Jumat, 15 Januari 2016

Manfaat Membaca dan Mengoleksi Buku

Hai, siapa suka membaca buku? Saya! Siapa suka mengoleksi buku? Eh ... saya biasanya minjem, euy. 

Hahaha ... yayaya, membaca buku is very important. Pernah dengar kan bahwa buku adalah sumber ilmu. Buku adalah jendela dunia. Dan masih banyak lagi hal positif tentang buku.


Gambar dari Google

Sejak kapan kita membaca buku? Mungkin beragam jawaban akan diperoleh dari pertanyaan ini. Yang umum, mungkin ya sejak kita dapat membaca. Mungkin di bangku TK, di bangku SD atau bahkan di usia tua karena baru ikut kejar paket A di usia lanjut.

Namun trend yang memang bagus dan seharusnya selalu diaplikasikan akhir-akhir ini adalah membaca buku sejak masih dalam kandungan. Wuewww ... keren kan. Bagaimana caranya. Yah, tentunya bukan si orok yang baca buku sambil bawa lampu belajar dalam perut bundanya (jadi pengen gambar kartunnya, bayi dalam perut plus lampu belajar ... lucu absurd yah). Melainkan, si bunda yang harus rajin membacakan buku untuk debay dalam perut. Walaupun belum ada penelitian ilmiah, sudah pastinyalah ini efeknya bagus banget tuk si debay. Mendengar suara lemah lembut bunda membaca sambil elus-elus perut, it such a very beautiful moment to remember. Pas lagi bacain sambil elus-elus dipotoin bun ... ntar ditunjukin ke anak kalau dia sudah besar. (baiteway, si embak yang nulis emang dulu begitu? nggak ... huaaa, entah kenapa niy ide datang belakangan setelah tiga anak brojol semua. Masak harus nambah anak lagi. Aamiin. Eh, kelepasan deh bilang aamiin....). Saya dulu kadang membaca al qur'an buat anak di dalam kandungan, tapi kalau diingat-ingat kurang intensif alias seingatnya...huaa pengakuan yang menyedihkan. Jadinya nambah lagi nggak nih...hadeh.

Oke back to focus. Membaca adalah sudah pasti bermanfaat. Buktinya perintah Allah yang pertama melalui malaikat Jibril untuk Nabi Muhammad SAW adalah Iqra' alias bacalah. Jadi sudah jelas bahwa membaca ini sangat penting.

Membaca apa? Nah, untuk bayi dalam kandungan tadi, kita tentunya sebagai orang tua membacakan yang baik-baik untuknya. Bisa bacaan Al Qur'an, buku-buku dongeng, buku akhlak terbaik, kisah-kisah nabi, dan lain-lain tergantung selera. Tak jarang bunda yang kebetulan sedang belajar lagi misalnya kuliah atau memnag berkecimpung di dunia akademis, membacakan jurnal-jurnal dan literatur tesis untuk sang bayi dalam kandungan. Haha, nggak papa juga, sekalian belajar ibunya.

Membaca untuk usia sekolah tentu yang utama adalah membaca buku-buku pelajaran. Di samping buku pelajaran, agar wawasan anak berkembang, kita sebagai orangtua sebaiknya membelikan buku-buku lain yang bermanfaat untuk anak. Untuk membuka wawasan dan melembutkan hati. Banyak pilihan buku-buku anak bermutu di toko buku. Kalau nggak punya uang, fasilitasi anak dengan membawanya ke perpustakaan. Masa anak-anak adalah masa bermain dan belajar. Contoh buku yang baik untuk perkembangan otaknya adalah serial petualangan lima sekawan (untuk anak usia SD), dongeng-dongeng binatang (untuk TK dan SD), kisah-kisah pahlawan atau kisah nabi-nabi, dan masih banyak lagi lainnya. Selain itu ada pula buku seri pengetahuan umum bergambar yang bisa menjadi penunjang anak-anak dalam memahami materi sains di sekolahnya. Misalnya seri pengetahuan WHY.

Untuk usia dewasa, biasanya sudah bisa memilih buku sendiri sesuai kebutuhan. Mereka yang suka hiburan akan memilih novel, cergam, atau buku-buku humor. Buku non fiksi penunjang karier juga bisa dibaca. Buku-buku motivasi, buku-buku agama, buku cerita inspiratif, travelling, resep masakan, biografi, dan lain-lain. 

Membaca buku membuat kita mengenal negeri-negeri yang jauh. Menjadikan kita orang yang lebih kreatif. Menjadikan kita orang yang lebih religius. Menjadikan kita orang yang lebih baik. Otak kita mendapat asupan pengetahuan setiap hari dengan membaca. Membaca setiap hari akan menghindarkan kita dari kepikunan.

Nah sekarang bagaimana halnya dengan mengkoleksi buku? Kalau bisa pinjam, untuk apa membeli? Mungkin ada yang punya motto beginian, ya, hahha. Tapi kadang ada buku yang benar-benar bagus, yang membuat kita ingin mempunyainya, untuk dibaca berulang tiap dibutuhkan. 

Saya punya cerita tentang hal ini. Waktu kuliah ada satu buku yang saya pinjam dari persewaan buku. Judulnya Celestine Prophecy. Demikian terbius saya dengan buku yang satu ini sehingga setelah saya akhirnya bekerja dan punya gaji sendiri, buku ini termasuk barang yang pertama-tama saya beli. Oh ya, sebelumnya saya termasuk beruntung karena orangtua saya tidak pelit soal kebutuhan membaca putra-putrinya. Jadi sejak kecil saya dan kakak sudah punya beberapa buku untuk koleksi.

Saat saya menikah dan punya anak, tentu saja saya juga menyediakan budget untuk membelikan  buku anak-anak saya. Alhamdulillah, si sulung sudah menunjukkan minat membaca sejak ia bisa membaca di TK B. Adik-adiknya ... semoga akan mengikuti jejak sang kakak.

Ada lho orang yang menganggap bahwa mengkoleksi buku itu adalah perbuatan yang sia-sia. Buku ditumpuk dianggurkan gitu, buat apa? Gitu katanya. Kalau dikiloin kan jadi duit? Astagaa, dikiloin, noooo! 

Jadi bagaimanakah agar tumpukan buku kita itu tidak kelihatan mubazir tapi dapat lebih bermanfaat lagi? Ada beberapa cara, yaitu:

1. Koleksi buku untuk referensi menulis. Semakin banyak buku yang kita miliki, seharusnya semakin banyak karya tulis yang kita buat. Jadi manfaat buku tersebar melalui tulisan-tulisan kita di berbagai media. Even sebuah media sederhana seperti blog atau bahkan status FB.

2. Dimanfaatkan sebagai perpustakaan atau taman bacaan. Nah, modal banget kan punya buku bejibun. Tinggal ruangan dan rak-rak saja yang harus disediakan. Orang lainnantinya  ikut mendapat ilmu dari buku. Kalau perpustakaannya berbayar, kita bisa memanfaatkan uang masuk untuk pemeliharaan buku atau bahkan menambah koleksi dengan buku-buku terbaru.

3. Disumbangkan pada taman bacaan di pedesaan atau panti. Nah, ini juga bagus. Sortir secara berkala koleksi bukumu, dan sumbangkan sebagian. Kita tebar ilmu dan amal sekaligus.

4. Dijual. Pada saat kepepet, buku juga bisa dijual. Bahkan buku-buku langka dapat dijual lebih tinggi dari harga semula.

Nah, banyak kan, manfaat membaca dan mengkoleksi buku. Ayo, mulai membaca dan membeli buku. 

Selasa, 12 Januari 2016

Pindah dan Adaptasi

Gambar dari google

Di suatu pagi yang sejuk, terlintas dalam pikiran ingin menulis tentang ini, pindah dan adaptasi. Sebagai seorang anak anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), pindah mengikuti orangtua adalah sebuah keniscayaan. Di masa SD, saya menjalaninya di tiga SD yaitu di Semarang, Sumenep dan Sidoarjo. Hal itu membuat masa kecil saya lebih berwarna dan tentu saja teman yang lebih banyak.

Kini setelah saya dewasa (baca=tua), hal yang sama dialami oleh anak saya. Karena satu dan lain hal, dia saya pindahkan dari Jogja ke Makassar tepat di semester dua, kelas 5 SD. Anehnya, awalnya saya yang galau. Tentu saja saya selalu menguatkan dia jauh sebelum pindah, bahwa masa adaptasi pasti akan dijalaninya dengan baik. Tak usah takut juga dengan nilai rapor yang mungkin akan turun pada masa adaptasi, karena saya sebagai orangtua tidak pernah menuntut rapor dengan nilai tinggi. Yang saya inginkan hanyalah anak memahami pelajaran yang diterima dan enjoy di sekolah.

Galaunya saya adalah saat akan pindah, putri saya mengalami banyak momen mengharukan dengan teman-temannya. Menerima banyak surat yang isinya ungkapan rasa suka karena sudah berteman selama ini, dan juga goresan doa-doa agar anak saya sukses di sekolah yang baru. Saya ikut haru dan galau membaca surat-surat dari kawan-kawan putri saya itu. Hingga saya bolak-balik mikir apakah kepindahan ini lebih baik ditunda.

Hingga sampailah saya pada sesi curhat dengan kawan. Saya curhat dengan seorang teman dan advisnya sungguh membuat saya tenang. Begini nasihat teman saya itu:

Ada untung ruginya anak-anak diajak pindah-pindah. Untungnya, anak akan tahu keberagaman budaya. Jadi pas besar gak minder ngadepin orang dari mana-mana. Latihan beradaptasi. Soft skill berkembang. Menjadi bekal kelak jika takdir membawanya merantau.

Yup. Saya lupa bahwa saya juga merasakan hal itu. Dan nasihat itu membawa kenangan saya pada masa lalu. Ketika putri saya bertanya, "Apakah Mama pernah menyesal sekolah pindah-pindah waktu SD?" Saya bisa menjawab mantap. "Tidak. Mama tidak pernah menyesal. Pindah-pindah membuat Mama punya banyak teman. Dan itu membuat Mama punya lebih banyak 'ikatan' dengan berbagai daerah di Indonesia. Itu membuat wawasan Mama lebih berwarna."

Singkat cerita, ini merupakan hari ketiga putri saya di sekolah barunya. Adaptasinya masih butuh beberapa waktu lagi, karena sistem pendidikan yang berbeda. Sekolah lamanya campur cewek-cowok, sekolah barunya memisahkan cewek dan cowok mulai kelas empat. Sekolah lamanya pakai KTSP (kurikulum 2006), sekolah baru pakai Tematik (kurikulum 2013). Ia mengeluhkan peer yang didapat tiap hari dan besoknya sudah harus dikumpulkan. Soal teman? Alhamdulillah, sejauh ini ia bercerita bahwa semua temannya welcome, bahkan berebut mengajaknya ngobrol atau jalan ke kantin saat istirahat.

Masa adaptasi memang merupakan masa yang bikin deg-degan. Deg-degan akan hilang saat diri mulai merasa terbiasa dengan lingkungan sekitar. Nah, sekarang tinggal tugas saya sebagai ibu, selalu memotivasi, mengarahkan pada hal yang baik. Yang paling penting adalah selalu mendoakan semua kelancaran untuk putra dan putri saya menghadapi masa-masa adaptasi ini dan untuk seterusnya, tentu. Dan jangan lupa, sedia kuping dan hati untuk selalu siap mendengarkan curhatan putra-putri tercinta.

Gambar dari rinso.co.id


Kamis, 07 Januari 2016

Mencontek

             
Gambar dari google

   Obrolan dalam sebuah grup yang sering random, kali ini membahas tentang mencontek. Alkisah ada anggota grup yang sangat marah karena salah satu temannya yang nota bene kuliah lagi di sebuah perguruan tinggi, melakukan perbuatan mencontek. Menconteknya nggak tanggung-tanggung, pakai hp, bertanya pada si anggota grup itu. Obrolan meluas dan para pendidik di dalam grup pun urun pendapat. Tegas menolak perbuatan curang demi pendidikan karakter.
                Aku termenung dan kemudian asyik dalam perjalanan lamunanku sendiri. Merunut ke belakang, mencari-cari di mana aku mulai mencontek? Atau diberi contekan? Ingatanku jatuh saat kelas lima SD. Waktu itu aku ujian dan duduk dengan kakak kelas enam. Kebetulan kakak kelas enam itu adalah tetangga sebelah rumah. Tapi kami tidak terlalu akrab sebagai tetangga. Masih saya ingat, ujiannya ujian bahasa daerah. Sebelum ujian, Pak Mustafa guru kami melewati bangku kami dan tersenyum. Ya, dia tau kami tetanggaan.
                Pak Mustafa bilang, “Kuwi adik kelase ngko diwarahi, yo?” (Itu, adik kelasnya nanti diajari, ya).
                Ujian berlangsung aman. Soalnya susah, tapi tentu saja aku nggak minta contekan. Gengsi ah. Eh, ternyata malah sang kakak kelas yang tiba-tiba bisik-bisik menunjuk satu soal di kertas ulanganku.
                “Itu jawabannya bukan isuk subuh, dek. Yang bener isuk umun-umun,” ujarnya.
                Hmm, aku sudah tahu jawabanku ini pasti salah. Baiklah, terima kasih kakak kelas, jawabanku kuganti. Itulah pertama kali aku cheating. Tapi bukan atas kemauanku lo ya (pembelaan diri, hehhe).
*
Ingatanku kembali membawa ke masa SMP, waktu ujian juga. Ada telunjuk mencolek punggungku.
                “Sst … nomor 2 jawabannya apa?”
                Wuih, yang nanya si Amin, biang kerok di kelas dua. Keringat meluncur di pelipisku. Aku takut kalau nggak ngasih contekan, nanti pulang sekolah aku dipukul. Jari kananku memberi kode huruf yang harus disilang. Pulang sekolah, Amin menghampiriku.
                “Itu tadi A kan, jawabannya?”
                “Eh … maksudku, itu B.”
                “Lho, kok jarimu tadi bentuknya kayak gitu, sih?”
                “Ya maaf…,”
                Yah, aku memberi contekan tapi tidak termanfaatkan dengan baik, kan (pembelaan diri lagi, hehhe).
*
                Ingatan di masa SMA, buntu. Entah pernah nyontek atau tidak. Waktu kuliah S1 karena hafalannya luar biasa banyak, kadang bikin kepekan di meja. Maksudnya nulisin meja gitu…tapi biasanya sih yang ditulis nggak keluar di ujian (pembelaan diri lagi). Kuliah S2, banyakan open book dan ada teman yang suka jalan-jalan pas ujian, jalan-jalan sambil ngintip jawaban teman lainnya, haha. Kuliah S3, ujian banyakan diganti dengan paper. Kalau paper nggak bisa nyontek, kan. Paling jatuhnya plagiat paper lain. Tapi sebagai peneliti sekaligus penulis, aku anti plagiat.
                Tapi ada satu kejadian menarik pas ujian beberapa waktu lalu. Dosennya lagi sedeng kali. Ada soal yang bunyinya: Sebutkan 10 prinsip bla bla bla… wess…yang namanya 10 prinsip anu anu itu kan harus pleg dengan buku sumber. Masak prinsip mau kita ganti-ganti sendiri. Dan blas 10 prinsip itu gak ada di otakku. Eh, di otak teman-teman apa lagi. Dan ketika yang njaga ujian keluar, salah satu teman buka tab dan mengucapkan dengan lantang ke sepuluh prinsip tersebut. Yang lain nyalin. Sungguh ujian yang sangat rusuh. Tapi cuma di satu nomor itu lho (pembelaan diri).
                Begitulah ceritaku. Ada saat-saat di mana situasi dan kondisi menyebabkan kita ‘harus’ mencontek. Wuih, jangan ada anak sekolah yang baca tulisanku ini ya. Aku teringat kisah lain saat teman-teman honorer di kantorku harus ujian masuk PNS. ‘Kebijakan’ kepala kantor adalah ada beberapa rekan yang ditempatkan sebagai pengawas ujian dan bertugas memastikan teman-teman honorer lolos ujian. Banyak pertimbangan, antara lain mereka sudah berjasa, sudah lama jadi honorer gak diangkat-diangkat, dan lain sebagainya.
                Lalu dalam melaksanakan tugas kantor? Sistem manajemen pemerintahan kadang juga membuat kita harus melakukan beberapa rekayasa. Tanggal kepergian tugas yang tidak sesuai kenyataan, pinjam nama teman lain untuk kelancaran administrasi, menandatangani sesuatu yang samar-samar, dan beberapa hal lain. Allah ampuni hamba.
                Maksudku apa menulis ini semua? Semacam pengakuan dosa? Tidak. Hanya berbagi. Hanya mencoba untuk jujur. Hanya tidak ingin menghakimi. Hanya ingin introspeksi diri. Karena di saat telunjuk kita menuding orang lain, maka empat jari tertuding pada diri kita sendiri. Sudah sucikah kita? Astaghfirullahal adziim….

                Pendapatku tentang perbuatan curang adalah sesuai normalitas. Aku membencinya. Walaupun aku pernah melakukannya. Semoga Allah memaafkan semua kekhilafanku sebagai manusia biasa.

Senin, 04 Januari 2016

Resensi Korjak: Novel Cherish You

Berikut adalah resensi pertamaku yang dimuat di koran jakarta. Apakah ini juga resensi yang pertama kukirim? Hmm, seingatku tidak. Dulu sekali sudah pernah kirim satu tanpa kabar. Lalu kirim yang ini dan dimuat. Setelah yang ini aku getol kirim resensi tiga buku lagi tapi belum beruntung.

Oya, resensi ini adalah resensi novel karya sahabatku, Irfa Hudaya. Novelnya yang sudah diterbitkan ada dua. Tapi yang ngantri terbit buanyak. Semoga mbak Irfa sukses jadi penulis produktif, aamiin.

Berikut naskah asli resensi yang kukirim:

Judul               : Cherish You
Penulis             : Irfa Hudaya
Penerbit           : Orange
Tahun terbit     : Cetakan I, 2015
Tebal               : 302 halaman
Harga              : Rp45.000,00
ISBN               : 978-602-7729-49-0

Kematian seringkali membuat suatu perubahan dalam sebuah keluarga. Demikian pula keluarga kecil Mahira, saat Aini istrinya harus pergi karena penyakit eklampsia. Meninggalkan Mahira hanya bersama si kecil Aqilla.
Karena harus bekerja, Mahira terpaksa menitipkan bayinya di rumah mertuanya, ibu Aini. Sehari-hari, Aqilla diasuh oleh Rifka, tantenya yang hampir diwisuda. Otomatis, Mahira menjadi dekat dengan adik iparnya itu. Kedekatan keduanya menimbulkan angan-angan di hati sang ibu, yang kemudian mempunyai ide untuk menjodohkan mereka.
Sangat wajar keinginan nenek Aqilla ini, memikirkan menantunya yang seorang lelaki normal, tentu masih membutuhkan seorang pendamping. Di sisi lain, ia cemas bila sang cucu harus beradaptasi dengan  mama baru. Bisa jadi istri Mahira kurang menyayangi Aqilla, dan tentu ia tak bebas lagi mengunjungi cucu, jika Mahira sudah punya istri baru. Rifka adalah satu-satunya calon istri terbaik untuk Mahira.
Walaupun menolak pada mulanya, namun akhirnya pernikahan turun ranjang itupun terjadi. Rifka segera pindah ke rumah Mahira bersama Aqilla. Mereka tak segera tidur sekamar karena rasa canggung dan juga karena masing-masing masih belum dapat melupakan nama seseorang. Mahira belum dapat melupakan Aini, Rifka belum dapat melupakan Andri, kekasihnya. Mereka memilih menunggu hati mereka siap menerima satu sama lain. Untuk saat itu, cukup melakukan yang terbaik buat Aqilla.
Mulailah berbagai peristiwa lucu dialami oleh Rifka dan Mahira. Pernah tiba-tiba ibu Rifka datang tanpa memberi kabar, sehingga dalam waktu kilat mereka harus memindahkan barang-barang ke dalam satu kamar, agar terlihat mereka sudah tidur sekamar (halaman 144).
Walau bersaudara, Rifka ternyata berbeda perangai dengan kakaknya yang lembut dan sabar. Mahira harus beradaptasi dengan istrinya yang bawel dan sering protes pada beberapa kebiasaannya yang dulu bukan merupakan masalah (halaman 112). Tas kerja yang ditaruh sembarangan, handuk tidak langsung dijemur, pasta gigi jangan dipencet bagian tengahnya, dan lain-lain hal sepele selalu diributkan Rifka. Di sisi lain, Mahira trenyuh dengan kesabaran Rifka mengurus Aqilla. Rifka juga rajin memasak, mengurus rumah dengan baik dan selalu menyediakan keperluan Mahira. Padahal, Rifka hanya seorang gadis 21 tahun yang seharusnya sedang gairah mencari kerja usai wisudanya. Namun kini ia harus terampil mengurus anak dan rumah tangga.
Mahira mengizinkan Rifka untuk bekerja dan kemudian Rifka mendapatkan pekerjaan di sebuah agensi iklan, tempat dia pernah magang dulu. Di sana Rifka bertemu dengan Sita, senior yang cantik. Ternyata Sita adalah perempuan masa lalu Mahira, yang sedang mencoba mendekati Mahira karena belum tahu kalau lelaki itu sudah menikah lagi. Mahira  menanggapi Sita dengan sopan karena tak ingin menyakiti perempuan itu lagi. Kehadiran Sita menyebabkan kesalahpahaman Rifka pada Mahira. Cinta yang sudah muncul perlahan, akhirnya harus tertahan akibat kecemburuan. Akibat melihat Mahira dan Sita berpelukan, Rifka terluka dan memutuskan untuk pergi.
“Cinta itu menyembuhkan luka, bukan menorehkan rasa sakit yang lebih besar.” (halaman 284).
Perpisahan mereka memberikan waktu kepada keduanya untuk sama-sama menyadari bahwa masing-masing membutuhkan kehadiran satu sama lain. Kisah berakhir indah ketika Mahira akhirnya memutuskan untuk ‘menculik’ Rifka kembali ke rumah mereka.
Novel ini dituturkan dengan apik dan mengalir. Memakai sudut pandang orang pertama secara bergantian. Rifka dengan gaya ceplas-ceplosnya, dan Mahira yang sopan. Cara bertutur yang semakin mendekatkan pembaca dengan karakter para tokohnya. Dijamin pembaca akan ikut tertawa, terharu dan bahagia membaca kisah Rifka dan Mahira dalam novel Cherish You ini.



Ini link pemuatan di koran jakarta: http://www.koran-jakarta.com/perjalanan-cinta-terganggu-bayangan-lama/ 

Persyaratan kirim resensi: kirimkan resensi sepanjang 400-500 kata, lengkapi dengan kover buku, identitas buku, scan tanda pengenal dan foto diri. Kirim ke opinikoranjakarta@gmail.com.

Minggu, 03 Januari 2016

Merantau


Ini adalah sebuah kisah keping mozaik perjalanan hidup, semoga dapat menginspirasi teman-teman yang sedang berada jauh dari kampung halaman.

Merantau menurut  wikipedia, adalah perginya seseorang dari tempat ia tumbuh besar ke daerah lain untuk mencari pekerjaan atau pengalaman. Merantau, merupakan hal yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia yang hidup dalam sebuah negara kepulauan. Bahkan demi pemerataan pembangunan, pemerintah turut menyuburkan budaya merantau, salah satunya adalah dengan memasukkan satu klausul perjanjian yang  ditandatangani seorang calon PNS untuk bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia.
Laki-laki yang merantau adalah hal yang biasa, namun perempuan perantau adalah istimewa. Saya salah satunya, perempuan perantau karena alasan pekerjaan.
                Tahun 1998 saya melamar kerja di Departemen Kehutanan. Proses pemeriksaan berkas lamaran, tes tulis, wawancara, psiko tes dan tes kesehatan merupakan rangkaian panjang tes yang harus dijalani dan memakan waktu beberapa bulan. Akhir Juni 1999 saya menerima surat penempatan kerja di sebuah kantor kehutanan di Ujung Pandang, dengan catatan harus segera melapor tanggal 1 Juli. Praktis, saya hanya mempunyai waktu sekitar satu minggu untuk bersiap-siap.
                Kedua orang tua saya merasa senang anak bungsunya akhirnya mendapatkan pekerjaan. Walaupun demikian, mereka juga sempat cemas karena lokasi penempatan yang teramat jauh dan kami juga tidak mempunyai kerabat yang dapat ‘menampung’ saya untuk sementara. Orang tua saya bertanya, apakah saya akan menerima atau menolak saja peluang tersebut.
                Saya pribadi, yang dari kecil hingga perguruan tinggi tidak pernah jauh dari keluarga (SMP – perguruan tinggi di Malang), tidak merasa gentar dengan penempatan itu. Sebaliknya saya merasa bergairah karena akan mengunjungi sebuah daerah baru yang asing. Dan lagi ini merupakan kesempatan dan anugerah dari Allah yang tak boleh saya sia-siakan, setelah sebelumnya sekitar tujuh puluh surat lamaran saya kirimkan ke berbagai instansi dan perusahaan, tapi tidak ada hasil yang memuaskan.
                Selain kedua orang tua yang sibuk mencari daftar teman dan kerabat yang tinggal di Ujung Pandang, saya juga memutar otak mencari kenalan yang tinggal di sana. Saya teringat bahwa kakak sahabat saya semasa SMU bekerja di kota tersebut. Langsung pada kesempatan pertama saya menghubungi sahabat saya. Akhirnya saya mempunyai tujuan sementara di Ujung Pandang, yaitu rumah saudara sepupu sahabat saya. Kakak sahabat saya yang juga sedang bekerja di Ujung Pandang,  menyanggupi untuk menjemput saya di pelabuhan.
                Demikianlah, akhirnya saya berangkat naik kapal Lambelu menuju Ujung Pandang. Alhamdulillah, di kapal ini ternyata salah seorang kerabat jauh dari Mama saya yang berasal dari Lamongan, bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK). Kami pun menghubungi beliau – Om Jais – sehingga akhirnya saya dan dua orang teman saya mendapatkan fasilitas kelas, walaupun memegang tiket ekonomi.
                Singkat cerita, setelah diterima di kantor dan mengenal rekan-rekan kerja, saya memutuskan untuk keluar dari rumah sepupu sahabat saya. Awalnya saya kos di sebuah rumah kos dengan lokasi relatif dekat kantor. Hanya satu bulan saya kos di sana karena merasa tidak sreg tinggal di tempat kos campur laki-laki dan perempuan. Saya kemudian memutuskan untuk kontrak rumah di dekat kantor bersama dua orang sesama pegawai baru yang kemudian menjadi sahabat-sahabat terbaik saya dirantau. Bertiga kami menjalani takdir, mengais rejeki di bumi Ujung Pandang yang tak lama kemudian di sebut dengan Kota Makassar.
                Sekarang setelah lebih dari sepuluh tahun merantau, ada beberapa hal yang saya pahami dan yakini efektif dalam menjaga diri kita – kaum perempuan – saat merantau, antara lain:
1. Berpegang teguh pada ajaran agama, menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah; 
2. Komunikasi dengan keluarga di tempat asal harus rutin dilakukan agar kedua belah pihak merasa tenang;
3. Jalin pertemanan dengan orang-orang baik, yang dapat memotivasi kita untuk selalu berada di jalan kebenaran; 
4. Ramah dan beradaptasi dengan budaya dan lingkungan yang berbeda dengan tempat asal; 
5. Lebih baik menambah saudara daripada menambah musuh; 
6. Selalu bersyukur atas nikmat pekerjaan yang diberikan Allah. 
Dengan berpegang pada enam hal tersebut, Insya Allah kita aman dan terjaga walaupun jauh dari keluarga.
                Pengalaman saya pribadi, ‘sukses’ menjalankan poin ke lima, karena ternyata Allah mempertemukan saya dengan jodoh saya di Makassar. Tahun 2003 saya dipersunting oleh seorang putra daerah. Makassar bukan lagi tempat merantau bagi saya, tapi adalah ‘home’ tempat saya melahirkan dan membesarkan anak-anak saya.

                Satu peribahasa yang harus dipegang dan dipahami oleh para perantau di seluruh dunia: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di mana kamu berada, hargai dan jalankan adat dan kebiasaan di tempat tersebut

Sabtu, 02 Januari 2016

Cerpen kelima di majalah Bobo: Kejutan Buat Ibu



Kejutan Buat Ibu
Oleh: Kalya Innovie

            Naya itu malas. Begitu kata Ibu. Disuruh les musik, ogah. Disuruh les tari, nggak mau. Disuruh les berenang, geleng kepala. Setiap ditawari les, jawabnya: Ah, itu kelihatannya susah. Hanya satu les saja yang tidak bisa ditolaknya, yaitu les mengaji.
            Sebenarnya niat Ibu baik. Ingin Naya ada kegiatan yang bermanfaat. Selama ini, sepulang sekolah, kerja Naya hanya mendekam di kamar membaca koleksi bukunya. Soal buku ini, Ibu sudah sempat punya ide.
            “Nay, pengarang buku-buku yang kamu baca itu, semua masih anak-anak seperti kamu, lho.”
            “Iya, memang, Bu. Kan ada profil penulis di belakang buku. Ada yang kelas empat seperti Naya, kok.”
            “Nah, kenapa kamu nggak coba nulis juga seperti mereka? Nulis cerita sehari-hari. Latihan dari yang gampang dulu,” usul Ibu.
            Naya melirik Ibu, lalu mengeluarkan kata-kata yang sudah dihafal oleh Ibu.
            “Ah, itu kelihatannya susah, Bu.”
            “Dicoba dulu,” bujuk Ibu.
            “Ah, itu kelihatannya super susah, Bu. Sudah, ya. Naya mau main dulu ke rumah Fika. Dadah Ibu!” Naya cepat beranjak, mencium pipi Ibu sekilas, lalu lari keluar. Menuju rumah Fika, sahabat barunya.
*
            Fika dan keluarganya baru seminggu menempati rumah di sebelah rumah Naya. Pertama datang, keluarga Fika langsung berkeliling berkenalan dengan tetangga dekat. Mama Fika bahkan membawa bolu pandan untuk Naya sekeluarga. Karena Naya dan Fika seumur, mereka dengan cepat saling bersahabat.
            “Fika, main, yuk!” seru Naya memanggil sahabatnya.
            Kepala Fika nongol dari jendela rumah.
            “Hai, Nay, mau main ke mana?”
            “Main ke sungai, atau ke pos ronda, yuk,” ajak Naya. Sungai dan pos ronda adalah dua tempat favorit untuk main anak-anak di kompleks.
            “Mama melarangku main di sungai. Masuk saja, Nay, kita main di rumahku. Kita main sulapan.”
            “Sulapan?” tanya Naya.
            Fika mengajak Naya masuk ke dapur rumahnya. Di situ ada Mama Fika memakai celemek, menghadapi meja yang penuh bahan-bahan kue.
            “Halo, Naya, yuk ikut sulapan sama kami,” ajak Mama Fika sambil tersenyum.
            “Sulapan? Bikin kue, maksudnya?” tanya Naya.
            “Iya. Bikin kue tu kayak sulapan, lho. Coba, bayangin tepung yang kayak bedak ini, bisa jadi kue yang harum dan enak. Kayak disulap, toh?”
            “Sudah, ayo Naya, kamu kocok telur di baskom kecil ini, ya,” Mama Fika menyerahkan baskom pada Naya.
            Tak bisa mengelak, Naya mulai mengocok sebutir telur. Dikocok biasa saja pakai sendok, tidak usah mixer! Mama Fika menambahkan tepung, mentega dan ragi ke dalam baskom.
            “Nah, biar Fika yang menguleni. Naya cukup melihat saja, ya.”
            Naya melihat Fika menguleni adonan kue. Menguleni adalah meremas-remas adonan sampai bisa dibentuk. Dalam beberapa menit, adonan berubah menjadi bongkahan padat dan liat.
            “Nah, ini dibiarkan dulu selama satu jam. Bermainlah dulu kalian di kamar.”
            Fika mengajak Naya menunggu di kamarnya. Setelah satu jam, adonan yang dibiarkan itu rupanya telah mengembang. Mama Fika meninju bongkahan adonan, lalu meminta Naya dan Fika untuk membentuk adonan menjadi bulatan-bulatan berukuran sedang. Lalu bulatan itu dilubangi hingga serupa cincin raksasa. Tahap berikutnya, adonan siap digoreng.
            “Ooh…kita sedang bikin donat?” tanya Naya baru tersadar. Fika dan Mamanya tersenyum lebar.
            “Setelah ini bagian yang paling keren, adalah menyulap donat-donat itu menjadi cantik!” ucap Fika. Ia menyiapkan keju parut, cokelat meses, cokelat pasta, gula-gula kecil warna-warni sebagai hiasan.
            Setelah donat dingin, Naya dan Fika mulai menghias sesuka hati. Berkreasi seindah mungkin. Fika membuat Donat dengan topping cokelat meses campur keju parut. Naya membuat topping selai nanas.
            “Aku belum pernah makan donat topping selai nanas. Tapi tak apalah. Sepertinya itu akan lezat,” ucap Naya.
            “Bagaimana, asyik, kan, menyulap bahan-bahan menjadi kue yang cantik?” tanya Mama Fika.
            “Bikin kue memang seperti sulapan ya, Te. Seperti main-main. Dan ternyata asyik juga,” ucap Naya bersemangat.
            “Nah, bawakan Ibumu beberapa kue hasil kreasimu, ya. Ibumu pasti senang.”
*
            Naya membawa pulang beberapa potong donat hasil kreasinya. Ibu melongo melihat donat-donat cantik yang dibawa Naya pulang. Apalagi saat Naya dengan bergairah menceritakan pengalamannya hari itu.
            “Hmm, donatnya enak, Nay,” puji Ibu mengunyah satu donat.
            “Sekarang, Naya sudah tahu hobi Naya apa selain membaca, Bu. Naya suka sekali sulapan!” seru Naya ceria.
            “Sulapan? Lho, kok, sulapan, sih?” tanya Ibu bingung. Apa hubungannya dengan bikin kue?
            “Maksud Naya, menyulap tepung, telur dan mentega, menjadi kue yang lezat, Bu! Nanti, Naya mau pinjam buku resep Ibu, ya?”

            Ibu mengangguk senang. Ternyata, menggali minat dan bakat Naya, tidak cukup dengan menawarkan berbagai les. Dengan langsung praktek, akhirnya muncul juga minatnya membuat kue. Dengan langsung praktek, nggak ada lagi kata-kata: Ah, itu kelihatannya susah.**

Pentingkah Sebuah Resolusi?

Seperti biasa di pengujung tahun, saya membuka kembali file resolusi dan menilai capaian yang saya peroleh. Hmm, kali ini untuk tahun 2015, nilai saya hanya 6,66. Bisa ditebak, banyak resolusi yang tak tercapai.

Saya biasa membagi resolusi menjadi tiga bagian:
1. Keluarga, kesehatan dan religi
2. Karir
3. Karir 2

Dari tiga kelompok besar di atas, bisa dipilah-pilah lagi sesuai kebutuhan. Untuk poin 1, tahun kemarin saya berjanji untuk lebih sabar kepada anak-anak, lebih rajin membuat kue dan lebih sering menemani mereka belajar dan bermain. Dalam hal religi, saya berjanji untuk lebih rajin membaca Al Qur'an, rajin sholat wajib maupun sunnah. Dalam hal kesehatan, mau olahraga rutin. Total nilai : 7 (soalnya olahraga rutinnya cuma bertahan satu minggu).

Poin karir, ada rincian tugas-tugas saya, tapi intinya sih, saya harus LULUS kuliah. Ternyata gagal, so nilai saya : 5 (Harusnya nilainya nol, tapi ada progresslah, lagipula saya nggak mau jahat pada diri sendiri ngasih nilai kok zero banget).

Poin karir 2, ini maksudnya terkait second job saya sebagai penulis. Penulis pemula. Target tahun 2015 kemarin 6 cerpen dimuat media. Ternyata beneran ada enam cerpen dimuat plus bonus tulisan lain berupa opini, resensi dan naskah humor. Jadi saya nilai : 8

Nah, total setelah dijumlahkan dan dibagi tiga, nilai saya adalah 6,66 tadi itu. Kurang memuaskan.

Trus, resolusi untuk 2016 apa, dong? Yah, yang belum tercapai di 2015 tetep dilanjutkan dengan harapan nilainya meningkat.

Penting tidak sih, nulis-nulis resolusi segala? Ya, menurut saya penting. Untuk memberi patokan setahun ke depan tu mau ngapain aja. Apa yang hendak dicapai. Masak hidup datar-datar saja. Tapi lebih penting lagi untuk selalu mengevaluasi misalnya perbulan, sudah sejauh mana progress yang diperoleh dari sebuah resolusi. Jadi insyaAllah resolusinya bisa tercapai semua di akhir tahun.

Begitu.

Jadi, sudahkah Anda membuat resolusi Anda sendiri? Mari kuatkan tekad untuk mencapai semua asa di 2016. Semoga doa kita diijabah Allah SWT. Aamiin....


COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES