Senin, 07 Oktober 2019

Bukan Cinderella

Naskah cerma (cerita remaja) saya dimuat di harian Minggu Pagi Jogjakarta di minggu keempat September 2019. Ada sedikit bagian yang diedit oleh redaksi, namun tidak mengubah isi.  Naskah aslinya saya upload di sini agar bisa dibaca semua teman-teman. Selamat membaca, ya.


Bukan Cinderella


            Hidupku mirip kisah Cinderella. Aku kehilangan ibu di usia belia. Bapakku seorang pelaut yang sering pergi berlayar. Sehari-hari, aku hanya bersama ibu dan saudara tiriku.
            Aku memang nggak perlu bekerja membanting tulang seperti Cinderella. Ibu dan saudara tiriku tak sejahat itu. Tapi bukan berarti mereka tak berlaku curang.
Bapak mengalokasikan uang saku sebesar Rp60.000,00 per hari untukku dan Adriana, saudara tiriku. Masing-masing dapat Rp30.000,00. Hanya saja setelah kemudian ia sering harus menambah uang jajan Adriana, ibu berubah pikiran.
“Dinda, adikmu sangat boros. Uang tiga puluh ribu tidak cukup. Sementara kamu, masih bisa menyisihkan uang untuk ditabung. Tolong sebagai kakak kau mengalah, ya,” Ibu memberiku uang sepuluh ribu.
Sedih, sih, tapi aku nggak mau ribut. Uang sepuluh ribu kuhemat dengan pembagian: delapan ribu untuk ongkos angkot pulang pergi, dua ribu untuk jajan. Sejak itu sering tampak pemandangan, Adriana pesan hidangan komplit di kantin sekolah, sementara aku mengunyah roti seribuan atau makan bekal yang kusiapkan dari rumah, di sudut lapangan basket. Bukan sekali dua kali aku menerima tatapan iba dari teman-teman, tapi semua kubalas dengan ketawa ringan. Ya, aku nggak suka dikasihani. Lagipula, hidup itu bukan untuk makan, melainkan sebaliknya. Makan untuk hidup, makan secukupnya saja dan nggak perlu bermewah-mewah. Itu prinsip hidupku. Prinsip hidup remaja dengan uang saku pas-pasan.
            Rasanya kurang satu lagi tokoh dalam hidupku, seandainya aku Cinderella, ya? Di mana pangeran berkuda putih? Ada. Namanya Ivan. Ia sering menemaniku makan roti saat istirahat. Tapi Ivan  itu sahabatku sejak kecil dan sudah punya pacar. Jadi kucoret keinginan untuk menjadikannya prince charming. Belakangan, Ivan sering bersama Banyu, anak baru di kelasnya. Banyu adem (air dingin), demikian aku diam-diam menjulukinya. Sebab, tiap mata kami bertemu, aku serasa disiram air dingin. Nyess. Beberapa kali Ivan menyampaikan salam dari Banyu, untukku, sambil mengedipkan matanya penuh arti. Ivan memang nakal. Ia tahu pasti orientasiku saat ini adalah tidak berpacaran dengan siapapun. Lagipula aku benar-benar takut jalan cerita Cinderella akan terjadi padaku. Kalau aku punya pacar, kemungkinan Adriana akan merebutnya. Haha, aku terbahak sendiri dengan semua skenario lucu yang aku bayangkan di kepala, saat sedang sendiri dan kesepian di rumah.
**
            Walau hanya bisa menyisihkan seribu sehari, aku rajin menabung. Sudah kebiasaan sejak kecil, ajaran dari mendiang ibuku. Dalam setahun terkumpul uang tiga ratus lima puluh ribu. Aku sangat senang  dan sudah janjian dengan pemilik sebuah toko, untuk menukar uangku.
            Minggu pagi, aku menyiapkan uang seribuanku dalam tas  kecil. Aku berjalan  melewati lorong sepi. Ketika itulah sebuah motor memepetku, dan orang yang duduk di belakang menarik tasku. Kejadiannya berlangsung  cepat. Aku berusaha mempertahankan tas, lalu tiba-tiba  uang seribuanku berhamburan. Terdengar seruan keras di belakangku, dan penjambretku  kabur. Aku limbung dan sepasang tangan kokoh menahan punggungku. Kurasa aku pingsan. Saat siuman, kulihat ada Banyu dan beberapa orang mengerubungiku.
            “Syukurlah, Dinda sudah sadar,” ternyata salah satu orang yang merubungku adalah Bu RT. Alamat, kejadian ini akan sampai di telinga ibuku. “Ini uangmu ibu masukkan kresek. Tasmu robek,” tutur bu RT menyerahkan uang dalam kantung kresek.
            Aku teringat uangku yang berceceran. Alangkah memalukan. Dilihat Banyu pula.
            “Kamu kok di sini?” tanyaku, menatap mata Banyu. Cowok itu menatapku lembut. Tatapan yang biasanya dingin, kini serupa air hangat, menenangkanku.
            “Kebetulan lewat,” jawabnya singkat.
            “Jadi, dia bener teman kamu, Dinda? Bu RT duluan ya, belum beres-beres rumah. Mas, tolong  Adinda diantar pulang, ya?” Bu RT menitipkanku pada Banyu lalu bergegas pergi.
            Kerumunan bubar. Aku berdiri gugup menyadari posisiku setengah baring bersandar di dada Banyu.
            “Jangan jalan dulu. Kamu pasti masih shock,” ucap Banyu. “Ayo kuantar pulang.”
            Aku melihat ada motor Banyu dan teringat bahwa aku sebetulnya mau menukar uang.
            “Tolong antar ke toko dulu, ya?” pintaku. Banyu mengangguk dan segera memboncengkan aku menuju toko yang kumaksud.
            Aku menukar uangku dan menerima tiga lembar seratus ribuan, serta selembar lima puluh ribu. Uang seribuanku  masih utuh jumlahnya, walau sempat berhamburan gara-gara penjambret tadi. Pasti bu RT yang memastikan semua uangku aman. Pipiku memanas membayangkan kembali bagaimana uang seribuanku tadi berhamburan. Ah, ingatan akan kejadian memalukan ini harus segera dihapus dari memori otakku, andai bisa.
            Kuhampiri Banyu di bangku depan toko. Ia menyodorkan es krim dan menyuruhku duduk.
            “Makan es krim dulu, supaya kagetmu hilang,” ucapnya singkat. “Kejadian tadi bukan  sepele. Aku punya tante yang meninggal setelah dijambret karena mempertahankan tasnya. Tante terbanting dan kepalanya membentur trotoar.”
            Cerita Banyu membuatku ngeri. Aku baru sadar sudah lepas dari ancaman maut. Aku makan es krim dengan air mata berlinangan. Membayangkan kalau aku mati muda, pasti bapakku akan sedih. Ibu dan Adriana mungkin juga sedih tapi pasti tak lama mereka akan merasa hidup lebih nyaman tanpa diriku.
            “Jangan takut, ya. Mulai sekarang, lebih berhati-hati saja,” ucap Banyu.
            Aku mengangguk. Ucapan Banyu dan tatapannya yang tak lagi sedingin air es, membuatku nyaman dan … sedikit berbunga-bunga.
**
            Di rumah, bukannya mengkhawatirkanku, ibu malah mengomel. Rupanya kekhawatiranku terbukti. Bu RT sudah singgah ke rumah dan bercerita banyak pada ibu.
            “Apa kata dunia kalau anakku bawa uang receh kemana-mana macam pengamen jalanan? Jangan ulangi lagi! Bikin malu saja!”
            Masih panjang omelannya walau nggak masuk telinga. Aku hanya tertunduk seolah khidmat mendengarkan ibu, padahal di telingaku terngiang ucapan Banyu saat mengantar pulang tadi.
            “Ternyata rumah kita searah. Kita bareng saja berangkat dan pulang sekolah,” ucap Banyu. “Err … kalau kamu mau, sih.”
            Aku tersenyum dan mengangguk malu-malu.
            Dalam hati aku memekik girang. Ya, tentu saja aku mau, Banyu! Itu artinya jatah angkotku bisa kutabung atau kubelikan bakso!
            “Lalu siapa temanmu yang membantumu waktu kecelakaan tadi? Pacarmu?” pertanyaan ibu selanjutnya membuatku terbangun dari lamunan.
            “Ehh, bukan, Bu. Dia teman satu sekolah. Eh, Bu, bolehkah kalau aku berangkat dan pulang sekolah bareng temanku itu?” tanyaku. Bagaimanapun juga, aku harus minta izin ibuku untuk hal ini.
            Ibu seperti kaget, terdiam menatapku sesaat. Lalu alisnya berkerut. Perasaanku mulai tak enak. Aku meyakinkan diriku bahwa aku bukan Cinderella.
            “Lalu kau tinggalkan adikmu naik angkot sendiri? Demi Tuhan, Dinda. Kenapa kamu begitu egois?”
            Masih banyak kata-kata ibu. Intinya ia tak mengizinkan aku berangkat dan pulang sekolah bersama Banyu. Aku hanya bisa menangis di kamar dan berdoa pada Tuhan. Ya, Tuhan, aku bukan Cinderella. Tolong berikan aku jalan cerita yang berbeda, walaupun mungkin dengan ending yang sama.**


Jumat, 20 September 2019

7 Cara efektif mengatasi mual di perjalanan

Hidup ini laksana sebuah perjalanan panjang. Kadang belok, kadang lurus, kadang naik turun. Dalam hidup selalu ada saat-saat sedih, seperti halnya dalam perjalanan selalu ada saat-saat mual. Apa yang harus dilakukan saat mual melanda? Berikut tujuh cara efektif yang dapat dilakukan untuk mengatasi mual. Setiap orang pasti punya cara favoritnya sendiri, which one is yours?


Gambar dari pixabay

1. Ngobrol
Ngobrol dengan teman seperjalanan merupakan cara yang tepat mengatasi rasa bosan. Ternyata untuk sebagian orang, cara ini juga berhasil untuk menghilangkan rasa mual. Paling tidak, kita akan berkonsentrasi pada materi obrolan sehingga mual terlupakan. Percayalah untuk sebagian orang, cara ini efektif, namun untuk saya, tidak.

2. Makan
Ngemil kripik atau makanan ringan lainnya efektif mengurangi rasa mual. Ada teman saya yang kalau naik mobil sampai di jalan belok-belok, pasti langsung ngunyah potato chips. For her, its work. For me? Malah makanan itu akan menarik keluar semua pendahulunya yang sudah bersemayam di lambung. Alamaaak....

3. Ngemut permen
Permen mempunyai rasa manis, pedes, kecut, dan lain-lain tergantung selera. Permen ini akan menetralisir rasa pahit di lidah saat perut mual sehingga mengurangi perasaan ingin muntah. Cara ini buat saya oke-oke saja. Bisa dipakai bila hanya mual-mual tipis.

4. Memejamkan mata dan posisi pewe
Saat jalanan sudah sangat tidak bersahabat sehingga badan macam terkocok-kocok di dalam mobil, pejamkanlah mata dan duduk yang enak. Memejamkan mata akan menghindari mata kita melihat jalanan yang memutar bikin pusing dan posisi wenak menjaga kita untuk tidak terlalu goyang. Posisi paling enak adalah di pinggir dengan kepala miring ke jendela. Lebih bagus kalau ada bantal leher.

5. Tidur
Tidur adalah cara praktis untuk melupakan apapun termasuk melupakan hidupmu yang banyak utang, eh melupakan mual. Bahkan mungkin kita nggak sempat mual karena sudah terbang ke alam mimpi. Hanya saja tidur ini susah dikondisikan. Kalau jalanan amburadul apa iya masih bisa enak tidur, ya kan...

6. Minum obat anti mabok sebelum perjalanan
Cara ini yang paling efektif walau setelah saya beranjak remaja, dewasa lalu tua kelak, cara ini sudah tidak pernah saya pakai. Dulu waktu kecil, saya sering minum obat anti mabok setiap pergi liburan ke rumah nenek. Cara ini membantu tidur dengan sukses. Bahkan mungkin walau jalanan berbukit kita akan tetap tidur dengan senyum tersungging walau teman satu bus sudah butuh kresek kedua untuk kantong muntah.

7. Tambahkan caramu sendiri. Nah, saya kan sudah ngetik enam cara. Untuk melengkapinya menjadi tujuh, tambahkan caramu sendiri. Atasi mual dan nikmati perjalananmu. Happy travelling!

Rabu, 15 Mei 2019

Berkah Ramadan adalah Cinta

Ramadan selalu membawa kegembiraan bagi semua umat Islam di dunia. Betapa tidak, pada bulan ini semua nilai kebaikan ibadah akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Maka semua berlomba-lomba dalam kebaikan, berharap curahan berkah Ramadan mampu menghapus dosa bergelimang di bulan-bulan sebelumnya.

Bagi saya pribadi, Ramadan mempunyai arti kelekatan cinta antara saya dan keluarga. Dua anak lelaki saya lahir di bulan Ramadan. Uniknya keduanya sama-sama lahir tiga hari menjelang Idul Fitri. Bisa kan, membayangkan deg-degannya saya kalau ada masalah kesehatan bayi saya sehingga tidak bisa pulang ke rumah sebelum hari raya. Ya, kedua anak saya lahir di klinik dan rumah sakit. Karena lahir di bulan Ramadan, maka saya menyematkannya sebagai pengingat di nama mereka berdua. Alm. Muhammad Naufal Ramadhan lahir 21 November 2003, dan Emir Abdillah Ramadhan lahir 28 September 2008. Sedangkan dua anak saya lainnya perempuan dan mereka lahir di bulan lain.

Arti Ramadan yang kedua bagi saya, adalah persiapan mudik. Ya, saya dan keluarga tinggal di Makassar yang jauh dari kedua orangtua saya yang tinggal di Malang. Sejak kedua mertua saya wafat, maka mudik ke Malang setiap Ramadan hingga Idul Fitri adalah wajib hukumnya.Setiap Ramadan tiba, saya dan suami bersiap-siap menyisihkan sebagian rezeki untuk membeli tiket PP, membawa serta ketiga anak kami untuk berkunjung ke rumah oma dan opanya di Malang. Kedua orangtua saya sudah sepuh. Bertemu dengan semua anak-menantu dan cucu-cucu tentu merupakan kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Dan karena saya sebagai anak bungsu sekaligus anak yang tinggalnya paling jauh dari rumah - tidak dapat setiap saat pulang - maka momen Ramadan dan lebaran ini benar-benar momen yang paling tepat untuk melepas kerinduan berkumpul sebagai keluarga.

Arti Ramadan yang ketiga saya dapatkan ketika dua tahun lalu saya dan suami memutuskan menyekolahkan putri sulung kami di sebuah pesantren. Ramadan satu bulan penuh adalah rewardnya berkumpul dengan keluarga. Tidak dapat berjumpa dengan si sulung setiap hari, membuat saya menurunkan frekuensi dan ritme mengomel khas ibu-ibu kalau anaknya bersikap tidak memuaskan. Ramadan ini, saya melihat si sulung dengan kacamata yang lain. Ia telah menjelma menjadi remaja yang mau membantu pekerjaan rumah, dan bisa dimintai tolong menjaga adik-adiknya. Ramadan adalah saatnya saya mensyukuri semua nikmat yang telah diberikan Allah SWT dalam kehidupan saya. Kesehatan, anak-anak yang beranjak besar, suami siaga, dan keluarga besar di Malang - yang pada hari-hari biasa mungkin dianggap biasa, tidak demikian ketika Ramadan tiba. Ramadan memberi jeda untuk memahami keberkahan luar biasa yang telah saya terima dalam hidup. Berkah Ramadan bagi saya, adalah pemahaman bahwa selalu ada cinta yang terus berkembang yang membuat kita rela mengorbankan yang terbaik untuk kebahagiaan keluarga. Saya selalu berharap demikian seterusnya kelak dengan Ramadan Ramadan yang diperbolehkan Allah untuk saya jumpai. Dan juga untuk anak-anak saya, sejauh apapun mereka terbang kelak, Ramadan akan selalu membawa mereka kembali kepada saya.InsyaAllah.

Gambar: Senja di Tepi Losari

Ramadhan yang menggerakkan jariku

Assalamualaikum,
Detik-detik berlalu tak terasa tahun 2019 telah menapak di bulan ke lima. Sungguh memang waktu sangat cepat berjalan dan tak terasa ia telah meninggalkan kita yang sibuk berkutat dengan hal-hal - yang kemudian kita sadari di belakang, kurang berarti.
Tahun 2019 ini, baru sekali inilah goresan pikiranku kembali menghiasi blog ini. Betul, ini tulisan pertama di blog tahun 2019. Memprihatinkan bukan, mengingat aku selalu berkoar-koar bahwa hobiku adalah menulis. Elo nulis ape? Kenape blog macam rumah kosong berhantu?
Masih nulis, sih. Salah satu penyebab blog ini kosong agak lama adalah aku bikin blog baru khusus untuk resensi buku-buku yang telah kubaca. Kalau mau lihat-lihat boleh di sini.
Jadi di blog yang ini nantinya sama sekali nggak akan ada postingan resensi buku.

Selain nulis di blog baru yang sampai detik ini baru berisi empat postingan (tutupmuka), aku juga nulis status fb (ini bukan prestasi sih tapi nulis status fb itu juga make mikir lho kalau aku sih), dan berusaha menyelesaikan novel anak untuk lomba indiva. Resolusi menulisku di tahun 2019 ini mungkin cukup itu.
1. Mengisi blog resensi (artinya rutin membaca buku dan meresensinya)
2. Menulis status fb yang menghibur, syukur-syukur inspiring (karena sudah terlalu banyak status fb yang bikin tensi darah naik)
3. Menulis novel untuk lomba
4. Menulis lagi di blog ini

Mengapa tiba-tiba aku tergerak, karena di bulan ramadhan ini aku seolah dipaksa untuk berpikir ulang mengenai cita-citaku sebagai penulis. Apa yang sudah kamu upayakan agar itu tercapai? Ibarat mobil tua yang jalannya ndut-ndutan, kamu sudah disalip oleh berjenis-jenis mobil - bahkan ada juga mobil yang lebih butut. Kalau mobil itu bisa, kenapa kamu tidak? Bertahun-tahun menulis, apa hasil yang dapat kaubanggakan?

Di ramadhan ini, aku menelaah lagi niat dan cita-citaku dan memutuskan untuk lebih serius lagi.Dan untuk serius, yang dibutuhkan hanyalah menulis dan menulis.

Gambar: kiriman dari mbak Watiek Ideo di grup wa.

Selasa, 27 November 2018

[Resensi Buku]: Pendekar Tongkat Emas, behind the scene

Judul Buku        : Pendekar Tongkat Emas, Behind the Scene (PTEBTS)
Penulis              : Rita Triana Budiarti
Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit       : 2014
Tebal buku        : 132 halaman

Gambar dari Wikipedia

Setelah menikah, saya jarang nonton movie. Beberapa film yang ingin saya tonton biasanya hanya masuk dalam daftar wish list, dan nunggu diputer stasiun televisi untuk menontonnya, hahaha. Kemarin iseng-iseng nyari bacaan di i-Jak, saya dapat buku ini dan ingat bahwa dulu saya sempat kepingin nonton filmnya. Karena keinginan nonton filmnya belum terpenuhi, saya baca aja buku ini.

Ini adalah buku yang ditulis berdasarkan film. Jadi filmnya dulu dibuat, baru buku ini ditulis. Ya, namanya juga buku behind the scene, alias buku yang memuat alasan dan proses bagaimana film ini dibuat. Buku ini diawali dengan penceritaan mengapa Mira Lesmana (produser) sangat antusias membuat film silat. Rupanya sejak kecil Mira suka membaca komik silat. Secara bertahap, empat penulis terlibat dalam pembuatan sinopsis dan plot cerita. Setelah tersusun, pembuatan skenario diserahkan pada Jujur Prananto. Sastrawan Seno Gumira Adjidarma juga terlibat dalam memberikan sentuhan filosofi pada dialog dan karakter.

Lokasi cerita bertempat di Sumba, yang telah dibayangkan oleh Mira Lesmana sejak awal membayangkan film ini. Di buku ini banyak foto-foto indah Sumba, saat hunting lokasi dan juga saat syuting sudah dimulai.

Selain menceritakan hal ihwal bagaimana ide film muncul, buku ini juga menceritakan proses casting para pemainnya, proses pembuatan kostum, dan pembuatan tongkat emas. Berderet bintang menjadi pemeran dalam film ini, mulai dari Christine Hakim, Reza Rahadian, Nicholas Saputra, Eva Celia, dan Tara Basro. Kostum yang dikenakan sederhana dengan warna-warna alam. Tongkat sebagai properti utama, dikerjakan oleh seniman dari Bali.

Tongkat Emas
sumber: ilustrasi buku PTEBTS


 Yang tak kalah penting adalah koreografi laga dan latihan fisik. Sebagai pelatih koreografi laga, tak tanggung-tanggung, Mira mendatangkan Xiong Xin Xin, seniman bela diri dan aktor pengganti dari Tiongkok. Xin Xin ini pernah menjadi stuntman Jet Lee di beberapa filmnya.

 Tara Basro
sumber: ilustrasi buku PTEBTS


Secara khusus tidak ada yang istimewa dengan buku ini. Bahkan cerita filmnya pun tidak dikisahkan secara detail. Yang menarik mungkin lebih pada gambar-gambar yang tak akan kita temukan dalam film. Serta pemahaman kita setelah membaca buku bahwa proses pembuatan film itu tidak mudah. Persiapannya butuh beberapa tahun, dan biaya yang digunakan untuk memproduksi film pun tak sedikit. Salut buat Mira Lesmana, yang masih idealis membuat film-film bermutu untuk penonton di Indonesia.

Minggu, 25 November 2018

Resensi: A Piece of Love in Korea


Judul buku    : A Piece of Love in Korea
Penulis          : Deasylawati P
Tebal buku    : 287 halaman
Penerbit        : Gizone Books (Kelompok Penerbit Indiva Media Kreasi)
Tahun terbit   : 2012

Beberapa waktu lalu saya beli novel terbitan indiva yang sedang bikin proyek diskon 50%. Ini salah satu buku yang saya beli dari lima yang lain. Sesuai judulnya...hampir 80% dari novel bersetting di Korea. Kisahnya sendiri bercerita tentang Junaidi, seorang cowok berusia 27 tahun yang suka nonton drakor. Selain itu dia juga gamer sejak SMA. Nick namenya sebagai gamer adalah Jun Ai Dee (halagh). Nah si Jun ini punya sobat maya gamer juga dengan nick name F 123 atau lebih sering dia sebut F1. F1 itu cewek dan Jun ini cinta mati sama dia, walau cuma lihat dari selembar foto. Cinta itu dia pendam sampai mereka berpisah - sudah nggak ngegame lagi. Kemudian belakangan Jun tahu kalau si F1 sudah nikah. Galaulah dia sementara tekanan dari ibu dan saudara-saudaranya agar dia cepat nikah semakin kuat. Jun dikasih batas waktu dua bulan untuk mendapatkan calon istri. Kalau nggak dapat juga, kakak tertuanya akan mencarikan calon. 

Si Jun ini nggak suka dijodohkan. Ndilalah tepat dua bulan waktu habis, Jun menang lotere dengan hadiah dua hari jalan-jalan ke Korea (kebetulan banget nggak seh). Minggatlah ia ke Korea. Apesnya gak lama dari saat ia menjejakkan kaki di tanah kelahiran Gong Yoo itu, dompet berisi uang dan voucher nginep di hotel beserta hape dan seluruh identitasnya hilang. Saat sedang kalut kehilangan harapan, ada cewek yang kebetulan (lagi) adalah cewek Indonesia. Dan (kebetulan lagi) cewek ini ternyata adalah F1 yang digandrungi Jun sejak SMA. Busyeet kok bisa? Pan katenye F1 sudeh nikeh? (Eh kok jadi betawian gini yak). 

Jadi penjelasannya niy...waktu Jun lihat foto F1 ini lagi bedue ma sahabatnye. F1 niy gak pake jilbab sedangkan sahabatnye di foto make jilbab. Jun yang bego langsung aja mutusin sendiri kalau F1 itu yang jilbaban. Jadi selama bertahun-tahun dia mendamba wajah yang salah. Wajah yang tertukar kelees. Widih, maha benar reviewer dengan segala firmannya yak. Padahal gue kalau disuruh bikin novel engap-engapan. 

Secara keseluruhan, novel ini dituturkan dengan apik. Ngalir gitu bahasanya. Point plusnya Jun digambarkan sebagai muslim  taat yang gak pernah ninggal sholat, gak mau pacaran dan gak mau bersentuhan dengan cewek. Nggak terlalu sempurna macam Fahri-nya Kang Abik, si Jun ini punya segudang kekurangan juga, salah satunya suka ngelamun dan gampang cemas. Teledor. Ceroboh. Lebay. Aih, kok banyak banget, katanya cuma salah satu? Hahaha.




Kekurangan dari novel, di awal-awal penuh humor tapi mendekati ending jadi melow. Jadi hati pembaca ini macam terombang-ambing gitu, kakak... (halagh). Novel ini juga detil menggambarkan beberapa tempat di Korea. Tapi bagian ini banyak saya skip soalnya agak mbosenin. Nah gitu aja deh review suka-suka dari saya.
 



Rabu, 26 September 2018

Dandan Minimalis dengan Produk Wardah+

Hai, akhirnya saya nulis lagi setelah sekian minggu vakum. Kali ini kemunculan saya agak-agak centil, hehe, pakai posting gambar sebelum dan sesudah dandan segala. Yang mana postingan semacam ini belum pernah saya aplot di blog ini. So this is the first time.
Awalnya dari hobi suka lihat-lihat youtube, tutorial-tutorial make-up gitu. Trus tertarik pada projectnya produk SK II yang bareskin project. Ini proyek bagaimana perempuan diarahkan untuk berani tampil tanpa make-up, hanya mengandalkan kulit yang sehat setelah melakukan perawatan dengan produk perawatan SK II tentunya. Untuk lebih jelasnya coba deh browsing sendiri dengan kata kunci "bareskin project SK II". Intinya saya mupeng berat, namun sadar sesadar-sadarnya dengan budget yang minimalis untuk menggapai produk SK II yang harganya maksimalis menurut sudut pandang kantong sayah (halah).

Pagi ini entah kenapa saya sengaja untuk berangkat kantor ala bareskin gituh. Biasanya sih kadang bareskin juga kalau gak sempet dandan di rumah, trus dandan kalau sudah nyampe kantor. Tapi hari ini saya sengaja ceritanya, tes ombak gituh. Beneran, ombaknya kenceng...temen-temen pada komen kok pucet. Bu Asma, temen yang sudah agak senior dan lumayan deket sama saya malah langsung bilang: jelek, Indaah, sana buruan lipstikan!

Nah, karena itu akhirnya saya dandan deh kayak biasanya. Itu perlengkapan kosmetik memang selalu ada di tas kantor. Bukan perlengkapan juga sih, wong senjata andalannya cuma dua biji doang. Tapi kali ini akan saya tambahkan satu senjata jadi tiga biji. Setelah Bu Asma menyuruh saya dandan, tiba-tiba saya kepikiran untuk membikin postingan ini. Bercentil-centil sedikit, tapi siapa tahu postingan ini bermanfaat juga kan buat teman-teman yang mungkin gak bisa dandan dan pengen dandan dikit yang minimalis tapi sudah kelihatan beda dan bikin wajah segerr.

Senjata saya dari wardah, generally cuma dua biji aja seperti yang sudah saya sebut, yaitu BB everyday beauty balm cream (saya pakai yang light) dan matte lipstick nomor 08 yang warnanya cokelat-cokelat rada merah bata gitu, warna kesukaan saya. Kali ini saya tambah pensil alis eeealah, pensil alisnya bukan wardah melainkan oriflame, nih. Berarti untuk wardahnya beneran cuma dua senjata ya.

Gambar 1. BB Cream dan lipstick dari Wardah, serta pensil alis dari Oriflame

Sudah beberapa bulan ini saya memakai BB cream sebagai pengganti bedak dan alas bedak. Jadi hanya usek-usek BB secara merata di seluruh wajah, sudah cukup mencerahkan wajah sehingga tidak kelihatan pucat. Lalu lipstick hanya tinggal dioles secara merata di bibir. Nah soal pensil alis sebenarnya merupakan hal yang urgent untuk alis saya yang tipis...setipis irisan tempe yang bisa masuk ATM. Cuma saya tidak memakainya tiap hari karena walau urgent, saya tetap pede meski tampil hanya dengan alis asli ala kadarnya. Nah, berikut foto before and after setelah dandan minimalis. Kelihatan bedanya kan?

 Gambar 2. Dandan minimalis dengan kosmetik Wardah+

 Nah, demikian saja postingan kali ini, semoga bermanfaat, ya.
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES