diantar suami pergi ke kecamatan Biringkanaya, untuk mengurus pembuatan E-KTP. Karena beberapa minggu sebelumnya suami sudah pernah mengurus, jadi saya sudah tahu persyaratan apa yang harus disiapkan. Syaratnya mudah, yaitu fotokopi kartu keluarga dan fotokopi ijazah terakhir. Kami langsung berangkat setelah absen di kantor. Belum pukul 08.00 ketika kami tiba di kecamatan, tapi yang mengantri terlihat mulai ramai.

Suami memasukkan berkas dan kemudian kami duduk berdua menunggu nama saya dipanggil. Tak sampai satu jam (kayaknya nggak sampai satu jam, tapi perasaan lama banget karena saya sampai ngantuk-ngantuk), nama saya dipanggil dan saya segera masuk. Saya mendapatkan nomor antrean foto, yaitu nomor 24. Saya keluar duduk lagi menunggu dengan sabar (lumayan sambil melakukan hal-hal geje di grup WA SD).

Kurang dari setengah jam, nomor saya dipanggil. Saya masuk dan disuruh menunggu panggilan foto bersama semua orang dengan nomor antrean 16-25. Seorang petugas menaikkan volume suara menyuruh orang-orang yang tidak berkepentingan untuk keluar dulu. Hmm, dalam ruangan tunggu yang juga berfungsi sebagai ruang macam-macam urusan itu sudah sangat penuh. Saya pun hanya bisa menunggu (backsound: lagu kumenunggu, dari Rossa)

Nomor antrean 24!
Saya masuk ke ruangan lain di mana seorang mas-mas menghadap komputer sedang meladeni seorang pemuda untuk menjalani rangkaian pembuatan E-KTP. Jadi begini, awalnya saya disuruh duduk manis menunggu giliran si pemuda. Sambil menunggu tentu saja saya cermat mengamati tahapan apa saja yang harus dilakukan.

1. Duduk tenang di depan kamera. Serahkan berkas fotokopi KK dan ijazah pada mas-mas yang bertugas. Sebenarnya kurang tepat aku memanggilnya mas-mas. Mungkin daeng-daeng lebih tepat. Si daeng akan mengetik data nomor induk dan nama di layar komputer. Memastikan bahwa namamu adalah nama yang tertera di KK. Lalu dia akan menarik layar di tembok belakangnya untuk memberi background merah sebagai latar foto, dan menyuruhmu menatap kamera.

2. "Senyum," itu pesannya sebelum merekam detil wajah dengan kamera. Wah, terus terang saya senang dengan arahan untuk tersenyum itu. Berarti foto KTP akan menjadi terlihat lebih menarik dengan senyum senyum bertebaran. Tapi kenyataannya saya tidak bisa senyum terlalu lebar. Karena saya tidak yakin apakah senyum yang dimaksud itu cukup menyunggingkan sedikit bibir agar terlihat melengkung ke atas, atau senyum lebar, atau senyum sok imut. Ah, seharusnya tadi saya tanyakan.

3. Setelah difoto, saya harus tanda-tangan elektrik, merekam sidik jari, tanda tangan sekali lagi. Terakhir keluar untuk mendapatkan resi pengambilan E-KTP yang akan jadi tanggal 27 Oktober 2016. Berarti sebulan lebih. Yah, tak apa. Menunggu saja dengan sabar.

Demikianlah tahap-tahap pembuatan E-KTP. Tidak susah dan tidak pakai lama (nunggu jadinya aja yang lama sebulan lebih). Apalagi kalau ngantrenya mulai pagi-pagi sekali.

Ini KTP lama saya yang masih dibuat secara manual.

Jumat, 02 September 2016

Jangan Menolak Tua

Semingguan ini punggungku terasa panas. Bukan, bukan karena kelamaan duduk menghadap laptop menyusun laporanku yang tertunda. Kalau karena hal itu, biasanya muncul saat aku sudah tiga jam duduk. Tapi ini … panas punggung terasa mulai dari saat aku bangun tidur sampai aku tidur lagi. Pas tidur nggak terasa lagi. Ya iyalah.

*
Aku sudah diskusi dengan bidan pribadiku, ciee, bidan pribadi. Benar, temanku, sahabatku Dyah yang jadi bidan di pelosok Tuban, sudah kutahbiskan menjadi penasihat medis pribadiku. Terserah dia keberatan atau tidak, wong konsulnya juga hanya sebatas ngobrol di WA. Hahaha. Nah, bidan manis itu sudah setengah memaksaku minum simvastatin untuk kolesterolku. Tak apa minum obat dari pada kamu selalu berkeluh kesah, katanya. Tapi yah, daku memang bandel dan bertahan hanya menjalani terapi koles dengan mengurangi makanan berlemak dan olah raga. Gaya banget ya? Hmmm.
*
Nah, berhubung panas punggung terasa makin mengganggu, akhirnya aku menyerah dan segera pergi ke dokter sekaligus konsul tentang hasil cek kolesterolku tempo hari. Dokter mendengarkan keluhanku dengan seksama, lalu bertanya. 
“Ibu umur berapa?”
Di depan dokter, untuk alasan kesehatan, Anda tidak dapat menjawab pertanyaan semacam itu dengan candaan: “Dokter mau tau aja, apa mau tau bangeeet?”
Akhirnya kusebutlah angka sakral itu. 
*
“Baiklah, Bu Indah. Semua gejala yang Ibu sebutkan itu wajar saja untuk orang seusia Ibu.”
What?
“Dengan bertambahnya usia, secara normal semua organ-organ tubuh akan mengalami penurunan fungsi. Ibu harus menerima kenyataan ini.”
What?
Apakah tampak di dahiku tulisan “Menolak Tua”, Bu Dokter yang terhormat?
Tapi aku hanya menanggapi dengan tawa dan senyum manis, … 
“Hehee, iya, Dok. Saya menolak tua.” Dokter pun tertawa … entah apa arti tawanya. Apakah karena dia juga sama sepertiku? Huehehe. 
*
Kami pun berdiskusi mengenai pengobatan yang harus kujalani. Dan aku diberinya tiga resep obat yaitu: Vitamin B kompleks untuk pegal-pegal, penahan nyeri untuk sakit punggungku, dan simvastatin untuk si koles. Plus … tetap hidup sehat banyak minum air putih, kurangi gorengan, kurangi protein hewani, perbanyak asupan buah dan sayur, serta rajin olah raga.
*
Kamu gimana, sudah hidup sehat, kan? Sudah minum air putih, belum? Makan buah dan sayur? Sudah berhenti merokok? Sudah olah raga? Keep healthy… 
*
Oh, ya ... postingan ini sebelumnya kutulis sebagai status facebook. Dan ada komentar yang bagus dari seorang sahabatku yang juga seorang dokter. Baiklah akan kusalin saja di sini. Himbauan dari Kementerian Kesehatan, kita harus CERDIK mengelola kesehatan.

C -- Cek kesehatan rutin
E -- Enyahkan asap rokok
R -- Rajin Olah Raga
D -- Diet Seimbang
I -- Istirahat cukup
K -- Kelola Stress dengan baik

Yuk, tetap sehat dan jadilah orang yang CERDIK...




Menua menjadi memesona (kupu-kupu)
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES