Minggu, 28 Agustus 2016

Memulai Olah Raga Lari: Jurnal Minggu 28 Agustus 2016

Aku lari lagi. Ya, harusnya dua hari sekali, tapi aku baca di sebuah artikel, tak apa lari lima kali dalam seminggu untuk pemula. Sedangkan Murakami bilang, ia berlari setiap hari. Murakami? Dia penulis terkenal dari Jepang dan sekaligus pelari yang tangguh. Aku terinspirasi dari dia juga saat memulai olah raga lariku. Kapan-kapan kuceritain tentang bukunya Pak Murakami tentang lari. Soalnya aku belum khatam baca buku itu.

Kali ini aku keluar rumah pukul 05.30 dan memutuskan untuk ke jalur utara. Seperti biasa aku pemanasan sejenak dan kulihat seorang pelari berkaus hitam lari ke arah utara. Wow, ini pertama kalinya aku melihat ada teman berlari di sepanjang jalan Palagan ini. Dan itu membuatku bersemangat dan termotivasi. Oke, let's start.

Aku mulai lari sambil mengatur napas dengan sebaik-baiknya agar tidak ngos-ngosan. Seperti biasa aku menyelingi lariku dengan jalan sesekali. Dan yang sangat menyenangkan aku sekarang bisa lari/jalan mencapai satu kilometer (sampai di minimart yang pernah kuceritakan kemarin). Wow rasanya puas sekali dan aku bahkan berkeringat di sepanjang perjalanan. Ini pertama kalinya aku lari/jalan pagi dan merasa bahagia luar biasa. Aku mulai menikmati aktivitas ini. Semoga saja istiqomah ya.


Memulai Olah Raga Lari: Jurnal Sabtu, 27 Agustus 2016

Hari ini aku mulai lari saat sinar matahari mulai menerangi bumi, tepatnya pukul 05.30 pagi. Rute kuubah ke arah selatan, jalanan menurun. Rencana jalan kaki full 30 menit. 15 menit turun, dan balik 15 menit kemudian. Lho kok jalan kaki? Ya, walaupun agak berubah dari rencana awal (niat lari pagi), tapi hari ini aku mau membuktikan ucapan temanku bahwa aku sebenarnya nggak usah lari tapi cukup jalan kaki selama 30 menit asal rutin dan itu sudah mengeluarkan keringat. Oke.

Aku jalan seperti yang kumau dan lumayan jauh juga walau tidak mencatat waktu. Apakah selama 30 menit itu aku berkeringat? Ya, ternyata memang berkeringat, walau nggak terlalu yang gimana gitu. Hanya sumuk sithik, kata orang Jawa, atau gerah dikit. Langit cerah dan suasana hatiku lumayan baik. Eh ... aku lupa, sebenarnya suasana hatiku tak terlalu baik. Tapi udara segar ternyata memang sangat ngefek untuk mengembalikan mood-ku.

Gambar dari google

Sebenarnya mana yang lebih baik, lari atau jalan? Dari beberapa artikel yang kubaca, sebenarnya semua terpulang pada kita sendiri. Olah raga lari jelas menguras energi lebih banyak dari olah raga jalan kaki. Anda boleh memutuskan untuk olah raga lari tapi tidak boleh berlebihan. Dan jika memutuskan jalan kaki, harus konsisten. Nah, kalau aku memutuskan untuk lari dan jalan, perpaduan antara keduanya, selama aku belum kuat lari terus menerus. Menurutku lari itu lebih keren dari pada jalan kaki, huahaha ... mau nurunin kolesterol apa ngejar keren sih buk. Yah begitulah kalau bisa ya dua-duanya.

Ohya, olah raga jalan kaki ternyata banyak juga manfaatnya lho. Kapan-kapan akan kuresume deh apa saja manfaatnya. Untuk sekarang, cukup sekian dulu, ya....

Rabu, 24 Agustus 2016

Tiga Hari Penuh Cinta: Rehat Lari, Cheating, Reunian

Hari ini Selasa (23 Agustus 2016) dan mulai hari Jumat kemarin (lima hari) aku belum lari lagi. Astaga, ada godaan apa? Kamis malam aku berangkat ke Malang dengan tujuan selama tiga hari: Jumat, Sabtu, Minggu aku akan menemani orangtuaku sebelum mereka berangkat haji. Sebenarnya niat untuk lari ada, bahkan aku bawa training dan kaus lariku.

Jumat pagi (19 Agustus 2016) jam empat, aku sampai di Malang dan melirik rak sepatu. Ada sepatu Mamaku yang bisa dipinjam. Tapi subuh itu Mamaku minta diantar jalan-jalan sekalian belanja. Aku nggak kepikiran ganti sepatu bahkan ganti bajupun tidak. Langsung temani Mama jalan-jalan pagi. Aku lari-lari kecil di sebelah beliau, walau hanya pakai sendal jepit.

Jumat ini aku berencana ketemu teman-teman lama di Malang. Pagi aku ketemu sahabatku SMP, Mulyaningtyas yang biasa kupanggil Tyas. Tyas datang ke rumah bersama putri bungsunya, Vania. Kami ngobrol seru sambil lihat-lihat foto jadul. Lalu seperti biasa wefie sambil tak habis-habis ketawa. Ini wefie kami yang fenomenal.



Siang hari aku berencana makan siang di dekat rumah, ditemani sahabat yang lain. Kali ini aku hanya makan salad buah dan minum jus strawberry, demi kesehatan, walaupun saladnya full mayo, hmm dan jusnya terlalu manis (lupa minta gulanya dikurangi). Lalu aku pergi ke Matos, beli sebuah buku tentang sesuatu yang sudah lama ingin kubaca. Baru sekitar setengah jam di Matos, ponselku bunyi. Kakak tercinta menelepon mengatakan bahwa ia ada di rumah dan sudah memesan bakso langganan buat aku. Hmmm, sebenarnya bakso adalah makanan yang harus kupantang, tapi tak apalah cheating kali ini. Aku meluncur pulang. Di mikrolet sahabatku waktu kuliah menghubungi dan berjanji akan datang ke rumah.

Sampai di rumah sudah menunggu sebungkus bakso rudi (nama yang jual itu rudi). Aku sengaja tak memakannya tapi menunggu sahabatku datang agar kami bisa makan semangkuk bakso berdua, ahahahaaa. Romantis atau ngirit atau pelit...huahaha.
Dan datanglah sahabatku itu ke rumah, lalu ngobrol seru, makan bakso dan wefian lagi. Hmm, wefienya burem-burem, gak usah diaplotlah. Niy kalau sahabatku itu baca pasti protes karena fotonya gak diaplot ... hihihi. Sabar say, kau tlah teraplot di hatiku, huhuy....

Sabtu bukan jadwal lari. Pagi datang temanku membawakan hadiah untuk Mamaku. Yang ini lupa foto. Dan ia juga hanya sebentar singgah di rumah, karena mau buru-buru arisan sesama dosen perikanan, jiahh. Salam ya, Wik ... buat Pak Agus dan Pak Ismadi (disampaiin nggak?), dan terima kasih untuk hadiah buat ibuku ... kapan-kapan aku yaa yang dikasih hadiah, hehehe.

Siangnya datang sahabat sebangku waktu di kelas 1 SMA, Elfin. Ngobrol seru dan cekikikan terlebih saat hendak wefian, baru kutahu ia gaptek mengoperasikan ponselnya sendiri. Ngakak kami gak jadi selfie ... lha wong aku juga gaptek dan kebetulan PLN hari itu lagi rajin bener-benerin kabel, sehingga ponselku mati seharian karena gak bisa dicharge. Selepas temanku pergi, aku buru-buru siap-siap ke bhaswara kafe, janjian sama temen-temen SMA yang mau ngobrolin rencana reuni Desember. Ini nih ada fotonya.



Pulang dari bhaswara aku siap-siap membantu orangtuaku yang lagi ada tamu. Bikinin minum, ngeluarin kue, lalu ikut-ikut ngingetin apa yang harus mereka siapkan untuk dibawa ke tanah suci. Pukul 02.00 dini hari, aku nganter mereka ke agen "Saudaraku" berangkat naik bus ke Surabaya - Jakarta - Jeddah. Pulangnya aku langsung tidur bareng kakak tercinta dan ponakan di rumah mereka di Villa Tidar Indah.

Tidur pukul 03.00 tak membuatku kebablasan, karena otomatis pukul 06.00 aku terbangun dan melihat kakakku usai sholat. Aku sendiri lagi nggak sholat. Kakakku balik lagi ke kasur cek-cek ponselnya. Akupun ngecek ponsel sambil sesekali ngobrol sama kakak. Tiap obrolan kami menjadi lebih seru, ponakanku yang tidur di tengah langsung gerak-gerak di balik selimutnya. Hahaha, pasti suara tawa kami sangat mengganggunya. Biarin...hihihi.

Kami akhirnya bangun dan mandi pada pukul ... ah tak usahlah ditulis pukul berapa, ya? Kakak menawari apakah aku mau ke CFD atau makan rawon saja? Pilihannya antara rawon tessy atau rawon nguling? Hmm, aku belum pernah ngerasain rawon yang terkenal itu. Tapi itu berarti aku akan cheating untuk yang kedua kalinya. Okelah tak apa. Coba rawon tessy ... yang ternyata rasanya biasa-biasa saja kalau menurut aku sih. Lebih enakan rawon made by my mother. Tiwas cheating yooo....

Dari rawon tessy kami putar-putar menghindari macet karena ada event mobil hias di dalam kota. Kakak mengajakku ke macipo ... Malang Center Point, sebuah mall yang agak sepi. Di sana belanja buah, dan duduk-duduk di J.Co Donuts. Sebenarnya ini cheating juga, karena resto ini salah satu yang seharusnya tak kukunjungi. Tapi tak apa demi kebersamaan yang indah. Kami foto-foto lagi dan memikirkan caption yang cocok untuk foto yang akan kami aplot di medsos nanti. Hahaha, bener-bener geje.



Sepulang dari J.Co, kakakku langsung tidur di kamarnya. Aku menemani ponakan yang lebih memilih mainan ponsel. Lama-lama aku juga tidur di sebelahnya. Kami bangun usai ashar, dan lalu makan roti yang kami beli di macipo. Roti dengan topping potongan keju yang besaaarrrr...wowww, ini potensial untuk meningkatkan kolesterol ternyata. Aku cheating lagi ... huhuhu. Wah, sambil nulis ini aku baru ingat kami beli kue-kue warna hitam yang menggiurkan karena berisi cokelat cair. Aku belum sempat makan ... tapi tak apa karena makan cokelat berarti cheating untuk yang ke sekian kali, hedewww.

Sambil makan roti keju dan semangka, kami pilih-pilih lagu untuk dinyanyikan bersama. Dengan gap umur yang agak jauh, ponakan selalu menolak lagu yang ditawarkan, alasannya lagunya too jadul, wkkk, sehingga akhirnya pilihan jatuh pada lagu daerah saja. Judulnya Sioh Mama. Yang liriknya ... "ayam hitam, telurnya putih ... mencari makan ... bla bla bla..."

Setelah puas nyanyi, aku buru-buru mandi untuk ngejar jadwal kereta ke Jogja. Hmm, godaannya sudah usai? Belum, karena kecepetan, jadi kami makan dulu di bakso stasiun. Cheating again yaaa ... hmmm. Cheating sambil lihat-lihat tukang baksonya yang menarik karena kembar. Kesimpulannya: Mas yang bikin minum lebih kurus dari kembarannya yang ngeracik bakso ... wkkk oposeh.

Setelah makan bakso langsung cuzz stasiun dan aku masuk ke peron. Good bye, Malang. Always loving this city. Karena ada setumpuk cinta di sini.







Memulai Olah Raga Lari: 24 Agustus 2016

Setelah enam hari tidak lari, aku memulai lari lagi. Dan kali ini ada hal fatal yang lupa kulakukan, yaitu minum segelas-dua gelas air putih sebelum berlari. Akibatnya apa ... aku kehausan di dua ratus meter pertamaku, hahaha.

Kerongkongan terasa kering dan aku memutuskan untuk berjalan saja, namun memanjangkan jarak tempuh. Oya, aku juga menemukan palang petunjuk bahwa ke arah utara ada sebuah mini market, sejauh satu kilometer. Berarti seandainya aku dapat mencapai mini market tersebut, aku akan berlari atau berjalan sejauh dua kilometer tiap pagi.

Pagi itu aku nggak nyampai di mini market, hanya sampai di palang petunjuk berikutnya bahwa mini market tersebut masih 500 meter di depan, lalu aku balik kanan pulang. Artinya pagi itu aku mencapai jarak tempuh sejauh 1 kilometer pp. Sudah cukup lumayanlah untuk diriku pribadi. Prestasi kita dalam mencapai apa saja, tidak harus dibandingkan dengan orang lain, namun dibandingkan dengan prestasi kita di hari kemarin. Kita dikatakan berprestasi, jika kita di hari ini lebih baik dari hari kemarin. Setujuuuuu???

Suasana pagi saat yang tepat bagiku untuk lari...
(Foto diambil dari koleksi whatsapp, kayaknya kiriman teman, tapi lupa siapa, hehe)

Senin, 22 Agustus 2016

Mengantar Orang Tua Pergi Haji

Akhirnya orangtuaku pergi haji, alhamdulillah.

Perjalanan spiritual mereka tak pernah aku ketahui secara pasti, tapi yang jelas orangtuaku bukanlah orang yang sangat religius. Pada saat aku kecil, mereka memang menyuruhku mengaji dan sholat, tapi tak pernah memaksa, bahkan membiarkan ketika aku mandeg mengaji dan malas-malasan sholat.

Kedua orangtuaku sholat juga tapi bukan merupakan kaum putih yang sholat lima waktu sehari kemudian aktif ke masjid. Ketika aku tumbuh dewasa, aku belajar sendiri mengaji secara otodidak maupun dengan guru. Dan sholatku juga kuperbaiki sendiri walau sampai detik ini aku belum bisa membanggakan diri sebagai ahli sholat.

Dalam doaku selalu kusebut nama kedua orangtuaku agar mereka menerima hidayah. Agar mereka rajin sholat dan mau mempelajari agama Islam secara kaffah. Lalu suatu hari mereka berdua mengalami kecelakaan. Papaku yang lebih parah karena harus menjalani operasi untuk tulang punggung yang patah. Mama hanya retak di punggung tangan, namun cukup membuatnya repot beraktivitas. Ternyata kejadian kecelakaan itu merupakan titik balik kedua orangtuaku. Setelah sembuh, keduanya rajin sholat di awal waktu. Setiap aku mudik, tak lupa ditanya oleh mereka apakah aku sudah sholat atau belum. Alhamdulillah.

Pendaftaran haji sudah diurus kakak perempuanku sejak lama. Dan kemarin 21 Agustus akhirnya mereka bisa berangkat ke tanah suci. Rasa haru menyelimutiku melihat keduanya bersisian duduk di dalam bus yang memberangkatkan mereka ke Surabaya.

Selamat jalan papa mama, opa oma, semoga perjalanan dan kegiatan selama berhaji dapat memberi kenyamanan dan ketenangan. Sehat terus, dan pulang kembali dalam keadaan sehat, selamat, serta mabrur, aamiin.


Memulai Olah Raga Lari: (4) Tanda-tanda Kolesterol Tinggi

Hari ini adalah hari off saya berlari. Jadi saya akan posting segala hal yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dengan program lari saya. Kali ini saya mau membicarakan tentang pemicu mengapa saya jadi memutuskan untuk berlari. Yap, itu adalah karena kadar kolesterol dalam darah saya yang sudah melewati ambang batas normal.

Kebetulan saya dapat broadcast di grup whatsapp tentang tujuh tanda kolesterol tinggi. Setelah saya cermati ternyata enam dari tujuh tanda tersebut ternyata memang ada di saya. Astaghfirullah...
Berikut saya sarikan ke tujuh tanda-tanda tersebut.

1. Sering kesemutan
    Sering kesemuta merupakan pertanda aliran darah tidak lancar sehingga ada syaraf yang tidak mendapatkan pasokan darah yang cukup. Sebagian besar penyebab aliran darah tidak lancar adalah kolesterol.

2. Pusing di kepala bagian belakang
    Kolesterol mengakibatkan tersumbatnya pembuluh darah di sekitar otak dan kepala. Apabila dibiarkan dapat berakibat fatal yaitu pecahnya pembuluh darah yang menyebabkan stroke

3. Pegal di tengkuk/pundak
    Pundak dan tengkuk terasa pegal bisa karena kurang pasokan oksigen dan darah ke area tersebut akibat penumpukan kolesterol.

4. Rasa nyeri pada kaki.
    Kolesterol menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah arteri sehingga aliran darah ke kaki terhambat

5. Mudah mengantuk
    Sering menguap terjadi akibat kurangnya pasokan oksigen ke otak.

6. Warna kuku berubah
    Kuku menebal dan lebih lambat pertumbuhannya akibat tidak mendapat aliran darah yang cukup

7. Kram pada malam hari
    Kram pada kaki, tumit, telapak kaki dan lainnya.

Sumber artikel yang saya resume memang hanya dari broadcast whatsapp, tapi tak apalah. Cukup kita waspada saja terhadap tanda-tanda tersebut. Seperti saya yang kolesterol tinggi ternyata memang mempunyai enam dari tujuh tanda di atas (yang gak ada hanya kuku yang berubah warna). Yuk, mulai hidup sehat. Kalau memang saatnya meninggal, meninggallah dalam keadaan sehat, bukan karena penyakit yang menggerogoti badan, insyaaAllah.

Penampakan kolesterol dalam aliran darah
Gambar dari google


Selasa, 16 Agustus 2016

Memulai Olah Raga Lari: (3) Hari yang Berbeda

Hari ini aku mulai lagi berlari. Tak lama setelah adzan subuh berhenti, aku bersiap-siap. Di luar langit sudah tak segelap dua hari yang lalu saat aku memulai olah raga lariku. Aku pemanasan sekadarnya lalu mulai jalan santai pelan-pelan. Laundry seberang jalan sudah buka dan ada dua ibu-ibu pulang dari masjid sedang berbincang di pinggir jalan. Kedua ibu itu lalu berpisah dan salah satu mendekat padaku lalu menyapa. Ooh, rupanya dia adalah ibu-ibu yang punya warung depan kantor, tempat aku sering membeli snack. Lalu kami ngobrol sekadarnya sampai tiba depan rumahnya dan ia masuk. Aku meneruskan berlari-lari kecil. Ke arah utara.

Ruteku kali ini tetap, kutambah beberapa meter ke depan. Hawa dingin sejuk. Dan gunung merapi nampak samar di hadapan. Kakiku masih terasa pegal, tapi aku terus berlari dan sesekali berjalan pelan. Saat aku kembali turun berbalik ke arah selatan, aku melihat siluet bapak-bapak tua bersarung dengan seekor anjing di hadapanku. Aku berjalan pelan. Perasaanku kurang baik. Nah, benar saja, si anjing akhirnya mendekatiku, walau tanpa menggonggong. Aku jalan pelan berusaha tenang mendengarkan langkah-langkah anjing di belakangku. Tapi lalu si anjing berhenti mengikutiku. Mungkin aku kurang menarik baginya, ya. Belum mandi soalnya, wkkk.

Aku lanjut lari kecil. Beda ya kalau jalan turunan dengan tanjakan. Makanya pas berangkat tadi berat, pas pulang rada ringan. Nah ada yang menyerangku di sini. Yaitu rasa gatal tak terkira dari paha sampai kaki. Ini penyakitku sejak kecil. Kalau lari pagi pasti kaki gatal-gatal. Aku belum tahu kenapa sih. Logikaku ini karena panas tubuh yang bergesekan dengan udara dingin. Jadi semacam alergi dingin, gitu, ya? Entahlah, nanti aku gugling aja penjelasan ilmiahnya.

Oke...sekian jurnalnya. See you tomorrow...

Gambar dari dunialari.com


COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES