Kamis, 09 Juni 2016

Grup Ngaji Wa, Perlukah? - Day 4 Fasting

Hari ke empat Ramadhan, nih. Bagaimana, puasanya masih aman, kan? Kalau saya masih belum mulai puasa dan H2C dengan resolusi saya yang khatam Qur'an itu. Baiklah biar tidak resah, saya nulis saja tentang grup ngaji, khusuzon grup ngaji via whatsapp.

Wow, grup ngaji via whatsapp bagaimana tuh? Siapa yang belum pernah dengar? Awal saya mendengar tentang grup ngaji via whatsapp ini adalah sekitar dua (atau tiga ya?) tahun lalu saat tengah santer-santernya program ODOJ (One Day One Juz).

Tentang ODOJ, saya cuplikkan sejarahnya dari laman onedayonejuz.org sebagai berikut:

Pada tahun 2007 muncul sebuah ide program “One Day One Juz” alias satu hari satu juz Al Quran. Pada awalnya, gerakan One Day One Juz digerakkan oleh Bhayu Subrata dan Pratama Widodo atas kesadaran dan kepedulian mereka pribadi. Perkenalan program One Day One Juz disebarluaskan dan dipublikasikan menggunakan fasilitas short message service (sms) dengan cara Bhayu mengirimkan SMS broadcast berupa nasihat tentang Quran untuk mengaji satu hari satu juz dan membuat buletin untuk disebarkan. 
Widodo, partner Bhayu, di tahun yang sama hingga 2009, membangun fanspage One Day One Juz di facebook dengan harapan program One Day One Juz bisa mengjangkau seluruh pelosok Indonesia dan seisi dunia. “Teknik mudah baca Al Quran harian yaitu dengan menggunakan rumus 2×5, membaca 2 lembar setelah sholat fardhu (5 waktu) maka Insya Allah akan khatam 1 juz dalam 1 hari. Ajak dan motivasi teman anda untuk melakukan yang sama dan buatlah komunitas One Day One Juz” yang tertulis dalam fanspage yang dirintis Widodo tersebut kini resmi menjadi fanspage ODOJ pusat.
SEJARAH PERKEMBANGAN DAN LAHIRNYA ORGANISASI & GERAKAN ODOJ
Pada tahun 2010, istilah ODOJ sampai dan dikembangkan dengan metode whatsapp yang diperkenalkan oleh sekelompok alumni mahasiswa dari perguruan tinggi di Surabaya pada bulan September, dan  dengan metode ini segenap aktivis Rumah Quran Depok juga ikut menyebarluaskannya. Metode ODOJ dengan media whatsapp ini dengan sistem ada 30 orang dalam satu grup whatsapp yang kemudian juga berkembang melalui grup dalam blackberry message (bbm). 
Kemudian tahun 2013, kabar ODOJ pun sampai pada seorang pemuda yang melihat salah satu aktifitas group ODOJ dri Aktifis Rumah Quran. Kemudian tanggal 15 Oktober 2013 mengimplementasikan program ODOJ tsb  dalam satu kelompok yang terdiri dari gabungan beberapa teman dalam kelompok liqo’(pengajian rutin) pada dengan anggota belum genap 30 orang. Pada tanggal 1 November barulah member lengkap 30 orang, sehingga lahirlah grup ODOJ Ikhwan 1 dan memulai tilawah pada 2 November 2013. 
Bismillah…dari satu grup ODOJ ikhwan 1 tersebut muncul ide-ide untuk mengembangkan ODOJ. Pada tanggal 4 November 2013, dibentuk kepengurusan ODOJ kecil dengan nama “ODOJ support team” yang mencoba mengembangkan sistem berbasis website sebagai sarana promosi ODOJ dan juga sistem whatsapp One Day One Juz (WA ODOJ) bebasis Android untuk menjaga semangat tilawah pribadi dan grup seperti program kholas awal, khatam lebih awal, reward grup, dsb. Selanjutnya pada tanggal 11 November 2013, diadakan soft launching gerakan ODOJ di Mesjid Baitut Tholibin Kemdikbud Jakarta. 
Ketika hendak membangun website dan membeli domain www.onedayonejuz.org, pengurus terlebih dahulu mencari tahu apakah domain serupa telah ada atau tidak sebelumnya. Ternyata sebelumnya sudah ada domain www.onedayonejuz.com yang dimiliki oleh Fajar dan juga telah memiliki akun @onedayonejuz di twitter. ODOJ Support Team pun bersinergi dengan Fajar dan resmilah akun twitter dan website ODOJ yang sebelumnya telah ada untuk menjadi akun dan domain resmi ODOJ.  
Tidak hanya domain, logo one day one juz yang sebelumnya telah beredar di dunia maya juga ditelusuri oleh “ODOJ Support Team” yang ternyata dirancang oleh Bhayu Subrata (www.bayubarata.blogspot.com). ODOJ Support Team pun meminta izin penggunaan logo tersebut sebagai logo resmi ODOJ.


Nah secara singkat begitulah sejarah gerakan ODOJ. Saya juga sempat bergabung dengan ODOJ, diajak oleh teman. Sekitar 2013 saya gabung di ODOJ 802 bersama 29 perempuan cantik solihah yang lain (ihiiir, saya memuji diri cantik solihah niy, aamiinn) dari berbagai daerah. Saya bergabung selama setahun kemudian saya memutuskan untuk keluar karena kesibukan.
Hikmahnya ikut ODOJ, karena di'paksa' untuk baca sehari satu juz, selama satu tahun (walau sering ngutang juz), Alhamdulillah bacaan saya jadi lancar. Walau saya sudah tak tergabung di ODOJ, namun saya masih berusaha tilawah Al Qur'an setiap hari, kadang selembar dua lembar.

Hingga kemudian saya ikut masuk ke sebuah grup ngaji lagi. Bukan ODOJ, tapi independen dengan sistem lapor seperti ODOJ. Target baca perhari hanya 2,5 lembar Al Qur'an ditambah lapor ibadah tahajud dan dhuha. Jumlah pesertanya hanya 20 orang, tapi justru karena jumlahnya sedikit, maka hubungan kami menjadi lebih dekat dan akrab.

Kalau ditanya perlu apa enggak grup ngaji, ya tergantung dari mana kita memandangnya. Bagi sebuah grup ngaji berisi teman-teman putri yang rajin beribadah tentu membuat motivasi ibadah semakin menyala, berkobar, tak pernah padam. Kalaupun iman lagi turun, teman-teman dalam grup senantiasa siap menyemangati lagi. Tidak usah berpikir terlalu jauh bahwa ngaji rame-rame itu bid'ah, atau dekat dengan riya' atau kumpulan orang-orang sok pamer. Cukup berpikir bahwa inilah salah satu bentuk anjuran dalam Qur'an ... Fastabikhul Khairat, atau berlomba-lomba di dalam kebaikan. Alhamdulillah. Insyaa Allah. Aamiin.


Catatan: semua gambar bersumber dari google

Selasa, 07 Juni 2016

Missing Ramadhan - Day 3 Fasting

Missing Ramadhan? Rindu ramadhan tepatnya. Bagaimana tidak, dari 12 bulan perjalanan kita sebelum menginjak tahun yang baru, kita baru bertemu ramadhan setelah 11 bulan lamanya beraktivitas. Penantian yang panjang itu selayaknya membuat datangnya ramadhan ibarat kucuran air segar penyejuk dahaga. Demikian juga saya dalam menanti ramadhan kali ini.



Saya sudah berniat akan mengisi ramadhan dengan rangkaian ibadah yang lebih baik. Resolusi ramadhan saya kali ini tak muluk-muluk, harus bisa dicapai. Saya sudah tuliskan di status facebook, bahwa ramadhan kali ini saya akan:
- mengkhatamkan Al-Qur'an
- menghafal ayat-ayat Al-Qur'an
- tahajud+dhuha dikencengin

Puasa pertama berjalan dengan baik hingga menjelang ashar saya mendapat tanda-tanda haid. Apaa, hanya tinggal beberapa jam saja puasa saya sudah batal. Rasane kuciwo tenan. Akhirnya masih di awal ramadhan, resolusi saya harus tertunda, walau resolusi yang kedua harusnya masih tetap dapat dijalankan.

Baiklah, kita harus banting setir. Dan apakah ibadah yang dapat dilakukan saat haid? Hmm, saya tentu masih dapat menghafal surat An Naba yang sudah sejak kapan saya hafalkan namun tak pernah beranjak dari ayat 12 (hedeh), kemudian memperbanyak istighfar dan membaca kalimat thoyibah. Kalimat thoyibah sudah tahu, ya, yaitu Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaa ha ilallah, wallahu akbar.

Yuk, terus beribadah. Haid nggak boleh jadi halangan, untuk memperbanyak perbekalan menuju tempat kembali.


Catatan:
Gambar diunduh dari google

Senin, 06 Juni 2016

Toleransi Randy - Day 2 Fasting

Di tempat kos saya, selain saya sendiri sebagai penghuni kos tunggal, juga ada Bu Rini, ibu kos dan Pak Rono, bapak kos. Kedua pasangan ini mempunyai dua orang anak. Yang sulung bernama Mbak Vita, tinggal hanya selisih dua rumah dari rumah ibu kos. Yang bungsu bernama Mas Adjie, bekerja di Jakarta. Mbak Vita sudah berkeluarga dan punya dua orang anak bernama Randy (kelas 5) dan Kevin (4 tahun). Di hari-hari biasa, kedua cucu ibu kos ini sering main ke rumah.

Tadi malam, saya mendengar bahwa Randy menginap di rumah neneknya. Saya mendengar ia berpesan agar dibangunkan pas saur.

"Memangnya kamu mau ikut puasa?" tanya bu Rini.

"Mau main!" sahut Randy.

Benar, menjelang jam 03.00 saya mendengar televisi sudah dinyalakan. Waktu saya keluar, Randy sudah nongkrong depan teve. Saya langsung ke belakang mencuci muka, gosok gigi, dan kemudian sahur.

"Kok, Randy sudah bangun, Bu?" tanya saya pada bu Rini.

"Iya, mau jalan-jalan sama temannya. Makanya dia nginap di sini. Kalau di rumahnya, dilarang ibunya," bisik bu Rini.

Saya ingat bahwa saat puasa seperti ini, anak-anak kecil suka diajak berkeliling membangunkan sahur, lalu ikut sholat subuh di masjid dan jalan-jalan di pagi yang masih dingin. Mungkin Randy ingin juga bergabung dengan teman-temannya, walau tidak ikut puasa.

Gambar dari google

Minggu, 05 Juni 2016

Menanti Sidang Isbat - Day 1 Fasting

Bicara mengenai puasa ramadhan, tentu tak bisa dipisahkan dengan sidang isbat. Sidang isbat adalah sidang penetapan dalil syar'i di hadapan hakim dalam suatu majelis untuk menetapkan suatu kebenaran atau peristiwa yang terjadi. Di Indonesia, secara populer, sidang Isbat sering dikaitkan dengan penetapan datangnya bulan Ramadhan, Idul Fitri atau Idul Adha.



Sidang isbat ramadhan, idul fitri dan idul adha dilaksanakan oleh pemerintah sejak 1950, dengan tujuan menetapkan hari pertama bulan ramadhan, syawal, dan tanggal 10 djulhijah. Pada awal penyelenggaraannya, sidang ini hanya sederhana dengan hanya didasarkan fatwa para ulama bahwa negara mempunyai hak untuk menentukan datangnya hari-hari tersebut. Mulai tahun 1972, Badan Hisab Rukyat mulai dibentuk di bawah kementerian agama. Di dalamnya terdapat para ahli, ulama dan ahli astronomi. Pada umumnya sidang isbat penentuan hari istimewa ini dilaksanakan satu hari menjelang hari H, dan umumnya di Indonesia, ditayangkan secara live di stasiun televisi pada malam hari.

Demikian juga saya sebagai abdi negara yang baik. Petang itu menunggu sidang isbat sambil masih memakai mukena yang saya pakai saat sholat maghrib. Niatnya sih, kalau jadi puasa besok, saya mau langsung ke masjid untuk traweh. Oh ya, sebelum lanjut, saya hendak menyampaikan cerita dulu bahwa ramadhan kali ini pastinya terasa akan sangat berkesan buat saya.

Kenapa? Karena saya menjalaninya jauh dari keluarga. Saya harus menyelesaikan utang kerjaan di suatu sudut yang sepi di Daerah Istimewa Yogyakarta, bernama Purwobinangun. Di tempat ini saya kos di sebuah keluarga nasrani. Nah, ini fakta unik satu lagi mengapa ramadhan saya pastinya berkesan. Sudah jauh dari anak dan misua, saya juga akan beribadah sendiri karena induk semang kos menganut keyakinan yang berbeda.

Untungnya beliau berdua suami istri adalah orang-orang yang baik. Sore pak kos sibuk membawa televisi ke tukang servis. Ya, sejak saya tinggal di rumah mereka, televisi memang tak pernah nyala, ternyata rusak. Saat maghrib, televisi sudah menyala, dan kemudian bapak serta ibu kos menemani saya menonton tayangan sidang isbat.

Setelah Menteri Agama positif menyatakan bahwa puasa akan dimulai besok, Bu Rini, ibu kos saya langsung bertanya apakah saya mau ke masjid? Tapi rupanya saya yang terserang malas (hedeh) dan juga terserang lapar. Saya memutuskan untuk makan malam saja dulu, dan kemudian sholat traweh secara munfarid, di rumah.


Saat awal masuk kos, saya memang sengaja sekalian minta makan di dalam. Soalnya bu Rini ini juga buka warung di depan rumahnya. Kalau saya mikirnya dari segi kepraktisan saja. Lha lingkungan tempat tinggal saya itu jauh dari mana-mana. Susah kalau saya memilih makan di luar. Demikian juga akhirnya dengan urusan makan di bulan ramadhan ini. Bu Rini yang mengurus segalanya untuk saya. Dan di sahur pertama, beliaulah yang mengetuk pintu kamar saya untuk membangunkan saya agar segera santap sahur.

"Mbak Indah...sahur dulu."

"Baik, Bu ... Makasih...."

Inikah toleransi antar umat beragama? Ya, mungkin juga. Mari membaca pengalaman saya, hingga tiga puluh hari ke depan (kalau bisa istiqomah nulis lo yaa).

Selamat Datang Ramadhan

Catatan:
Keterangan mengenai sidang isbat, diambil dari wikipedia.
Semua gambar pendukung, diambil dari google

Kamis, 02 Juni 2016

Kraton Ratu Boko: Feeling at home And Paranormal

Sudah beberapa kali aku mendengar tentang Kraton Ratu Boko. Sebuah peninggalan bersejarah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Aku dengarnya bahwa lokasi Kraton Ratu Boko itu sering digunakan sebagai tempat pemotretan pre-wedding. Beberapa kali juga teman dari komunitas penulis (IIDN Jogja), pergi ke sana dan aplot foto-foto mereka. Tapi semua itu tak jua menarik perhatianku untuk berniat pergi mengunjungi Kraton Ratu Boko. Alasan paling utama sih, aku bingung bagaimana berkendara ke sana.

Lalu, di pertengahan Mei 2016, kunontonlah film yang sedang ramai, apalagi kalau bukan Ada Apa Dengan Cinta 2. Kraton Ratu Boko adalah salah satu lokasi yang digunakan untuk syuting film tersebut. Tempat Rangga dan Cinta berbincang-bincang dalam acara CLBK. Usai nonton film itu, hasrat ke Kraton Ratu Boko belum juga muncul. Yang muncul malah pengen jalan-jalan ke Punthuk Setumbu, salah satu lokasi syuting di daerah Magelang.

Tak dinyana, akhir Mei, temanku meminta aku untuk menemaninya ke Borobudur. Maklum temanku itu walaupun sudah berumur (kayak aku), tapi belum pernah menginjakkan kaki di salah satu keajaiban dunia tersebut. Ya, bisa dimaklumi sih, karena temenku itu lahir dan besar di Jawa Barat. Aku memaklumi, namun anehnya anaknya ibu kosku takjub…

“Laaah mosok ke Borobudur saja belum pernah to mbaaak?”

Caranya mengatakan itu seolah-olah Borobudur adalah pasar tradisional yang mudah dijangkau dan setiap orang se-Indonesia pasti sudah pernah mengunjunginya. Atau seolah-olah Borobudur itu Monas yang setiap orang Indonesia pasti pernah mengunjunginya. Gila, Monas? Aku aja belum pernah ke Monas. Oke, oke … aku tahu bahwa Borobudur is miracle dan sesuatu banget. Tapi kalau orang belum pernah mengunjunginya (walaupun sudah tua), itu ya nggak papa toh?

Kembali ke laptop. Nah, lalu berembuglah aku dengan temanku itu. Bagaimana kalau tidak hanya Borobudur yang kita kunjungi? Bagaimana kalau kita mengadakan wisata tour de Candi? Misalnya Borobudur – Prambanan – Boko? Temanku setuju, walau dia sudah pernah ke Boko dan Prambanan. Kalau aku, sudah pernah ke Borobudur dan Prambanan juga sebenarnya (zaman masih mulus dan sexi – masih remaja unyu maksudnya, haha). Yang akhirnya terealisasi, karena singkatnya waktu, kami dari Borobudur langsung ke Boko.

Sampai di Boko sudah waktu ashar, maka sholatlah aku dulu sebelum memasuki areal kraton. Tempat wisata Kraton Ratu Boko ini sudah dibangun sedemikian rupa sehingga ada bangunan modern di bagian luarnya. Ada restoran dengan view yang cantik, menghadap pemandangan seluruh kota Jogja. Bahkan kita juga dapat melihat dari kejauhan bangunan Candi Prambanan nan gagah. Ada juga penginapan dan beberapa bangunan yang belum sempat  kucek apa saja (mau nggugling kok males…hehe).

Masuk ke areal kraton, kita melewati tangga yang amat landai, jelas sekali bedanya dengan saat menaiki tangga ke Borobudur yang tangganya curam-curam dan bikin ngos-ngosan aku yang juaraaaang buanget olah raga. Tangga menuju kraton Ratu Boko ini didesain romantis, dengan kursi-kursi berukir di setiap sisinya.

Setelah melewati tangga, kita sampai di areal datar. Dari kejauhan sudah tampak gerbang kraton, tapi aku malah terpesona pada hamparan rumput hijau nan menggoda, dan tawaran seorang ibu-ibu untuk mencicipi es degan. Masalahnya tadi di Borobudur sudah ngiler lihat es degan, tapi ternyata pas makan siang di restoran, gak ada menu es degan … huaa.

“Mbak, ayo kita minum es degan dulu,” ajakku.

Kamipun minum es degan sambil duduk-duduk menggelar tikar di padang rumput di pelataran bagian luar kraton Ratu Boko. Hmmm, itu momen yang sangat rileks buat aku. Aku juga nyempetin baring-baring memandang langit biru plus selfie-selfie. Malu? Ah enggak … wong nggak ada yang kenal ini. Para pengunjung yang lain juga asyik sendiri. Oya, yang kusukai dengan perjalanan ke Kraton Ratu Boko ini, karena gak seramai waktu di Borobudur tadi. Alamak, Borobudur full manusia. Rombongan SD, SMP dan SMA tumpah ruah di sana. Maklum musim liburan. Dan kata sopir travel yang nganterin kita, ada 250 bus di tempat parkir Borobudur! Entah sopirku itu gak punya kerjaan trus ngitungin bus di areal parkir sambil nungguin kami, atau dia dapat info dari penjaga loket, hehehe.

Setelah menghabiskan satu kelapa muda yang rasanya juara, kami melanjutkan perjalanan. Dan aku terkesima, terpesona, takjub, jatuh cinta pada Boko. Arealnya luas banget. Nah untuk yang satu ini aku harus gugling. Keterangan berikut bersumber dari Wikipedia.

Kraton atau Candi Ratu Boko adalah situs purbakala yang merupakan kompleks sejumlah sisa bangunan yang berada sekitar 3 km sebelah selatan kompleks Candi Prambanan. Situs Ratu Boko terletak di sebuah bukit dengan ketinggian 196 m dpl. Luas keseluruhan kompleks adalah 25 ha.

Situs Ratu Boko pertama ditemukan oleh Van Boeckholtz pada tahun 1790, namun baru 100 tahun kemudian dilakukan penelitian yang dipimpin oleh FDK Bosch yang dilaporkan dalam semacam manuskrip (?) Keraton van Ratoe Boko. Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa reruntuhan purbakala tersebut adalah sebuah istana kerajaan, berdasarkan dari pola peletakan sisa-sisa bangunan. Kompleks tersebut bukan candi atau bangunan yang bersifat religius, melainkan sebuah istana berbenteng dengan bukti adanya sisa dinding benteng dan parit kering sebagai struktur pertahanan. Lalu, Ratu Boko itu sendiri siapa? Menurut legenda masyarakat sekitar, Ratu Boko adalah ayah dari Loro Jonggrang, yang juga menjadi nama candi utama pada kompleks Candi Prambanan.

Kompleks kraton Ratu Boko itu sangat luas dan aku mencoba menjelajah semua bagiannya dengan diliputi perasaan takjub. Pertama takjub dengan luasnya, takjub dengan cantiknya, takjub dengan hawa silir yang mengembus-embusku dengan nyaman, takjub dengan kinerja para arkeolog – yang tentunya sudah membuat situs ini layak dikunjungi. Aku bayangkan dulu awal ditemukan tentu tak secantik itu penampakannya. Lalu rasa takjubku juga karena saat melangkah di areal bekas kraton itu, aku diliputi perasaan bahagia seolah berada di rumah. Aku jadi berpikir mungkin aku ini titisan salah satu putri kraton yang dulu tinggal di istana Boko (dilarang protes lo yaaa…dilarang sirik trus bilang: titisan mbok emban kale…wkkk).

Dan di samping rasa takjub dan bangga dengan para nenek moyangku, aku diselipi rasa haru dan sedih. Gimana ya, supaya kraton Boko bisa dipugar, lalu berdiri megah seperti aslinya? Bagaimana ya sebenarnya penampakan aslinya? Bagaimana orang-orang dulu berinteraksi di dalam kraton ini? Tiba-tiba aku ingin belajar arkeologi (sudah telat buk…sudah tua. Ih, tak ada kata terlambat untuk belajar, bukan????). Dan tiba-tiba aku marah pada paranormal. Lho…kok sampai ke paranormal?

Maafkan pikiranku yang suka nglantur ini. Beneran pikiranku melayang pada paranormal yang suka tampil di televisi itu. Mereka sukanya meramal ada kejadian apa di tahun-tahun mendatang. Ada spesialis artis, ngeramal artis ini bakal cemerlang, artis ini bakal sakit, dan ada artis yang bakal cerai dan meninggal. Ada juga spesialis dunia politik, tahun depan Indonesia bakal bla bla bla. Hello paranormal, wes gak usah ngomongno masa depan, iku ngono kuosone Gusti Allah.

Ayo sini paranormal ikut ke Kraton Ratu Boko, atau ke semua reruntuhan candi di Indonesia.  Raba dindingnya, pegang batunya, peluk patung-patungnya dan biarkan ilmumu membawamu jauhhh ke ratusan tahun silam. Gambarkan bagaimana rupa asli bangunan-bangunan ini. Bantu para arkeolog. Daripada berceloteh tentang masa depan yang belum tentu benar, mending kalian meraba masa lalu yang pasti ada. Ilmu kalian jadi lebih bermanfaat, kan?

Yah, begitulah kisahku dalam perjalanan ke kraton Ratu Boko. I am so in love deh. Terutama oleh rasa hommy tadi. Mungkin suatu saat aku akan kembali ke Boko. Kembali pulang ke rumah. Terima kasih sudah membaca pengalamanku ini, byee (dada-dada ala putri kraton Boko).


 Berikut ini beberapa foto yang kuculik dari google untuk melengkapi kisahku. Foto-fotoku selama di Boko soalnya belum dicetak (waduh jadul amat), waktu masang rollnya nggak nyantol (haduh apalagi ini generasi unyu gak bakal ngerti), fotoku terbakar semua (aissh berasa balik ke tahun 90-an) ... hahaha.

Gerbang Kraton Ratu Boko 

Hamparan rumput di areal Kraton Ratu Boko

Restoran, dengan view kota Jogja. Menawan.

Cinta dan Rangga (AADC 2) di salah satu sudut Kraton Ratu Boko

Minggu, 29 Mei 2016

Tip dan Trik Makan di Rumah Makan Padang a la Pak Kirman

Gambar dari google

Siapa Pak Kirman? Apakah dia tokoh baru dalam acara kuliner di televisi sebagai saingan Pak Bondan? Ataukah dia pemilik restoran Padang? Chef andal?
Bukan. Pak Kirman adalah sopir angkot jalur 23, yang tiap hari wira-wiri Terminal Pakem-Ps. Kranggan (pp), Jogja.

Ya, benar. Beliau sopir angkot separuh baya yang suka mengajak ngobrol penumpang, terutama yang duduk di bangku depan, di sebelahnya.
Suatu pagi saat kebetulan saya  berada di tempat terhormat itu, dalam rangka berkendara dari Jl. Palagan km 15 turun di SMP 6, saya mengais sedikit ilmu dari Pak Kirman.

“Bu, kalau ibu masuk di rumah makan padang, saya sarankan ibu duduk di bangku yang menghadap tembok. Jangan tempat duduk yang kursinya berhadap-hadapan.”

“Lho, kenapa begitu, Pak?” tanya saya. Soalnya terus terang saya benci makan menghadap tembok.

“Yang makan di restoran padang itu kan banyak, Bu. Saat ramai pengunjung, kadang ada orang yang duduk semeja dengan kita. Di hadapan kita.”

“Lalu?”

“Nah, kalau orang itu datang lebih dulu dari ibu, bisa jadi dia selesai makan lebih duluan, kan? Saat ibu sedang memulai makan, eeh … orang itu cuci tangan di kobokan. Airnya kan tepercik. Lebih parah lagi, kalau orang itu merokok … mengganggu sekali kan, Bu? Lalu … ada yang lebih menjijikkan lagi. Coba tebak, Bu.”

“Hmmm … apa, ya? Slilit, ya?”

“Yaaa, Bu. Bener. Kita sedang asyik makan, eeh … orang asyik mencongkel-congkel kotoran di giginya dengan tusuk gigi. Itu membuat selera makan hilang, Bu.”
Meledaklah tawa saya. Terus terang yang diceritakan Pak Kirman itu tak pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya. Usut punya usut, ternyata beliau pernah mengalami sendiri hal seperti itu.

“Satu lagi nasihat saya, Bu. Kalau makan di warung Padang, carilah yang Minang. Lalu makannya pelan-pelan. Dihayati, Bu. Itu rasanya mantappp sekali.”

Ooh, baiklah, Pak.

“Saya turun di tempat biasa. Berapa biayanya, 5000 atau 6000?”

“5000 saja, Bu. 6000 itu kalau sama orang lain.”

“Ooh, saya dapat harga khusus?”

“Bukan harga khusus, Bu. Kita kan sudah kenal baik.”

“Hahaha, … Baik, terima kasih, Pak.”


Dan angkot pun berhenti, dan saya turun. Lain kali, akan saya share lagi jika ada tip menarik dari Pak Kirman, hahaha.

Gambar dari google
Angkot no 23, tapi yang di gambar angkot Bandung, hahaha.

Rabu, 25 Mei 2016

Cerpen kenangan di majalah Sekar: Rumah ke-12

Kenapa kenangan? Ya, karena majalah Sekar sudah almarhum. Tapi aku punya jejak karya di sana. Silakan baca cerpenku satu-satunya yang pernah dimuat di Sekar. Sekaligus pemenang lomba cerpen fanpage majalah Sekar :)

Rumah ke-12

Oleh: Indah Novita Dewi

            Keputusan untuk pindah ke kota lain dan memulai usaha mereka dari nol, telah dicetuskan suaminya sejak sebulan lalu. Rumah makan “dedhaharan” yang mereka rintis bersama telah di ambang kebangkrutan. Terjadi penurunan pemasukan yang cukup drastis dalam tiga bulan terakhir. Semua tak lain karena setahun belakangan, dua rumah makan lain dengan menu yang hampir sama, berdiri tak jauh dari rumah makan milik keluarga Lily. Kompetisi tiga rumah makan itu demikian ketat, namun akhirnya “dedhaharan” tetap harus menerima imbas penurunan income yang cukup mengkhawatirkan.
            Lily tahu walaupun ia tak pernah serius menanggapi keinginan pindah, namun langkah-langkah untuk mempersiapkan usaha baru di tempat baru, sudah dipikirkan selama berhari-hari oleh Ibrahim. Tapi mengapa harus di kota itu? Mengapa harus di Makassar? Mengapa harus di kota yang mengalunkan melodi sedih untuk Lily?
            Ibrahim meraih tangan istrinya. Menggenggamnya seolah ingin memberikan kehangatan dan kekuatan.
            “Kuharap waktu enam tahun telah membuatmu mengikhlaskan semua kejadian yang pernah kau alami di sana. Kau dan aku sama-sama pernah tinggal di Makassar. Cobalah melihat kota itu dari sisi prospek bisnis rumah makan dengan spesialisasi masakan Jawa. Jawabnya: sangat prospektif,” ucap Ibrahim penuh keyakinan.
            Lily menarik tangannya. Ia tidak dapat memikirkan Makassar dengan sudut pandang bisnis. Paling tidak untuk saat itu. Karena walaupun air mata tidak turun di pipinya, namun terasa seluruh hatinya membasah dengan air mata kenangan kesedihan yang menyeruak.
***
            Makassar, Juli 2012. Setelah enam tahun meninggalkannya, Lily kembali menjejakkan kaki di bumi anging mamiri. Setelah merenungkan semua kata-kata suaminya, Lily menyadari bahwa ia harus realistis. Kenangan itu harus ia kubur dalam-dalam. Ia harus tegar demi masa depan keluarga kecilnya.
            Sambutan Wahidah, sahabatnya saat sama-sama menjadi mahasiswa di kampus Hasanuddin, mau tak mau mengalirkan kembali air mata yang dipendamnya.
            “Lily, Alhamdulillah, aku masih dapat bertemu denganmu. Kukira setelah meninggalnya Daeng Acca’, kau tak akan mau ke sini lagi,” ujar Wahidah sambil memeluknya.
Sementara, Lily memang tinggal di rumah sahabatnya itu untuk keperluan mencari lokasi strategis calon rumah makan barunya.
Ibrahim yang memintanya untuk pergi sendiri ke Makassar. Kata sang suami, “kalau kau ingin menangis mengenang kepedihanmu di sana, menangislah. Tapi ingat selalu aku dan Wita, putri kita. Kami selalu ada di sini menunggumu. Dan saat kita telah berkumpul bersama lagi di Makassar, kuharap kepedihan itu telah sepenuhnya hilang, karena kau telah memahami bahwa itu hanyalah bagian kecil kepedihan kehidupan yang memang harus kau jalani.”  
            “Sudahlah, Hidah. Jangan kau sebut lagi namanya. Kita bicarakan saja rencana hijrahku ke sini ya. Bagaimana apakah pesananku lewat telepon minggu lalu sudah ada?”
            “Oke. Aku sudah mempunyai daftar beberapa rumah dan ruko yang bisa kita lihat sama-sama besok. Ada ruko punya temanku disewakan. Letaknya dekat kantorku. Strategis sekali karena selain kantorku ada beberapa kantor lagi di sekitarnya. Tepatnya di daerah Sudiang.”
            Lily mengernyitkan kening, “bukankah itu sangat jauh dari kota, Hidah?”
            “Sudiang sudah sangat berkembang, Lily. Sekolah, kantor, perumahan, semua dibangun di daerah itu. Sudah ada beberapa rumah makan masakan Jawa di sana, tapi ditambah satu lagi, apalagi yang murah meriah dan rasanya enak, pasti tetap laris manis!”
            “Oke, deh. Besok kita mulai mengecek semuanya ya? Ada berapa tempat yang ada di daftarmu?”
            “Sementara hanya dua belas. Tapi nanti kalau belum ada yang cocok, kita selusuri saja kolom iklan di koran.”
***
            Esoknya Lily dan Wahidah memulai survei mereka di daerah Sudiang dengan mengendarai motor. Mereka melihat-lihat ruko ditemani oleh Pak Samad, rekan sekantor Wahidah. Ruko itu berbeda dari ruko lain yang pernah dilihat Lily. Halaman ruko cukup luas dan rindang. Tidak seperti ruko lainnya yang umumnya panas. Menurut pak Samad, dirinyalah yang melarang pemborong menebang pohon-pohon sewaktu ruko dibangun. Wahidah membenarkan dan mengimbuhkan info bahwa pak Samad adalah pemilik tanah itu dulu. Setelah dibeli kontraktor untuk membangun ruko, pak Samad minta jatah satu ruko untuk dirinya sendiri.
            Walaupun tertarik dengan ruko itu, namun Lily memutuskan untuk melihat sebelas tempat lainnya dulu.
            Beberapa rumah dan ruko selanjutnya tidak terlalu menarik perhatian Lily. Kurang besar, terlalu besar, bentuknya aneh, dan lain-lain alasan yang membuat hati Lily kurang sreg.
            “Sudah, yang punya pak Samad saja,” saran Wahidah.
            “Sudah capek ya, Hidah? Memangnya sudah habis, nih?”
            “Sisa satu lagi, rumah ke-12, ayo lanjut lagi?”
            “Di daerah mana?”
            “Antang.”
            “Ayo.”
            Mereka bergerak lagi menuju daerah Antang. Memasuki sebuah kompleks perumahan yang tidak terlalu ramai.
“Kok sepi begini, Hidah? Nggak salah, nih?” tanya Lily.
“Iya ya, mana jalannya berbatu-batu. Tapi aku sudah telanjur telepon pemiliknya. Kita lihat dulu rumahnya.”
Rumah yang dimaksud ternyata terletak di bagian belakang kompleks, menyendiri agak jauh dari bangunan rumah lainnya.
            “Hmm, spooky house,” bisik Wahidah.
            Lily terdiam memandang rumah yang berdiri di kejauhan. Rumah itu tidak terlalu besar. Dibangun di sudut sebuah tanah lapang berukuran luas, dikelilingi pagar besi. Yang menarik adalah jajaran pohon kersen memanjang di samping halaman. Pohon kesayangan Lily sejak kecil.
            Seorang perempuan berjilbab melambai dari teras rumah.
            “Itu bu Mia, pemilik rumah. Ayo kita masuk,” Wahidah mendahului masuk melewati gerbang yang sudah terbuka lebar. Lily mengikuti dengan langkah pelan, masih mengamati pepohonan kersen.
            Setelah berkenalan dengan bu Mia, mereka memasuki rumah.
            “Rumah ini dibangun oleh sepupu saya kurang lebih tujuh tahun yang lalu. Rumah pertama yang dibangun di kompleks ini. Ruang tamunya memang sengaja dibuat kecil, tapi ruang-ruang lainnya didesain sangat nyaman,” bu Mia mulai bertutur mempromosikan rumahnya dan mengajak mereka masuk lebih dalam.
            “Ruang tengah sangat luas, tersambung dengan ruang makan dan dapur bersih. Ruang tidur utama dan ruang tidur anak-anak terletak bersebelahan. Uniknya, ada juga pintu sambung yang menghubungkan keduanya. Kamar mandi ada dua, di dalam ruang tidur utama dan satu di samping dapur. Masih ada satu kamar lagi di samping dapur. Didesain untuk kamar pembantu.”
            Lily merasa dadanya berdebar-debar.
            “Boleh, saya melihat kamar tidur utama?” tanyanya pelan.
            “Silakan. Kamar tidur utama sangat unik, karena ada jendela tingkap di atapnya,” ujar bu Mia seraya membuka pintu kamar.
            “Jendela tingkap apa, sih?” tanya Wahidah tak paham.
            Lily memejamkan mata. Ia sangat memahami apa maksud kata-kata bu Mia. Sebelum bu Mia menunjukkan atap kamar yang bisa terbuka, Lily sudah jatuh pingsan diiringi pekikan Wahidah yang terkejut.
            “Rumah seperti apa yang kamu inginkan, Ly?”
 Itu pertanyaan Acca’ dulu. Saat mereka berdua tengah duduk di atas bale-bale di bawah pohon kersen di depan rumah kos Lily. Maka Lily menjawab dengan rinci gambaran rumah impian yang ingin ia miliki.
“Aku ingin rumah yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Dengan halaman yang cukup luas, ruang tamu yang sempit dengan kursi yang keras, ruang keluarga yang nyaman dengan sofa empuk yang tersambung dengan ruang makan dan dapur bersih. Dua kamar tidur berjajar dengan pintu sambung dan kamar mandi dalam. Satu kamar mandi lagi disamping dapur dan satu kamar tidur kecil untuk pembantu. Oya, satu lagi aku ingin atap di kamar tidur kita dapat terbuka hingga sesekali kita bisa tidur di bawah gemerlap bintang, pasti romantis sekali, kan.”
“Kenapa ruang tamunya harus sempit dengan kursi yang keras? Terdengar sangat tidak nyaman,” protes Acca’.
Lily tergelak
“Tamu itu kan banyak jenisnya. Kalau ada tamu yang kurang kita sukai, atau hanya bermaksud melakukan kunjungan singkat, kita terima ia di ruang tamu. Sedangkan tamu yang sudah seperti keluarga dapat langsung masuk ke ruang keluarga yang nyaman.”
Acca’ manggut-manggut dengan serius.
Percakapan itu terjadi tujuh tahun yang lalu. Tiba-tiba kilas kejadiannya terbayang jelas di memori otak Lily, seolah-olah baru terjadi kemarin.
Lily tersadar setelah mencium bau minyak angin yang digosokkan bu Mia di lehernya.
“Mungkin kecapekan, bu Mia. Seharian kami menyusuri kota Makassar melihat-lihat rumah,” jelas Wahidah.
“Bu Mia, apakah sepupu ibu…yang membangun rumah ini, bernama Ansar Syarif?” tanya Lily pelan. Wahidah membelalakkan mata.
“Iya, kami biasa memanggilnya daeng Acca’. Tapi ia sudah lama meninggal,” jelas bu Mia keheranan.

Lily mencucurkan air mata yang sudah disimpannya selama enam tahun. Sejak kematian Acca’ karena kecelakaan lalu lintas, ia kehilangan cinta pertamanya yang dirajut dengan ketulusan. Ibrahim berhasil menyembuhkan luka itu, namun kini kembali terasa pedih, saat takdir membawanya memasuki rumah yang dibangun Acca’ untuknya.*



COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES