Selasa, 14 Juni 2016

Takjil - Day 8 Fasting

Menjalankan puasa ramadhan di rumah orang nasrani, tak membuat saya berharap banyak bahwa saya akan menikmati takjil saat berbuka. Takjil adalah makanan/minuman ringan yang dinikmati saat berbuka puasa. Benar, saya memang kos sekaligus makan di dalam. Lha makan itu kan nasi beserta lauk pauk, soal takjil tidak pernah dibahas dalam kesepakatan. Apalagi sebenarnya saya juga tidak terlalu mewajibkan takjil bagi diri saya sendiri (bagi diri saya lho ya, karena kalau di keluarga Makassar, takjil is a must).

Makanya saya surprais ketika saya akan mengambil makanan untuk berbuka, ternyata di atas meja sudah tersedia semangkuk hidangan takjil untuk saya. Yaitu berupa kolak ubi. Alhamdulillah, ternyata Bu Rini sudah susah-susah membuat kolak untuk saya.

Gambar dari google

Saat tiba hari Minggu dan saya harus membayar uang makan, saya serahkan Rp150.000 (uang makan untuk seminggu) pada Bu Rini. Beliau menerima sambil bicara, "Kok, banyak sekali?"
Benar siy, karena kesepakatan awal, sekali makan saya kena charge Rp7000. Lha kalau puasa kan saya hanya makan dua kali sehari. Tapi uang itu memang sudah saya niati.
"Nggak papa, Bu. Saya samakan saya dengan kemarin-kemarin. Karena menurut saya sudah terlalu murah. Saya jadi nggak enak hati (nggak enak dengan kebaikan hatinya: karena sebenarnya saya dipersilakan makan kapanpun saya lapar, dan makanan selalu ada di meja makan). Bu Rini pun menerima uang saya dengan senyum.

Ramadhan Jauh Dari Yang Tercinta - Day 5 Fasting

Saat ramadhan tentu merupakan saat-saat yang terindah dalam hidup seorang muslim. Bagaimana tidak, pada bulan suci itulah, selama sebulan penuh, semua ibadah yang kita lakukan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Maka berlomba-lombalah, semua yang paham akan hal ini. Yang biasanya beribadah ala kadarnya, saat ramadhan akan berupaya lebih maksimal agar ibadahnya lebih banyak dan lebih khusyuk.

Selain beribadah untuk kebutuhan diri sendiri, pada umumnya mereka yang berkeluarga, akan memanfaatkan moment ramadhan untuk mengajak anggota keluarga beribadah bersama. Saat-saat ini juga digunakan untuk mendidik anak-anak agar rajin dan semangat menjalankan ibadah.

Tahun ini merupakan ramadhan ke-13 saya hidup bersama dengan suami saya menjalani bahtera rumah tangga. Ini juga ramadhan ke-11 bersama Nina, sulung saya; ramadhan ke-7 bersama Emir, si tengah; dan ramadhan ke-6 bersama Amel, si bungsu. Semoga tak salah. Tapi sayangnya, ramadhan ini juga merupakan ramadhan pertama saya jauh dari keluarga.

Saya harus menjalankan puasa ramadhan di Jogja untuk menyelesaikan pekerjaan, dan keluarga tinggal di Makassar. Kangen? Nggak usah ditanya. Pasti kangenlah. Dan yang lebih jelas lagi, ada perasaan bersalah karena suami harus mengurus tiga anak sendiri. Alhamdulillah suami saya bisa mengurus anak-anak dengan baik. Malah sepertinya anak-anak jadi lebih mandiri dan penurut. Biasalah, mama-mama gak sabaran kayak saya, cenderung lemah pada anak-anak. Kalau mereka lelet, saya akan mengerjakan kegiatan yang sebenarnya mereka sudah bisa sendiri, misalnya memandikan tiap pagi. Kalau sama papanya, kemandirian mereka lebih terjaga.

Di postingan kali ini, saya hanya hendak mengatakan bahwa saya cinta keluarga saya. Saya nggak akan melakukan kebodohan yang sama (menunda pekerjaan), hingga akhirnya harus menjalani ramadhan jauh dari keluarga seperti ini. Yaah, penyesalan selalu datang terlambat memang.

Papa Asdar sayang, love you always. Kangen jalan-jalan sama anak-anak. Nanti lebaran sewa mobil trus keliling Makassar yuk. Nina, kita belum bikin kue sama-sama nih. Emir, Mama pingin bikinin Emir donat atau pancake. Amel, Mama pengen cium pipi Amel yang bulet montok dan pengen bacain Amel cerita sebelum tidur ... boleh dua cerita. Tiga juga boleh.

Love you all cinta-cintakuuuu


Kamis, 09 Juni 2016

Grup Ngaji Wa, Perlukah? - Day 4 Fasting

Hari ke empat Ramadhan, nih. Bagaimana, puasanya masih aman, kan? Kalau saya masih belum mulai puasa dan H2C dengan resolusi saya yang khatam Qur'an itu. Baiklah biar tidak resah, saya nulis saja tentang grup ngaji, khusuzon grup ngaji via whatsapp.

Wow, grup ngaji via whatsapp bagaimana tuh? Siapa yang belum pernah dengar? Awal saya mendengar tentang grup ngaji via whatsapp ini adalah sekitar dua (atau tiga ya?) tahun lalu saat tengah santer-santernya program ODOJ (One Day One Juz).

Tentang ODOJ, saya cuplikkan sejarahnya dari laman onedayonejuz.org sebagai berikut:

Pada tahun 2007 muncul sebuah ide program “One Day One Juz” alias satu hari satu juz Al Quran. Pada awalnya, gerakan One Day One Juz digerakkan oleh Bhayu Subrata dan Pratama Widodo atas kesadaran dan kepedulian mereka pribadi. Perkenalan program One Day One Juz disebarluaskan dan dipublikasikan menggunakan fasilitas short message service (sms) dengan cara Bhayu mengirimkan SMS broadcast berupa nasihat tentang Quran untuk mengaji satu hari satu juz dan membuat buletin untuk disebarkan. 
Widodo, partner Bhayu, di tahun yang sama hingga 2009, membangun fanspage One Day One Juz di facebook dengan harapan program One Day One Juz bisa mengjangkau seluruh pelosok Indonesia dan seisi dunia. “Teknik mudah baca Al Quran harian yaitu dengan menggunakan rumus 2×5, membaca 2 lembar setelah sholat fardhu (5 waktu) maka Insya Allah akan khatam 1 juz dalam 1 hari. Ajak dan motivasi teman anda untuk melakukan yang sama dan buatlah komunitas One Day One Juz” yang tertulis dalam fanspage yang dirintis Widodo tersebut kini resmi menjadi fanspage ODOJ pusat.
SEJARAH PERKEMBANGAN DAN LAHIRNYA ORGANISASI & GERAKAN ODOJ
Pada tahun 2010, istilah ODOJ sampai dan dikembangkan dengan metode whatsapp yang diperkenalkan oleh sekelompok alumni mahasiswa dari perguruan tinggi di Surabaya pada bulan September, dan  dengan metode ini segenap aktivis Rumah Quran Depok juga ikut menyebarluaskannya. Metode ODOJ dengan media whatsapp ini dengan sistem ada 30 orang dalam satu grup whatsapp yang kemudian juga berkembang melalui grup dalam blackberry message (bbm). 
Kemudian tahun 2013, kabar ODOJ pun sampai pada seorang pemuda yang melihat salah satu aktifitas group ODOJ dri Aktifis Rumah Quran. Kemudian tanggal 15 Oktober 2013 mengimplementasikan program ODOJ tsb  dalam satu kelompok yang terdiri dari gabungan beberapa teman dalam kelompok liqo’(pengajian rutin) pada dengan anggota belum genap 30 orang. Pada tanggal 1 November barulah member lengkap 30 orang, sehingga lahirlah grup ODOJ Ikhwan 1 dan memulai tilawah pada 2 November 2013. 
Bismillah…dari satu grup ODOJ ikhwan 1 tersebut muncul ide-ide untuk mengembangkan ODOJ. Pada tanggal 4 November 2013, dibentuk kepengurusan ODOJ kecil dengan nama “ODOJ support team” yang mencoba mengembangkan sistem berbasis website sebagai sarana promosi ODOJ dan juga sistem whatsapp One Day One Juz (WA ODOJ) bebasis Android untuk menjaga semangat tilawah pribadi dan grup seperti program kholas awal, khatam lebih awal, reward grup, dsb. Selanjutnya pada tanggal 11 November 2013, diadakan soft launching gerakan ODOJ di Mesjid Baitut Tholibin Kemdikbud Jakarta. 
Ketika hendak membangun website dan membeli domain www.onedayonejuz.org, pengurus terlebih dahulu mencari tahu apakah domain serupa telah ada atau tidak sebelumnya. Ternyata sebelumnya sudah ada domain www.onedayonejuz.com yang dimiliki oleh Fajar dan juga telah memiliki akun @onedayonejuz di twitter. ODOJ Support Team pun bersinergi dengan Fajar dan resmilah akun twitter dan website ODOJ yang sebelumnya telah ada untuk menjadi akun dan domain resmi ODOJ.  
Tidak hanya domain, logo one day one juz yang sebelumnya telah beredar di dunia maya juga ditelusuri oleh “ODOJ Support Team” yang ternyata dirancang oleh Bhayu Subrata (www.bayubarata.blogspot.com). ODOJ Support Team pun meminta izin penggunaan logo tersebut sebagai logo resmi ODOJ.


Nah secara singkat begitulah sejarah gerakan ODOJ. Saya juga sempat bergabung dengan ODOJ, diajak oleh teman. Sekitar 2013 saya gabung di ODOJ 802 bersama 29 perempuan cantik solihah yang lain (ihiiir, saya memuji diri cantik solihah niy, aamiinn) dari berbagai daerah. Saya bergabung selama setahun kemudian saya memutuskan untuk keluar karena kesibukan.
Hikmahnya ikut ODOJ, karena di'paksa' untuk baca sehari satu juz, selama satu tahun (walau sering ngutang juz), Alhamdulillah bacaan saya jadi lancar. Walau saya sudah tak tergabung di ODOJ, namun saya masih berusaha tilawah Al Qur'an setiap hari, kadang selembar dua lembar.

Hingga kemudian saya ikut masuk ke sebuah grup ngaji lagi. Bukan ODOJ, tapi independen dengan sistem lapor seperti ODOJ. Target baca perhari hanya 2,5 lembar Al Qur'an ditambah lapor ibadah tahajud dan dhuha. Jumlah pesertanya hanya 20 orang, tapi justru karena jumlahnya sedikit, maka hubungan kami menjadi lebih dekat dan akrab.

Kalau ditanya perlu apa enggak grup ngaji, ya tergantung dari mana kita memandangnya. Bagi sebuah grup ngaji berisi teman-teman putri yang rajin beribadah tentu membuat motivasi ibadah semakin menyala, berkobar, tak pernah padam. Kalaupun iman lagi turun, teman-teman dalam grup senantiasa siap menyemangati lagi. Tidak usah berpikir terlalu jauh bahwa ngaji rame-rame itu bid'ah, atau dekat dengan riya' atau kumpulan orang-orang sok pamer. Cukup berpikir bahwa inilah salah satu bentuk anjuran dalam Qur'an ... Fastabikhul Khairat, atau berlomba-lomba di dalam kebaikan. Alhamdulillah. Insyaa Allah. Aamiin.


Catatan: semua gambar bersumber dari google

Selasa, 07 Juni 2016

Missing Ramadhan - Day 3 Fasting

Missing Ramadhan? Rindu ramadhan tepatnya. Bagaimana tidak, dari 12 bulan perjalanan kita sebelum menginjak tahun yang baru, kita baru bertemu ramadhan setelah 11 bulan lamanya beraktivitas. Penantian yang panjang itu selayaknya membuat datangnya ramadhan ibarat kucuran air segar penyejuk dahaga. Demikian juga saya dalam menanti ramadhan kali ini.



Saya sudah berniat akan mengisi ramadhan dengan rangkaian ibadah yang lebih baik. Resolusi ramadhan saya kali ini tak muluk-muluk, harus bisa dicapai. Saya sudah tuliskan di status facebook, bahwa ramadhan kali ini saya akan:
- mengkhatamkan Al-Qur'an
- menghafal ayat-ayat Al-Qur'an
- tahajud+dhuha dikencengin

Puasa pertama berjalan dengan baik hingga menjelang ashar saya mendapat tanda-tanda haid. Apaa, hanya tinggal beberapa jam saja puasa saya sudah batal. Rasane kuciwo tenan. Akhirnya masih di awal ramadhan, resolusi saya harus tertunda, walau resolusi yang kedua harusnya masih tetap dapat dijalankan.

Baiklah, kita harus banting setir. Dan apakah ibadah yang dapat dilakukan saat haid? Hmm, saya tentu masih dapat menghafal surat An Naba yang sudah sejak kapan saya hafalkan namun tak pernah beranjak dari ayat 12 (hedeh), kemudian memperbanyak istighfar dan membaca kalimat thoyibah. Kalimat thoyibah sudah tahu, ya, yaitu Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaa ha ilallah, wallahu akbar.

Yuk, terus beribadah. Haid nggak boleh jadi halangan, untuk memperbanyak perbekalan menuju tempat kembali.


Catatan:
Gambar diunduh dari google

Senin, 06 Juni 2016

Toleransi Randy - Day 2 Fasting

Di tempat kos saya, selain saya sendiri sebagai penghuni kos tunggal, juga ada Bu Rini, ibu kos dan Pak Rono, bapak kos. Kedua pasangan ini mempunyai dua orang anak. Yang sulung bernama Mbak Vita, tinggal hanya selisih dua rumah dari rumah ibu kos. Yang bungsu bernama Mas Adjie, bekerja di Jakarta. Mbak Vita sudah berkeluarga dan punya dua orang anak bernama Randy (kelas 5) dan Kevin (4 tahun). Di hari-hari biasa, kedua cucu ibu kos ini sering main ke rumah.

Tadi malam, saya mendengar bahwa Randy menginap di rumah neneknya. Saya mendengar ia berpesan agar dibangunkan pas saur.

"Memangnya kamu mau ikut puasa?" tanya bu Rini.

"Mau main!" sahut Randy.

Benar, menjelang jam 03.00 saya mendengar televisi sudah dinyalakan. Waktu saya keluar, Randy sudah nongkrong depan teve. Saya langsung ke belakang mencuci muka, gosok gigi, dan kemudian sahur.

"Kok, Randy sudah bangun, Bu?" tanya saya pada bu Rini.

"Iya, mau jalan-jalan sama temannya. Makanya dia nginap di sini. Kalau di rumahnya, dilarang ibunya," bisik bu Rini.

Saya ingat bahwa saat puasa seperti ini, anak-anak kecil suka diajak berkeliling membangunkan sahur, lalu ikut sholat subuh di masjid dan jalan-jalan di pagi yang masih dingin. Mungkin Randy ingin juga bergabung dengan teman-temannya, walau tidak ikut puasa.

Gambar dari google

Minggu, 05 Juni 2016

Menanti Sidang Isbat - Day 1 Fasting

Bicara mengenai puasa ramadhan, tentu tak bisa dipisahkan dengan sidang isbat. Sidang isbat adalah sidang penetapan dalil syar'i di hadapan hakim dalam suatu majelis untuk menetapkan suatu kebenaran atau peristiwa yang terjadi. Di Indonesia, secara populer, sidang Isbat sering dikaitkan dengan penetapan datangnya bulan Ramadhan, Idul Fitri atau Idul Adha.



Sidang isbat ramadhan, idul fitri dan idul adha dilaksanakan oleh pemerintah sejak 1950, dengan tujuan menetapkan hari pertama bulan ramadhan, syawal, dan tanggal 10 djulhijah. Pada awal penyelenggaraannya, sidang ini hanya sederhana dengan hanya didasarkan fatwa para ulama bahwa negara mempunyai hak untuk menentukan datangnya hari-hari tersebut. Mulai tahun 1972, Badan Hisab Rukyat mulai dibentuk di bawah kementerian agama. Di dalamnya terdapat para ahli, ulama dan ahli astronomi. Pada umumnya sidang isbat penentuan hari istimewa ini dilaksanakan satu hari menjelang hari H, dan umumnya di Indonesia, ditayangkan secara live di stasiun televisi pada malam hari.

Demikian juga saya sebagai abdi negara yang baik. Petang itu menunggu sidang isbat sambil masih memakai mukena yang saya pakai saat sholat maghrib. Niatnya sih, kalau jadi puasa besok, saya mau langsung ke masjid untuk traweh. Oh ya, sebelum lanjut, saya hendak menyampaikan cerita dulu bahwa ramadhan kali ini pastinya terasa akan sangat berkesan buat saya.

Kenapa? Karena saya menjalaninya jauh dari keluarga. Saya harus menyelesaikan utang kerjaan di suatu sudut yang sepi di Daerah Istimewa Yogyakarta, bernama Purwobinangun. Di tempat ini saya kos di sebuah keluarga nasrani. Nah, ini fakta unik satu lagi mengapa ramadhan saya pastinya berkesan. Sudah jauh dari anak dan misua, saya juga akan beribadah sendiri karena induk semang kos menganut keyakinan yang berbeda.

Untungnya beliau berdua suami istri adalah orang-orang yang baik. Sore pak kos sibuk membawa televisi ke tukang servis. Ya, sejak saya tinggal di rumah mereka, televisi memang tak pernah nyala, ternyata rusak. Saat maghrib, televisi sudah menyala, dan kemudian bapak serta ibu kos menemani saya menonton tayangan sidang isbat.

Setelah Menteri Agama positif menyatakan bahwa puasa akan dimulai besok, Bu Rini, ibu kos saya langsung bertanya apakah saya mau ke masjid? Tapi rupanya saya yang terserang malas (hedeh) dan juga terserang lapar. Saya memutuskan untuk makan malam saja dulu, dan kemudian sholat traweh secara munfarid, di rumah.


Saat awal masuk kos, saya memang sengaja sekalian minta makan di dalam. Soalnya bu Rini ini juga buka warung di depan rumahnya. Kalau saya mikirnya dari segi kepraktisan saja. Lha lingkungan tempat tinggal saya itu jauh dari mana-mana. Susah kalau saya memilih makan di luar. Demikian juga akhirnya dengan urusan makan di bulan ramadhan ini. Bu Rini yang mengurus segalanya untuk saya. Dan di sahur pertama, beliaulah yang mengetuk pintu kamar saya untuk membangunkan saya agar segera santap sahur.

"Mbak Indah...sahur dulu."

"Baik, Bu ... Makasih...."

Inikah toleransi antar umat beragama? Ya, mungkin juga. Mari membaca pengalaman saya, hingga tiga puluh hari ke depan (kalau bisa istiqomah nulis lo yaa).

Selamat Datang Ramadhan

Catatan:
Keterangan mengenai sidang isbat, diambil dari wikipedia.
Semua gambar pendukung, diambil dari google

Kamis, 02 Juni 2016

Kraton Ratu Boko: Feeling at home And Paranormal

Sudah beberapa kali aku mendengar tentang Kraton Ratu Boko. Sebuah peninggalan bersejarah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Aku dengarnya bahwa lokasi Kraton Ratu Boko itu sering digunakan sebagai tempat pemotretan pre-wedding. Beberapa kali juga teman dari komunitas penulis (IIDN Jogja), pergi ke sana dan aplot foto-foto mereka. Tapi semua itu tak jua menarik perhatianku untuk berniat pergi mengunjungi Kraton Ratu Boko. Alasan paling utama sih, aku bingung bagaimana berkendara ke sana.

Lalu, di pertengahan Mei 2016, kunontonlah film yang sedang ramai, apalagi kalau bukan Ada Apa Dengan Cinta 2. Kraton Ratu Boko adalah salah satu lokasi yang digunakan untuk syuting film tersebut. Tempat Rangga dan Cinta berbincang-bincang dalam acara CLBK. Usai nonton film itu, hasrat ke Kraton Ratu Boko belum juga muncul. Yang muncul malah pengen jalan-jalan ke Punthuk Setumbu, salah satu lokasi syuting di daerah Magelang.

Tak dinyana, akhir Mei, temanku meminta aku untuk menemaninya ke Borobudur. Maklum temanku itu walaupun sudah berumur (kayak aku), tapi belum pernah menginjakkan kaki di salah satu keajaiban dunia tersebut. Ya, bisa dimaklumi sih, karena temenku itu lahir dan besar di Jawa Barat. Aku memaklumi, namun anehnya anaknya ibu kosku takjub…

“Laaah mosok ke Borobudur saja belum pernah to mbaaak?”

Caranya mengatakan itu seolah-olah Borobudur adalah pasar tradisional yang mudah dijangkau dan setiap orang se-Indonesia pasti sudah pernah mengunjunginya. Atau seolah-olah Borobudur itu Monas yang setiap orang Indonesia pasti pernah mengunjunginya. Gila, Monas? Aku aja belum pernah ke Monas. Oke, oke … aku tahu bahwa Borobudur is miracle dan sesuatu banget. Tapi kalau orang belum pernah mengunjunginya (walaupun sudah tua), itu ya nggak papa toh?

Kembali ke laptop. Nah, lalu berembuglah aku dengan temanku itu. Bagaimana kalau tidak hanya Borobudur yang kita kunjungi? Bagaimana kalau kita mengadakan wisata tour de Candi? Misalnya Borobudur – Prambanan – Boko? Temanku setuju, walau dia sudah pernah ke Boko dan Prambanan. Kalau aku, sudah pernah ke Borobudur dan Prambanan juga sebenarnya (zaman masih mulus dan sexi – masih remaja unyu maksudnya, haha). Yang akhirnya terealisasi, karena singkatnya waktu, kami dari Borobudur langsung ke Boko.

Sampai di Boko sudah waktu ashar, maka sholatlah aku dulu sebelum memasuki areal kraton. Tempat wisata Kraton Ratu Boko ini sudah dibangun sedemikian rupa sehingga ada bangunan modern di bagian luarnya. Ada restoran dengan view yang cantik, menghadap pemandangan seluruh kota Jogja. Bahkan kita juga dapat melihat dari kejauhan bangunan Candi Prambanan nan gagah. Ada juga penginapan dan beberapa bangunan yang belum sempat  kucek apa saja (mau nggugling kok males…hehe).

Masuk ke areal kraton, kita melewati tangga yang amat landai, jelas sekali bedanya dengan saat menaiki tangga ke Borobudur yang tangganya curam-curam dan bikin ngos-ngosan aku yang juaraaaang buanget olah raga. Tangga menuju kraton Ratu Boko ini didesain romantis, dengan kursi-kursi berukir di setiap sisinya.

Setelah melewati tangga, kita sampai di areal datar. Dari kejauhan sudah tampak gerbang kraton, tapi aku malah terpesona pada hamparan rumput hijau nan menggoda, dan tawaran seorang ibu-ibu untuk mencicipi es degan. Masalahnya tadi di Borobudur sudah ngiler lihat es degan, tapi ternyata pas makan siang di restoran, gak ada menu es degan … huaa.

“Mbak, ayo kita minum es degan dulu,” ajakku.

Kamipun minum es degan sambil duduk-duduk menggelar tikar di padang rumput di pelataran bagian luar kraton Ratu Boko. Hmmm, itu momen yang sangat rileks buat aku. Aku juga nyempetin baring-baring memandang langit biru plus selfie-selfie. Malu? Ah enggak … wong nggak ada yang kenal ini. Para pengunjung yang lain juga asyik sendiri. Oya, yang kusukai dengan perjalanan ke Kraton Ratu Boko ini, karena gak seramai waktu di Borobudur tadi. Alamak, Borobudur full manusia. Rombongan SD, SMP dan SMA tumpah ruah di sana. Maklum musim liburan. Dan kata sopir travel yang nganterin kita, ada 250 bus di tempat parkir Borobudur! Entah sopirku itu gak punya kerjaan trus ngitungin bus di areal parkir sambil nungguin kami, atau dia dapat info dari penjaga loket, hehehe.

Setelah menghabiskan satu kelapa muda yang rasanya juara, kami melanjutkan perjalanan. Dan aku terkesima, terpesona, takjub, jatuh cinta pada Boko. Arealnya luas banget. Nah untuk yang satu ini aku harus gugling. Keterangan berikut bersumber dari Wikipedia.

Kraton atau Candi Ratu Boko adalah situs purbakala yang merupakan kompleks sejumlah sisa bangunan yang berada sekitar 3 km sebelah selatan kompleks Candi Prambanan. Situs Ratu Boko terletak di sebuah bukit dengan ketinggian 196 m dpl. Luas keseluruhan kompleks adalah 25 ha.

Situs Ratu Boko pertama ditemukan oleh Van Boeckholtz pada tahun 1790, namun baru 100 tahun kemudian dilakukan penelitian yang dipimpin oleh FDK Bosch yang dilaporkan dalam semacam manuskrip (?) Keraton van Ratoe Boko. Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa reruntuhan purbakala tersebut adalah sebuah istana kerajaan, berdasarkan dari pola peletakan sisa-sisa bangunan. Kompleks tersebut bukan candi atau bangunan yang bersifat religius, melainkan sebuah istana berbenteng dengan bukti adanya sisa dinding benteng dan parit kering sebagai struktur pertahanan. Lalu, Ratu Boko itu sendiri siapa? Menurut legenda masyarakat sekitar, Ratu Boko adalah ayah dari Loro Jonggrang, yang juga menjadi nama candi utama pada kompleks Candi Prambanan.

Kompleks kraton Ratu Boko itu sangat luas dan aku mencoba menjelajah semua bagiannya dengan diliputi perasaan takjub. Pertama takjub dengan luasnya, takjub dengan cantiknya, takjub dengan hawa silir yang mengembus-embusku dengan nyaman, takjub dengan kinerja para arkeolog – yang tentunya sudah membuat situs ini layak dikunjungi. Aku bayangkan dulu awal ditemukan tentu tak secantik itu penampakannya. Lalu rasa takjubku juga karena saat melangkah di areal bekas kraton itu, aku diliputi perasaan bahagia seolah berada di rumah. Aku jadi berpikir mungkin aku ini titisan salah satu putri kraton yang dulu tinggal di istana Boko (dilarang protes lo yaaa…dilarang sirik trus bilang: titisan mbok emban kale…wkkk).

Dan di samping rasa takjub dan bangga dengan para nenek moyangku, aku diselipi rasa haru dan sedih. Gimana ya, supaya kraton Boko bisa dipugar, lalu berdiri megah seperti aslinya? Bagaimana ya sebenarnya penampakan aslinya? Bagaimana orang-orang dulu berinteraksi di dalam kraton ini? Tiba-tiba aku ingin belajar arkeologi (sudah telat buk…sudah tua. Ih, tak ada kata terlambat untuk belajar, bukan????). Dan tiba-tiba aku marah pada paranormal. Lho…kok sampai ke paranormal?

Maafkan pikiranku yang suka nglantur ini. Beneran pikiranku melayang pada paranormal yang suka tampil di televisi itu. Mereka sukanya meramal ada kejadian apa di tahun-tahun mendatang. Ada spesialis artis, ngeramal artis ini bakal cemerlang, artis ini bakal sakit, dan ada artis yang bakal cerai dan meninggal. Ada juga spesialis dunia politik, tahun depan Indonesia bakal bla bla bla. Hello paranormal, wes gak usah ngomongno masa depan, iku ngono kuosone Gusti Allah.

Ayo sini paranormal ikut ke Kraton Ratu Boko, atau ke semua reruntuhan candi di Indonesia.  Raba dindingnya, pegang batunya, peluk patung-patungnya dan biarkan ilmumu membawamu jauhhh ke ratusan tahun silam. Gambarkan bagaimana rupa asli bangunan-bangunan ini. Bantu para arkeolog. Daripada berceloteh tentang masa depan yang belum tentu benar, mending kalian meraba masa lalu yang pasti ada. Ilmu kalian jadi lebih bermanfaat, kan?

Yah, begitulah kisahku dalam perjalanan ke kraton Ratu Boko. I am so in love deh. Terutama oleh rasa hommy tadi. Mungkin suatu saat aku akan kembali ke Boko. Kembali pulang ke rumah. Terima kasih sudah membaca pengalamanku ini, byee (dada-dada ala putri kraton Boko).


 Berikut ini beberapa foto yang kuculik dari google untuk melengkapi kisahku. Foto-fotoku selama di Boko soalnya belum dicetak (waduh jadul amat), waktu masang rollnya nggak nyantol (haduh apalagi ini generasi unyu gak bakal ngerti), fotoku terbakar semua (aissh berasa balik ke tahun 90-an) ... hahaha.

Gerbang Kraton Ratu Boko 

Hamparan rumput di areal Kraton Ratu Boko

Restoran, dengan view kota Jogja. Menawan.

Cinta dan Rangga (AADC 2) di salah satu sudut Kraton Ratu Boko
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES